Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
cinta.


__ADS_3

salsa tertegun saat melihat Lidia turun dari mobil bersama Adis, wanita yang begitu Arsan cintai.


jadi Adis itu teman Lidia di kampus? tapi untuk apa Lidia membawa Nya kemari.


"kak Ibra memang begitu, Dia paling malas kalau acara seperti ini...."


ujar Adis saat Ibra meminta izin untuk menunggu di sebuah kafe yang tak jauh dari tempat itu.


"apa dia seorang introver..."


tanya Lidia melangkah masuk ke dalam rumah Tersebut.


"sedikit, mungkin...!"


ujar Adis mengikuti jejak Lidia.


"Tante....? mana salsa?"


tanya Lidia celingukan.


"itu yang pakai masker.....?"


ucap Rika menunjuk salsa yang duduk bersama yang lain nya.


"oh ....!"


ucap Lidia menghampiri di ikuti oleh Adis di belakang.


"hai sal ...aku bawa Adis teman ku...!"


ucap lidia memperkenalkan.


"aku Adis kak....."


ujar Adis mengulurkan tangannya.


"salsa.....ya sudah ayo sebentar lagi acara nya akan segera di mulai..!"


Tutur salsa mempersilahkan mereka bergabung dengan ibu ibu pengajian.


salsa sengaja tak menampakkan wajah nya, ia tidak ingin banyak pertanyaan karena sebelumnya mereka pernah bertemu saat bersama Salamah.


salsa terus memperhatikan Adis, benarkah ia sakit? tapi ia terlihat biasa saja!.


gumam salsa dalam hati merasa nyeri menerima Kenyataan bahwa Arsan lebih mencintai Adis di banding diri nya meski sesungguhnya keberadaan nya lebih unggul karena bayi yang berada di dalam rahimnya.


hingga beberapa waktu berlalu, acara pun di berjalan dengan baik hingga selesai.


"salsa kita mau pulang, aku doa kan semoga Allah mempermudah proses melahirkan nya..."


doa Lidia dan di anggukan oleh salsa.


"ya semoga bayi nya sehat ya kak...."


tutur Adis senyum membuat salsa tertegun, entah harus benci atau bagaimana menghadapi wanita yang menjadi pesaing cinta nya, tapi cepat salsa tersadar bahwa ia sudah merelakan semua nya.


"terimakasih....!"


ucap salsa tanpa membuka masker nya.


"ya sudah kita pamit pulang...!"


ucap Lidia dan Adis berjalan keluar rumah.


"terimakasih Lidia...!"


"ya, kamu yang sabar ya!"


ucap Lidia memeluk salsa yang mengangguk.


"aku anterin kamu ke tempat kakak kamu nunggu ya!"


ucap lidia saat mereka berada di dalam mobil.


tak berapa lama mereka sampai di kafe tersebut, terlihat Ibra sudah bersama Hans.

__ADS_1


keduanya terdiam saat melihat Adis menghampiri.


"kok langsung sepi...!"


ucap Adis duduk sambil menyuruh Lidia duduk di samping nya.


"enggak....!"


ucap Ibra.


"tadi Adis lihat kalian serius banget ngobrol nya.."


"biasalah dis, laki laki..."


ucap Hans tersenyum kecil menilik Lidia. padahal keduanya tengah membicarakan soal Arsan dan Robi.


"ini teman Adis dokter Hans, nama nya Lidia...!"


ucap Adis memperkenalkan Lidia.


"Lidia .....!"


"Hans....!"


ucap kedua sambil mengulurkan tangannya.


"dokter Hans, dia ini seorang dokter hebat!"


ucap Adis membuat Ibra tertegun.


"oh ya...."


ucap Lidia singkat sambil tersenyum kecil.


"Lidia masih singel begitu juga dengan dokter Hans....!"


ucap Adis terkekeh.


"sejak kapan ini anak-jadi Mak comblang..."


***


Arsan tertegun melihat video yang di kirim kan oleh salsa saat acara pengajian tadi berlangsung.


"aku tidak tahu maksud Tuhan membawa Adis datang ke rumah untuk ikut mendoakan anak kita, ternyata Adis teman sepupu ku di kampus... dunia begitu sempit hingga yang ku temui itu itu saja....."


pesan salsa membuat Arsan tertegun.


