
Adis mengendarai kendaraan roda dua nya menuju mall yang terletak di pusat kota, selain hendak bertemu dengan rindu, Adis juga janji bertemu dengan Salamah.
"jangan pulang sore ya, kak Rahma akan datang siang ini dis, dia ingin sekali bertemu dengan mu ..!"
ucap Ibra saat hendak pergi ke kantor.
"ya, kak...Adis tidak akan lama!"
ucap Adis mencium tangan Ibra.
jika ada ia ingin pria seperti kakak nya, bukan hanya baik tapi ia juga begitu peduli terhadap keluarga, ia bahkan rela mengorbankan kebahagiaan nya untuk adik adik nya, Adis yakin kelak ia juga akan melakukan hal yang sama terhadap keluarga nya nanti.
Ibra pria yang baik, perempuan itu akan beruntung bisa menikah dengan kakak nya.
apa itu yang menjadi Alasan Alya menolak pria lain menjadi suami nya?
**
tak berapa lama Adis sampai berbarengan dengan rindu yang juga menggunakan roda dua nya.
"hai dis.....!" kata rindu menghampiri dan keduanya langsung berpelukan.
"kangen..." ucap Adis senyum.
"sama aku juga kangen banget...!"
ucap rindu memeluk erat tubuh Adis lalu tertegun karena tubuh sahabat nya itu terasa lebih kurus.
"ko kurusan sih dis...?"
tanya rindu menilik wajah Adis.
"masa sih, enggak kok..!"
ucap Adis lalu melangkah bersama rindu memasuki mall tersebut.
"dis kamu lagi hamil?" tanya rindu membuat langkah Adis terhenti.
"emang kelihatan nya seperti itu...?"
tanya Adis.
"ya, kata mami ku biasanya awal kehamilan suka turun berat badan karena jarang makan akibat mual dan muntah..."
"oh gitu, tapi aku enggak hamil, Rin..!"
ucap Adis kembali berjalan.
"kita mau nonton dis...?"
tanya rindu membuat Adis tertegun, terakhir kali ia nonton adalah saat membeli cincin pernikahan dengan Arsan.
kini cincin itu tak lagi melingkar di jari manis nya, Adis menyimpan nya entah dimana?
seperti hal nya Arsan entah dibagian hati mana ia berada, atau tak ada sama sekali meski hanya secuil.
"dis, kamu kok melamun sih?"
"Um enggak apa-apa, aku lapar. kita makan Saja!"
ucap Adis melangkah memasuki restoran Jepang di mall tersebut.
"apa Arsan ikut ke Jakarta juga dis...?"
tanya rindu mendudukkan dirinya di kursi.
"enggak, aku dan dia akan berpisah...!"
ucap Adis meminta pelayan mendekat.
rindu tertegun mendengar penuturan sahabat nya itu? apa yang terjadi?
"kenapa dis....!"
tanya rindu memperhatikan Adis yang memesan makanan.
__ADS_1
"kamu makan apa?"
tanya Adis tampak santai.
"sama aja dis...!"
ucap rindu menatap wajah Adis yang biasa saja.
"dis, kamu beneran mau pisah sama bang Arsan?"
"ya rin, tidak ada kecocokan antara aku dan dia hingga kita memutuskan untuk berpisah?"
ucap Adis tak memberi tahu tentang permasalahan sebenarnya, tentu saja ia menjaga nama baik kakak nya.
"tidak cocok bagaimana dis?"
"ya enggak cocok, kita enggak sehati.
jadi aku pikir lebih baik berpisah dari pada bertahan hanya membuat luka...!"
ucap Adis berbelit membuat rindu tak mengerti.
"kamu udah yakin mau pisah sama bang Arsan?
aku lihat dia itu baik banget sama kamu dis?"
ucap rindu menilik wajah Adis.
"baik belum tentu cocok, aku enggak bisa jelaskan secara rinci...!"
"terus kuliah kamu gimana dis?"
tanya rindu yang masih tak percaya dengan pernyataan sahabat nya itu.
"aku berhenti sementara waktu, semua berantakan karena sesuatu, aku tidak mengikuti ujian beberapa mata pelajaran, aku akan ulang tahun ajaran yang akan datang..!"
"astaga dis, bang Arsan enggak berbuat kdrt kan sama kamu?"
"enggak, aku baik baik saja Rin, hanya aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga ku.."
"kamu sabar ya dis..."
"ya, aku baik baik saja Rin..."
"tapi aku tidak melihat itu, aku tahu kamu rapuh dis jangan menutupi itu dariku.."
