
pagi.....
Ibra masuk ke dalam ruang perawatan dimana Adis berbaring dengan terlelap.
Rahma dan Ilyas tengah pergi keluar mencari sarapan untuk mereka.
Ibra meneteskan air matanya menatap pilu adik Bungsu nya itu.
"apa Lo enggak Sadar kalau semua terjadi karena salah Lo juga....Adis itu cinta sama gue....."
ucap Arsan terngiang membuat Ibra menarik nafas dalam-dalam.
"bagaimana Arsan? apa kamu bahagia dengan nya? dia baik kan de sama kamu?"
pertanyaan yang pernah Ibra lontarkan sebelum kejadian itu.
"bang Arsan tuh baik banget, semoga kedepannya tidak ada yang berubah...."
itu adalah harapan gadis yang kini tengah sakit, bukan hanya Raga tapi jiwanya terguncang akibat kejadian itu, Ibra tahu Arsan membawa pengaruh besar terhadap adiknya itu.
"kak.....!"
ucap Adis mengusap kepala Ibra yang menelungkup di tepi ranjang.
"Adis, kami sudah bangun?"
Adis mengangguk.
"kak kenapa?"
Ibra menggeleng lalu memeluk adiknya itu.
"pekan ini kita pergi berlibur ke Eropa...."
ucap Ibra membuat Adis langsung senyum.
"kamu harus semangat ya, kamu harus sembuh....!"
ucap Ibra mengusap pucuk kepala Adis.
"ya kak.....Adis pasti semangat..."
ucap Adis senyum.
**
ke esok kan harinya..
sore itu Arsan duduk di kursi menuggu Alvin untuk menanyakan perihal obat obatan yang selalu Adis konsumsi.
"ada apa Ar... sorry ya kemarin ada urusan mendadak..."
ucap Alvin duduk di hadapan Arsan.
keduanya bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Alvin bekerja.
"ya enggak apa apa...aku cuma mau tanya tentang obat obatan ini....!"
ucap Arsan menyodorkan beberapa strip obat.
Alvin mengambil dan memperhatikan obat Tersebut.
"ini obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh...dan ini obat kanker....!" ucap Alvin membuat Arsan tercengang.
"kanker? kamu enggak salah Vin....?" tanya arsan tak percaya.
"enggak, ini tuh obat untuk penderita kanker dan obat ini cukup mahal...!"ucap Alvin menatap wajah Arsan yang sedikit berpikir.
*
__ADS_1
"sayang, kamu hari ini shoping? ada penarikan uang, kamu kemarin baru ngambil kan....?"
tanya Arsan merasa heran karena beberapa kali adis melakukan penarikan uang.
"ya, Adis belanja... enggak boleh ya bang?" ucap Adis sedikit menunduk.
"bukan, enggak apa apa Abang cuma tanya aja, beli apapun yang kamu suka, Abang kerja keras juga untuk kamu..!"
ucap Arsan senyum lalu mencium hidung perempuan itu singkat, memeluknya erat.
*
"Ar, obat itu punya siapa....?"
tanya Alvin memperhatikan Arsan yang langsung membeku.
*
"de kamu mimisan...?"
tanya arsan saat terakhir kali mereka makan malam bersama.
"oh ini Adis enggak apa-apa bang, Adis cuma sedikit demam...!" ucap Adis mengelap darah yang keluar dari hidung nya.
kenangan itu memutar di benak Arsan membuat nya sesak, Adis merahasiakan hal itu juga.
*
"Lo itu cuma bikin Adis tambah sakit...."
ucap Ibra kemarin.
Arsan sekarang paham maksud perkataan Ibra kemarin, Arsan tidak mengerti kenapa Adis tidak pernah mengatakan hal itu pada nya.
"Ar... kamu sakit...?"
Arsan menggeleng lalu mengusap wajah nya yang memerah.
"Kamu cerai kenapa? apa karena dia sakit...!?"
"bukan, aku malah enggak tahu kalau dia sakit. dia enggak pernah cerita soal penyakitnya itu dan aku sudah menyakiti nya....!"
ucap arsan tak mampu menahan air matanya, senyum Adis memutar di benak nya hingga sesak merajam dada.
"sabar Ar... sekarang kamu udah tahu, itu artinya tuhan Masih memberikan kamu kesempatan Ar ...!" ujar Alvin yang tak mengetahui apa apa.
"enggak tahu Al, aku udah nyakitin dia...aku enggak tahu apa masih pantas menemui nya...!"
