Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
steak ayam.


__ADS_3

dua bulan berlalu....


Arsan memandang potret lucu Al dalam ponsel nya, siang itu salsa mengirimkan potret potret lucu Al yang kini berusia dua bulan lebih, Arsan bersyukur karena sekarang ia sudah bekerja di perusahaan itu, dan bisa membantu nya mengirimkan biaya untuk kebutuhan jagoan nya.


"sabar ya de, nanti papah jenguk kamu...!"


ujar Arsan tersenyum.


"Arsan....."


ucap seseorang memanggil.


"ada apa pak?"


tanya Arsan menghampiri. pak tua itu memang terlihat tak menyukai nya di tempat itu.


"kamu buatkan proposal untuk proyek di kota x...sore ini...!"


ujar pria itu sambil melenggang pergi.


Arsan tertegun mendengar perintah pak Yuda yang selalu seperti itu pada nya.


"seperti ini kah menjadi bawahan..."


ucap Arsan sedikit mengeluh lalu beranjak pergi melaksanakan perintah atasan nya itu.


Arsan menghentikan langkahnya saat terasa ponsel nya bergetar.


"halo....!"


gegas arsan mengangkat telepon dari regina.


"ada apa re...?"


tanya arsan kemudian.


"A, ibu sakit sekarang ibu pingsan...!"


ujar regina membuat Arsan tercengang.


"ya sudah, Aa pulang sekarang!"


ujar Arsan lalu menghampiri Yuda untuk meminta izin.


"enak sekali Kamu minta pulang... selesai kan pekerjaan mu dulu...!"


ucap Yuda membuat Arsan tertegun.


"saya mohon, ibu saya sakit pak...!"


ujar Arsan memohon.


"kamu boleh pulang, tapi kamu di anggap tidak masuk hari ini....!"


Arsan tidak berpikir panjang lagi, ia langsung pergi dari perusahaan itu. tak peduli jika nanti gajih nya akan di potong.


tak ingin terjadi hal buruk terhadap ibunya, wanita yang akan selalu ia kedepankan apapun resikonya.


tanpa sadar setiap gerak gerik nya tak pernah lepas dari pengamatan Harun yang terus mengawasi nya dari jarak dekat atau pun jauh.


"re, gimana keadaan ibu!"


ujar Arsan saat ia sampai di rumah.


"Alhamdulillah udah sadar A, cuma badannya panas!"


tutur regina menyentuh tubuh lemah itu.


"ya sudah kita bawa ke dokter saja sekarang, Aa pesan taksi dulu..!"


ucap Arsan bergegas keluar untuk mencari taksi.


"tuan apa kita harus bertindak?"


tanya asisten Harun yang mengikuti Arsan.


"kita lihat saja jika dalam waktu dua puluh menit tidak ada taksi maka kita akan bertindak...!"

__ADS_1


ucap Harun namun tak menunggu waktu lama Arsan langsung menemukan taksi.


bergegas ia membawa Salamah ke rumah sakit.


hari hari berlalu, meski sudah bekerja di perusahaan tersebut. Arsan tetap mengais rezeki dengan menjual buah buahan pada sore hari setelah ia pulang dari kantor.


ia harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan juga Al yang jauh dari jangkauannya, hal itu membuat arsan tak pernah absen memberikan biaya untuk kebutuhan anak nya itu.


begitu juga dengan Adis, ia sudah mulai kuliah di London. untuk menghindari Sesuatu yang membuat nya kacau ia lebih memilih di rumah setelah pulang dari kampus.


meski rasa nya ingin mencari tahu tentang apakah pria itu masih berada di negara itu atau tidak. namun Adis urungkan seperti janji nya bahwa ia tak ingin lagi berharap pada Arsan. cinta sendirian itu menyakitkan, kondisi nya juga semakin baik, ia tak lagi bergantung pada obat obatan meski sesekali ia harus mengkonsumsi obat sesuai anjuran dari Hans.


tiga bulan berlalu Adis mulai terbiasa dengan lingkungan sekitar nya, namun menutup diri pada pria yang berupa mendekati nya.


Adis duduk di kursi taman kampus sendiri sambil membuka buka buku pelajaran nya, ia memperhatikan seorang perempuan yang tengah menawarkan makanan dagangannya.


Adis beranjak dan menghampiri perempuan itu.


"hai, kau mau beli steak ayam ku?"


ucap perempuan itu tersenyum. ia adalah regina yang setiap harinya menjual steak ayam hasil olahan nya bersama Arsan.


