Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
hal Buruk


__ADS_3

Arid membiarkan Adis kembali tertidur setelah makan dan meminum obat, ia sendiri fokus pada laptop untuk mengirimkan pekerjaan pada rekan kerja nya di kantor, selain itu Arid juga sudah memberi tahu pihak kampus perihal Adis yang di rawat di rumah sakit.


"assalamualaikum.....!"


seseorang masuk ke dalam ruang perawatan itu, Arid menoleh pada seseorang yang tidak ia kenal.


"walaikumsalam......!"


ucap Arid menghampiri.


"bagaimana keadaan adik saya, kamu siapa?"


tanya Ibra mendekati Adis yang tengah terlelap.


Ibra langsung berangkat ke Bandung saat Adis memberi tahu keadaan nya.


"keadaan nya sudah membaik, saya asisten pak Arsan...!"ujar Arid.


"kemana Arsan... kenapa kamu yang menuggu Adis!?"


"ya itu karena pak Arsan tengah berada di luar negeri, beliau pergi untuk keperluan bisnis...!"


"oh .....


apa dia tahu keadaan Adis?"


ucap Ibra duduk di samping ranjang.


"aku sudah memberi tahu pak Arsan. sebentar lagi pak Arsan sampai di Jakarta.


kalau begitu saya pamit karena saya juga harus ke kantor...."


ucap Arid undur diri.


"ya terima kasih sudah menolong Adis...!"


"ya itu merupakan tugas dan pekerjaan saya...!"


ucap Arid mengulum senyum kemudian pamit.


Ibra memperhatikan Adis yang terlihat begitu pucat, lebih dari dua bulan ia tidak bertemu dengan adiknya itu. mereka hanya berkomunikasi lewat handphone.


Ibra senyum mengelus kepala Adis yang berbalut kerudung instan berwarna Milo, ternyata gadis manja itu sudah banyak perubahan, adik nya itu sudah menggunakan hijab.


"HM.... sakit...!"


ucap Adis lirih sedikit membuka matanya.


"mana yang sakit, ini kakak Adis!"


ucap Ibra menggenggam tangan adik nya.


"kak Ibra..."


ucap Adis senyum.


"bagaimana keadaan mu....?"


ucap Ibra mengelus kepala Adiknya itu.


"Adis rasa sudah membaik...!"


Netra nya menilik ke ruangan itu, ia tidak melihat Arid.


"kemana Arid kak....?"


"oh, dia sudah pulang. Dia bilang ada urusan di kantor...!"


Adis mengangguk.


pintu terbuka, terlihat Arsan menyembul Masuk ke dalam ruangan itu.


"assalamualaikum..... sayang!"


ucap Arsan mendekati.


"walaikumsalam...."


"maaf ya, Abang baru pulang....!


kamu dari tadi bra?"


ujar Arsan duduk di tepi ranjang.


"aku juga baru datang..... sibuk sekali rupanya...!"


ucap Ibra menepuk pundak Arsan pelan sambil Tersenyum.


"ya, aku ada keperluan bisnis di Australia..."


"oh gitu.....!"


"gimana keadaan kamu de...?"


tanya arsan Menilik wajah Adis lekat tampak pucat pasi.

__ADS_1


"sudah lebih baik dari kemarin....!"


"ya sudah, kakak keluar dulu ya...!"


ucap Ibra beranjak.


"mau kemana kak?"


tanya Adis menggenggam tangan Ibra.


"kakak ke kantin sebentar, ada Arsan yang menemani kamu!"


ucap Ibra mengelus kepala Adis lalu beranjak pergi.


"sayang....!"


ucap Arsan merengkuh tubuh istrinya yang masih terasa hangat.


"maafkan Abang ya...!"


Adis mengangguk, beberapa hari tak bertemu Adis merasa asing dengan suaminya itu.


Arsan tertegun merasakan perubahan sikap pada istri nya itu, ia tahu Adis marah pada nya.


"kamu marah sama Abang?"


tanya arsan memangku wajah istrinya itu.


"menurut Abang bagaimana? sesibuk apapun seharusnya Abang kasih kabar, Adis tahu aku ini orang baru di kehidupan kamu...!"


ucap Adis terhenti saat arsan menutup bibir Adis dengan jari telunjuk nya.


"kamu memang orang baru tapi kamu dengan cepat bisa menggantikan posisi orang lama di sini....!"


ucap Arsan menunjuk dada nya.


"benarkah?"


ucap Adis tersenyum pahit, orang lama?"


"Abang minta maaf karena sudah membuat kamu merasa terabaikan..."


"memang seperti itu kenyataan nya...!"


"kamu enggak mau maafin Abang...?"


"maaf itu hal yang mudah.... sudah lah!"


ucap Adis meringkuk memunggungi Arsan.


ucap arsan merengkuh tubuh istrinya itu.


"ya Adis sudah memaafkan....!"


"apa kata dokter...?"


"tidak ada, hanya demam biasa?"


ucap Adis terdiam, hanya air mata yang mewakili perasaan nya.


...----------------...


beberapa hari kemudian....


