Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
CEO perusahaan.


__ADS_3

Regina termenung sendiri saat mengingat arsan bercerita tentang hubungan nya dengan Adis, dan tentu saja mereka berbicara setelah salsa pulang dari rumah itu.


"dia itu mantan istri Aa, re. sampai saat ini Aa masih mencintainya. dan itu alasan Aa berpisah dengan salsa. Aa tidak menyangka bahwa kamu berteman dekat dengan nya.."


ucap Arsan dengan tatapan jauh ke depan, menatap sungai Thames yang bersalju.


"Aa enggak pernah cerita Sama Rere soal ini...mana Rere tahu kalau Adis itu mantan istri Aa. beberapa bulan ini kita dekat, bahkan Adis bantu Rere jualan di kampus!


dia baik hanya sedikit introver..."


tutur regina menoleh kearah Arsan yang masih menatap air yang jernih.


"dia memang baik, setahu Aa dia sakit kanker...."


ucap Arsan membuat regina tercengang.


"tapi Rere lihat Adis baik baik saja.."


tutur regina mengingat kebersamaan nya dengan Adis, tak pernah Adis mengeluh apa apa.


"Aa berharap dia sembuh..."


ucap Arsan yang terus berdoa untuk kesembuhan perempuan itu.


regina bingung saat ini ia tidak bisa menghubungi Adis sama sekali, sudah di pastikan Adis tak akan bersikap sama seperti kemarin setelah kejadian itu.


*


Arsan menatap wajah bayi mungil itu, salsa sengaja meninggalkan Al di rumah itu untuk bermalam bersama Arsan sementara ia kembali ke hotel.


"Ar...ini susu nya!"


ucap Salamah menghampiri.


"cakep banget cucu nenek..."


ucap Salamah memangku Al yang menggeliat.


"sebenarnya salsa tidak harus di hotel, jadinya kan jauh sama Al..."


ucap Salamah mencium pipi bayi tersebut.


"salsa dengan keluarga nya Bu, itu lebih baik karena Arsan dan salsa juga sudah bercerai..."


ucap Arsan tak ingin memberikan harapan palsu.


"ibu paham, tapi apa kamu tidak melihat sedikit saja ketulusan salsa....?"


tanya Salamah menatap Arsan.


"Arsan enggak tahu bu, rasanya bingung dan enggak tahu harus bagaimana. di sini Arsan yang salah tapi Arsan juga tidak bisa mempertahankan salsa karena hal itu hanya akan menyakiti nya, Arsan saja belum tentu kembali dengan Adis karena belum tentu Adis mau kembali dengan Arsan yang sudah banyak menyakiti nya.


"kamu sabar ya Ar... semua pasti ada jalan keluar nya. ibu tidurkan Al dulu di kamar.


biarkan dia tidur sama ibu...!"


ujar Salamah lalu beranjak dari duduknya.


tiga hari berlalu..


di kantor...


Arsan mengepalkan tangannya saat Yuda melempar proposal ke dalam wajah nya hanya karena Arsan terlambat membuat nya.


"saya memang bawahan tapi apa tidak bisa sedikit saja Anda menghargai saya di sini..."


tutur Arsan dengan gemeretak gigi nya menahan kesal.


"memang kamu siapa disini, saya atasan dan saya bisa berbuat apa pun yang saya mau termasuk memecat kamu dari perusahaan ini..

__ADS_1


kami tidak butuh karyawan seperti kamu"


ucap Yuda terpaku saat melihat Harun masuk ke dalam ruangan nya.


Arsan menoleh pada Harun yang juga tengah memperhatikan nya.


ia sudah siap keluar dari perusahaan itu.


"bagaimana bisa kamu memecat CEO perusahaan ini...."


ujar Harun membuat Yuda dan Arsan mengernyitkan keningnya.


"maksud pak Harun...?"


ucap Yuda sedikit takut. Arsan tertegun mendengar nama Harun.


"duduklah Arsan...!"


titah Harun, namun Arsan tak bergeming.


"Arsan... duduk!"


ucap Harun dengan tegas membuat Arsan langsung menurut.


"Yuda, aku tahu bagaimana kelakuan mu pada karyawan yang bekerja di perusahaan ku, bukan hanya pada Arsan putra ku!"


ucap Harun membuat Arsan tercengang.


"putra pak harun?"


tanya Yuda terbata.


"ya, Arsan putraku....dia CEO di perusahaan ini, bagaimana bisa kamu memecat nya!"


ucap Harun membuat Yuda tertegun.


