
Arsan menatap wajah cantik Adis yang terlelap dalam dekapan nya, memijat keningnya yang sedikit pusing karena semalam ia tidak bisa tidur, bingung dengan dirinya sendiri.
Rasa tak tega menguasai jiwa nya, ia merasa tak bisa sepenuh hati melakukan semua itu.
Arsan mendesah membuat Adis terbangun dari tidurnya, menatap Arsan yang juga menatap nya.
"um... kenapa bang?kamu udah bangun?"
tanya Adis menggigit bibirnya.
"tidak apa apa, tidur nya nyenyak..!" ucap Arsan menatap netra indah milik istri nya itu.
"nyenyak sekali....?"
ucap Adis senyum dengan wajah memerah.
Arsa menilik setiap inci garis wajah Adista hilma Adzkia.
"kenapa kamu begitu indah....!"
desis Arsan di telinga adis membuat nya meremang.
"hal itu membuat ku mudah jatuh cinta..."
ucap Arsan mencium pipi gadis itu, ia tak bisa lagi menahan hasrat nya, ia pria normal.
tak ada salahnya jika ia melakukan hal itu dengan istri nya sendiri, itu adalah hak dan kewajiban nya memberikan nafkah batin.
"Adis....!" desis Arsan di telinga nya.
"HM.......?" ucap Adis menatap mata arsan yang berkabut hasrat.
"apa boleh aku meminta hak ku...?"
ucap Arsan meminta izin sambil mengelus pipinya yang lembut.
semalam setelah pulang makan diluar, keduanya memutuskan untuk langsung beristirahat karena arsan melihat Adis yang beberapa kali menguap, dan benar saja adis langsung tertidur saat naik ke ranjang.
Adis mengangguk lalu menutup mata nya, mendengar Arsan berdoa sejenak sebelum mencumbu nya hingga memulai penyatuan.
***
Arsan berdiri di atas balkon dengan kimono handuk sambil memegang gelas berisi air putih, pagi itu menjadi pagi yang begitu indah untuk mereka berdua, Arsan bahkan merasa candu dengan aktivitas itu hingga ia membuat istri nya kelelahan.
"sakit bang.....!"
ujar Adis mencengkeram erat bahu nya kuat, ia mendapatkan kesucian gadis itu.
setelah apa yang dirasakan nya, Arsan merasa tak ingin jauh dari perempuan itu, ia bahkan berubah pikiran.
"seperti ini kah menikah,, rasanya luar biasa aku bahkan merasa kini kamu adalah candu ku..." ucap Arsan mencium pipi Adis yang merah.
"sayang."
"hm......." ujar Adis berbalik memunggungi, Arsan membuat nya begitu lelah.
Arsan tersenyum lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri lalu gegas pergi ke luar untuk membeli sarapan dan membiarkan istrinya itu tertidur.
Adis membuka matanya dan melihat sinar matahari masuk ke dalam kamar nya, ternyata arsan membuka jendela kamar tersebut.
waktu menunjukkan pukul sebelas siang, ternyata cukup lama ia tertidur.
"Bang....."
ucap Adis melihat ke sekeliling namun tak mendapati suaminya itu, Adis beranjak dari tidurnya namun merasakan sesuatu yang perih di bawah sana.
wajahnya memerah mengingat kegiatan tadi pagi yang membuat nya takut, takjub dan mendebarkan.
cek lek...
Arsan menyembul masuk ke dalam kamar, tersenyum menghampiri Adis yang langsung membeku.
"sudah bangun....?"
ucap arsan mencium kening Adis terlihat wajah nya memerah.
"terimakasih untuk semua itu, Abang sayang sekali sama kamu candu.."
__ADS_1
ucap Arsan merengkuh tubuh Adis erat, sementara Adis diam membisu mendengar penuturan Arsan.
"Kenapa kamu diam...?"
Adis menggeleng kan kepalanya lalu mendekap erat tubuh Arsan.
"maaf kalau aku enggak izin sama kamu tentang hal itu bang, aku belum siap untuk hamil...!"
gumam Adis sendiri mengingat obat yang ia konsumsi.
"Abang beli sarapan untuk kamu.... maksud nya untuk kita, tapi ini waktu makan siang.
maaf ya Abang membuat kamu Lelah..."
Adis mengangguk.
"aku berharap bisa memperbaiki semua nya sebelum waktunya tiba...."
gumam arsan menatap wajah Adis yang bersemu merah kemudian membawa gadis itu masuk ke dalam kamar mandi.
"Bang, aku bisa jalan sendiri....!"
"ya, Abang tahu...tapi Abang khawatir kamu masih kesakitan...."
ucap Arsan menurun kan tubuh Adis di but up.
"tidak apa-apa bang, Adis ikhlas jika itu membuat Abang bahagia...!"
"ya, Abang sangat bahagia karena kamu menjaga mahkota mu untuk suami mu..."
ucap Arsan senyum, menyentuh hidung Adis dengan tangan nya.
"ya, sudah sekarang mandi, Abang siap kan makan untuk kita....!"
ucap Arsan lalu keluar dari kamar mandi, meninggalkan Adis yang tersenyum sendiri.
