
Ibra tertegun saat melihat sebuah mobil memasuki halaman rumah besar itu,Ibra mengerutkan keningnya saat melihat Harun ke luar dari mobil menghampiri Ibra yang berdiri tak jauh dari tempat itu.
"pak Harun?"
tanya Ibra berjabat tangan dengan Harun Yang mengulurkan tangannya. tentu Ibra mengenal pengusaha sukses itu, perusahaan nya berada di dalam dan luar negeri.
"aku ayah nya Arsan, bagaimana apa kita berangkat sekarang?
aku sudah menyiapkan pesawat pribadi Ku untuk membawa adik mu berobat.."
ujar Harun membuat Ibra tertegun, ia tidak tahu cerita yang sesungguhnya tentang Arsan
Ibra langsung mengajak Harun masuk ke dalam rumah tersebut.
"dis, Ayo bangun. kita pergi sekarang ya!"
ucap Arsan mengangkat tubuh lemah itu dan membawanya keluar dari kamar itu.
"bra, kita bawa Adis sekarang ya!"
ucap Arsan berpapasan dengan Ibra yang hendak menemui mereka di kamar.
Ibra mengangguk lalu mengikuti langkah Arsan yang membopong tubuh Adis.
sebelumnya Ibra dan Harun sudah membicarakan hal itu dengan ane dan yang lain nya.
gegas rahma dan yang lainnya membantu saat melihat Arsan membawa Adis keluar.
"ayah sudah siapkan pesawat pribadi milik ayah, kita langsung ke bandara saja!"
"baik yah....!"
ucap Arsan membawa Adis ke dalam mobil.
di ikuti oleh Salamah dan regina yang terisak melihat kondisi Adis.
"Re kamu kenapa?"
tanya Salamah.
"sedih aja Bu lihat kondisi Adis seperti itu?"
ucap regina yang mengingat kebersamaan mereka.
makan dan berbincang bersama sebelum masalah itu ada.
**
tak berapa lama mereka sampai di bandara, Arsan dan ibra tertegun melihat dokter Hans berada di dekat pesawat mempersiapkan penerbangan menuju Jerman.
"dokter Hans...?"
ujar ibra mengulurkan tangannya.
"kenapa anda berada di sini?"
__ADS_1
"aku di telpon langsung oleh pak Harun kebetulan aku tengah berada di Skotlandia kemarin, jadi aku langsung terbang ke London menggunakan helikopter milik Ku... kenapa kondisi Adis malah memburuk?"
tanya Hans sambil berjalan di belakang Arsan yang membawa Adis masuk ke dalam pesawat.
gegas arsan merebahkan Adis di ranjang, Arsan memperhatikan hans yang langsung memberikan infusan untuk Adis selama perjalanan menuju Jerman.
"aku tidak tahu kalau anda seorang dokter..."
ucap Arsan menoleh pada Arsan yang tersenyum.
"tentu saja karena aku dan kamu bertemu dalam situasi buruk perihal Robi."
ucap hans membuat arsan tertegun.
"aku pasti sudah membuat mu khawatir perihal kejadian lalu?
aku terpaksa melakukan hal itu karena aku pikir hal itu bisa memancing Robi keluar dari persembunyiannya, tapi ternyata aku malah mendapati istri mu sakit...."
ujar Hans menyilang kan tangan nya di bawah dada.
"sampai saat ini Robi masih saja seperti itu, dia masih menggilai aktivitas yang membuat nya miskin..!
bersyukur lah karena Harun lah ayah mu yang sesungguhnya...!"
ucap Hans lalu pergi meninggalkan Arsan yang mematung sendiri.
**
Arsan memperhatikan Adis yang terbaring tak sadarkan diri, orang lain justru lebih tahu keadaan Adis di banding dirinya.
jadi selama ini Hans yang menangani Adis, ia tak percaya jika Hans seorang dokter.
Arsan duduk di samping Adis, kini mereka sudah berada di perjalanan menuju Skotlandia.
Hanya Ibra dan Hans yang menemani perjalanan mereka, Harun sendiri akan menyusul setelah pekerjaan nya selesai.
"Apa kamu akan membiarkan Adis dan Arsan kembali rujuk?"
tanya Hans duduk di hadapan Ibra.
"jika Adis mau menerima Arsan kembali, aku tidak akan menghalangi mereka. aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa jika hal itu bisa mengembalikan semangat Adis untuk sembuh?"
