
pagi di Swiss...
Ibra mengajak adis berjalan jalan di sekitar kota Bern, cuaca yang cukup dingin membuat Adis beberapa kali mengusap usap tangan nya.
Arsan merangkul pundak Adis agar merapat pada nya.
Adis menghentikan langkahnya saat melihat arid tersenyum menghampiri mereka berdua, Adis menoleh ke arah Ibra yang melambai kan tangannya pada Arid.
"assalamualaikum....."
ucap arid senyum menatap wajah Adis yang sedikit pucat.
"walaikumsalam......kak Ibra yang telpon Abang...?"
tanya Adis menoleh ke arah Ibra.
"ya kakak, enggak apa-apa kan Arid juga lagi enggak sibuk Kok....!"
ucap Ibra tersenyum berbeda dengan arid yang tertegun menatap wajah Adis yang seperti nya tak suka dengan kehadiran nya.
ketiga nya berjalan jalan di pusat kota Bern, Arid menoleh kearah Adis yang seperti tidak bersemangat.
"dis gimana pengobatan kamu?"
tanya Arid membuka obrolan, ia begitu rindu dengan wanita itu, beberapa waktu ini ia cukup sibuk dengan kuliah nya.
"sedang berjalan di bawah pengawasan dokter Hans...!"
jawab adis menoleh ke arah arid.
"bagaimana kuliah mu bang? apa Kamu tidak memiliki gebetan? bule di sini cantik cantik...!" ujar Adis terkekeh, sementara ibra tengah berpose di depan bangunan indah itu.
"aku datang bukan untuk mencari gebetan, meski bule di sini cantik cantik...aku datang untuk belajar agar kelak aku bisa sukses dan meraih seseorang....!"
ucap Arid senyum.
"semoga itu bukan aku ya bang..m"
Tutur Adis terkekeh lagi.
"kenapa?"tanya arid membuat adis sedikit menunduk.
"karena aku tidak yakin memiliki masa depan... semoga kelak kamu bisa sukses dan menemukan yang terbaik"
ujar Adis lalu berlari kecil menghampiri Ibra dan memeluk nya, berpose tanpa memperdulikan arid yang memperhatikan nya.
"apa benar benar tidak ada sedikit saja celah untuk ku masuk ke dalam hati mu dis..."
gumam arid dalam hati.
beberapa hari ini keduanya mengunjungi tempat wisata di negara itu, ibra mengajak Adis naik sepeda menyusuri sungai aare.
Adis tampak santai karena tak ada arid yang ikut dengan mereka, arid tengah sibuk dengan kuliah nya.
"adis enggak mau kasih harapan sama bang arid, kak. dia pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari Adis....!"
ucap Adis Duduk di tepi sungai memperhatikan air yang begitu jernih dan indah.
__ADS_1
"apa kamu masih mengharapkan Arsan?"
tanya Ibra memperhatikan Adis yang menyentuh air berwarna toska itu.
"entah lah tapi Adis ingin memulai segalanya saat Adis sembuh kak, bukan saat keadaan Adis seperti ini... Adis tidak mau memulai saat Adis masih terluka parah, Adis tidak mau melibatkan dia dalam keadaan Adis yang tengah patah. Adis ingin memberikan yang terbaik untuk dia yang kelak menggeser posisi Arsan..."
ucap Adis menunduk, memperhatikan air yang terdapat bayangan pria itu.
"Kakak tidak akan mengizinkan mu kembali dengan Arsan, dia sudah melakukan kesalahan besar...."
ujar Ibra yang berjongkok di samping Adis.
"bukan kah dengan melakukan kesalahan dapat merubah seseorang menjadi lebih baik..."
"itu berlaku bagi mereka yang sadar dan mau berubah... mereka yang memiliki hati yang keras tidak akan menerima kekalahan..."
ujar Ibra lalu tertegun.
Adis memperhatikan kearah sekeliling tempat itu, indah dan banyak turis asing yang juga tengah berwisata.
"kita pernah berencana datang ke tempat ini, tapi itu hanya sebuah rencana tanpa tindakan nyata...aku tidak tahu bang kenapa masih saja mengingat mu, padahal Luka ini begitu hebat...."
gumam Adis dalam hati lalu menghela nafas.
"ya sudah kita lanjutkan perjalanan...."
ucap Ibra mengajak Adis beranjak.
***
salamah tertegun mengingat percakapan nya dengan Arsan. kini mereka berada di peternakan yang berada di daerah Garut.
malam itu Arsan kembali ke apartemen nya, Salamah memperhatikan Arsan membawa barang barang nya.
"Ar ..kamu mau kemana?"
tanya Salamah menghampiri Arsan yang terduduk lesu, bukan hanya perusahaan tapi Robi juga menjual rumah yang pernah ia tempati bersama Adis dan juga salsa.