**
Adis keluar dari kamar setelah berpakaian rapi, menghentikan langkahnya mendengar Arsan berbicara di telepon dengan seseorang.
"gimana kerja lo ar...?"
"ingat perjanjian kita, gue udah bantu perusahaan lo. tinggal Lo timbal balik sama gue, sebenarnya Lo mendapatkan keuntungan besar dari kerja sama ini, gue yakin Lo pasti takjub dengan apa yang udah terjadi di antara kalian, gue harap Lo enggak pakai perasaan...!"
ucap Bastian menutup panggilan telepon tersebut.
Arsan tertegun mendengar penuturan Bastian,
"jangan menggunakan perasaan? justru hal itu yang membuat perasaan itu tumbuh dengan sendirinya..."
gumam Arsan menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong mengingat ia yang terjerat dalam permainan ini.
"bang....!"
ucap Adis menghampiri Arsan yang langsung meraih tangan nya.
"kenapa bang? siapa yang telpon?"
tanya Adis yang duduk di pangkuan Arsan sesuai instruksi dari Arsan.
"enggak apa-apa, tadi itu teman Abang nanyain soal pekerjaan, kemungkinan senin Abang langsung masuk kerja?"
ucap Arsan menatap istrinya lekat, mencium bibir nya sekilas.
"ya udah enggak apa-apa kalau memang urgent..."
ucap Adis merangkul leher Arsan.
"ayo kita makan, setelah itu Abang akan ajak kamu jalan-jalan..."
ucap Arsan lalu menyuapi istri nya itu.
**
Arsan mengajak Adis jalan jalan keliling kota menggunakan motor hingga mereka berhenti di sebuah kedai yang menjual es krim.
"Mau rasa apa de...?"
__ADS_1
tanya Arsan merangkul pundak Adis.
"coklat saja....!"
ucap Adis sambil memainkan ponselnya berkirim pesan dengan teman teman nya.
Arsan menoleh ke sebuah mobil dimana seseorang tengah menatapnya sendu, salsa menyeka air matanya melihat kemesraan mereka, hati nya semakin hancur saat Adis mendekap pinggang pria itu.
"harus nya aku?"
gumam salsa menitikkan air matanya lalu melajukan mobilnya.
"bang kenapa?"
tanya Adis melihat Arsan diam.
"enggak apa-apa, ayo kita lanjut ke tempat yang lain..."
ucap Arsan naik ke atas motor di ikuti Adis.
sampai sore keduanya menyusuri kota Bandung, hingga kedua nya memutuskan untuk pulang.
"capek?"
tanya Arsan duduk di samping Adis lalu mendekap tubuh istrinya itu.
"lumayan, tapi seru terima kasih bang!
sebelum nya pernah main ke Bandung sama kak Ibra tapi udah lama sebelum dia sibuk seperti sekarang" tutur Adis senyum.
"oh gitu, ya sudah kamu istirahat ya!
Abang ada perlu sebentar..."
"baiklah..."
ujar Adis beranjak dari duduknya.
...........
pikiran Arsan tak lepas dari salsa, walau bagaimanapun ia tidak tega melihat nya seperti itu, meski entah di hati bagian mana ia kini berada, namun yang pasti kini ia mulai mencintai Adis, istri nya itu.
Arsan pergi menemui salsa di rumah nya, sebenarnya ia enggan melakukan hal itu karena jujur saat ini ia berat pada istri nya meski pernikahan nya hanya lah permainan semata tapi yang Arsan rasa kan saat ini adalah Arsan ingin menggenggam istri nya itu.
"sebaiknya kamu tidak menunggu ku sa, aku tidak ingin kamu terluka parah..."
ujar Arsan Duduk di hadapan salsa dengan wajah sembab.
"tidak apa-apa, karena hanya kamu obat luka itu..."
ucap salsa yang langsung memeluk Arsan.
waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Arsan kembali ke rumah setelah makan malam bersama salsa, dengan itu ia bisa membuat salsa sedikit bahagia.
cek lek..
Arsan menyembul masuk ke dalam kamar, terlihat Adis langsung menoleh ke arah nya.
"sayang kamu belum tidur..?"
ujar Arsan melihat Adis duduk di ranjang.
"belum, enggak bisa tidur...kamu dari mana bang?" tanya Adis memperhatikan Arsan membuka jaketnya.
"ketemu teman,,
Abang ke kamar mandi dulu!"
ucap Arsan masuk ke dalam kamar mandi lalu gegas naik ke ranjang untuk mendekap tubuh istrinya itu.
"ingin seperti ini tidur nya...!?"
tanya Arsan menarik tubuh Adis ke dalam pelukannya, sementara Adis diam membisu memperhatikan wajah Arsan yang tampak menyembunyikan sesuatu.
"kenapa perasaan nya mengatakan hal itu?"
gumam Adis memejamkan matanya, membiarkan Arsan menyalurkan kehangatan pada nya.
__ADS_1
bersambung...
terimakasih yang sudah mampir 😍😍