
dua bulan berlalu...
Ibra tersenyum menatap Adis yang begitu serius menatap laptop nya. keadaan perempuan itu kini semakin baik.
"gimana udah siap belum ke London...?"
tanya Ibra membuat Adis langsung menoleh.
"kita main aja dulu de, sambil cari universitas yang bagus untuk kamu...!"
ujar Ibra membuat Adis mengangguk lalu menutup laptopnya.
"kapan kita ke London kak....?"
"gimana kalau Minggu depan, ajak kak Rahma juga....!"
ucap Ibra berpikir untuk liburan keluarga.
"boleh, itu ide yang bagus..."
ucap Adis Senyum. kondisi kesehatan nya semakin membaik, Hans juga mengizinkan nya untuk kuliah di luar negeri, mengingat kondisi nya hampir di katakan sembuh setelah mengikuti pengobatan yang Hans berikan.
"nanti kakak hubungi kak Rahma untuk liburan keluarga ini...."
"oke ....!"
Ibra merasa lega karena keadaan Adis sudah jauh lebih baik, ia juga tidak lagi membahas soal Arsan.
sementara salsa kini telah menunggu kelahiran buah hati yang dokter jadwalkan seminggu yang akan datang.
Arsan sendiri sudah mengetahui hal itu, ia berencana akan pulang ke Indonesia untuk sementara waktu sampai salsa melahirkan.
Arsan tengah membantu salamah membereskan buah buahan yang baru saja datang.
"kapan kamu ke Indonesia Ar...?"
ucap Salamah menata buah buahan segar itu.
dua bulan ini mereka menjadi pedagang buah buahan, Arsan sendiri menikmati hari hari nya sebagai penjual buah buahan yang di gandrungi wanita bule di tempat itu.
tak jarang para Wanita membeli buah buahan Hanya untuk berkenalan dengan Arsan.
"weekend ini saja Bu..."
"Al hasil toko pasti sepi karena enggak ada Aa..."
ucap regina manyun.
"memangnya kenapa?"
"ya cewek cewek bule itu kan kalau belanja buah nanyain A Arsan...."
ucap regina membuat arsan terkekeh.
"ya enggak apa apa re, nanti bilang aja kalau Aa lagi pulkam...!"
ucap Arsan mengacak pucuk rambut regina.
"kebiasaan banget A, jadi berantakan..."
ucap regina manyun membuat Arsan semakin terkekeh lalu teringat Adis membuat nya termenung, dulu hal itu yang selalu ia lakukan pada gadis cantik itu.
entah bagaimana keadaan nya, sebenarnya rindu tapi Arsan mencoba untuk melupakan nya.
"mana mau sih adis sama pedagang buah buahan seperti aku...."
gumam Arsan sendiri, beberapa kali melamar pekerjaan namun ia belum mendapatkan panggilan.hingga Arsan terbiasa dengan fropesi barunya sebagai pedagang buah tampan.
"malah melamun....!"
ujar regina membuat Arsan menoleh.
__ADS_1
"enggak, ya udah kamu jaga kios dulu. Aa mau cari kerjaan dulu...!"
ucap Arsan beranjak menghampiri kendaraan roda dua nya.
weekend...
Ibra merangkul pundak adiknya, siang itu mereka akan pergi ke London.
terlihat Rahma mengikuti mereka dari belakang bersama Ilyas dan putri kecilnya yang berusia empat tahun.
"mau ke toilet sebentar kak.."
ujar Adis menghentikan langkahnya.
"ya udah, kita tunggu di sana ya!"
ucap Ibra di angguki oleh Adis yang berlari kecil.
siang itu juga Arsan sampai di bandara, malam ini jadwal salsa melakukan operasi Caesar, seperti janjinya Arsan akan menemaninya melalui proses tersebut.
Adis berjalan sendiri mengejar langkah Ibra setelah keluar dari toilet, namun langkah nya terhenti saat melihat seorang pria yang hendak keluar dari bandara.
"Arsan....."
gumam Adis menggunakan masker dan kaca mata nya.
tubuhnya seakan membeku saat Arsan menyamai langkah nya jantung nya berdetak lebih kencang saat Arsan sedikit menoleh lalu kembali sibuk dengan ponselnya hingga tak menyadari sepasang mata penuh rindu.
Adis sedikit menoleh ke belakang menatap punggung Arsan yang melangkah semakin jauh.
penampilan nya masih sama seperti dulu,pria itu masih tampan dan berkharisma.
"setelah beberapa bulan kita tidak bertemu, ternyata Hanya aku yang tak pernah berubah....."
gumam Adis lalu melangkah ke depan.
