
dua tahun berlalu.
Adis tak percaya ia bisa sampai pada waktu dimana ia wisuda dan menyelesaikan kuliah nya.sebuah anugerah terindah yang Tuhan berikan ia masih diberikan kesempatan untuk bernafas sampai detik dimana ia bisa menggunakan pakaian toga, bergelar sarjana akuntansi, berpoto mengabadikan momen indah itu.
Adis tersenyum bahagia saat Ibra juga memberikan kabar bahwa ia akan menikah.
sebuah harapan yang menjadi kenyataan, dimana Adis ingin melihat kakaknya itu menikah.
besok mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia, lusa Ibra akan menikah tentu saja Adis dan keluarga besar bergegas untuk pulang.
"kamu udah siapin semua nya de?"
tanya Arsan masuk ke dalam kamar.
"sudah bang..."
ucap Adis menutup kopernya.
"obat nya di bawa de...!"
ujar Arsan mengingat kan istri nya itu.
"enggak usah bang, adis udah sembuh kok...!"
ucap Adis tersenyum duduk di pangkuan Arsan.
"untuk jaga jaga saja, kamu ingat kan apa Kata dokter?"
ujar Arsan, sementara Adis lelah karena selama dua tahun ini hidup nya tergantung oleh obat.
"ya bang.....!"
ujar Adis memasukkan obat tersebut.
dua tahun ini Adis menanti kehadiran seorang bayi dalam rumah tangga nya namun Tuhan belum juga memberikan karunia itu, bersyukur karena Arsan juga tak pernah menuntut hal itu, di tambah ada Al yang terkadang sengaja salsa bawa untuk bertemu dengan Arsan. salsa sendiri sudah kembali bekerja satu tahun terakhir ini, lambat laun ia terbiasa tanpa Arsan di samping nya.
"sayang... kenapa melamun..??"
tanya Arsan mengamati wajah istri nya.
"terkadang tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, agar kita belajar untuk bersabar. padahal dulu Adis enggak pernah melewatkan waktu untuk meminum obat itu karena Adis enggak mau hamil, tapi sekarang tuhan malah menunda keinginan itu di saat adis berharap....apa ini suatu hukuman?"
ucap Adis menunduk membuat Arsan menghela nafas.
"kamu enggak boleh berpikir seperti itu, kita harus tetap berpikir baik. mungkin Tuhan ingin kondisi kamu benar benar sembuh..."
"ya dan Adis lelah karena terus bergantung pada obat obatan itu...!"
ucap Adis beranjak dari pangkuan Arsan namun cepat Arsan memeluk nya dari belakang.
"kamu boleh rehat sebentar tapi bukan untuk berhenti karena aku ingin kamu tetap optimis..."
ucap Arsan membalikkan tubuh istri nya itu.
"perihal anak itu tidak jadi persoalan, banyak yang menikah hingga berpuluh tahun mereka tidak punya anak tapi mereka baik baik saja... yang terpenting kita tetap saling menjaga?"
ucap Arsan memeluk istrinya itu.
"Abang enggak mau kamu sedih de, kamu itu sumber kebahagiaan Abang, jadi kamu harus semangat!"
__ADS_1
ujar Arsan lalu mencium kening Adis.
"ayo kita istirahat, besok kan kita mau pulang ke Indonesia...!"
Adis mengangguk.
salamah dan regina sudah setahun yang lalu Tinggal di Indonesia, kedua nya kembali ke Indonesia saat regina telah lulus lebih dulu setahun sebelum Adis.
Arsan merebahkan tubuh Adis ke dalem ranjang besar itu, menyelimuti nya hingga perut.
"bang, kamu mau kemana?"
"ke kamar mandi dulu? ikut?"
ucap arsan terkekeh.
kehidupan memang berjalan lancar, ia bisa mengembangkan perusahaan milik Harun dan melumpuhkan perusahaan yang diambil oleh Bastian kini sudah kembali ke tangan nya berkat bantuan dari Hans dan juga Ibra.
Arsan juga melakukan tanggung jawab semestinya terhadap Al tanpa membuat istri nya itu cemburu, namun masih saja ada yang mengganjal perihal Adis yang masih bergantung pada obat obatan ia juga cek up sebulan sekali untuk mengontrol penyakit nya itu.
