Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
memohon.


__ADS_3

Arsan tertegun menatap Adis yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.


Adis mematung saat tangan seseorang merengkuh tubuh nya yang lemah, Adis memejamkan matanya saat wajah itu berada di Curuk leher nya sambil terisak.


"aku benci sama kamu bang.....aku benci!"


ucap Adis memegang tangan Arsan yang merengkuh tubuh nya.


"kenapa kamu Setega itu sama aku..!?"


ujar Adis semakin lirih, tubuhnya semakin nyeri dan kaku.


"maaf kan Abang dis, Abang sayang sekali sama kamu!"


ucap Arsan samar terdengar oleh Adis yang semakin lemah, Arsan tercengang saat darah jatuh pada tangan nya.


"Adis ...!"


ucap Arsan membalikkan tubuh Adis yang lunglai.


"aku benci sama kamu bang....!"


ucap Adis dengan nafas terengah menahan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh nya.


penglihatan nya mulai buram tangannya mencengkram kuat tangan arsan hingga ia tak sadarkan diri.


"Adis.......?"


teriak Arsan membuat regina dan Rey berlari menghampiri mereka berdua.


gegas mereka membantu Arsan membawa Adis ke rumah sakit terdekat.


**


dokter mengatakan bahwa sel kanker nya kembali berkembang dalam tubuh Adis, Arsan tidak tahu siapa dokter yang selama ini menangani Adis.


"sakit....." rintih Adis membuyarkan lamunannya.


"dingin......." rintihan Adis mengepalkan tangannya sendiri.


gegas Arsan menyelimuti nya hingga dada, namun Adis masih saja menggigil kesakitan.


Arsan tertegun mengingat malam dimana Adis juga pernah mengalami hal itu dan Adis beralasan hanya meriang padahal penyakit itu telah menyerang.


Arsan menoleh ke arah jam menunjukkan pukul sembilan malam, Arsan sudah menghubungi Ane namun terkendala badai yang tengah turun melanda kawasan tersebut.


Ane juga langsung menghubungi Ibra perihal Adis yang masuk rumah sakit. gegas Ibra memesan pesawat penerbangan London.


kemungkinan besok ia akan sampai di London.


"dingin....!"


rintih Adis membuat pilu, padahal Arsan sudah menyalakan penghangat ruangan.


"dis, Abang harus bagaimana?"


ucap Arsan menghela nafas.


Arsan membuka jaketnya lalu naik ke ranjang, menarik tubuh adis ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Adis mulai terlelap dalam dekapan hangat tubuh arsan, Arsan begitu merindukan perempuan yang kini berada dalam dekapan nya, ia tidak Bisa menahan diri lalu menciumi wajah Adis yang terlelap.


"maaf kan Abang ya dis, beri Abang kesempatan untuk memperbaiki semua nya. kita mulai dari awal lagi...."


ucap Arsan mendekap erat tubuh lemah itu.


Ane berjalan di koridor rumah sakit bersama suami nya, badai salju sudah berkurang waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.


Ane benar benar cemas mendengar kabar bahwa Adis masuk rumah sakit.


cepat ane menanyakan kamar rawat Adis pada suster jaga, gegas ia masuk ke kamar rawat tersebut, langkah nya terhenti saat melihat Adis tidak sendirian di ranjang nya, Arsan tengah mendekap nya erat, entah sadar atau tidak Adis juga memeluk Arsan dengan terlelap.


Ane tersenyum lalu keluar dari kamar tersebut. "bagaimana keadaan nya?"


tanya suami Ane yang menunggu di luar.


"ada seseorang yang menemani nya tidur.. seseorang yang selalu ia panggil dalam tidur nya...!"


ucap ane yang pernah mendengar Adis mengigau Arsan dengan sebutan Abang.


kerinduan yang dirasakan nya begitu menyiksa, dan Ane melihat keduanya terlelap melepaskan rindu yang beberapa waktu menyiksa.


"kamu yakin membiarkan mereka bersama?"


ujar suami ane yang menengok ke dalam ruangan.


"tak ada salahnya memberikan kesempatan pada seseorang yang memang sungguh sungguh ingin memperbaiki kesalahannya, mungkin tak akan utuh seperti semula tapi berjauhan malah lebih menyakitkan, walau bagaimanapun kita ingin hidup dengan seseorang yang kita cintai dan mencintai kita..."


ucap Ane dan di anggukan oleh suami.


