Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
gempa.


__ADS_3

Adis memperhatikan pria yang menggunakan kaca mata hitam serta masker yang menutupi wajahnya.


jantung nya berdetak kencang, Adis tercengang saat pria itu membuka penutup kepala serta masker wajah nya.


"bang Arsan.....!"


gumam Adis dalam benak nya.


"kamu .....!"


ucap Adis hendak berbalik namun cepat Arsan menahan tangannya.


"sebentar saja dis, Abang mohon!"


ucap Arsan membuat Adis membeku.


"Abang begitu merindukan kamu!"


ujar Arsan seketika membuat air mata menetes di pipi.


"aku tahu mungkin kamu benci sama Abang...!"


"kalau Abang tahu kenapa masih berani menampakkan diri, apa Abang tidak sadar dengan apa yang sudah Abang lakukan?"


ucap Adis dengan nafas tersengal.


rasa perih itu kembali mencabik-cabik nuraninya yang masih rapuh, cinta dan benci berkecamuk dalam dada hingga membuat nya sesak.


"Abang sadar, tapi demi tuhan Abang benar-benar cinta sama kamu!"


"bohong, Adis enggak percaya semua hanya sandiwara, selama ini kamu hanya mempermainkan saya....!


puas kamu sudah membuat saya runtuh, apa yang kamu lakukan seperti gempa yang datang memporak porandakan keadaan rumah tangga kita dan yang tersisa hanya puing reruntuhan yang tidak akan pernah bisa kamu perbaiki...."


ucap Adis membuat Arsan menitikkan air matanya.


"Abang tahu Abang salah, tapi demi tuhan Abang sayang sama kamu...!"


ucap Arsan menunduk dan luruh di kaki Adis.


"Abang minta maaf, Abang cinta sama kamu de.


demi tuhan, bukan sandiwara atau permainan, Abang cinta sama kamu!"


"sayang, aku tidak percaya bang!


kamu sudah menipu ku....!"


ucap Adis hendak melangkah pergi namun Arsan menahan kaki nya.


"sebentar de....!"


ucap Arsan lalu menalikan tali sepatu Adis yang lepas membuat Adis membeku dengan air mata yang terus mengalir hingga jatuh membasahi rambut Arsan. kenangan indah bersama pria itu memutar semakin menyesakan dada.


Arsan berdiri dan menatap wajah Adis yang basah oleh air mata.


"maafkan Abang dis, Abang juga terluka!"


ucap Arsan menghapus air mata di pipi membuat Adis mengigit bibirnya, rasanya ingin memeluk tubuh tegap itu tapi Ego lebih mendominasi hingga ia menahan sekuat tenaga keinginan itu.


"kamu boleh tidak percaya, tapi untuk pertama kalinya aku menangis karena mencintai seseorang...!


perasaan ku bukan sandiwara..."


"bukan salah ku...!


kamu kan yang memainkan peran tersebut, maka nikmati saja"

__ADS_1


ucap Adis hendak pergi namun Arsan memeluk tubuh itu dari belakang sambil terisak.


rasa rindu itu begitu menyiksa, perih nya menanggung rindu pada seseorang yang lepas dari genggaman.


"lepas bang....!"


ucap Adis dengan halus melepaskan pelukan hangat pria itu, sejujurnya ia juga rindu tapi rasa sakit itu menganga menggores dinding kalbu.


Adis melangkah pergi meninggalkan Arsan yang mematung sendiri menatap nya pergi menggunakan motor.


seseorang mendengar kan semua percakapan mereka berdua, rindu tidak tahu apa yang terjadi di antara keduanya, mengapa terasa berat jika mendengar percakapan kedua nya. rindu sendiri tanpa sengaja mendengar Adis dan Arsan, ia hendak memberikan paper bag milik Adis yang terbawa oleh nya, namun ia urungkan karena hal itu.


Adis mengendarai motor dengan mata yang terus mengeluarkan air mata, ia tidak menyangka bisa bertemu dengan arsan di tempat itu, sejak kapan ia berada di Jakarta?apa dia sengaja mengikuti nya?


gegas Adis melangkah menuju kantor dimana Ibra berada karena tempat itu adalah jarak tempuh terdekat nya, tubuh nya benar benar lemas seperti kehilangan tenaga, ia juga merasa sesak seakan tak mampu bernafas dengan normal.


Adis menghentikan laju motor nya di halaman parkir, ia merasa tak kuasa menguasai tubuh nya.


"halo kak....?"


Adis langsung menelpon Ibra yang berada di lantai atas.


