
dua bulan berlalu, Arsan dengan rapi menyimpan semua rahasia nya dari Adis.
semua berjalan seakan tak pernah ada rahasia dibalik sikap baik nya.
"Ar, Lo harus ingat misi Lo menikahi perempuan itu?"
"ya gue ingat....!"
"jangan Lo pikir gue enggak tahu tentang Lo dengan Salsa, Bisa bisa nya Lo nikah sebelum kerjaan Lo beres. kalau lo ingkar gue sendiri yang akan menghabisi lo Ar ingat itu.adik Ibra harus merasakan apa yang Adik gue rasakan"
ucap seseorang menutup telponnya. meski sebenarnya orang tersebut tak mempersoalkan perihal Arsan yang menikah lagi, dengan hal itu Adis akan semakin hancur saat mengetahui Arsan tak setia.
Arsan mematung mendengar penuturan orang tersebut, tangan nya mengepal erat.
"aku bukan orang bodoh... meski nanti Adis harus menerima keberadaan Salsa di rumah tangga ini, aku tidak akan meninggalkan Adis, Aku akan menyiapkan semua nya agar bisa keluar dari masalah ini!"
ucap arsan menatap kaca jendela yang menampakkan pemandangan indah kota kembang itu.
sore itu Arsan sampai di rumah, ia Menoleh pada Adis yang berada di tepi kolam renang sambil menatap laptop nya, istri nya itu memang tengah sibuk dengan Tugas kuliah nya.
"assalamualaikum, sayang...!"
ucap arsan duduk di hadapan Adis.
"walaikumsalam, Abang baru sampai?"
ucap Adis menutup laptopnya.
"ya, kamu Fokus banget sampai enggak dengar Abang...!"
ucap Arsan meletakkan sebuah mika yang berisi buah buahan.
"Abang beli rujak...?" tanya Adis menilik makanan tersebut.
"ya, Abang pengen banget makan rujak....!"
ucap Arsan kemudian mencampur adukkan sambel rujak tersebut.
"kamu mau enggak"
Adis menggeleng kan kepalanya sambil menatap Arsan yang begitu menikmati makanan itu.
Adis tertegun teringat ucapan pembantu rumah yang mengatakan bahwa Arsan menyuruh nya membeli mangga muda, untuk membuat rujak.
sebenarnya apa yang terjadi dengan suami nya itu karena seingat nya ia tidak pernah lupa meminum obat penunda kehamilan, Arsan bertingkah seperti istri nya tengah hamil.
Arsan menghabiskan rujak tersebut sendiri, tersenyum menatap Adis yang merasa heran karena hal itu.
"kamu habiskan bang?" tanya Adis mengernyitkan alisnya.
"ya, enak... manis buah nya!"
ucap Arsan terpaku saat melihat Adis menatap nya lekat.
"kamu kenapa Bang?"
tanya Adis melihat Arsan yang diam terpaku.
"enggak apa-apa justru kamu Yang kenapa? kamu pasti heran karena Abang menghabiskan rujak itu sendiri... Abang memang penggemar rujak...!"
ucap Arsan senyum lalu beranjak saat terdengar ponsel nya berdering.
"halo baby...ada apa?" ucap arsan menjauh dari Adis yang memperhatikannya pergi.
"aku Rindu Ar, pulang lah aku punya kabar gembira untuk mu...."
ucap salsa di telpon sambil menatap benda kecil persegi panjang itu.
"weekend ini aku pulang....!"
ucap arsan lalu menutup telponnya.
"mungkin terkesan egois tapi aku tidak bisa jika harus kehilangan salah satu dari mereka berdua, aku akan berusaha untuk adil semampu ku... semoga salsa mau mengerti jika aku tidak bisa melepaskan Adis.."
gumam arsan menatap punggung Adis yang tengah membereskan buku-buku nya.
***
malam itu Arsan mengajak Adis jalan jalan menggunakan Kendaraan roda dua miliknya, Adis tersenyum senang Arsan mengajak nya makan malam di sebuah restoran yang menampakkan pemandangan kota kembang yang indah saat malam hari.
__ADS_1
"bagus banget....!"
ucap Adis berdiri, saat ini mereka tengah duduk di restoran yang berada di dataran tinggi.
suasana dingin begitu terasa saat angin berhembus kencang, untung nya Adis memakai pakaian tebal.
"kamu suka?"
tanya arsan senyum melihat senyum mengembangkan di wajah istrinya itu.
"suka...... terima kasih Bang!"
"ya, lain kali Abang ajak kamu jalan jalan keluar negeri... gimana kalau kita pergi ke Swiss?"
"Adis mau ke negara Indah itu....!"
ucap Adis yang langsung terdiam saat merasa sedikit pusing, ia kembali mimisan.
"Adis... kamu kenapa?"
tanya arsan langsung merengkuh tubuh istrinya itu.
"Adis memang sering mimisan, tapi dokter bilang tidak apa-apa...."
ucap Adis mengelap hidung nya.
