
Arid senyum menatap ponselnya lalu beranjak dari duduknya,,
"Bu...Arid berangkat kerja dulu!"
"ya, kamu hati hati rid... jangan melampaui batas, ibu rasa kamu paham batasan nya rid!"
"ya, Bu... Arid hanya kasihan..."
"ya, justru rasa itu lebih kuat dari rasa cinta rid, kamu harus tahu itu..."
ucap Winda membuat arid tertegun.
"dan dengan hal itu kamu harus siap untuk kecewa karena jatuh cinta sendirian itu sakit...!"
ucap Winda menepuk bahu putra nya lalu pergi.
**
"sejak kapan kamu mengkonsumsi pil KB ini?"
tanya Arsan menatap netra milik istri nya itu.
"aku...."
ucap Adis menunduk dengan perasaan bersalah.
Arsan duduk di ranjang sambil menunduk, menatap pil itu lekat.
apa yang terjadi adalah karena niat awalnya yang memang sudah tidak baik, seakan Adis bisa merasakan hal itu hingga ia tidak memberikan kepercayaan penuh pada nya.
Arsan beranjak lalu meletakkan pil tersebut di nakas, menatap Adis lekat.
"lakukan sesuka hati mu...!"
ucap arsan beranjak namun cepat Adis menghentikan langkahnya.
"bang, maafkan aku....!"
ucap Adis menatap wajah suaminya itu.
"Adis salah, Adis minta maaf karena enggak izin sama Abang..."
"kalau alasan kamu masih ingin kuliah, Abang paham... tapi apa tidak bisa kamu meminta izin pada ku terlebih dahulu, bagaimana jika aku berharap kamu hamil namun kenyataannya kamu membuang harapan itu..."
ucap arsan lirih namun terdengar oleh Adis yang langsung memeluk suaminya itu, namun Arsan langsung melepaskan pelukan itu lalu pergi meninggalkan Adis yang mematung sendiri.
Adis menatap langit langit kamar agar air matanya tak jatuh, sekuat hati ia menahan tubuh nya yang hendak luruh ke bawah.
terdengar suara mobil arsan keluar dari gerbang rumah, rasa kecewa berkecamuk dalam dada.
Adis merunduk Duduk di ranjang, Arsan menampakkan rasa kecewanya hingga pergi meninggalkan nya begitu saja.
perempuan itu menyeka air matanya lalu beranjak dari duduknya melangkah keluar kamar, ia akan menemui arsan nanti jika keadaan sudah membaik.
**
Arid tertegun menatap kertas putih yang arsan berikan, dengan alasan cemburu Arsan memecatnya nya dengan berbagai alasan.
__ADS_1
"aku pikir kamu tahu batasan tapi ternyata tidak... terima kasih untuk kerjasama nya selama ini."
ucap arsan memalingkan wajahnya, arid sendiri tampak santai Karena telah lama ia juga ingin berhenti bekerja di perusahaan itu.
"terimakasih kembali, saya minta maaf kalau saya melebihi batas dalam bekerja tapi itu terjadi tanpa sengaja, saya sendiri sebenarnya tahu batasan hanya keadaan memaksa saya untuk lebih dari itu, saya harap keberuntungan berpihak pada Anda"
ucap Arid lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.
terkesan pengecut karena arsan seakan takut jika kedekatan yang terjadi antara istrinya dengan Arid lebih dari sekedar nyonya dan bawahan, padahal ia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu jika ia sendiri tidak Main di belakang bahkan keadaan saat ini tak berpihak pada nya, Adis bertindak di luar pikiran nya dengan meminum obat pil penunda kehamilan.
Medina Terdiam melihat Arid merapikan barang barang nya, ia dan Arid sudah lama bekerja di perusahaan itu.
Medina bahkan menyukai pria yang selalu bersikap dingin itu, namun ia tak bisa menggapai nya karena Arid tak pernah membuka jarak di antara mereka berdua.
"rid...."
ucap Medina menghampiri meja tersebut.
"kamu berhenti bekerja di sini...?
Arid mengangguk sambil membereskan barang barang nya.
"rid, kamu berhenti Atau di pecat?"
"di pecat?"
jawab Arid singkat tanpa menoleh.
