Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
jiwa tangguh.


__ADS_3

Adis menatap wajah Arsan dibalik kaca mata hitam nya, raut kelelahan nampak pada garis wajah nya namun tak sedikit pun mengurangi kharisma pria itu.


"nona anda baik-baik saja...?"


tanya Arsan memperhatikan wanita dengan masker wajah dan kacamata hitam nya.


Sore itu Arsan sampai di London, ia menilik buah buahan yang masih banyak.


"Arsan kamu sudah kembali?"


tanya Salamah membuat Arsan langsung menoleh.


"ya Bu.... assalamualaikum...!"


ucap Arsan mencium tangan ibu nya.


"walaikumsalam....


bagaimana proses melahirkan nya?"


tanya Salamah mengajak Arsan masuk ke dalam rumah.


"lancar Bu, bayi nya laki laki...!"


tutur Arsan memperlihatkan potret bayi mungil itu.


"tampan sekali ar, mirip sekali dengan mu...!"


ucap Salamah senyum memandang potret cucu nya itu.


"ya begitulah, kasihan ia juga senasib dengan ku...!"


ucap Arsan membuat Salamah tertegun.


"tumbuh dan berkembang jauh dari Ayah kandung nya, semoga kelak aku bisa membawa nya bertemu dengan ibu...!"


ujar Arsan membuat Salamah menitikkan air matanya.


"maaf kan ibu Ar....!"


ucap Salamah mengusap punggung Arsan.


"tidak apa-apa Bu, Tuhan yang merencanakan semuanya...!" ujar Arsan menghapus air mata yang mengalir di pipi ibu nya.


"Bu dagangan nya masih banyak?"


tanya Arsan menoleh ke arah buah-buahan Tersebut.


"ya, enggak ada Aa yang bawa hoki sih!"


ucap Regina Duduk di samping Arsan.


"jadi nya masih utuh, hanya beberapa yang keluar..m!"


ucap regina manyun.


"masa gara gara Aa sih re, ya namanya juga jualan enggak tentu. kita coba tawarkan di area sungai Thames, ini kan malam weekend, pasti banyak turis asing..."


tutur Arsan di anggukan oleh regina dengan antusias.


*

__ADS_1


Adis sedikit menggeser saat beberapa turis cantik mengambil dagangan Arsan membuat Arsan mengalihkan perhatian nya pada Adis.


Arsan tersenyum saat bule bule itu meminta Poto bersama, Arsan tampan pantaslah jika para bule perempuan itu menyukai nya.


"nona kamu mau beli juga...."


tanya Arsan menilik Adis yang mematung di hadapan nya.


"nona apa Anda mendengar saya?"


tanya Arsan dan di anggukan oleh Adis.


"aku beli semua....!"


ucap Adis membuat Arsan tertegun sejenak, entah pendengaran nya yang salah atau...


"suaranya persis Adis, kekasih ku!"


gumam Arsan namun cepat tersadar lalu membungkus buah-buahan tersebut, mungkin karena ia terlalu merindukan wanita itu hingga terdengar suara nyaring di telinga nya.


"terima kasih nona....!"


ujar Arsan tersenyum, tak melihat air mata mengalir di balik masker itu.


"aku rindu kamu bang... kenapa harus terasa perih lagi..."


gumam Adis melangkah pergi tanpa menjawab penuturan Arsan, "apa aku sedang bermimpi bang? kenapa saat seperti ini harus ada seseorang yang begitu mirip dengan mu? atau itu benar benar kamu? atau khayalan ku tingkat tinggi hingga apa yang ku lihat itu hanya dirimu?"


gumam Adis kemudian menyetop taksi, ia harus segera kembali ke hotel karena tubuhnya terasa lemas.


"apa kamu tinggal di sini juga? seperti nya aku tidak sanggup jika harus terus bertemu dengan mu, aku tidak akan berhasil menghapus nama mu dalam relung hati ku..."


"apa maksud semua ini Tuhan, aku tidak mengerti! mengapa di saat aku hampir berhasil melupakan nya justru ia hadir berulang kali membuat jiwa ku meronta dan berkata aku masih mencintainya...


ucap Adis berjalan di koridor hotel dengan terisak.


Adis menghempaskan tubuhnya di ranjang, kakinya terasa lemas, ia meletakkan buah-buahan itu di sembarang tempat.


