Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
fitnah.


__ADS_3

beberapa tetangga juga sempat heran dan ingin menanyakan perihal kegaduhan yang sering terjadi dirumah itu, namu arsan yang memang tertutup dan sibuk membuat mereka segan untuk bertanya apa lagi mengenai masalah pribadi.


di kompleks itu juga hanya sebagian yang mengetahui jika arsan sudah menikah, Adis tak bisa menahan pembantu saat mengatakan ingin berhenti bekerja di rumah itu, mengingat banyak kejadian yang membuat wanita paruh baya itu merasa takut bahkan merasa nyawa nya terancam jika terus bekerja di rumah itu.


sebenarnya pembantu juga kasihan pada majikannya itu, apa lagi arsan selalu bepergian. tapi ia juga memikirkan keluarga nya di kampung. sore itu juga pembantu pamit pulang.


"dis, tidur lah ini sudah malam, aku akan menghubungi Medina untuk menemani mu. semoga dia mau"


ujar Arid di telpon.


"kalau dia tidak mau bagaimana bang?"


"aku coba telpon dulu!"


ucap Arid lalu mengakhiri telponnya.


Medina senyum saat melihat Arid menghubungi nya, mungkin kah pria itu sudah Sadar bahwa sudah lama ia menuggu.


"halo rid....!"


"Medina, apa kamu bisa datang ke rumah pak arsan....!"


ucap Arid tanpa basa-basi menjelaskan maksud nya, tentu saja hal itu membuat Medina kecewa, ternyata yang terjadi jauh dari ekspektasi nya.


"aku tidak bisa karena pak arsan juga tidak memberi perintah, kamu pikir siapa dirimu?


kamu saja yang temani jika kamu khawatir pada nya...!"


ucap Medina langsung mematikan panggilan tersebut.


"kenapa sih kamu malah tertarik pada perempuan yang sudah menikah Ar?"


tanya Medina dalam hati nya.


Arid melajukan mobilnya menuju rumah Arsan, Medina tak bisa di ajak kerjasama.


Arid memperhatikan rumah besar itu tampak sepi, ia kasihan pada Adis sendirian di rumah itu.


"halo bang?"


ucap Adis saat Arid menghubungi nya.


"dis, apa kamu sudah tidur?"


"belum, aku tidak tenang. aku takut?!"


"tidur lah kamu harus istirahat, ingat kamu...."


"ya, aku tidak lupa!"


"aku di depan rumah mu, aku akan menunggu mu di dalam mobil, aku akan berlari jika terjadi suatu bahaya pada mu..."


ucap Arid membuat Adis tertegun lalu melihat ke jendela dimana terdapat sebuah mobil parkir tak jauh dari rumah.


"aku merepotkan mu Bang!"


"tidak apa-apa..."


ucap Arid lalu tak ada yang bicara.


***


Arsan sendiri berada di gedung perusahaan nya, ia ragu untuk pulang. pikiran nya kacau karena ancaman dari Bastian. belum lagi Hans.

__ADS_1


"Arsan, bagaimana jika aku tertarik pada istri mu. aku akan melunasi hutang ayah mu jika kamu membiarkan ku untuk melewati satu malam saja dengan istri mu itu..."


"brengsek, itu tidak akan pernah terjadi...."


ucap arsan membuat Hans tertawa.


ia memang khawatir pada Adis tapi ia juga bingung dengan ancaman Bastian.


"mungkin aku memang harus melepas mu, dengan itu kamu tidak akan terlibat masalah ku... meski sejujurnya aku begitu menyayangi mu, tapi berada di dekat ku hanya akan membuat mu lebih menderita..."


ucap arsan memijat keningnya sendiri.


Adis memejamkan matanya yang mengantuk, mempercayakan Arid untuk menjaga nya dari luar. meski pikiran nya tak henti memikirkan Arsan tapi ia butuh istirahat mengingat keadaan nya yang tak baik.


Arid Menoleh pada seseorang yang mengetuk kaca mobil nya, ia pun keluar membuka pintu.


terlihat pria Paruh baya mengunakan kopiah tersenyum.


"mobil nya mogok....?"


"bukan pak,, saya........!"


ucap Arid terhenti.