Arsan menatap keseluruhan apartemen itu, hanya itu lah yang ia miliki.
"Bu benar kah ibu sempat tidak menginginkan kehadiran ku di rahim ibu?"
tanya Arsan menunduk membuat Salamah membeku.
"benarkah kalau aku bukan anak Robi...?"
tanya Arsan lagi membuat Salamah langsung menitikkan air matanya.ternyata Robi sudah membongkar rahasia besar itu.
"Bu, Arsan anak siapa?"
mendengar hal itu Salamah langsung memeluk putra nya itu.
"maaf kan ibu nak....Kamu memang bukan anak Robi...!"
ucap salamah memeluk arsan.
"Bu, sekali kita tidak punya apa-apa karena Robi sudah menjual semua nya pada Bastian..."ujar Arsan menceritakan yang terjadi tadi pagi di kantor.
__ADS_1
"astaghfirullah..... Robi.!"
ucap Salamah terisak.
"maaf kan ibu Arsan, ibu yang salah....."
ucap Salamah menceritakan semua nya pada Arsan.
Dulu..
Salamah adalah gadis tercantik pada masanya, ia memiliki kekasih bernama Harun.
namun hubungan keduanya tak di restui karena Harun dari keluarga biasa, orang tua Harun bekerja di peternakan milik keluarga Salamah, Harun Yang begitu mencintai Salamah berpikir untuk menghamili Salamah agar mereka bisa menikah namun tidak dengan Salamah yang tidak ingin melakukan hal itu karena menganggap itu akan mempermalukan keluarga.namun Harun tak menghiraukan hal itu, dengan tipu daya nya ia berhasil membuat Salamah hamil.
"aku yakin setelah kamu hamil kita bisa menikah..."
ucap Harun mengusap punggung Salamah yang terisak , namun mendengar Salamah Hamil justru membuat ibu nya langsung terkena serangan jantung.
Salamah di jauhi keluarga, dan Harun menjadi buronan ayah nya yang tidak terima karena sudah menghamili Salamah putri nya.
sang ibu meninggal, tentu hal itu membuat Salamah merasa bersalah dan berpikir untuk mengugurkan kandungan nya, dan saat itulah Robi datang memberikan ketenangan pada keluarga itu dengan menikahi Salamah.
mendengar hal itu Harun marah dan tak terima jika Salamah menikah dengan pria lain. hingga ia bertekad untuk mengubah hidup nya sampai tak lagi yang memandang nya sebelah mata.
"apa yang membuat Robi begitu marah Bu hingga ia membenci Arsan....?"
tanya Arsan yang mendengar kan cerita pahit itu.
"maafkan ibu, semua terjadi karena salah paham.. sebenarnya Robi hanya cemburu pada Harun hingga ia melampiaskan nya pada mu."
ujar Salamah lalu menceritakan tentang kejadian itu.
kehidupan rumah tangga mereka baik baik saja hingga hadir regina yang menjadi adik Arsan, Hingga keduanya tumbuh menjadi anak remaja, sampai arsan lulus kuliah Robi tidak pernah membahas tentang siapa dirinya.namun delapan tahun ke belakang Harun mulai mengusik rumah tangga mereka hingga pertengkaran dan perdebatan yang tak ada habisnya, Salamah yang sering sakit sakitan membuat keuangan Robi sedikit terganggu, di tambah ia pernah memergoki Salamah bertemu dengan Harun.
"hal itu yang menjadi penyebab semua hancur, padahal ibu dan Harun tidak sengaja bertemu......ibu juga tidak tahu kenapa Robi menjadi mafia judi...!"
ucap Salamah mengingat bagaimana sikap dan perilaku Robi yang jauh dari perilaku nya yang dulu.
"Apa Harun tahu keberadaan ku Bu?"
tanya Arsan menatap wajah Salamah yang sembab karena ia bercerita sambil menangis.
"tidak, ibu mengatakan bahwa kamu adalah anak Robi dan anak nya sudah ibu gugur Kan. Ia percaya bahwa kamu lahir saat usia kandungan mu tujuh bulan..."
ujar Salamah mengusap kepala Arsan yang duduk di hadapan nya.
"kenapa ibu menyembunyikan keberadaan ku!?"
tanya Arsan tidak mengerti dengan jalan pikiran Salamah yang menyembunyikan keberadaan nya.
"itu karena ibu takut dia mengambil mu..."
ucap Salamah menangis tersedu, apalagi Harun kini telah menjadi pengusaha sukses. luka lama yang terpaksa ia ungkap lagi ke permukaan, hati Salamah kini berlabuh pada dermaga hati Robi, pria yang kini tak lagi mempedulikan nya.
setelah malam itu keduanya pergi dari apartemen menggunakan mobil bus menuju kampung halaman Salamah yaitu Garut.
bersambung....
__ADS_1
terima kasih yang sudah mampir 😍😍