"apa yang terjadi? siapa perempuan yang bersama mu bang? secepat itu kamu beralih?"


tanya Adis menghapus air matanya.


"lupakan dia Adis, selama ini juga dia hanya berniat mempermainkan mu, terlalu berharga air mata mu jika terus menangisi seseorang yang mungkin saja tak lagi mengingat mu...


cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan, sesadar sadar nya harus tahu batasan bahwa apa yang kamu tangisi adalah dia yang juga mencintai mu..."


gumam Adis mencoba menasehati dirinya sendiri.tubuh nya lelah, ia tertidur dalam keadaan mata yang basah.


Arsan termenung sendiri, entah kenapa suara wanita itu persis milik Adis, atau itu hanya pendengaran nya saja karena terlalu merindukan wanita itu.


beberapa kali mencari informasi tentang keadaan Adis namun ia tak mendapatkan nya.


Ibra menutup rapat keluarga nya dari publik, Arsan begitu merindukan sosok Adis dua bulan terakhir pelukan hangat itu masih terasa di jiwa nya yang meronta kembali meminta tubuh itu Kembali mendekap nya.


Harun tersenyum mendengar kegigihan Arsan, ia masih memberikan waktu dan ingin melihat bagaimana perjuangan anak kandung nya itu.


"bagaimana tuan, apa kita menjemput mereka sekarang?"


tanya asisten pribadi Harun.


"tidak, biarkan saja dulu aku ingin melihat sampai dimana perjuangan nya bertahan hidup dengan kondisi seperti itu!"

__ADS_1


"tapi sepertinya Arsan mulai terbiasa dan menikmati hari hari nya menjadi penjual buah buahan..."


"aku tahu, dia seperti ku. tak pernah ambil pusing! nikmati apa yang bisa di nikmati...itu Lebih terasa ringan dari pada mengeluhkan kondisi itu.


hidup memang harus bersusah payah agar membangun jiwa yang tangguh."


ucap Harun tersenyum.


"lalu bagaimana dengan Robi dan Bastian...tuan?"


"aku tidak mau mengurus mereka, kau tahu hukum alam. mereka akan menuai apa yang mereka tanam karma itu berlaku di dunia..."


ucap Harun simpel.


"pesankan aku tiket pesawat menuju London, aku ingin bertemu dengan Salamah ku.."


ucap Harun, telah lama ia menduda karena istri nya meninggal karena kecelakaan.


"mau kemana pah?"


tanya putra Harun yang kini tengah kuliah bisnis.


"papah akan pergi ke London, Rey.


kemungkinan tiga hari..."


ucap Harun dan di anggukan oleh pria tampan itu.


"oh, ya Rey. kolega bisnis papah menyukai hasil lukisan mu yang kemarin. mereka ingin membeli lukisan itu!"


ucap Harun, putra nya itu selain pintar ia juga memiliki hobi melukis yang kini menghasilkan uang.


"ya, terserah papah saja!"


ucap Rey melenggang pergi dengan santai.


Harun merasa bangga karena memiliki dua putra dengan jiwa tangguh, teringat beberapa bulan yang lalu Rey datang meminta nya melamar Seseorang, tentu saja hal itu membuat nya tertawa.


"papah tanya, apa yang kamu miliki hingga berani meminta papah melamar pacar mu itu..."


Rey terdiam mendengar penuturan sang papah.


"aku memang memiliki uang dan harta yang banyak, bukan hal yang sulit untuk ku menghidupi istri mu kelak, tapi Rey kamu masih terlalu muda untuk berumah tangga.


pikirkan masa depan, tuntut lah ilmu sampai kamu bisa menjadi orang besar yang dengan kagum orang memandang mu, jangan hanya memikirkan cinta yang kapan saja bisa berpindah haluan...."


ucap Harun membuat Rey terpaku.


"pergilah ke Amrik, lupakan perempuan itu.


usiamu masih terlalu dini untuk menikah, ego mu masih terlalu besar untuk mengalah pada hal hal kecil, rumah tangga bukan hanya tentang tidur bersama....!"


"tapi pah..."


ucap Rey sedikit membantah.


"ingat pesan Mama, di ingin kamu menurut pada papah dan menjadi orang sukses...


jodoh tidak akan kemana!


kalau dia cinta maka dia akan menunggu mu, jika dia pergi bersama orang lain maka dia memang tercipta bukan untuk mu..."

__ADS_1


bersambung...


terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2