"lantas apa yang akan kita lakukan....!"


"kita pulang saja, dan kembali esok pagi..."


ucap Ane lalu meraih tangan suaminya.


Adis membuka mata nya, merasakan tubuh yang hangat tengah mendekap nya erat.


"mungkin kan itu ibu, apakah aku sudah pulang?"


pikiran Adis masih dalam bawah alam sadar nya, merindukan sosok ibu yang begitu menyayangi nya.


"Bu... jangan biarkan Adis sendiri, di dunia ini tak ada yang mengerti Adis selain ibu. ayah juga tak pernah kembali..dia benar-benar menelantarkan kami....!"


ucap Adis terisak dalam tidur nya membuat Arsan tergugah dari tidur nya.


Arsan tertegun menatap Adis terisak dalam tidur nya, begitu pedih nya kah? hingga dalam mimpi pun hanya ada kesedihan.


Arsan mencium kening perempuan itu lama, menyatukan kening nya sambil menyeka air mata yang keluar dari mata yang terpejam.


Adis perlahan membuka mata saat merasakan seseorang menghapus air matanya, Adis tercengang melihat Arsan lah yang berada tepat di depan mata nya.


Arsan menahan tubuh Adis ya langsung meronta melepaskan dekapan hangat itu.


"lepas bang.....aku bukan istri kamu lagi..."


ujar Adis dengan nafas memburu menahan kemarahannya.


"aku tahu, tapi kita saling membutuhkan untuk melepaskan sesuatu yang beberapa waktu tertahan..."

__ADS_1


"maksud kamu apa bang....!"


ucap adis mendorong dada bidang milik Arsan.


Arsan terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Adis yang langsung memerah.


"sekian lama aku menahan nya, berharap waktu berhenti berputar agar kita tetap selalu seperti ini..."


"lepas bang, kamu gila ya. aku bukan lagi istri kamu...!"


"ya aku tahu, aku memang gila jauh dari kamu..."


"bulsyit.... lepas kan aku....!"


ucap Adis memperhatikan keadaan sekitar, ia tahu bahwa saat ini ia berada di rumah sakit.


"terserah kamu percaya atau tidak yang pasti di sini.....!"


ujar Arsan menunjuk dadanya.


"hanya ada kamu, aku mencintaimu dis..aku harus bagaimana agar kamu percaya bahwa perasaan ini nyata di dalam lubuk hati ku... bukan sekedar sandiwara belaka...."


ujar Arsan memangku wajah perempuan itu.


Adis tertegun menatap netra milik Arsan yang penuh cinta, namun cepat ia memalingkan wajahnya.


"apa kamu berpikir aku mau kembali sama kamu?"


tanya Adis menitikkan air matanya.


kedua nya saling menatap dengan posisi Arsan yang masih mendekap tubuh Adis, menahan pinggang nya untuk menjauh.


"aku mohon, maaf kan aku!


aku janji akan memperbaiki semua nya, aku tahu mungkin kesalahan Ku begitu besar, aku sudah mempermainkan kita, aku sudah menghianati kamu...aku sudah mengabaikan mu, aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya...aku mohon!"


ucap Arsan menghapus air matanya.


menunduk membuat Adis ikut menangis.


"aku tidak bisa jauh dari kamu, aku tidak bisa makan dengan lahap, aku tidak bisa tertawa lepas, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. aku gelisah karena penyesalan ku, aku resah memikirkan keadaan mu, aku mohon maafkan aku dis...aku mohon..."


ucap Arsan memeluk Adis yang juga menangis.


dari luar Ibra dan ane mendengar percakapan intens mereka, Ibra bingung harus bagaimana sementara ia tidak bisa memaafkan semua itu.


"Adis.....!"


ucap Ibra masuk kedalam membuat kedua nya menoleh, perlahan Arsan melepaskan pelukannya.


Adis mengigit bibir menatap Ibra dengan tatapan tajam nya pada Arsan.


bersambung.....


saat cinta meminta bertahan, maka bertahan lah dengan semu permasalahan yang ada, terkecuali ia meminta mu pergi. maka pergilah dan lihat lah bagaimana penyesalannya di kemudian hari yang akan membuat nya sadar bahwa yang benar-benar tulus itu hanya datang sekali saja.


Eta pengalaman pribadi 🤭✌️🤭✌️


terima kasih yang sudah mampir ya...😍😍

__ADS_1


__ADS_2