Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
hidup itu berputar.


__ADS_3

tiga bulan berlalu...


Arsan tertegun menatap rumput hijau nan luas, kini ia hanya seorang pengembala sapi yang miskin tak memiliki apa apa.


Arsan menghela nafas saat bayangan senyum Adis kembali memenuhi benaknya.


"mana bisa aku menggapai mu, aku bahkan tak punya apa-apa lagi, aku tidak akan bisa membiayai pengobatan mu jika seperti ini dis, aku harus bagaimana? sementara aku disini tersiksa rindu, aku begitu merindukan mu...!"


gumam Arsan dalam hatinya.


"aku tidak tahu apa kesalahan ku terlahir di dunia ini jika pada akhirnya aku menjadi musuh nya, semua akses pekerjaan seakan tertutup untuk menerima ku..."


gumamnya lagi menunduk.


Arsan sudah mencoba untuk mencari pekerjaan lain namun tidak ada satupun perusahaan yang mau menerima nya bekerja di Perusahaan mereka, entah karena apa? Bastian atau Robi ia juga belum benar benar tahu, hanya Robi yang menyesali keberadaan hidup nya.


"Arsan....."


panggil Salamah menghampiri.


"ada apa Bu...?"


tanya Arsan menerima ponselnya.


"regina telpon...."


"halo re....ada apa?"


"A...aku butuh uang, bisa enggak A transfer hari ini....!"


pinta Regina membuat Arsan tertegun, ia belum menceritakan permasalahan yang tengah ia hadapi.


"ya sebentar ya re...!"


ucap Arsan lalu mematikan ponsel nya.


"seharusnya kamu beri tahu Rere jika kita sudah tidak seperti dulu lagi...!"


ucap Salamah memperhatikan wajah Arsan tampak penat.


"ya Bu , nanti kita beri tahu Rere tapi tidak sekarang. Arsan Akan menjual apartemen Kita yang di Jakarta....!"


ucap Arsan termenung, Arsan pikir Robi akan memberikan sebagian uang hasil penjualan kemarin pada Regina, tapi nyatanya beberapa kali Regina meminta uang pada nya.


"kamu yakin mau jual apartemen san?"


tanya Salamah berjalan beriringan menuju rumah.


"ya Bu, Alvian yang akan membeli nya. Arsan pikir Arsan tidak mungkin selama nya seperti ini....Arsan harus bangkit Bu, setelah penjualan itu beres. kita pergi ke London.


jika di sini tak ada yang mau menerima Arsan bekerja, mungkin di negara lain ada. karena Arsan tidak yakin jika Robi juga menguasai daerah luar."


Salamah mengangguk.


"kemarin salsa juga telpon, dia akan menggelar acara tujuh bulanan calon anak kita!"


ucap Arsan.


"apa kamu akan datang...?"


tanya Salamah.


"seperti nya tidak, Arsan cukup tahu diri dalam keadaan seperti ini jangan kan bertanya, memandang sebelah mata pun mereka enggan...!"


ujar Arsan membuat Salamah iba.


"kamu yang sabar ya nak, doa ibu tidak pernah henti untuk mu...!"


"ya Bu, nanti Arsan akan minta Alvian untuk transfer ke salsa dan regina...!"


ujar Arsan lalu menghubungi Alvian.

__ADS_1


Arsan membuka galeri ponselnya, ia menatap lekat potret Adis yang tengah tersenyum.


"de, Abang rindu... bagaimana keadaan mu!"


gumam Arsan sendiri.


*


Adis sendiri tak mengetahui perihal perusahaan Arsan yang beralih tangan pada Bastian.


Ibra tidak pernah memberi tahu soal itu, tiga bulan ini mereka bolak balik ke Bandung hanya untuk berobat dan sekarang keadaan Adis sudah lebih baik.


pagi itu Adis menemani Ibra di kantor nya,


Adis memperhatikan Ibra yang tampak serius.


"kak apa kak Zahra sudah berhenti bekerja...?"


tanya Adis duduk di kursi.


"sudah berhenti, ia juga akan menikah..."


ujar Ibra tanpa menoleh.


"hah payah, kak kamu itu!"


ucap Adis duduk di hadapan Ibra.


"Kenapa?" tanya Ibra mengernyitkan alisnya.


"kak Zahra cantik, udah gitu dia yang minta duluan, tapi masih saja di tolak...!"


ujar Adis membuat Ibra mendongak.