"dulu jarak kita seperti hal nya magrib dan isya begitu dekat, tapi kini seperti isya dan subuh... begitu jauh.
aku semakin sadar bang, kamu memang hadir untuk sekedar singgah lalu menghilang, hanya aku sendiri yang menanggung pilu.."
Ibra menarik tangan yang melingkar pada pinggang nya.
"kamu kenapa de...?"
ucap Ibra menatap wajah Adis yang sedikit basah.
"kamu sakit?"
tanya Ibra menyentuh kening Adis tak terasa panas.
"enggak apa-apa kak...adis hanya....!"
ucap Adis tertegun entah harus mengatakan apa tentang rasa kecewanya itu.
"dis, ayo pesawat nya sebentar lagi berangkat.."
ucap Rahma membuyarkan lamunannya.
Ibra menuntun langkah nya menuju pesawat, dengan beberapa pertanyaan.
"dis, fokus ke depan. jangan menoleh lagi ke belakang, kamu sudah baik baik saja!"
ucap Ibra membuat Adis tertegun.
sore itu Arsan langsung ke hotel, ia sungkan untuk datang ke rumah salsa.
"aku sudah ada di Bandung, jam berapa operasi nya sa?"
Arsan mengirimkan pesan tersebut.
"malam ini jam delapan Ar, aku sudah berada di rumah sakit!"
__ADS_1
balas salsa sambil tersenyum, ia bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Arsan, Salsa berharap kehadiran bayi laki laki mereka akan membuat Arsan berubah pikiran untuk mempertahankan Rumah tangga mereka.
"ya sudah aku ke rumah sakit sekarang...!"
balas Arsan kemudian beranjak dari hotel tersebut.
"kenapa kok senyum senyum sendiri?"
tanya Rika menghampiri salsa.
"sebentar lagi Arsan akan datang..."
ucap salsa tersenyum simpul.
"apa kamu masih berharap sal...?"
tanya Rika memperhatikan salsa tampak senang namun tertegun mendengar pertanyaan sang Mama.
"meski Arsan bukan seorang berada seperti kemarin tapi Arsan adalah pria baik... suami yang peduli, jika dia bukan pria baik mungkin ia tidak akan memperdulikan Ku lagi, nyata nya dalam keadaan seperti itu pun ia berusaha untuk memenuhi kebutuhan ku..."
tutur salsa sambil termenung.
"tapi Arsan mencintai wanita lain, itu yang harus kamu ingat sal, mama enggak mau kamu mengulang kembali kejadian dulu.."
ucap Rika mengingat bagaimana salsa depresi berat karena Arsan.
"tidak akan kami lagi ma, aku sudah janji pada diri ku sendiri, bahwa aku mampu meski harus tanpa Arsan..."
"ya sudah kalau begitu jangan terlalu berharap apa lagi berangan..."
ujar Rika dan di anggukan oleh salsa.
tak berapa lama Arsan sampai di rumah sakit bertepatan dengan salsa yang hendak masuk ruang operasi.
"Ar...... temani aku di dalam!"
ucap salsa meraih tangan Arsan untuk mengikuti nya.
"ya kamu tenang ya....aku temani"
ucap Arsan sambil melangkah, galih memperhatikan hal itu, ia bingung harus bagaimana karena salsa yang begitu mengharap kan Arsan. sementara Arsan begitu mencintai istri Pertama nya.
"kamu berdoa ya..."
ucap Arsan saat suster menutup kain penutup tubuh tersebut.
salsa mengangguk sambil menggenggam tangan Arsan yang begitu hangat
"bismillah ya kita mulai...!"
ucap dokter memulai operasi Tersebut.
sepanjang waktu itu Arsan terus melantunkan salawat untuk menenangkan salsa.
ia juga mengajak Salsa bicara agar tetap terjaga, Satu jam kemudian terdengar suara tangisan bayi, Arsan tersenyum lalu suster menyembul dari balik kain penutup, menghampiri mereka dengan membawa bayi yang masih berdarah, suster menelungkup kan nya di atas dada salsa.
"bayi nya laki laki ya, tampan seperti ayahnya..."
ucap suster tersenyum, Arsan memandangi wajah bayi tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"terima kasih sal....."
ucap Arsan mencium kening salsa.
"adzani anak kita Ar....!"
ucap salsa sambil terisak.
"ya Allah apapun keadaan nya, buatlah Arsan terus menyayangi anak kami..."
Salsa berdoa dalam hati saat Arsan mengadzani Bayi laki-laki mereka.
__ADS_1
bersambung..
terima kasih yang sudah mampir 😍