"Adis, kamu dimana?"


"di halaman parkir kak, tolong Adis lemas banget!"


ucap Adis lalu menutup telponnya, bergegas Ibra beranjak ia bahkan berlari turun ke bawah.


semua karyawan di perusahaan itu memperhatikan Ibra yang berlari ke bawah.


"Adis......!"


ucap Ibra menghampiri Adis yang menelungkup kan kepala di motor.


"Kamu kenapa?"


"Adis.......!"


"Adis..." teriak ibra menopang tubuh adik nya yang hampir jatuh, Wira yang mengikuti Ibra terperangah melihat Adis yang tak sadarkan diri.


"Ra, bantu kita langsung ke rumah sakit Hans..."


ucap Ibra dan di anggukan oleh Wira.


"apa enggak kejauhan, kita bawa ke rumah sakit terdekat aja bra...!"


"ya udah... cepat...!"


ucap Ibra yang membawa masuk Adis ke dalam mobil.


"hans, Adis pingsan. kondisi nya drop!"


ucap Ibra yang langsung menelpon Hans.


"ya sudah bawa ke rumah sakit xx, Aku kebetulan ada di rumah sakit itu...!"


"baik , Aku bawa adis ke rumah sakit itu.."


ucap Ibra lalu mematikan ponsel nya.


**


Ibra menopang kepalanya duduk di kursi tunggu ruang pemeriksaan, entah apa yang terjadi dengan adiknya itu, tadi pagi Adis baik baik saja.


"kak, bagaimana keadaan Adis?"


tanya Rahma yang langsung datang ke rumah sakit saat Ibra memberikan kabar kalau Adis pingsan, padahal rahma baru saja tiba di rumah bersama suami nya,

__ADS_1


"Adis mengalami hal yang sama seperti ibu..."


ucap Ibra membuat Rahma terperangah.


"lalu bagaimana keadaan nya sekarang?"


"tadi pagi baik baik saja, aku tidak tahu kenapa tiba tiba kondisi nya kembali drop..."


ucap Ibra dengan wajah memerah, ia benar-benar cemas dengan kondisi Adis saat ini.


Rahma Duduk di kursi di samping Ibra, mengingat bagaimana menderita nya sang ibu karena penyakit itu dan sekarang hal itu di alami oleh adiknya.


"ya Tuhan....!"


ucap Rahma menitikkan air matanya.


"lalu bagaimana dengan masalah rumah tangga nya?"


"aku sudah mengurus perceraian nya?"


ucap Ibra membuat Rahma tertegun.


"apa tidak bisa di pertahankan lagi kak, sebenarnya apa yang terjadi?"


tanya Rahma yang tak mengetahui masalah sebenarnya.


"semua karena aku?"


ucap Ibra yang menceritakan semua kejadian itu pada Rahma yang mengetahui tentang hubungan Ibra dan Alya dulu.


namun ia juga tidak menyangka jika keluarga Alya menaruh dendam terhadap Ibra dan berimbas pada Adis.


"kasihan Adis kak, kenapa bukan aku saja..


Adis bahkan sakit.....!"


ucap Rahma menyeka air matanya.


"semua terjadi karena aku.....!"


ucap Ibra menunduk.


tak lama pintu terbuka, hans menyembul dari balik pintu.


"gimana keadaan nya Hans?"


tanya ibra.


"sudah stabil, apa yang menyebabkan nya drop seperti itu?"


"aku tidak tahu, Adis tadi pamit untuk pergi bertemu dengan sahabat nya di mall, dan tiba tiba datang ke kantor dengan keadaan seperti itu...!"


ucap Ibra dan di anggukan oleh Hans.


"apa mungkin ia bertemu dengan Arsan?"


"aku tidak tahu....!"


ucap Ibra memijat keningnya sendiri.


"ya sudah biarkan dia istirahat, kalian boleh masuk jika ingin melihat keadaan nya tapi jangan membangunkan nya, biarkan obat nya bekerja!"


ucap Hans lalu pergi meninggalkan mereka.


Arsan tertegun di dalam mobil, ia mengikuti laju motor Adis yang memasuki halaman parkir perusahaan Ibra, ia juga melihat Adis yang tak sadarkan diri hingga membuat Ibra bergegas membawa nya ke rumah sakit.


"Maafkan Abang dis, Abang selalu menjadi penyebab kamu sakit?"

__ADS_1


ucap Arsan dengan tatapan pilu, ia hanya merindukan perempuan itu.


bersambung.


__ADS_2