
Harun tertegun mendengar laporan dari orang kepercayaan nya bahwa perempuan yang menjadi rebutan anak nya itu dari keluarga Hilman Natawijaya, namun sudah lama Hilman tak ada kabar.
"Adis itu pacar tuan muda Rey saat SMA, mungkin dulu perempuan itu yang Rey minta Tuan besar melamar nya, namun Adis di jodohkan oleh kakak nya dengan arsan, namun ternyata pernikahan itu Arsan lakukan untuk Membalas kan dendam keluarga Alya kekasih Ibra yang meninggal karena bunuh diri.... dengan imbalan investasi di perusahaan Arsan yang hampir bangkrut yang kini dijual oleh Robi setelah perusahaan itu berkembang dengan pesat."
ujar asisten menjelaskan semuanya pada Harun Yang langsung geram pada Robi.
"tingkatkan produksi kita untuk menyaingi perusahaan Bastian...!"
ucap Harun mengepalkan tangannya.
"baik tuan..."
**
Harun sampai di rumah dan melihat Rey tengah mengemasi barang-barang nya, ia memutuskan untuk kembali ke Amrik.
"Rey, kamu mau kemana?"
tanya Harun mendekati.
"pulang ke Amrik.."
"tapi ini masih liburan musim dingin....!"
ujar Harun membuat Rey menoleh.
"mana bisa Rey di sini, papah pikir bagaimana perasaan Rey melihat seorang perempuan yang Rey cintai bersama anak kesayangan papah..."
"tidak ada anak kesayangan, papah menyayangi kalian berdua.. kenapa kalian berselisih hanya karena seorang perempuan?memang tidak ada lagi perempuan di Dunia ini....?"
ucap Harun membuat Rey mendesah.
"bicara memang mudah, tapi kenyataannya papah juga sama masih mencintai kekasih papah yang pertama padahal papah telah lama hidup bersama Mama..Masih kah bisa bicara bahwa wanita masih banyak, hal itu memang benar. masih banyak wanita di Dunia ini tapi hati tak bisa di paksa kan, semua butuh waktu dan Rey kecewa kenapa Arsan harus menjadi saudara sedarah Rey...!"
ucap Rey kemudian pergi membawa tas nya
menyerah saat melihat Adis memegang tangan Arsan erat, ia memang terluka tapi lebih terluka saat jauh dari Arsan.
ia memang kecewa tapi hati meronta matanya tersirat cinta yang dalam untuk Arsan.
bagaimana bisa Rey egois dengan memikirkan perasaan nya sendiri.
"mereka saling mencintai....."
ucap regina masih terngiang di telinga nya.
**
salamah dan regina berjalan menyusuri koridor rumah sakit, kemarin Arsan meminta regina untuk pulang dan memberi tahu perihal Adis pada Salamah.
Arsan beranjak dari ranjang melihat tatapan tajam dari Ibra, langkah nya tertahan saat Adis meraih tangan nya.
"gue udah tegas kan sama Lo, untuk jauhi Adis tapi Lo masih aja berani. apa Lo enggak sadar kalau Lo dan Adis itu udah bercerai..."
ujar Ibra dengan nanar.
"ya aku tahu, aku juga sadar sudah membuat banyak kesalahan, aku menyesal dan ingin memperbaiki semuanya..."
__ADS_1
"Lo enggak akan bisa memperbaiki semua nya, kesalahan yang udah Lo perbuat itu fatal..."
ucap Ibra dengan nafas memburu, sementara Adis hanya terisak.
"ya aku tahu, tapi Adis butuh aku..."
ucap Arsan membuat Ibra terkekeh.
"kenapa Lo sepercaya diri itu, emang Lo siapa?"
tanya Ibra masih tak terima.
Arsan terdiam menoleh pada Adis yang terisak.
"mending Lo pergi sebelum gue berubah pikiran, Adis itu enggak butuh pria seperti Lo?"
ucap Ibra membuka pintu, terlihat Salamah dan regina baru saja sampai. Ane dan suaminya hanya diam terpaku melihat percakapan mereka.
gegas ane melangkah mendekati Adis yang menangis tersedu saat Arsan melepaskan genggaman tangan nya, menjauh dengan nafas tersengal.
"kamu sabar ya sayang!"
ucap ane memeluk adis.
"udah pergi sana Lo..."
ucap Ibra memalingkan wajahnya dari Arsan yang melangkah pergi dari ruangan itu.
menoleh pada Adis yang memeluk ane menyembunyikan wajahnya yang penuh air mata.