"kamu yakin?"
Adis mengangguk lalu melanjutkan makan malam itu.
Malam semakin larut, Adis mendekap tubuh hangat suami nya.
"mau pulang atau kita menginap di hotel, weekend ini Abang ada urusan penting..."
"Abang mau pergi lagi?"
Arsan mengangguk.
"kemana?"
"HM, Abang mau ke London ketemu rekan bisnis.. kalau kamu bisa izin pergilah nanti menyusul...!"
"Kita pulang? atau bermalam di sini?" tanya Arsan membuyarkan lamunannya.
"pulang saja!"
tutur Adis ia lupa tidak membawa obat itu, Arsan tak pernah melewatkan malam indah itu terkecuali ia tengah datang bulan.
"ya sudah, ayo kita pulang!"
ucap arsan mencium pucuk kepala perempuan itu.
keesokan harinya...
Arid terdiam mengingat terakhir kali bertemu dengan Adis, entah bagaimana keadaannya saat ini. tidak ada yang tahu hasil pemeriksaan medis perihal kesehatan nya itu, namun Arid melihat tatapan sendu saat Adis keluar dari ruangan dokter.
sudah beberapa waktu ini Arid tidak bertemu dengan Adis, setelah kejadian di kantor waktu itu Arsan juga tak lagi memberikan tugas untuk mengantar jemput adis, arid perhatian juga Arsan selalu ada untuk Adis, lalu bagaimana dengan Salsa yang juga menjadi istri nya.
"ah kenapa aku mengurusi mereka?"
ucap Arid lalu beranjak dari duduknya dan pergi menggunakan motor.
tadi pagi Arsan sudah pergi ke bandara, Adis mengendarai motor nya menuju apotek untuk membeli taspack, ia khawatir kebobolan.bisa saja kan ia hamil tapi menstruasi, ia harus mencari tahu hal itu.
Arid dan Adis berpapasan di halaman parkir apotek tersebut, keduanya sama sama menoleh saat menyadari hal itu.
"Adis....!"
ucap Arid membuat Adis tertegun.
"bang Arid.....?"
ucap Adis, keduanya saling menatap satu sama lain. kejadian tempo dulu membuat ya tak enak hati, Arsan cemburu pada Arid.
"kamu mau beli obat?"
tanya Arid turun dari motor menghampiri perempuan itu.
"aku...ya aku mau beli obat!"
__ADS_1
ucap Adis yang juga turun dari motor lalu masuk ke dalam apotek.
"mau beli apa Mba? mas?" tanya penjaga apotek tersebut.
"taspack....!"
ucap Adis lirih memalingkan wajahnya.
"oh... sebentar ya!"
ucap penjaga apotek lalu mengambil barang tersebut.
Arid terdiam mendengar penuturan Adis meski lirih namun tetap terdengar jelas oleh nya.
"apa mungkin Adis hamil?"
gumam arid sendiri dalam hati.
"terimakasih.....!" ucap Adis menerima barang tersebut lalu memberikan uang.
"aku duluan bang?"
ucap Adis lalu beranjak pergi.
"kirain suami nya....!"
ucap penjaga apotek tersebut menghentikan langkah Adis sejenak lalu melangkah keluar dengan tergesa.
Adis menggigit bibirnya, kepalanya kembali terasa pusing ia juga kembali mimisan. Arid memperhatikan Adis yang menunduk kan kepalanya.
gegas ia melangkah mendekati perempuan itu, entah kemana arsan kenapa Adis sendiri.
"Adis kamu baik baik saja...."
tanya Arid.
"ya, aku baik baik saja!"
ucap Adis mengelap hidung nya, tiba-tiba saja hujan turun, sontak Arid menarik tangan Adis untuk berteduh.
Adis membeku menatap tangan Arid yang terasa begitu Hangat menarik tangan nya.
kenapa tiba-tiba saja turun hujan?
"kenapa kamu sendiri?
kemana arsan? ini kan weekend..."
ucap Arid.
"pergi ke London, dia bilang ada urusan pekerjaan!"
ucap Adis membuat arid tertegun, lalu untuk apa kemarin Arsan menyuruh Medina memesan tiket pesawat penerbangan ke Australia.
keduanya duduk dengan memeluk lutut masing masing, hujan masih belum reda.
tak ada yang bicara, hening dengan pemikiran masing masing.
"bang, maaf untuk kejadian di kantor?"
"tidak apa-apa, aku mengerti...."
***
sementara di tempat lain...
Arsan tersenyum senang melihat taspack dengan dua garis merah menunjukkan bahwa salsa tengah mengandung anak nya.
"sayang, kamu hamil....?"
salsa mengangguk tersenyum lalu terperangah saat Arsan mengangkat tubuh nya membawa nya berputar.
"aku bahagia salsa dengan anugerah indah ini... terima kasih!"
ucap Arsan merebahkan tubuh salsa di ranjang.
bersambung...
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍
__ADS_1