Alvin menghela nafas lalu menepuk pundak Arsan yang menelungkup kan wajah di meja pantry.
"apa pun masalah nya, aku berharap kamu bisa sabar dan yakin bahwa semua ada jalan keluar nya, kalau memang hubungan kalian tidak bisa di pertahankan, Kamu harus coba menerima dan ikhlas Ar ..aku yakin bahwa akan ada hikmah di setiap kejadian...coba kamu lebih mendekatkan diri sama tuhan..."
ucap Alvin langsung menohok hati nya.
"ya aku memang jauh dari agama, aku bahkan enggak tahu kapan terakhir kali aku solat..."
ucap Arsan menangis tersedu ia terlalu sibuk mengurus perusahaan nya.
"ya mungkin Allah membuat keadaan seperti ini agar kamu kembali ke jalan Nya ar...
kamu tahu terkadang apa yang kita sukai itu bukan yang terbaik untuk kita, dan Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan... Allah lebih memahami apa yang baik untuk kita... mungkin dengan kejadian ini menyadarkan kamu bahwa selama ini kamu sudah melupakan sesuatu yang begitu penting dalam kehidupan kita, kamu harus bersyukur Ar...."
Arsan mengangguk menyeka air matanya.
"ya aku benar-benar udah berdosa, dari awal aku udah berniat untuk menyakiti nya, dan sekarang malah aku yang tersiksa sendiri....."
"ya aku paham, kamu sabar ya Ar...doa kan Saja kesembuhan nya kalau Kamu enggak bisa menggapai nya...."
"terima kasih Al...kamu emang sahabat ku..."
__ADS_1
ucap Arsan, Alvin Sendiri tak tahu jika Arsan sudah menikah lagi dengan salsa.
*
malam itu Arsan sampai di apartemen, terlihat salsa dan Salamah tengah menyiapkan makan malam untuk mereka.
"arsan kamu sudah pulang...?"
ucap salsa tersenyum menghampiri.
Arsan tertegun menatap salsa dengan perut buncitnya yang semakin terlihat.
"Adis tak pernah tahu soal keberadaan salsa yang menjadi madu nya, mungkin hal itu akan semakin membuat nya sakit jika mengetahui bahwa aku bukan hanya mempermainkan nya, tapi aku juga tidak pernah setia..."
"Ar ..kamu kenapa?"
tanya salsa memperhatikan Arsan yang termenung sendiri.
"kamu sakit Ar.....?"
tanya Salamah yang juga heran melihat sikap Arsan malam itu.
"aku lelah.....!"
ucap Arsan masuk ke dalam kamar meninggalkan mereka berdua yang terus memperhatikan nya.
"coba kamu dekati Arsan ,sal....!"
titah Salamah dan di anggukan oleh salsa yang langsung melangkah masuk ke dalam kamar.
"Ar ..kamu kenapa?"
tanya salsa duduk di samping Arsan yang tertegun sendiri.
Salsa tak pernah menceritakan tentang pertemuan nya dengan Adis kemarin, Arsan sendiri tak menanyakan hal itu karena ia sudah tahu sendiri sementara salsa tak tahu jika Arsan mengikuti mereka.
"aku bukan suami yang baik, aku....."
ucap Arsan mendongak menoleh menatap wajah salsa.
"kenapa kamu bicara seperti itu Ar...?"
"aku sudah menyakiti Adis, dan kamu...."
ucap Arsan memalingkan wajahnya.
"aku merasa tidak pantas untuk kalian...."
"Ar apa yang terjadi? aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan..."
"sa, Adis sakit kanker....aku merasa bersalah karena sudah menyakiti nya...."
ucap Arsan membuat salsa tertegun sejenak.
"kamu ingin kembali pada nya Ar...?"
tanya salsa dengan pikiran tak menentu.
"aku tidak tahu, maafkan aku sal jika aku menyimpan dua nama dalam hati ku....aku tidak bisa membohongi perasaanku, aku begitu mengkhawatirkan keadaan nya, aku tidak tenang karena terus dihantui rasa bersalah....aku menyesal, seharusnya dulu aku tidak menerima kerja sama itu, seharusnya aku memilih untuk jatuh miskin dari pada jatuh pada seseorang tapi aku sendiri yang menyakiti nya...."
ucap arsan membuat salsa menitikkan air matanya.
"tapi aku membutuhkan mu ar, aku bahkan lebih dulu kamu cintai....!"
ucap salsa lalu pergi meninggalkan arsan sendiri.
bersambung.....
terima kasih ya udah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like and komentar ya...😍😍😍