
Arid mendorong Adis dengan kursi roda, gadis itu merasa sedikit pusing dan meminta untuk duduk di kursi roda.
"boleh aku tahu kamu sakit apa?"
ucap Arid membuat Adis Menoleh ke arah dimana Arid tengah mendorong nya.
"aku tahu mungkin ini privasi tapi aku resah..?" ujar arid membuat Adis tertegun.
"kenapa harus merasa resah?" tanya Adis.
"aku tidak tahu....!"
jawab Arid menghentikan kursi roda tersebut.
"kamu tunggu disini, aku akan mengurus pendataran nya dulu....!"
ucap Arid beranjak meninggalkan Adis sendiri.
Adis merogoh ponsel nya yang berdering terlihat arsan melakukan panggilan telepon.
"halo....!"
"sayang, kamu dimana?"
tanya arsan.
"hm, di rumah...... kenapa bang?"
ucap Adis terbata saat melihat Arid menghampiri nya.
"benar kah? tapi tadi Abang telpon ke rumah. kamu belum pulang.....!"
ucap arsan menyelidiki , ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh istri nya itu.
"kenapa kamu berbohong....?"
ucap Arsan membuat Adis menelan Saliva nya.
"oh, ini Adis baru sampai....!"
"Nona Adis....!"
ucap seorang suster memanggil dan terdengar oleh arsan yang langsung mengernyitkan dahi nya.
"siapa itu? kamu dimana?
jangan berbohong dis...!" tanya Arsan.
"Adis di rumah sakit, sedang kontrol kesehatan...nanti Adis jelas kan!"
ucap Adis lalu menutup telponnya.
"halo, Adis Kamu dengan siapa?"
ujar arsan tertegun saat Adis mematikan panggilan nya, gegas arsan menghubungi Medina untuk mencari tahu hal itu.
ia juga meminta Medina untuk datang ke rumah sakit lalu memesan pesawat waktu itu juga untuk kembali ke Indonesia.
ia harus segera pulang... seperti nya ada hal serius yang di rasakan oleh istri nya itu.
*
"HM..aku rasa setelah ini arsan akan mencari tahu dengan siapa aku di rumah sakit, sebaiknya kamu pulang karena aku...."
ucap Adis menunduk.
"aku akan pulang setelah kita masuk ke ruangan itu."
ucap Arid menunjuk ruangan dokter spesialis penyakit dalam.
"tapi nanti kamu akan dapat masalah......"
ucap Adis terhenti saat Arid mendorong nya masuk.
***
seperti petir menyambar di teriknya matahari, seperti badai yang menerjang memporak porandakan hati nya saat mendengar penuturan dokter tentang diagnosis keadaan perempuan itu.
entah kenapa ia merasa pilu mendapatkan kabar buruk itu, resah itu berujung sesak.
Arid mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan dokter, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat dokter mengatakan bahwa kemungkinan Adis terkena leukemia dan dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
__ADS_1
"berjanjilah semangat untuk sembuh...."
ucap Arid sambil mendorong kursi roda itu,
Adis bungkam, ia sendiri merasa pilu dengan kenyataan itu, apa yang ia rasakan memang ciri ciri pengidap leukimia, ibu nya juga meninggal karena penyakit itu.
"untuk sementara waktu biarkan ini menjadi rahasia...."
ucap Adis, terlihat Medina sudah menunggu mereka.
"Arid....." ujar Medina.
"Medina, aku serahkan Adis sama kamu..."
ucap Arid terlihat wajah nya memerah seperti menahan air mata.
"ibu sakit lagi...?" tanya Medina.
"tidak saya hanya pusing dan dokter bilang itu gejala tipus, tolong Jangan katakan jika Arid yang membantu saya, karena arsan akan berpikir macam-macam...."
Medina Terdiam mendengar penuturan Adis.
"bisa kan Bu Medina...."
Medina mengangguk lalu mendorong kursi roda tersebut menuju mobil, Arid mematung menatap keduanya menjauh.
Arid berjalan masuk ke dalam mobil nya, termenung sendiri mengingat percakapan mereka dengan dokter.
"semua penyakit itu ada obat nya, tergantung bagaimana kita ingin sembuh...!"
dokter mengatakan bahwa penyakit tersebut terjadi karena penyakit keturunan, dan Adis mengatakan bahwa Ibunya juga meninggal karena Penyakit itu.
*
"biarkan untuk saat ini menjadi rahasia, aku tidak mau orang lain tahu....!"
ucap Adis saat berada di ruangan dokter.
"apa kamu juga akan merahasiakan hal ini dari Arsan...?"
"tidak, Aku akan memberi tahu nya jika waktu nya sudah tepat....!"
*
ucap Medina saat mereka hendak pulang.