"aku menjual steak daging ayam yang di jamin rasanya enak dan halal...!"


ucap regina memberikan satu buah kotak makanan persegi panjang.


"aku mau beli dua...."


ucap regina sedikit tercengang.


"hei...kau orang Indonesia?"


Adis mengangguk sambil mengulas senyum kecil.


"aku juga orang Indonesia..."


"wah kebetulan sekali ya... apa aku boleh duduk di sini?"


tanya Adis menunjuk kursi panjang yang berisi beberapa tumpukan dagangan perempuan itu.


"boleh....!"


"aku regina.... anak hukum?"


ucap regina mengulurkan tangannya.


"aku Adis, aku kuliah jurusan akuntansi..."


ucap Adis senyum.


"wah, seperti nya kamu pandai berhitung!"


ucap regina kagum.


"tidak juga....!"


ucap Adis memulai menyantap makanan tersebut.


"enak, apa kamu membuat nya sendiri!"


tanya Adis sambil mengunyah.


"ya, aku membuat nya bersama kakak ku..."


ucap regina sambil melayani pembeli.


"kamu punya kakak?"


"ya, laki laki. kami dari keluarga menengah yang harus kerja keras mengais rezeki.."


ucap regina terkekeh kecil lalu memperhatikan Adis yang tampak menikmati makanan tersebut.


"hebat, aku kagum dengan mu re.."


tutur Adis masih menikmati makanan itu sedikit demi sedikit.


steak ayam merupakan makanan kesukaan nya, dulu Arsan juga pernah membuat kan makanan itu untuk nya. dan rasanya sama seperti steak yang tengah ia santap.

__ADS_1


"enak sekali....aku beli satu lagi untuk di rumah!"


ucap Adis lalu membereskan sisa sampah bekas makanan itu.


"boleh, kau suka!"


tanya regina menyodorkan satu.


"suka sekali re... terimakasih..!"


ucap Adis lalu membayar nya.


"besok aku akan kembali lagi, sisa kan aku ya!"


ucap Adis dan di anggukan oleh regina.


"ya sudah aku duluan..!"


"sebentar Adis...."


ucap regina menghentikan langkahnya.


"apa kamu mau berteman dengan ku?"


tanya regina.


"tentu saja, kita satu kesatuan Indonesia...aku senang bisa mengenal mu.."


ucap Adis lalu beranjak pergi meninggalkan regina yang masih menatap nya.


"cantik sekali...."


ucap regina lalu kembali menawarkan dagangannya.


Adis tidak tahu jika wanita yang berbicara dengan nya adalah adik perempuan Arsan, enam bulan menikah dengan Arsan ia tidak pernah mengenal keluarga pria itu, Arsan Tak pernah menunjukkan potret keluarga nya meski sesekali pernah bercerita.


Adis sampai di rumah dan melihat Ibra yang baru saja tiba di London.


"kak ibra?"


ujar Adis tersenyum menghampiri.


"kapan datang?"


"baru saja dis... gimana keadaan kamu?"


tanya Ibra menilik keseluruhan adiknya itu.netra nya terhenti pada bungkusan yang Adis bawa.


"baik, Adis baik baik saja!"


"bagus lah, apa yang kamu bawa?"


tanya Ibra.


"ini steak ayam, teman Adis jualan di kampus!


enak banget, yang satu untuk kak Ibra, dan yang satu untuk Tante!"


"wah Tante kebagian juga?"


ucap ane tampak senang.


"nanti kamu mana?"


tanya Ibra, ia tahu kalau steak ayam merupakan makanan favorit Adiknya.


"udah makan tadi di kampus kak...ayo makan!"


titah Adis tersenyum.


ia tidak akan menghindari lagi hal hal yang berkaitan dengan Arsan, rasa dan kenangan itu masih tetap utuh. Maka saat ini yang akan ia lakukan adalah menikmati segala proses nya, membiarkan semua berjalan apa adanya.


tanpa ia harus berpikir untuk menghindar atau takut lagi.


seiring waktu berjalan, mengajar kan Adis untuk berserah saja. menuntut banyak hal hanya akan membuat nya semakin tertekan, meski jiwa terus meronta ingin bertemu dengan nya namun dengan tertatih, sekuat tenaga ia mencoba menghalau rasa rindu itu melalui doa.meyakinkan diri bahwa apa yang menjadi milik nya tak akan pernah hilang dari nya.


bersambung.

__ADS_1


terima kasih sudah mampir 😍😍🤭


__ADS_2