"Kamu memang yang paling mengerti aku Rin.."
ucap Adis menghapus air matanya.
"aku memang tidak tahu permasalahan yang sebenarnya, tapi aku menyesalkan hal itu, seharusnya kalian bisa bertahan di tengah perbedaan karena cinta menyatukan perbedaan antara dua insan yang berbeda, dengan perbedaan menjadikan kehidupan penuh warna....aku prihatin dis, aku sebagai sahabat mu ikut sedih mendengar hal itu, usia pernikahan kalian bahkan baru seumur jagung..."
ucapan rindu begitu menohok hati membuat Adis termenung sendiri, bukan karena perbedaan tapi justru karena sebuah dendam masa lalu yang membuat mahligai indah itu hancur.
Adis terhentak saat ponsel nya berdering terlihat Salamah melakukan panggilan telepon.
"halo, Bu..."
"Adis ibu sudah di mall, kamu dimana?"
"oh, Adis ada di lantai dua di restoran Jepang Bu....!"
"ya sudah, ibu ke sana bersama menantu ibu ya!"
ucap Salamah membuat Adis tertegun mendengar kata menantu.
'oh berarti memang bukan Salamah ibu Arsan...'
gumam Adis dalam hati.
"ya sudah, adis tunggu bu!"
ucap Adis dan dianggukan oleh Salamah yang langsung menutup telponnya.
"siapa dis...."
__ADS_1
tanya rindu, Adis menjelaskan kejadian kala itu bersama Salamah.
tak lama Salamah datang bersama seorang perempuan yang tengah hamil.
salsa menatap ke arah netra milik Adis, ternyata benar Adis yang Salamah maksud adalah mantan menantu yang tak pernah ia ketahui keberadaan nya.
"Adis....!"
ucap salamah tersenyum sambil berjabat tangan.
"ya Bu, silahkan duduk!"
Adis memperhatikan salsa yang menggunakan masker wajah, ia khawatir Adis mengingat seseorang yang dulu pernah mendorong nya.
"ini menantu ibu...!"
ucap Salamah senyum memperkenalkan salsa.
"oh, ya ada apa ya ibu mau ketemu Adis..?"
ucap Adis langsung pada pokok bahasan ia paling tidak suka jika basa basi.
"ibu ingin mengganti uang kamu yang terpakai?"
ujar Salamah memberikan sebuah amplop berwarna putih.
"Adis ikhlas membantu jadi ibu tidak perlu mengganti nya..!"
"tidak apa-apa, ibu sangat berterima kasih...!"
ucap Salamah mengepalkan amplop tersebut pada tangan Adis, sementara salsa diam memperhatikan wajah Adis sedikit pucat.
Arsan tertegun mempraktikkan ibunya memegang tangan perempuan yang benar dugaan nya adalah Adis istri nya, bukan lagi karena sebentar lagi akan menjadi mantan istri, Awalnya Arsan tak ingin tahu tapi ia penasaran hingga menunda janjinya dengan dokter Alvin.
"kamu memang perempuan yang baik andai saja aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan menerima tawaran itu!"
gumam arsan sendiri lalu pergi dari tempat itu.
"terima kasih Bu, ya udah Adis terima kembali...?!"
ucap Adis senyum, lalu Salamah dan salsa pamit pada kedua gadis itu.
"jadi kamu nolong ibu itu!?"
"ya gitu, kasian aku kan enggak punya orang tua!"
ucap Adis senyum simpul lalu kembali duduk.
"rencana selanjutnya apa dis?"
"aku akan membantu kak Ibra di kantor?!"
ucap Adis dan di anggukan oleh rindu.
setelah puas ngobrol dan jalan jalan, keduanya memutuskan untuk pulang.
"dis aku duluan ya, mami ada di butik yang enggak jauh dari sini...!"
"ya sudah enggak apa-apa, salam ya untuk mami mu Rin...!"
"ya,dis nanti aku sampaikan...!"
ucap rindu setelah mereka berpelukan.
Adis mencari cari kendaraan roda dua nya namun tidak terlihat parkir di tempat tadi, adis berjalan menyusuri motor hingga di ujung.
siapa yang sudah memindahkan motor nya hingga ke ujung?
Adis terhenyak saat berbalik badan mendapati pria yang berdiri di hadapan nya dengan jaket hitam serta masker wajah.
"kamu siapa?"
tanya Adis terbata menelan Saliva nya, jujur ia Takut karena bas man cukup sepi.
bersambung.
__ADS_1
Terima kasih yang udah mampir 😍😍😍