"jangan pikirkan sesuatu yang memang sengaja datang untuk kemudian pergi.... saat ini kebahagiaan kamu yang terpenting!"


ujar Ibra membuat Adis tertegun.


ucap Adis menunduk.


"tenang saja, laki laki itu tidak seperti perempuan. yang tidak menjadi masalah jika belum menikah..."


"ya Adis tahu, tapi menikah itu menyempurnakan agama. dan itu harus segera dilakukan jika sudah mampu!


jangan terus memikirkan Adis kak, Adis ingin melihat kakak menikah....!"


permintaan Adis selalu itu dan itu.


"ya nanti akan kakak pikiran dis. Oh ya kamu mau enggak kuliah di London...!"


ucap Ibra membuat Adis tertegun.


"Dokter Hans bilang kondisi kamu semakin baik, jadi apa kamu tidak terpikir untuk kuliah di luar negeri seperti kak rahma?"


"boleh kak, Adis mau kuliah di London..."


ucap Adis sedikit ragu dengan keadaan nya.


"disana kan ada Tante Tasya, jadi nanti kamu bisa tinggal dengan mereka!"


"Adis takut merepotkan..."


"kakak tidak sungkan karena dia adik ibu, tapi kalau saudara ayah..mm kakak akan berpikir ulang!"


Tutur Ibra yang mengingat pria yang kini tak ia ketahui keberadaan nya.


"dimana ayah kak?"


tanya Adis memperhatikan wajah Ibra tanpa ekspresi.


"kakak tidak tahu dis, sudah jangan pikirkan itu...!"

__ADS_1


ucap Ibra lalu beranjak dari duduknya menghampiri Adis.


"Ayo kita pergi makan siang!"


titah Ibra lalu menarik tangan Adis keluar dari ruangan itu.


**


salsa menilik ponselnya, terdapat pemberitahuan seseorang mentransfer sejumlah uang.


"aku udah kirim dua puluh juta sa, cukup kan untuk Dede utun. maafkan aku tidak bisa datang ke acara tersebut..."


Arsan mengirimkan pesan tersebut.


"kenapa sebanyak itu, Ar.


kamu punya uang?"


balas salsa.


"ada, kalau tidak ada pun aku akan mengusahakan nya untuk anak kita.


maafkan aku sa...!"


balas Arsan membuat salsa menitikkan air matanya, rasa rindu semakin menyiksa.


"terima kasih Arsan, kembali lah saat kamu ingin pulang. aku adalah rumah singgah mu!"


balas salsa membuat Arsan tertegun.


"aku bukan Arsan yang dulu di segani, aku tidak akan bisa membahagiakan mu...aku minta maaf sa, aku harap kamu menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari ku!"


balas Arsan semakin membuat salsa terisak lalu menyimpan ponselnya.


Arsan tengah membereskan barang nya, esok ia akan pergi bersama Salamah.


"ibu bantu Arsan...!"


ucap Salamah masuk ke dalam kamar kecil itu.


"ya Bu, terima kasih...!"


Salamah tertegun lalu mengusap kepala putranya itu.


"ibu tidak tahu apa jadinya jika tidak ada kamu, Ar. kamu yang selama ini melindungi ibu."


ucap Salamah menangis.


"apakah aku harus memberi tahu pada harun tentang keberadaan mu...? aku tidak kuat melihat mu menderita seperti ini?"


gumam Salamah terisak dalam pelukan Arsan.


"bagi Arsan, ibu adalah segalanya. Arsan rela berkorban apapun. ibu jangan sedih ya.


hidup itu berputar jika saat ini kita berada di bawah, yakinlah suatu saat nanti kita akan kembali berada di atas!"


ucap Arsan mengusap punggung Salamah yang tersedu.


di belahan dunia lain seseorang mengamati kehidupan mereka, bukan Harun jika tidak tahu apa apa.


berita tentang Robi yang menjual perusahaannya Juga sampai ke telinga nya, tentu saja Harun tahu tentang Arsan.


saat ini Harun berada di Amerika menemani putra nya yang tengah kuliah, ia menunggu waktu yang tepat untuk menemui kedua nya.


bersambung...


terima kasih yang sudah mampir.


jangan lupa kasih like dan komentar nya ya, dukungan para reader sangat berarti.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2