"lantas bagaimana dengan Bastian? apa kamu tidak mendengar kalau ibu Alya meninggal Dunia?"
tanya hans membuat Ibra tertegun, ia tidak mendengar kabar itu karena beberapa waktu ini ia juga fokus pada kesehatan Adis.
"selain itu perusahaan yang di pimpin Bastian juga mengalami penurunan besar, tidak seperti Arsan yang memimpin. orang orang penting di perusahaan itu banyak yang mengundurkan diri...?!"
"benarkah? biarkan saja. siapa yang menanamkan benih kebencian maka kehancuran yang akan ia alami..aku sudah berupaya untuk berdamai dengan nya tapi ia menolak dengan benci, alasan nya seperti apa pun aku meminta maaf itu tidak akan bisa mengembalikan Alya... perihal itu aku bisa apa? aku juga tidak itu ingin terjadi tapi Tuhan yang menentukan segalanya.."
ucap Ibra, Hans mengangguk sambil menepuk pundak Ibra memberikan simpati.
"jangan sedih aku juga kehilangan seseorang yang aku cintai, ia menderita kanker seperti Adis....!"
ujar Hans membuat Arsan tertegun, ia mendengar kan semua percakapan kedua nya.
__ADS_1
"aku harap Adis bisa sembuh?!"
ucap Hans lalu menceritakan tentang perjalanan cinta nya dengan seseorang yang mengantarkan nya menjadi seorang dokter ahli penyakit dalam.
"ternyata kita sama di tinggalkan tanpa ada kesempatan untuk bertemu lagi..."
ucap ibra mengangguk, ia berharap Adis bisa sembuh dari penyakitnya itu.
"HM....."
lenguh Adis membuat Arsan menoleh lalu menghampiri Adis yang membuka matanya perlahan.
"dis ,kamu sudah sadar...?"
ucap Arsan memeluk Adis yang langsung membeku.
"aku benar-benar khawatir sama kamu!"
ujar Arsan tersenyum menatap wajah Adis yang menitikkan air matanya.
"aku dimana bang?"
tanya Adis melihat ke arah sekeliling.
"ini di pesawat, kita akan pergi ke Jerman untuk berobat...!"
ucap Arsan menggenggam erat tangan adis.
"memang masih bisa?"
tanya Adis memalingkan wajahnya karena ia menangis, seluruh tubuhnya terasa sakit. ia bahkan tak memiliki kekuatan untuk sekedar duduk.
"kenapa kamu berpikir seperti itu? kamu harus semangat untuk sembuh. kamu mau kan rujuk sama Abang?"
"apa yang kamu harapkan dari aku bang? aku hanya akan merepotkan kamu saja dengan keadaan ku yang pesakitan. aku bahkan enggak tahu sampai kapan bisa bertahan?"
ucap Adis membuat Arsan menunduk sambil terisak.
"jangan bicara seperti itu? kamu akan sembuh de, Abang akan cari dokter terbaik untuk kamu. Abang akan bawa kemana pun kamu agar kamu bisa sembuh... jangan berputus asa, Abang janji akan selalu ada untuk kamu. maafkan untuk semua kesalahan Abang, Abang janji akan memperbaiki semua nya, Abang enggak akan bisa menjalani semua ini tanpa kamu.... Abang mohon terus bernafas lah untuk Abang!"
ucap Arsan memeluk tubuh Adis.
Adis tak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang dapat mewakili betapa pilu nya yang di rasakan kedua insan itu.
"kamu janji harus sembuh!
i love you so much...so much...!"
ucap Arsan memangku wajah Adis lalu menciumi seluruh wajah pucat itu.
"cintai aku sayangi aku.. setulus rasa ku padamu, kelak ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku....."
Adis kembali terlelap dalam dekapan hangat tubuh Arsan, andai bisa mengulang waktu. andai aku tahu bahwa aku sakit, aku tidak akan pernah meminum obat itu, mungkin saja aku sudah hamil dan mempunyai anak, setidaknya jika aku pergi, ada keturunan yang meneruskan perjalanan ku.. namun aku tak berdaya perihal waktu yang tak akan pernah kembali, sementara kematian itu nyata dan akan tiba waktunya entah kapan, mungkinkah aku masih memiliki kesempatan? sementara aku merasa tak berdaya dengan rasa sakit ini.
"Bu... Adis rindu....!"
__ADS_1
bersambung.
terimakasih sudah mampir 😍😍😍