
Adis tampil cantik dengan dress berwarna merah maroon di padukan kerudung segitiga bercorak bunga.
waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam, kebetulan sekali ada Rahma yang baru saja datang dari Indonesia.
"jadi ceritanya mau ada tamu spesial nih..."
tanya Rahma membantu menata makanan.
"enggak kok biasa aja...."
ucap Adis tersenyum kecil.
tak lama Adis mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah, jantung nya tiba tiba berdetak kencang tak biasa nya ia merasa gugup seperti saat ini.
"Adis......ada Arid nih udah datang?!"
ucap Hilman yang membuka pintu, ia memang tengah berada di ruang tamu.
Adis melangkah ke luar menghampiri Hilman dan arid yang baru datang.
Adis menghentikan langkahnya saat melihat arid yang berdiri di samping Hilman, pria itu tampak santai dengan kaos berwarna navy dan jas berwarna biru muda.
tersenyum melihat adis berdiri di ambang pintu masuk menuju ruang tamu.
"assalamualaikum dis....!"
ucap arid tersenyum.
"walaikumsalam...bang...!"
jawab adis lalu menghampiri Winda lalu mencium tangan Winda.
"gimana kabar nya Bu?"
tanya Adis senyum sambil mengelus pipi Naura.
"Alhamdulillah baik...!"
ucap Winda mencium pipi kanan dan kiri Adis.
"ayo kita langsung makan saja...!"
ucap Hilman lalu mengajak masuk ke dalam ruang makan.
beberapa kali arid mencuri pandang pada Adis yang malah asyik ngobrol dengan Winda.
"ibu repot enggak ada yang bantu jaga Naura.."
__ADS_1
ucap Winda.
"ya ya mah, itu pasti. Naura butuh sosok ibu...."
ucap Rahma yang ikut berbincang, sementara Arid lebih banyak diam. begitu juga dengan Adis yang entah kenapa rasanya canggung.
makan malam berjalan lancar karena ada pembantu yang memegang Naura.
"gimana rid, proyek kamu yang baru....?"
tanya Hilman.
"enggak ada Kendala om Alhamdulillah.... Kendala nya cuma satu....!"
ucap arid menoleh kearah Adis.
"apa itu?"
tanya Hilman menatap wajah Arid.
arid tak menjawab ia hanya tersenyum melirik ke arah Adis yang tertegun.
"dis, boleh enggak Abang bicara berdua....?"
tanya Arid menatap wajah Adis.
"ya sudah kalian ngobrol berdua dulu..."
keduanya duduk di kursi ruang tamu, arid duduk di hadapan Adis yang merasa gugup tak biasa nya ia seperti itu di hadapan arid.
"aku pernah mendengar Ali bin Abi Thalib berkata... Cinta tidak dapat di nanti, ambil dia dengan penuh keberanian atau lepaskan dengan penuh keridhaan..." ujar arid membuat jantung Adis berdetak kencang.
"kemarin Abang lepaskan dengan keridhaan, namun saat ini Abang memberanikan diri untuk mengambil nya......"
ucap Arid, Adis menoleh menatap mata arid yang penuh kasih.
"apa kamu mau menjadi teman hidup Abang, de?"tanya arid membuat Adis menganga.
pria itu benar benar menyampaikan niatnya.ia sendiri bingung harus menjawab apa, meski jujur dalam hati ia butuh seseorang mengisi kekosongan hati nya.tapi apakah arid orang yang tepat?
"kamu yakin dengan keinginan kamu itu bang?"
tanya Adis menatap ke dalam netra milik arid.
"Abang yakin, apa kamu masih ragu?...Abang tahu semua tak mudah tapi kasih Abang kesempatan untuk membahagiakan kamu...!"
ucap Arid, dan di tanggapi senyuman dari Adis.
__ADS_1
***
Adis menatap dirinya di cermin, kebaya pengantin berwarna putih tercetak pada tubuhnya yang indah.
ini adalah pernikahan ke-tiga nya setelah pertama dan ke dua dengan pria yang menjadi pilihan sang kakak.
"aku yakin saat ini kamu sudah bahagia dengan perempuan yang menjadi cinta pertama kamu, tak ada lagi kemelut yang membelenggu jiwa......"
Rahma mengetuk pintu kamar saat Adis sudah resmi menjadi istri arid.
"ayo dis, Alhamdulillah sudah sah..."
ucap Rahma menggenggam tangan Adis, senyum mengembang di wajah perempuan cantik itu.
acara tersebut berlangsung di Indonesia seperti keinginan Winda yang juga menggelar acara pernikahan untuk keduanya, di pernikahan pertama Arid atau pun Adis tak ada pesta. semua di gelar hanya sekedar akad saja.
Ibra merasa bahagia karena pada akhirnya Adis bersama seseorang yang pernah ia harapkan dulu, meski tak di pungkiri Arsan juga pria baik namun takdir berkata lain, keduanya berpisah.
Ibra sendiri tak percaya bahwa Adis mampu melewati semua itu tanpa Arsan yang dulu menjadi pujaan hati nya.
Ibra juga mengundang Arsan ke acara pernikahan Adis dan Arid namun arsan tidak Hadir karena walau bagaimanapun ia tidak bisa melihat mereka berdua.
kedua nya tampak serasi berdiri di depan pelaminan, Berbagai macam bunga menghiasi pelaminan tersebut.
"terima kasih....."
ucap arid di telinga adis.
"untuk.......?"
"kamu mau menerima aku....?"
"aku yang terima kasih, kamu menunggu aku selama ini....?"
"aku hanya meyakini bahwa apa yang menjadi takdir ku tidak akan pernah melewatkan ku..."
ucap arid menggenggam tangan Adis.
"pada akhirnya dia lah yang menjadi pilihan ku, pria yang kehadirannya seperti piguran atau pemeran pembantu, tapi memang dia lah yang banyak membantu di awal kisah ku bersama suami pilihan kakak ku...
sempat tidak percaya dengan takdir tuhan, aku bisa berada di masa aku berdiri di samping dia yang dulu begitu enggan menyentuh ku meski aku tahu dulu dia begitu ingin merengkuh ku.... tapi kini tak ada lagi jarak, tak ada lagi kekhwatiran....yang membuat semua indah adalah saat doa yang menyatukan kita.......!
terima kasih Tuhan, ya Allah atas semua nikmat dan karunia mu......aku masih bisa bernafas hingga kini, memeluk nya dalam ridho MU....!"
gumam Adis mendekap tubuh Arid dengan jantung yang berdetak kencang.
memejamkan matanya saat Arid mengecup kening nya singkat.
__ADS_1
Tamat.....
Terima kasih yang sudah mampir dan setia dengan novel ini...😍😍😍