"maafkan Abang de..."
"Ar...
bagaimana ?"
tanya Salamah saat Arsan keluar.
"kita pulang saja dulu Bu, tunggu keadaan dingin....!"
ucap Arsan meraih tangan ibu dan adik perempuan nya.
**
"kita kembali ke Indonesia...."
ucap Ibra saat mereka sampai di rumah ane.
"untuk apa? aku enggak mau pulang?"
tanya Adis dengan tatapan kosong.
"Adis sel kanker kembali berkembang dalam tubuh kamu, kita kembali ke Hans untuk melakukan pengobatan..!"
"Adis enggak mau....!"
ujar Adis menghentikan gerak Ibra yang tengah membereskan barang barang Adis.
__ADS_1
"kenapa? apa karena Arsan? apa kamu ingin kembali dengan nya?"
tanya Ibra membuat Adis bungkam.
"apa kamu enggak sadar dia sudah menyakiti kamu, dia sudah...."
"cukup........!" ucap adis menutupi telinga nya.
"Adis enggak mau pulang, bukankah kakak yang mau Adis kuliah di sini, Adis baru satu semester dan sekarang kakak minta Adis untuk kembali ke Indonesia, bagaimana dengan kuliah Adis, apa harus berhenti seperti dulu...?"
"Adis...yang terpenting saat ini adalah kondisi kesehatan kamu, setelah kamu benar benar sembuh kamu bisa lanjut kuliah...dan kenapa kamu enggak kasih tahu kakak kalau Arsan juga berada di sini, kakak yakin ini bukan pertama kalinya kalian bertemu...."
ujar Ibra menatap wajah Adis.
"Tuhan yang menentukan semua ini, di saat kakak berusaha menjauhkan kita justru keadaannya adalah aku dan dia yang semakin dekat...Adis juga enggak tahu kalau Arsan pindah ke London..."
ucap Adis memejamkan matanya, rasa sakit itu kembali menyerang.
"ya sudah kita pulang sekarang...jauhi dia!"
Tutur Ibra.
"enggak Adis enggak mau pulang, capek kak.
adis udah capek dan mau nyerah aja. pengobatan apapun percuma itu hanya sekedar mengulur waktu...."
ucap Adis tersedu, Rahma baru saja sampai di rumah itu dan mendengar semua nya.
"kenapa sih Adis harus nurutin semua kemauan kak Ibra, seperti hal nya dulu kak Ibra maksa Adis untuk nikah dengan Arsan padahal Adis ingin kuliah dulu...dan sekarang kak Ibra dengan mudah nya memindahkan Adis dari Indonesia ke London, dan saat Arsan ada di sini kak Ibra Minta Adis kembali ke Indonesia...Adis capek, adis udah pasrah dengan keadaan fisik ini. mungkin lebih baik Adis pulang ke ibu, agar Adis enggak jadi beban lagi untuk kakak...Adis capek kak..."
ucap adis membuat Rahma menghampiri dan memeluk adiknya itu.
"kakak hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, maaf kan kakak dis, kakak ingin kamu sembuh. kita hubungi dokter Hans...kamu enggak boleh nyerah dengan keadaan, kamu enggak jadi beban untuk kakak..."
ujar ibra menunduk.
"Adis enggak mau, Adis mau sekolah di sini. dengan atau tanpa Arsan. Adis siap kalau Tuhan menjemput...."
"dis jangan bicara seperti itu?"
ucap rahma terisak.
"Kakak tuh enggak pernah nanya apa yang Adis suka, semua kakak yang pilih. termasuk Arsan? salah kalau Adis cinta sama dia? semua karena kakak yang maksa Adis dengan Arsan, Adis turuti semua keinginan kakak....dan sekarang kakak mau nya Adis sama bang arid?
Adis cukup tahu diri, Adis ini seorang janda yang pesakitan. mana pantas bersanding dengan bang arid yang hampir sempurna..."
ujar Adis sambil terisak.
Ibra termenung memikirkan semua penuturan Adis.
"Adis enggak mau berobat lagi, Adis capek..."
ucap Adis beranjak dari duduknya masuk ke dalam kamar.
semua orang yang berada di tempat itu menangis, Rahma memeluk ane yang juga terisak.
bersambung....
__ADS_1
terima kasih yang udah mampir 😍😍😍