
Arsan masuk ke dalam rumah yang masih berserakan serpihan kaca bekas kejadian lalu, begitu cepat waktu berlalu dan membuat keadaan berubah, Arsan menoleh ke arah kolam renang dimana tempat Adis dan ia menghabiskan senja bersama, kini senja itu membisu tak ada lagi gelak tawa bahagia gadis itu.
masih tak percaya dengan penuturan Perempuan itu tadi malam, benar kah ia tak segan memilih Hans untuk menggantikan nya..?
"bang...kamu tuh sibuk, aku kesepian.."
ucap adis saat ia berenang sendiri, kala itu Arsan baru sampai di rumah.
"maaf ya, Abang cari nafkah untuk kamu sayang!"
ucap Arsan yang langsung membuka bajunya lalu menceburkan diri ke kolam menemani istrinya itu berenang.
meski hanya sebatas sandiwara namun Arsan menjalani semua itu dengan sepenuh hati, ia pun terluka dengan keadaan ini.
Arsan melangkah mengambil sapu untuk membersihkan serpihan kaca tersebut, netra nya beralih menuju dapur.
teringat saat pertama ia belajar memasak bersama pembantu, hanya belajar satu Minggu ia sudah pandai memasak,membuat nya ketagihan dengan semua masakan nya.
"kenapa masakan di rumah lebih terasa enak ketimbang masakan di restoran?"
tanya Arsan sambil memperhatikan Adis yang menata makanan di meja bersama pembantu yang kini sudah berhenti bekerja.
"Karena aku masak dengan cinta....!"
ucap Adis merengkuh pundak suami nya itu.
"itu benar.....!"
ucap Arsan lalu mengecup pipi perempuan itu.
Arsan menarik nafas dalam-dalam untuk menahan air matanya, ia begitu merindukan Adis, namun semua tak mungkin lagi.
rasa ini menyiksa ku....
Arsan masuk ke dalam kamar, terlihat ponsel Adis tergeletak di dekat nakas beserta beberapa strip pil KB.
"Adis menstruasi bang, enggak apa-apa kan?"
tanya Adis saat pertama kali ia mendapatkan tamu bulanan setelah mereka menikah, Arsan tak pernah sedikitpun berpikir bahwa Adis melakukan hal itu, entah apa alasannya hingga ia begitu kuat melakukan hal itu.
apa mungkin itu sebuah dorongan dari hati yang menjadi firasat bahwa semua tak akan baik baik saja.
Arsan duduk di tepi ranjang sambil menatap kaca jendela yang cukup besar menampakkan air kolam yang tenang tak beriak seperti waktu yang lalu akibat ulahnya yang senang bermain air.
"i Miss u so much, dis...!"
ucap Arsan memangku kepalanya sendiri.
kenangan indah bersama perempuan itu begitu nyata di depan mata hingga membuat nya nyeri.
Arsan menoleh ke arah selimut putih yang menjadi saksi tak ada satupun malam indah yang tak terlewati bersama, manja nya Adis yang selalu membuat Arsan gemas.
namun kini hanya bayangan.....
Arsan menoleh ke arah ruang kerjanya, dimana kursi itu menjadi saksi Adis yang selalu tidur di pangkuan nya saat menunggu Arsan menyelesaikan pekerjaan nya.
"aku ngantuk tapi mau tidur sama kamu bang!"
ucap Adis menguap duduk di pangkuan Arsan.
"sebentar ya sayang, nanggung. proyek ini harus selesai besok pagi...!"
ucap Arsan yang terus fokus pada pekerjaan nya, lalu membiarkan Adis tertidur di pangkuan nya
semua terekam begitu indah dan terasa hangat namun kini hatinya berubah dingin saat Adis tak ada lagi di sisi nya.
__ADS_1
cermin besar itu menampakkan bayang kekasih nya itu, bagaimana gadis itu bersolek sambil tertawa karena Arsan yang terus menggoda nya.
baru beberapa jam hilang dari genggaman sudah membuat nya seperti orang gila, apa lagi nanti...
Arsan merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memijat keningnya, tubuhnya terasa malas untuk melangkah pulang meski salsa Beberapa kali menelpon nya.
"saat ini aku benar-benar butuh waktu untuk sendiri....!"
ucap Arsan lalu memejamkan matanya yang terasa lelah.
***
Adis tertegun di ruangan bercat putih itu, teringat seseorang yang pergi begitu saja saat ia memutuskan untuk ikut dengan Hans, Adia pikir Arsan akan mencegah nya tapi ternyata tidak.
