
pagi itu Ibra mengajak Adis pergi ke rumah Tante nya, seharusnya mereka tak perlu menginap di hotel jika Tante nya tak pergi ke new Zealand.
disaat mereka datang untuk berlibur justru Tante nya pergi ke new Zealand untuk keperluan bisnis bersama suaminya.
"dis...kamu kenapa?"
tanya Arsan memperhatikan Adis yang sejak tadi diam bersandar pada kursi mobil.
"tidak apa-apa kak, hanya sedikit mengantuk..."
jawab Adis tanpa menoleh.
"memangnya semalam kamu tidur jam berapa? kakak kan sudah bilang jaga kesehatan, jangan begadang!"
ucap Ibra pelan.Rahma dan Ilyas mendengarkan di belakang kemudi.
"semalam kak Ibra kemana?"
tanya Adis mengalihkan percakapan.
"setelah makan malam, kakak langsung tidur karena lelah seharian bermain dengan si cantik tuh ..!"
tutur Ibra menoleh ke arah putri Rahma yang tengah tersenyum manja.
"oh.....!"
jawab Adis singkat.
"dis, kamu beli buah buahan dimana? banyak banget?"
ucap Rahma menoleh ke kursi belakang yang menampakkan beberapa bungkus buah-buahan.
"semalam Adis beli di sekitar sungai Thames...!"
jawab Adis lalu menguap.
"semalam kamu keluar sendiri?"
tanya Ibra menoleh.
"ya, lantas dengan siapa? kak Ibra sudah tidur?"
ucap Adis cemberut.
"maaf ya, tapi lain kali jangan pergi sendiri, berbahaya!"
ucap Ibra mengusap pucuk kepala Adis yang berbalut pasmina berwarna capuccino.
Adis hanya diam menanggapi penuturan Ibra yang bagi nya sudah terlambat, karena hal itu ia bertemu dengan seseorang yang semalaman membuat nya kacau, jiwanya terus meronta untuk bertemu dengan pria itu, rasa rindu yang menyiksa hingga rasanya ingin sekali membenci.
tak berapa lama mereka sampai di rumah Tante ane yang langsung menyambut kedatangan mereka.
"Ibra, Adis,dan Rahma keponakan Tante...."
ucap ane memeluk Adis dan Rahma bergantian.
perempuan paruh baya itu selalu tampil muda dengan dress cantik selutut nya.
"ayo masuk, padahal kemarin kalian datang saja ke sini dari pada menginap di hotel..."
ujar ane mempersilahkan mereka untuk duduk.
"tidak enak kalau tidak ada tuan rumah..."
ucap Rahma mengulas senyum.
"jadi bagaimana kapan mulai kuliah nya?"
__ADS_1
tanya ane yang sudah mengetahui rencana Adis yang akan melanjutkan kuliah di negara itu.
"tahun ajaran baru, kami sudah melihat lihat ke universitas pilihan untuk Adis kuliah.."
ujar Ibra dan di angguki oleh Ane. sementara Adis sejak tadi Hanya diam dengan pemikiran nya sendiri.
apa ia harus memberi tahu Ibra kalau ia semalam bertemu dengan Arsan, mungkin Ibra akan membatalkan rencana tersebut jika mengetahui bahwa Arsan juga kemungkinan tinggal di negara itu.tapi kenapa harus terpaku pada pria itu karena niat nya datang ke negara itu untuk belajar, tak harus memikirkan sesuatu yang bisa ia hindari.
"Adis...?"
ucap Ibra membuyarkan lamunannya.
"apa yang sedang kamu pikirkan?"
tanya Ibra membuat Adis tertegun.
"enggak, Adis enggak mikirin apa apa kok!"
ucap Adis mengulas senyum kecil.
ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Ibra soal Arsan karena mungkin saja ia hanya sekedar liburan seperti dirinya.
"kamu jangan sungkan Sama Tante dis, Tante senang Kamu mau tinggal disini..jadi nanti Tante ada teman, karena kedua anak Tante kan jauh... makanya kemarin itu Tante ikut ke new Zealand karena jenuh di rumah hanya dengan pembantu...!
Tante tidak tahu kalau kalian akan datang!"
ucap ane senyum.
"ya, Tante...."
jawab Adis singkat, mereka bertemu terakhir kali saat ibunya meninggal, ane juga tidak hadir di acara pernikahan nya dengan Arsan.