"ayo ngobrol, beberapa satpam bertanya tentang keberadaan kamu di sini...!"


ucap pria itu ramah.


"jadi begini pak saya...........!"


ucap Arid terpaksa menceritakan semuanya pada pria itu, pak Zahid pria itu RT di kompleks perumahan itu.


"oh begitu, ya saya juga sering mendengar kegaduhan di rumah itu... biarkan nanti istri saya menemui nya untuk ikut dengan kami, agar tak menjadi fitnah, sebaiknya kamu pulang!"


ia juga tidak mengerti kenapa arsan tidak pulang di saat kondisi tak aman seperti ini, apa ia tidak mengkhawatirkan keadaan Istri nya.


Hans seorang mafia kejam yang bisa saja mencelakakan istri nya,dan arsan malah menghilang begitu saja.


apa karena permasalahan yang terjadi tadi siang, tapi apa pun itu harus nya ia pulang dan menyelesaikan masalah nya bukan malah menghindar membuat keadaan semakin buruk.


Adis membuka matanya saat Arid menelpon nya.


"halo bang...!"


"keluar lah aku berada di depan rumah?!"


ucap Arid membuat Adis terheran.


namun ia beranjak dari ranjang melangkah ke luar.


"Bang,,,!"


ucap Adis mengernyitkan dahi nya melihat Arid beserta pak RT dan Istri nya.


"Adis, ini pak RT dan Istri nya..."


"ada apa bang....!"


"Adis kamu bisa ikut dengan mereka.....!"


ucap Arid lalu menjelaskan tentang kekhawatiran nya.


"ya, kasihan Arid jika menuggu di depan.

__ADS_1


kamu ikut sama ibu saja..


nama ibu, ibu nurma!"


Adis mengangguk sambil mengulurkan tangannya.


"ya, sudah tapi apa tidak merepotkan?"


"tidak apa-apa, di rumah hanya ada kami berdua!"


"kamu kan sudah menikah, menghindari fitnah saja karena kalian tahu saat seperti ini setan akan terus merongrong untuk berbuat tidak baik...!"


ucap pak Zahid di angguki oleh Arid.


Adis menurut ia masuk ke dalam untuk mengambil pakaian ganti dan ponselnya.


"ya, sudah aku pulang. aku rasa kamu sudah aman... semoga arsan cepat pulang!"


"terimakasih Bang, maafkan aku sudah merepotkan mu...!"


ucap Adis, kini mereka berada di depan rumah pak RT.


"tidak apa-apa, jika seperti ini aku lega. karena kamu tidak sendiri lagi...!


aku pamit ya!"


ucap Arid di angguki oleh Adis, lalu Arid berpamitan pada kedua orang itu.


Arid menoleh ke belakang saat hendak pergi meninggalkan rumah mereka, pak Zahid bisa merasakan sesuatu yang berbeda dengan tatapan Arid pada Adis.


"hati hati ya bang...."


ujar Adis senyum simpul.


Arid mengangguk lalu masuk ke dalam mobil nya.


"ayo neng....!" ucap Bu Nurma mengajak Adis masuk ke dalam rumah.


"terimakasih Bu, saya akan merepotkan..."


"tidak apa-apa, sudah malam.


ayo istirahat...!"


ucap Bu Nurma mengajak Adis ke kamar tamu.


"kalau ada apa-apa bilang saja sama ibu...!"


"terimakasih Bu....!" ucap Adis senyum lalu masuk ke dalam kamar.


Adis merebahkan tubuhnya di ranjang, benaknya memutar mengingat arsan yang entah dimana.


"bang, kamu Dimana?"


gumam Adis dalam hati Lalu memejamkan matanya.


"aku Rindu masa masa indah kita, aku ingin seperti malam malam yang lalu terlelap dalam dekapan mu... kenapa kamu menghilang begitu saja?"


ucap Adis tak ada lagi bisa ia jadi kan pelipur lara, ia begitu merindukan pria itu.


Arsan tak bisa tidur, berkali-kali ia mencoba memejamkan matanya namun tidak bisa, gegas ia keluar dari gedung perusahaan itu.


bersambung....

__ADS_1


terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍.


__ADS_2