"kamu yakin dengan Hans....?"
tanya Ibra menoleh ke arah Arsan yang mematung sendiri.
Adis mengangguk tanpa menjawab lagi, ia ingin Arsan marah dan meminta nya untuk pulang dengan nya namun tidak, Arsan bungkam lalu pergi meninggalkan mereka di tempat itu tanpa bicara apapun.
"kalau boleh aku memilih dan memutar waktu, aku tidak ingin mengenal mu apa lagi jatuh cinta pada mu, bang!"
ujar Adis menghapus air matanya.
"kenapa aku seperti tak berarti untuk mu bang, apa tidak bisa kamu mempertahankan aku....?"
Adis meringkuk lalu memejamkan matanya menikmati rasa sakit yang menjalar di tubuh juga hati nya.
**
**
melihat mu bahagia satu hal yang terindah.
anugerah cinta yang pernah ku punya.
seakan kisah sempurna kan tiba.
Masih jelas teringat pelukan mu yang hangat.
seakan semua tak mungkin menghilang.
kini hanya kenangan yang
telah kau tinggalkan.
tak terasa sisa waktu bersama.
mengapa masih ada sisa rasa di dada
di saat kau pergi begitu saja.
mampukah ku bertahan tanpa
hadir mu sayang.
Tuhan sampai kan rindu untuk nya.
Masih tersimpan setiap kenangan.
semua cinta yang kau beri
kau tak kan terganti...
(sisa rasa_mahalini)
__ADS_1
***
Ibra duduk di tepi ranjang, termenung memikirkan adiknya, Wira yang akan mengurus perceraian Adis dan Arsan.
"dis, sebaik nya kamu pulang sampai perceraian mu dengan Arsan selesai..."
ucap Ibra memberikan pemahaman terhadap adiknya tentang status nya kini.
"ya kak, Adis akan pulang tapi lusa setelah Adis menjalani pengobatan....!"
ucap Adis.
"pengobatan?"
"ya, sebenarnya Adis malas melakukan hal itu , adis pasrah jika harus mati seperti ibu..."
ucap Adis menunduk, Hans membiarkan adik kakak itu bicara berdua.
"Adis katakan kamu sakit apa?"
tanya Ibra dengan wajah memerah.
"seperti ibu.....!"
jawab Adis menangis terisak.
Ibra terperangah mendengar penuturan adiknya itu, dengan cepat Ibra merengkuh tubuh lemah itu.
"kak, kenapa bang Arsan pergi begitu saja.?
kenapa ia tidak mempertahankan Adis kak, apa tidak ada sedikit saja rasa?"
tanya Adis membuat Ibra mengeratkan pelukannya.
"lupakan dia Adis, Dia tidak pantas kamu cintai... maaf kan kakak semua terjadi karena kakak.....!"
"enggak, kakak enggak salah....!"
ucap Adis masih dalam pelukan ibra.
"suami pilihan kakak itu sebenarnya pria baik, Adis tahu itu... hanya keadaan yang membuat nya jahat...."
Hans terdiam mendengar percakapan keduanya, ternyata Arsan berhasil membuat gadis itu hancur.
pagi....
semalam Ibra juga menginap di rumah sakit itu, tak percaya jika Hans juga seorang dokter.
Ibra pikir ia hanya seorang pebisnis hebat, tapi ternyata di balik kesibukan nya ia masih sempat merawat pasien di rumah sakit itu, orang yang ia anggap berbahaya ternyata justru bermanfaat bagi mereka yang berada di rumah sakit itu.
Ibra mendorong Adis menggunakan kursi roda, membawa nya ke halaman luas dimana banyak pasien yang juga tengah berjemur.
setelah pengobatan nanti siang Adis memutuskan untuk pulang ke Jakarta dan akan kembali ke Bandung menurut jadwal yang Hans berikan.
Ibra menggenggam tangan Adis sambil menatap wajah nya yang sedikit sembab.
"apa semalam kamu menangis?"
tanya Ibra.
"semoga untuk yang terakhir kalinya kak, Adis tahu tak seharusnya Adis seperti ini tapi Adis tak bisa mengendalikan hati dan pikiran untuk tidak mengingat nya, Adis merindukan nya kak....!"
ucap Adis menunduk.
bersambung....
__ADS_1
terima kasih sudah mampir 😍😍😍
jangan lupa untuk like and komentar nya ya😍