"ya sudah, kalian istirahat dulu..."
ucap ane lalu beranjak dari duduknya.
"Tante Adis mau ke danau yang disana...?"
"ya sudah hati hati ya...Tante siap kan makan siang untuk kalian ya..."
ucap ane dan di anggukan oleh Adis yang beranjak bersama Rahma Juga putri kecilnya di ikuti oleh Ilyas.
"bagaimana keadaan Adis, bra?"
tanya ane duduk di samping Ibra yang tengah memainkan ponselnya.
"seperti ibu Tante, tapi saat ini berangsur sembuh dengan metode pengobatan dokter Hans, beliau dokter spesialis kanker..."
ucap Ibra yang pernah menceritakan tentang kondisi Adis.
"syukurlah kalau begitu, lalu bagaimana dengan suaminya? apa mereka sudah resmi bercerai?" tanya ane yang juga mengetahui hal itu dari Ibra.
"mereka sudah bercerai, Ibra sengaja bawa dia kemari agar jauh dari pria itu. kuliah nya berantakan, meski sebenarnya Ibra lah yang salah."
ucap Ibra memangku wajah nya sendiri.
"ya sudah tidak apa apa, itu hanya soal waktu. jadi kan pelajaran saja. Tante yakin kalau Adis bisa melewati semua itu.. menginap lah satu malam, besok kalian pulang!"
ujar ane yang prihatin dengan keadaan keponakan nya itu, terlantar tanpa orang tua. ayahnya pergi meninggalkan mereka begitu saja tanpa alasan, entah bagaimana keadaan nya saat ini.
Ibra menghampiri Adis yang duduk sendiri di kursi dekat danau buatan itu, sementara Rahma dan Ilyas tengah mengajak Bianca bermain.
"ini.....!"
ucap Ibra menyodorkan es krim coklat kesukaan adik nya itu.
"terima kasih kak...!"
__ADS_1
ujar Adis menerima es krim tersebut lalu Membukanya.
Adis tertegun sejenak memperhatikan es krim Tersebut, makanan dingin itu mengingatkan nya pada Arsan. jika Arsan pulang lebih awal dari kantor, kedua nya akan pergi berjalan jalan di pusat kota untuk sekedar jajan.
"kenapa de....?"
tanya Ibra membuat Adis menoleh.
"enggak....!" jawab Adis lalu melahap es krim tersebut, kenapa tak semanis dulu. bahkan terasa pahit namun adis tetap memakan nya.
"Kakak enggak akan maksa kalau kamu urung... untuk kuliah disini de!"
ujar Ibra membuat Adis tertegun.
"enggak, Adis tetap pada rencana awal kita!"
ucap adis tanpa menoleh.
"kakak akan sering mengunjungi mu disini..."
"ya kak....."
ucap Adis bersandar pada pundak Ibra yang langsung mengelus kepalanya.
***
di tempat lain...
Arsan menata buah buahan yang baru saja datang, tentu saja masih sangat segar.
Arsan memperhatikan mobil yang terparkir tak jauh dari tempat nya berdiri.
siang itu Harun sampai di London, ia tak sabar ingin bertemu dengan Salamah dan putranya namun tidak dengan memberi tahu identitas sebenarnya, Harun Masih ingin melihat bagaimana perjuangan Arsan.
"Arsan juga melamar pekerjaan di perusahaan kita tuan.."
ujar assisten Harun.
"sejak kapan?"
tanya Harun Yang memperhatikan Arsan mengamati mobil mereka.
"kemarin, Laura yang memberikan laporan!"
"oh begitu, panggil saja siang ini untuk interview.."
titah Harun lalu memperhatikan Salamah yang membantu Arsan menata buah buahan.
Arsan tersenyum saat melihat pesan, bahwa siang ini ia mendapat panggilan untuk interview kerja.
"Alhamdulillah Bu..!"
ucap Arsan yang langsung memeluk ibunya, Harun terus memperhatikan interaksi keduanya.
"Ada apa Ar....!"
"Arsan dapat panggilan untuk interview kerja..."
ujar Arsan dengan mata berbinar.
"Alhamdulillah, ibu doakan semoga kamu di terima nak...!"
ujar Salamah memeluk putra nya itu.
"bukan hanya diterima, tapi kelak kamu yang akan memimpin perusahaan tersebut..."
tutur harun lalu menyuruh supir melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
bersambung...
terima kasih atas kunjungan para reader ya😍😍