Arsan sendiri diam tak percaya jika seseorang yang menjadi ayah kandung nya, kini berada di hadapan nya.


ucap Harun membuat Yuda membeku.


"maaf kan saya pak Arsan, saya tidak tahu kalau anda anak pak Harun...!"


ucap Yuda membungkuk di hadapan Arsan yang mematung.


"Arsan....!"


ucap Harun merentang kan kedua tangan nya hendak memeluk Arsan yang masih bingung harus berbuat apa.


"aku ayah mu, bukan Robi.


maafkan aku...!"


ucap Harun mendekat memeluk Arsan yang masih mematung.


"kamu marah pada ku, atau kamu merasa ini seperti mimpi?"


tanya Harun membuat Arsan tertegun.


"ayo kita pulang, kita bicara dengan ibu mu..."


ucap Harun merangkul pundak Arsan.


semua karyawan di perusahaan itu seketika memberikan hormat pada Arsan saat mendengar kabar dari Yuda bahwa Arsan adalah anak pak Harun pemilik perusahaan tersebut.


Arsan sendiri hanya diam masih seperti mimpi bahwa Harun ada di hadapannya.


"ayo kita pulang ke rumah ibu mu...!"


ucap Harun mengajak Arsan naik ke mobil mewah milik Harun.

__ADS_1


"Arsan, kenapa kamu diam? kamu tidak percaya kalau aku ayahmu?"


tanya Harun.


"aku percaya hanya untuk apa anda melakukan hal itu, aku masih mampu mengatasi masalah itu!"


ujar Arsan merasa lemah.


"aku ayah mu, mana mungkin aku membiarkan mu di hina seperti itu? selama ini aku membiarkan mu berjuang sendiri sampai Salamah mengakui bahwa kamu adalah buah cinta kami yang selama ini ia sembunyikan...!"


ujar Harun mengingat kisah lama bersama Salamah.


"karena Robi menelantarkan kalian maka aku sebagai ayah mu tidak mungkin diam saja membiarkan kalian menderita!"


ujar Harun, tak berapa lama mereka sampai di rumah sederhana itu.


Salamah memperhatikan sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah, pagi tadi salsa sudah menjemput Al untuk ikut dengan nya.


salamah tertegun saat melihat pria yang sudah begitu lama tak pernah ia jumpai berjalan bersama Arsan, yang menjadi buah hati mereka berdua.


"assalamualaikum..."


ucap Arsan di ikuti Harun di belakang.


"walaikumsalam......"


ucap Salamah lirih.


"Bu....!"


ucap Arsan merangkul pundak Salamah.


"aku datang untuk menjemput kalian, maafkan aku membiarkan mu kesusahan.."


ucap Harun namun Salamah menggeleng kan kepalanya.


"aku tidak bisa, tapi kamu boleh mengajak Arsan. dia anak mu!"


ucap Salamah membuat Arsan menoleh seketika.


"tidak bu, Arsan ingin bersama ibu!"


ucap Arsan mengeratkan rangkulan nya.


"ikutlah denganku, aku janji akan memperbaiki semuanya. mari kita menikah seperti harapan kita dulu!"


ucap Harun membuat Salamah tertegun.


"aku tidak yakin dengan itu karena kamu memiliki keluarga lain yang mungkin tidak bisa menerima kami di rumah mu.."


"jangan pikirkan soal itu karena istri ku sudah tiada, putra ku juga sudah besar...aku mohon pada, Salamah!"


ucap Harun memohon.


sementara tiga hari ini Adis menghabiskan waktunya di rumah, kampus juga libur karena badai salju yang terus melanda kawasan tersebut. hal itu menguntungkan bagi Adis yang tak ingin bertemu dengan regina apa lagi Arsan, mencoba baik baik saja setelah beberapa kali di hantam badai kepedihan, Adis mencoba untuk tidak mengingat pria itu lagi.


"dis....kamu tidur?"


tanya ane mengetuk pintu kamar gadis itu.


"enggak, ada apa Tante?!"


tanya Adis senyum.


"Antar Tante belanja kebutuhan dapur yuk!"


ajak ane yang merasa sedikit aneh dengan sikap Adis yang terkesan lebih diam dan selalu mengunci diri di kamar setelah sore dimana ia pulang dari sungai Thames.


bersambung....

__ADS_1


terima kasih atas kunjungan para reader 😍😍


__ADS_2