Adis sudah kembali ke kampus, tiga hari di rawat. Arsan terus menemani nya sampai ia pulang ke rumah.


"hai dis....!"


ucap Lidia menghampiri.


"kamu udah sehat?


maaf ya dis, aku enggak nengok kamu.


kemarin aku juga enggak masuk karena aku juga izin beberapa hari." Tutur Lidia.


"ya enggak apa-apa Li, emang kamu kemana?"


"aku pergi ke Australia, saudara ku menikah!


yang kemarin aku sempat cerita sama kamu!"


ucap Lidia bercerita tentang pernikahan saudara nya itu.


"jadi saudara kamu itu menikah dengan pria yang sudah beristri?"


Lidia mengangguk.


"kok bisa...?"


"ya namanya juga cinta!"


"ya tapi enggak harus merusak rumah tangga orang....!"


"aku juga berpikir seperti itu, tapi gimana ya? hubungan mereka terlalu rumit.

__ADS_1


suaminya bilang mau cerai sama istri nya kalau waktu nya sudah tepat..!"


Adis mengangguk sambil menggigit bibirnya, membayangkan jika ia berada di Posisi istri pertama yang tersakiti.


"semoga Aku tak mengalami hal serupa..."


gumam Adis dalam hati.


waktu menunjukkan pukul dua siang, Adis keluar dari kelas bersama Lidia.


"langsung pulang dis?"


"aku mau ke kantor suami ku dulu!"


"oh gitu, ya sudah hati hati ya dis...!"


ucap Lidia melambaikan tangan nya masuk ke dalam mobil.


Adis Menaiki kendaraan roda dua nya, cuaca cukup terik.Adis meraba hidung nya yang kembali mimisan.


"ya Tuhan aku berharap hasil pemeriksaan itu salah....."


ucap Adis lalu turun dari motor dan duduk di kursi di bawah pohon besar yang menghalangi nya dari teriknya matahari.


Adis mencoba menghubungi arsan namun nomor nya tidak aktif, sesibuk itu kah kamu bang?


Adis melajukan motornya menuju gedung perusahaan milik suaminya itu, tak lama Adis sampai berbarengan dengan Arsan yang sampai di tempat itu.


Namun Adis tak menyadari keberadaan Arsan yang tersenyum melihat nya dari jauh.


Adis melangkah menghampiri Arid yang tengah menatap laptop nya, tak menyadari Adis yang sudah berada di hadapan nya.


Arsan menghentikan langkahnya memperhatikan Adis yang berdiri di hadapan Arid yang fokus dengan laptop nya.


"Adis....!"


ucap Arid mendongak saat Adis duduk di hadapan nya.


Adis terdiam menatap pria dingin itu, teringat penuturan Pria itu saat di rumah Sakit.


"kamu sudah sehat?"


"kenapa kamu tidak datang lagi di rumah sakit?"


"untuk apa? bukankah ada Arsan dan kakak mu...!"


ucap Arid Terkekeh, untuk pertama kalinya Adis melihat hal itu.


"bagaimana apa kamu sudah menyelidiki orang yang meneror rumah?"


Arid terdiam saat melihat Arsan berada di belakang Adis dengan tatapan nanar.


"kenapa diam?"


Adis bertanya memperhatikan wajah Arid yang langsung pucat, lalu menoleh ke arah Netra Arid.


"jadi kamu kesini untuk menemui arid?"


ucap Arsan membuat Adis terbelalak.


"siapa yang meneror rumah?"


Adis bungkam melihat netra Arsan.


"bukan, aku ke sini untuk bertemu dengan mu bang, aku hanya menyapa Arid..!"


"kamu harus bisa menjaga jarak dan tahu batasan dengan bawahan Ku....!"ucap Arsan menarik tangan Adis masuk ke dalam ruangan nya.


Arsan tidak sadar jika dirinya sendiri lah yang membuat mereka dekat, bukan tak tahu batasan tapi banyak hal yang membuat keduanya tak berjarak.


"seperti nya banyak yang tidak kamu ceritakan sama Abang?"


ujar Arsan mengungkung Adis di sofa. ia tidak suka melihat interaksi mereka berdua hal itu membuat nya cemburu.


gadis itu benar benar telah menguasainya, Arsan tidak suka melihat cara Adis berbicara dengan Arif, apa selama ini mereka selalu seperti itu?


"bukankah kita Sama?" ucap Adis menatap wajah suaminya itu.


"maksud kamu?" tanya arsan, khawatir Adis curiga pada nya.


"tidak ada....!"


ucap Adis beranjak dari duduknya mendorong tubuh suaminya itu.


"siapa yang meneror rumah?"


"aku tidak tahu....!"


ucap Adis lalu menceritakan kejadian kemarin pada Arsan yang langsung mematung.


"aku tidak tahu kenapa tiba-tiba Poto pernikahan kita jatuh begitu saja, aku harap tak ada hal buruk yang terjadi pada rumah tangga kita.....!"


ucap Adis menatap wajah Arsan yang langsung memucat.


bersambung...

__ADS_1


terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍


__ADS_2