"aku juga mau nya seperti itu tapi aku tidak bisa mengabaikan seseorang yang meminta pertolongan ku..."
"ya, aku tahu rid... tapi yang terjadi kedekatan kalian membuat pak arsan cemburu?"
Arid Terkekeh mendengar hal itu.
"bukan kah dia yang mendekat kan aku dengan istri nya, selama ini dia terlalu sibuk sampai .......!"
ucap Arid terhenti menoleh ke arah Adis yang bersandar pada kursi mobil.
"sudah lah, bawa Adis pulang.dia butuh istirahat...!"
ucap Arid lalu beranjak pergi dari mereka.
......................
malam itu Arid kembali ke rumah.
Arid masuk ke dalam, terlihat Winda tengah merapikan makanan di meja.
"walaikumsalam.... sejak kapan anak ibu lupa kasih salam....!"
ucap Winda senyum membuat Arid sedikit terperangah.
"HM, maaf Bu. assalamualaikum...."
"walaikumsalam, ayo makan...!"
ucap Winda menarik kursi lalu duduk di susul oleh Arid.
"rid, tadi Om kamu telpon, mereka bilang kapan kamu akan melanjutkan S2 kamu?"
tanya Winda di sela makan malam mereka.
"aku belum tahu Bu??"
__ADS_1
"mereka menunggu kedatangan mu di Swiss,, pergilah. ibu akan lebih tenang jika kamu pergi...."
ucap Winda menatap putra nya itu, Winda tahu perasaan itu akan semakin mengikat hingga membuat putra nya terikat dan berat melangkah.
"kenapa kamu diam? jangan katakan kamu berat karena perasaan kamu itu!
jangan sengaja membuat kesalahan rid, ibu tahu kamu paham..."
"ya Arid tahu Bu, tapi saat ini Adis sakit leukemia..."
ucap Arid membuat Winda terperangah.
"leukemia....?"
"ya, Arid tahu Bu... Arid salah karena......"
ucap Arid terhenti ia menunduk, mencoba meredam kesedihan akan hal itu.
"tapi Arid tidak bisa meninggalkan nya begitu saja, Arid menyayangi nya seperti Arid menyayangi Naura. kalau saja Arsan tidak menikah lagi. Arid tidak akan berpikir ulang untuk pergi, tapi untuk saat ini biarkan Arid memastikan keadaannya hingga membaik.... baru Arid akan pergi!"
ucap Arid membuat Winda tertegun.
**
"terimakasih kak Medina..."
ucap Adis saat ia sampai di rumah.
"ya sama sama, mulai sekarang Jika kamu butuh sesuatu, hubungi aku saja!"
Adis mengangguk lalu turun dari mobil.
"Bu Adis....."
ucap Medina membuat Adis Menoleh.
"ada apa?"
"tidak....!"
ucap Medina tersenyum lalu melajukan mobilnya. tadi nya ia hendak memberi tahu Adis kalau Arsan dalam perjalanan pulang.
Adis masuk ke dalam rumah, terlihat pembantu menghampiri.
"non, tadi pak Arsan telpon...!"
"ya, bi...Adis tahu, enggak apa-apa...."
ucap Adis senyum lalu masuk ke dalam kamar meninggalkan pembantu yang mematung sendiri.
Adis Duduk di ranjang memandangi Poto pernikahan nya dengan arsan, pria yang kini menaungi hati nya.
"hebat ya kamu bang, kamu bahkan dengan cepat menggeser posisi Rey... tapi aku tidak tahu kenapa aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku, hal itu membuat ku merasa asing dengan mu. aku tidak tahu apakah aku harus memberi tahu soal ini pada mu, apa salah jika Aku ingin kamu selalu ada saat kau butuh.....aku...!"
ucap Adis terisak Menatap kertas putih perihal diagnosis penyakit nya.
Pagi....
Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, Adis sudah lebih baik ia juga sudah siap pergi ke kampus.
"assalamualaikum.... selamat pagi Nona.
mentari pagi ini cukup cerah,tetap semangat menatap masa depan..."
chat Arid membuat Adis tertegun tangan satunya memegang pil penunda kehamilan yang hendak ia minum, pesan pertama di pagi hari yang membuat nya tersenyum.
tak biasanya pria itu mengirim pesan pagi pagi, dia yang dulu dingin berubah menjadi hangat.
Adis terperanjat saat tiba tiba seseorang memeluk nya dari belakang, hingga ponsel dan obat tersebut jatuh.
"Abang.....!"
ucap Adis terperangah, Sementara Arsan merunduk mengambil pil tersebut.
menatap nya lalu beralih ke arah Adis yang terpaku mendapatkan tatapan tajam dari Arsan.
"apa ini.....?"
ucap arsan sambil menunjuk pil tersebut membuat Adis langsung memucat.
bersambung....
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