"tapi aku tidak mengatakan apa-apa soal kemarin...!"
ucap Medina yakin jika Arid di keluar kan karena hal itu.
ucap Arid tersenyum tipis lalu membawa barang nya, pergi meninggalkan Medina begitu saja.
"rid, aku tidak tahu kenapa kamu begitu mudah membuka jarak dengan istri pak arsan, sementara aku yang bertahun-tahun lamanya berada dekat mu tak sedikit pun kamu melirik ku..."
ucap Medina menunduk.
siang itu..
Arid memperhatikan Adis yang baru keluar dari gedung universitas tersebut, memeluk tubuh nya sendiri.
seperti nya gadis itu tengah kedinginan, terlihat Adis masuk ke dalam mobil nya...
Adis memeluk tubuh nya yang terasa dingin, switer yang ia pakai adalah pemberian Rey, ia masih sering pakai.
Adis bersandar pada kursi mobil, mengingat semua kejadian di masa lalu.
benarkah ia harus semangat untuk sembuh?
ia tidak pernah menyangka jika ia sakit, gadis itu tersenyum mengingat kenangan bersama sahabat sahabat nya termasuk Rey,,
tak Terasa air mata mengalir tak mampu ia bendung lagi, rindu yang ia rasa begitu menyakitkan.
benak nya memutar mengingat seseorang yang tiba-tiba hadir dengan sikap kaku nya, namun ia begitu hangat saat menghadap Robb nya.
sedikit banyak mengingat kan nya bahwa siapa lah diri nya di hadapan tuhan yang memiliki kehidupan, ia bahkan lalai..
__ADS_1
jika ia harus mati, lalu bekal apa yang akan ia bawa nanti sementara selama ini ia jauh dari Tuhan.
Arid terdiam memperhatikan Adis yang tak kunjung melajukan mobilnya, namun ia tahan saat hati mengatakan untuk menghampiri.
namun ia merasa lega saat tak lama kemudian perempuan itu melaju kan mobil nya.
siang itu Adis sampai di gedung perusahaan milik Arsan, Jam menunjukkan waktu makan siang.
Semua bersikap ramah saat bertemu dengan istri direktur utama di perusahaan itu, Adis Menoleh pada meja arid yang tampak kosong tanpa ada sedikit pun barang barang nya.
terlihat Medina keluar dari ruangan Arsan membawa berkas pekerjaan nya, terhenti melihat Adis memperhatikan meja arid.
"Arid tidak bekerja di perusahaan ini lagi......!"
ucap Medina membuat Adis Menoleh.
hendak bertanya namun tertahan saat Arsan keluar dari ruangan menghentikan langkahnya melihat Adis berada di dekat meja arid, lalu berbalik arah kembali ke dalam ruangan.
"bang.....!"
ucap Adis mengikuti melewati Medina yang mematung sendiri.
"kamu cari Arid?"
tanya arsan memunggungi Istri nya itu.
"Abang pecat dia karena kemarin?"
tanya Adis menggeleng kan kepalanya.
"Abang cemburu?"
tanya Adis lagi membuat Arsan menoleh mendekati istri nya itu.
"ya, aku cemburu. aku tidak suka kamu bersikap seperti itu pada bawahan ku. rasa kecewa ku belum mereda lalu sekarang kamu datang bukan mencari ku...!"
ucap Arsan menatap netra indah milik istri nya itu.
"kenapa Abang berpikir seperti itu?
Adis enggak mau seseorang terkena imbas karena Adis meminta tolong pada nya, sedang Abang sibuk? Adis harus minta tolong siapa di saat seperti itu? kenapa Abang malah berpikir macam-macam dan menuduh Adis yang tidak tidak..."
ucap Adis terisak menutup mulutnya tergugu.
"Abang takut kehilangan kamu....!"
ucap Arsan merengkuh tubuh perempuan yang tengah terisak itu.
"Kenapa harus takut jika Abang jujur.... karena terkadang apa yang seseorang tuduhkan itu yang ternyata ia lakukan.... Adis tahu Adis salah, Adis memang cinta sama Abang tapi Adis belum siap untuk melangkah lebih jauh...."
ucap Adis menepis tangan Arsan lalu berlari keluar dari ruangan itu.
apa yang terjadi siang itu sama halnya yang terjadi tadi pagi....
bersambung.
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍😍
__ADS_1
jangan lupa like dan komentar ya 😍😍😍