Arsan teringat percakapan nya dengan Alvin yang mengatakan bahwa resiko nya besar jika Adis mengandung, karena obat yang dikonsumsi bukan obat biasa meski tergolong ringan namun tetap membahayakan keselamatan Adis nantinya.
terpaksa Arsan meminta dokter menyuntikkan obat penunda kehamilan setiap kali mereka cek up dan tanpa diketahui oleh Adis.
Arsan terpaksa melakukan hal itu atas sara dokter karena kondisi Adis tidak memungkinkan untuk hamil.
Arsan menghela nafas lalu keluar dari kamar mandi, naik ke ranjang mendekati Adis yang meringkuk memunggungi.
"sayang.....!"
ucap Arsan mencium telinga istri nya.
"HM...!"
"udah....?"
tanya Adis menyentuh dada bidang milik Arsan, membiarkan pria itu mencumbu nya. tak ada satu pun malam indah yang terlewati bersama, menyemai benih cinta meski sebatas hasrat tidak untuk berharap lebih.
namun Arsan melakukan semua itu dengan penuh cinta dan kasih sayang.
pagi....
Adis sudah rapi dengan dress cantik nya yang berwarna hijau tua, arsan yang baru keluar dari kamar mandi memperhatikan Adis yang tengah bercermin.
"cantik... istri nya siapa sih?"
tanya Arsan memeluk tubuh kecil itu dari belakang.
"Abang.... basah?"
ujar Adis membalikkan tubuhnya menghadap Arsan yang masih memeluk pinggang nya lalu mencium bibirnya singkat.
"Abang, pakai baju sana!"
ucap Adis, namun Arsan masih tetap memeluk pinggang ramping nya.
"wangi, cantik lagi. Abang enggak Suka kamu keluar seperti ini....!"
ucap Arsan membuat Adis terkekeh.
__ADS_1
"jangan bilang kita akan menunda waktu, Adis enggak mau kita udah siap..!" ucap Adis dengan jantung berdebar kencang memegang tubuh Arsan yang basah malah mendekap nya erat.
ke esok kan hari nya mereka baru sampai di Indonesia, Arsan benar benar menunda keberangkatan nya dan memilih untuk memeluk istrinya sampai puas. hingga ia lupa jadwal pemberian obat penunda kehamilan untuk Adis.
"bang kamu kok pucat gitu? kenapa?"
tanya Adis saat arsan membaca pesan singkat dari seseorang.
"tidak sayang, nanti kita kerumah sakit ya, ketemu Al teman Abang?"
tutur Arsan sambil memegang tangan Adis menuntun nya keluar dari bandara, Adis menoleh pada seseorang yang ia kenal tengah menarik koper.
"tapi untuk apa ketemu dokter Al?"
"untuk periksa keadaan kamu sayang...?"
"tapi adis baik baik saja..."
ucap Adis sedikit heran.
"sebentar saja!"
ujar Arsan khawatir jika benih nya berkembang sementara kondisi Adis belum siap untuk hamil.
"itu kan bang arid...!"
ujar Adis menghentikan langkahnya, arid tidak sendirian ia bersama seorang perempuan memakai cadar.
"oh ya itu arid, Abang dengar dia sudah menikah...!"
ucap Arsan tersenyum menghampiri arid yang juga melambai kan tangan nya.
"hai... kebetulan sekali ketemu Disni?"
tanya Arsan, keduanya berpelukan.
"kok enggak undang undang sih? Adis malah tahu dari bang Arsan?"
ujar Adis senyum.
"ya, acara nya mendadak seminggu yang lalu, aku juga chat arsan kemarin lusa...!"ucap arid.
ia terpaksa menerima perjodohan itu karena Winda ingin ia segera menikah. memang tak ada yang bisa di harapkan lagi dari Adis karena sudah lama mereka rujuk.
"kalian mau bulan madu?"
Tanya Adis.
"tidak, maksud nya aku dan istriku ku. Aisa akan tinggal di Swiss, karena aku juga bekerja di sana...?!"
ujar Arid, Sementara Aisa diam menanggapi.
"oh gitu, sukses untuk kamu rid, dan semoga cepat dapat momongan ya!"
ucap Arsan lalu mereka saling berpamitan.
bersambung.....
terima kasih yang udah mampir 😍😍
__ADS_1
mampir juga ke novel author yang baru..