Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
kasih.


__ADS_3

Arid tidak menyangka bisa bertemu dengan Adis, setelah sekian lama ia tidak pernah mendengar kabar tentang keberadaan nya.


"kamu udah lama kerja di perusahaan itu?"


tanya Arid duduk di kursi masih menggendong bayi perempuan cantik berkerudung merah itu.


"Aku pikir bukan kamu dis...."


ucap nya lagi.


Alisa sendiri tidak menyangka kalau Adis mengenal CEO perusahaan besar itu.


"belum lama ini, setelah Adis lulus S2..."


"udah lulus S2 juga? hebat ya....!"


ucap arid senyum memberikan beberapa berkas pada Alisa.


"maaf ya aku bicara dengan kalian sambil menggendong bayi ku...!"


"enggak apa-apa pak arid...!"


ucap Adis berusaha untuk fokus.


"tiap hari di bawa ya pak?" tanya Alisa.


"enggak sih, cuma hari ini Oma nya sakit...!"


ucap arid, diam diam memperhatikan Adis yang tampak fokus.


tak berapa lama meeting room pun selesai, pria itu bisa berbicara dengan lancar dan mudah di pahami, dengan keadaan yang masih menggendong bayi tersebut.


"kemana ibunya....?"


tanya Adis dalam benak sambil membereskan berkas berkas nya.


"demikian meeting ini, nanti sampai kan saja jika ada yang tidak di pahami....!"


"baik pak.....!"


ucap Alisa dan Adis lalu beranjak.


"dis.....!"


ujar arid menghentikan langkahnya menoleh ke arah arid.


"ya, ada apa pak arid...?"


tanya Adis, entah lah kenapa rasanya canggung.


"apa kamu ada waktu makan siang dengan ku?"


tanya arid membuat Adis tertegun.


**


sore itu Adis sampai di rumah, siang ini ia tidak fokus karena terus memikirkan percakapan nya dengan arid tadi saat makan siang.


Adis tertegun saat melihat bayi kecil itu menggeliat dari pelukan arid, bayi itu baru berusia empat bulan.cantik dan lucu.


"gimana kabar kamu dis?"


tanya arid memangku bayinya.


"baik bang, m.. kabar balik nya gimana?"

__ADS_1


tanya Adis merasa heran kemana istri pria itu.


"baik, aku sehat. hanya istri ku meninggal saat melahirkan Naura...!"


ucap arid senyum mencium bayi tersebut.


"meninggal?"


Arid mengangguk.


"gimana kabar Arsan? sejak kapan kalian tinggal di Amrik?"


tanya arid yang tidak tahu menahu mengenai Adis yang sudah lama berpisah dari Arsan.


"Adis tinggal di sini tiga tahun yang lalu?"


ujar Adis.


"yang ku lihat seperti nya kamu sudah sembuh?"


"ya, Adis memang sudah sembuh. m.. Adis juga sudah lama berpisah dengan bang Arsan!"


ucap Adis sedikit menunduk.


"kenapa? aku benar benar tidak tahu..."


ucap arid tidak menyangka akan hal itu.


selama ini ia fokus menjalani kehidupan rumah tangganya, meski di akhir ia harus kehilangan istrinya yang meninggal setelah melahirkan bayi cantik mereka.


"semua sudah berlalu, Bang Arsan juga udah rujuk sama salsa...."


Arid mengangguk kecil.


tanya Adis.


"belum dapat yang cocok, kemarin ada tapi tidak ke ibuan... ibu di rumah lagi sakit, jadi terpaksa aku membawa nya...dia juga kurang sehat, kasihan kalau aku tinggal di rumah sementara pekerjaan Ku banyak..."


ucap Arid menimang bayi Tersebut.


"sini Adis gendong kalau kamu mau makan bang?"


ucap Adis mengambil alih bayi Tersebut dari arid.


"terima kasih dis.....!"


ucap arid mulai menyantap makanan nya.


Adis memperhatikan bayi cantik itu, jauh berbeda dengan arid dan lebih mirip Aisah.


"kamu tinggal sama siapa di sini?"tanya arid.