"aku ingin membenci nya seperti dulu, tapi aku berpikir ulang untuk hal itu karena percuma kau tetap memilih nya, aku mengalah agar kamu bisa menggenggam nya..."


pesan kedua membuat Arsan menghela nafas panjang.


mungkin Adis akan semakin membenci nya saat tahu keberadaan salsa yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka dulu, hal itu tak pernah terungkap. menjadi rahasia yang kelak akan menjadi sebuah bomerang bagi Arsan, Adis pasti akan semakin kecewa.


"maaf kan aku sal, aku tidak bisa melakukan apapun selain meminta maaf pada mu..."


pesan yang Arsan kiriman untuk salsa.


"kenapa Ar ...?"


tanya Salamah, mereka tengah membereskan barang barang berharga di apartemen itu, Arsan dan regina sudah menemukan rumah untuk mereka singgah di negara itu.


"tidak apa apa Bu...salsa memberikan video saat pengajian tujuh bulanan calon bayi kita..."


ucap Arsan, Salamah hanya mengangguk saja.


rumah yang akan mereka tempati tidak terlalu besar ada dua kamar tidur dengan kamar mandi di dalam nya, ruang tamu dan dapur beserta ruang makan.


Arsan berencana untuk membuka toko buah buahan nanti. Salamah yang meminta agar ia memiliki aktivitas.


"Arsan akan coba untuk melamar pekerjaan nanti Bu.... semoga saja ada lowongan pekerjaan..!"


ujar Arsan memasukkan koper ke dalam mobil.


"ibu akan selalu mendoakan mu Ar..."

__ADS_1


ucap Salamah mengusap punggung Arsan.


"ini kak... semua sudah beres..!"


ucap regina memasukkan barang barang nya.


mobil tersebut milik teman regina di kampus yang sengaja ia sewa untuk memindahkan barang barang mereka.


"ya sudah kita berangkat sekarang....!"


ucap Arsan mengajak Salamah masuk ke dalam mobil.


**


"gimana lidia menurut kakak....?"


tanya Adis saat ini keduanya berada dalam perjalanan kembali ke Jakarta.


"sebenarnya kamu jodohkan Lidia dengan kakak atau Hans?"


tanya Ibra sambil fokus menyetir.


"kalian bersaing saja....!"


ucap Adis terkekeh.


"tapi sepertinya Hans lebih menyukai mu..."


Tutur Ibra membuat Adis tertegun.


"ya itu membuat ku tak mengerti, mengapa janda yang justru jadi rebutan m....?"


ucap Adis senyum sambil menggelengkan kepalanya.


"kak....!"


ucap Adis menoleh ke arah Ibra.


"mm.....?"


"apa kak Ibra tidak mendengar kabar tentang bang Arsan...?"


ujar Adis membuat Ibra tertegun, setelah beberapa waktu baru kali ini Adis menanyakan perihal Arsan pada nya


"kenapa de, kamu rindu?"


tanya Ibra membuat Adis membeku seketika.


"aku tidak mendengar kabar tentang arsan setelah putusan pengadilan tentang perceraian kalian....


jangan bilang kalau kamu merindukan nya de"


tutur Ibra membuat Adis bungkam.


"apa kamu masih mengharapkan nya? dia bukan pilihan terbaik de...!"


ujar Ibra lagi, Adis sendiri hanya memalingkan wajahnya tanpa menjawab pertanyaan Ibra.


"aku tidak tahu mengapa aku begitu mencintaimu, sedalam yang tak pernah ku rasakan bersama orang lain...


pengharapan itu begitu besar hingga menghalau siapa pun yang datang untuk mengetuk pintu hati.


seringkali aku bermimpi berdampingan dengan mu seperti dulu, berpelukan erat saling mendekap dalam kehangatan.


kini aku sendiri dalam dinginnya malam, menatap rintik hujan tanpa mu yang selalu membuat suasana menjadi Syahdu.


salah kan aku jika merindukan mu adalah hal yang menjadi pantangan dalam hubungan kita yang telah berakhir.


semua memang telah berakhir namun tidak dengan cinta ku yang masih saja mengalir hingga ke muara hatimu.... untuk kali ini aku lah yang berdoa agar kelak aku dan kamu bisa bersama lagi, seperti mereka yang meyakini dahsyat nya melangit Kan doa, cinta itu adalah saat kita tak pernah lelah berdoa untuk kebaikan orang yang kita cintai..."


Adis merebahkan tubuhnya ranjang, bukan hanya tubuh tapi pikiran nya begitu payah hingga tak begitu lama Adis langsung terlelap dalam mimpi nya.


"rindu, hadirkan dia sekejap saja dalam lelap ku....."


bersambung....

__ADS_1


terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍


__ADS_2