"sama ayah......!"


ucap Adis mengelus pipi bayi itu.


satu yang aku sesalkan adalah, kenapa arsan tak bersikap sama seperti Dia pada Al yang memperjuangkan keberadaan nya, tidak seperti pada calon bayi Mereka. arsan bersikeras ingin mengugurkan bayi itu karena khawatir dengan kondisi nya, dan tanpa di minta calon bayi itu pergi Dengan sendirinya.


"kamu kenapa dis?"tanya arid memperhatikan raut wajah Adis.


"tidak apa-apa....!"


ucap Adis senyum kecil.


"Abang ke toilet sebentar ya!"

__ADS_1


adis mengangguk.


tak berapa lama Arid keluar dari toilet dan menghampiri nya.


"bang, apa kamu Bisa nyetir bawa Naura?"


"ada supir dis...!"


"oh......"


ucap Adis, tiba tiba wajah nya memerah karena arid menatap nya pekat.


"terima kasih ya sudah mau makan siang dengan ku, sebenarnya aku masih enggak percaya bisa ketemu kamu disini...aku senang Karena kamu sudah sembuh, itu artinya tuhan mengabulkan doa ku..."


ucap arid tersenyum lalu mengambil alih Naura, sementara Adis diam membisu mendengar penuturan arid.


"apa kamu selalu mendoakan aku bang..."


"ya.....!" jawab Arid mengangguk.


jarak memang memisahkan, keadaan bahkan tak memungkinkan lagi namun rasa kasih itu benar benar tulus hingga doa yang menjadi jalan untuk nya mencurahkan segala rasa, tidak meminta bersama karena ada Aisah yang harus ia jaga, ia hanya meminta pada Tuhan untuk menyampaikan rasa kasih nya dengan terus berdoa untuk kesembuhan perempuan itu, meski di samping nya ada pria lain namun untaian doa tak pernah lepas ia panjatkan untuk kesembuhan perempuan itu.


"semoga kita bisa bertemu lagi ya...."


ucap Arid membuat Adis bergetar. Adis tidak menyangka seseorang yang jauh justru tak pernah berhenti mendoakan nya.


pria itu yang pertama menolong nya, pria pertama yang mengajarkan nya untuk lebih dekat dengan Tuhan, pria itu juga yang selalu memberikan semangat dan dia yang selalu mengajarkan untuk berbagai kebahagiaan dengan siapa pun. pantas jika ia sukses karena kunci hidupnya adalah jujur dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang ia kerjakan.


"asyik dapet CEO duren....!"


ucap Alisa saat Adis kembali ke kantor.


"apa sih Al....?"


jawab Adis duduk di kursi.


"dis, jangan sia sia kan kesempatan, orang orang tahu Loh kalau pak arid itu duda..."


ucap Alisa duduk di dekat Adis.


"dia itu teman lama ku, jangan bahas lagi... masih banyak pekerjaan!"


ucap Adis lalu kembali fokus pada pekerjaan nya..


**


Adis merebahkan tubuh di ranjang setelah ia selesai membersihkan diri, menelungkup memainkan ponselnya.


namun pikiran nya kembali pada pria itu, arid dengan sabar mengurus Naura. Adis juga masih tidak percaya kalau arid selama ini tak pernah berhenti mendoakan kesembuhan nya.


teringat tasbih pemberian arid saat ia pulang dari Eropa, entah dimana terakhir ia menyimpan nya.


"aku hanya bisa memberikan mu sebuah tasbih, mungkin nanti aku akan memberikan mu tasbih dari berlian untuk mahar....."


ucap arid terkekeh kecil, penuturan itu sebagai candaan saja namun membuat Adis tak enak hati karena untuk kedua kalinya Adis menolak pria itu.


"tak ada yang bisa aku lakukan hanya doa dalam sepiku, bertasbih lah kepada Nya agar kamu tenang..."


ucap arid sebelum mereka berpisah.


pria itu memang selalu tampak tenang, tak sedikit pun ia merasa gusar. ia hadapi segala sesuatu nya dengan tenang. dan pertemuan terakhir mereka adalah saat ia pulang ke Indonesia dan saat itu arid bersama Aisah yang hendak pindah ke Eropa tapi kenapa justru arid berada di Amrik.


bersambung....


terima kasih yang masih setia 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2