Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
menyerah.


__ADS_3

dua hari kemudian..


siang ini Ibra dan lidia sampai di Jakarta, Arsan sendiri belum kembali ke Bandung karena Adis terus mengalami mual dan muntah bahkan tak ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam perut nya. tentu saja hal itu membuat kondisi nya semakin lemah di tambah penyakit yang Adis derita.arsan dan Rahma membawa Adis ke rumah sakit untuk penanganan.


"ini yang gue khawatir kan san, Lo lihat kan gimana keadaan Adis. ia bahkan mengalami sesak nafas..."


ucap Alvin berjalan beriringan.


"ya gue harus gimana dong....?"


tanya Arsan memijat keningnya yang terasa pusing.


"gue juga enggak yakin kalau bayi kalian bisa bertahan lama dalam rahim Adis..."


"maksud nya Adis bisa saja mengalami keguguran?"


Alvin mengangguk.


"terus nanti kondisi nya gimana setelah itu...?"


tanya Arsan langsung memucat.


"Lo berdoa saja Ar, gue berharap Adis bisa bertahan....!"


ucap Alvin lalu masuk ke dalam ruangan.


benar dugaan Alvin baru saja ia sampai di ruang pemeriksaan.


suster langsung memberikan kabar bahwa Adis mengalami keguguran, gegas Alvin masuk melihat kondisi Adis yang langsung tak sadarkan diri.


Ibra berlari kecil bersama Lidia menuju ruang pemeriksaan dimana Adis berada, terlihat Arsan tengah menunggu di depan ruangan.


"Arsan... gimana keadaan Adis?


kok bisa hamil sih? Lo lupa kasih obat penunda kehamilan?"


Arsan mengangguk pelan membuat Ibra mendengus.


"maafkan aku bra, aku benar benar lupa?"


ucap Arsan menunduk.


krek...


terdengar pintu terbuka, Alvin menyembul keluar dari balik pintu.


"dokter gimana adik saya?"


tanya Ibra langsung.


"benar dugaan ku, Ar. Adis mengalami keguguran...!"


ucap Alvin membuat Arsan tertegun.


"Lalu bagaimana kondisi Adis?"


tanya Lidia.


"Adis belum sadar, kalian berdoa saja untuk kesembuhan nya...aku juga tidak bisa memberikan kepastian sampai Adis sadar...!"


ucap Alvin membuat Arsan lemas.


beberapa hari berlalu, Adis masih belum sadar kan diri, Arsan bolak balik Jakarta Bandung, karena harus mengurus pekerjaan nya juga.


sementara di rumah sakit ada Lidia dan rahma yang bergantian menunggu, dua hari yang lalu Salamah datang bersama regina untuk menjenguk Adis.


"Ar....kamu Jakarta lagi?" tanya Salamah saat Arsan tengah memasukkan baju baju ke koper.


"ya Bu, kak Rahma bilang Adis sudah sadar. Arsan akan di Jakarta beberapa waktu..."


"lalu bagaimana dengan Al, kemarin dia nanyain kamu terus....?!"


tanya Salamah.


"nanti lah Arsan telpon...!"


ucap Arsan lalu pamit pada Salamah.


salamah menghela nafas panjang, "ibu tuh enggak ngerti. apa sih kurang nya salsa, Ar? kamu lebih memilih perempuan yang sakit sakitan seperti Adis..."

__ADS_1


ucap Salamah masuk ke dalam rumah.


tiga jam berlalu, Arsan sampai di Jakarta. jalanan cukup macet hingga ia sampai pada malam hari


Arsan berjalan di koridor rumah sakit sambil melakukan panggilan video bersama Al.


"besok Al juga mau ke Jakarta, mau ketemu Tante Lidia...!"


ucap Al tersenyum.


anak laki laki berumur tiga tahun itu kini semakin pintar berbicara dan semakin mirip dengan dirinya.


"ya, nanti telpon papah lagi ya Al...?"


ujar Arsan tersenyum lalu mematikan panggilan telepon nya.


Adis tertegun saat dokter mengatakan bahwa ia mengalami keguguran karena kondisi tubuh nya yang memang lemah.


Adis menatap perutnya yang masih rata, "kamu baru beberapa waktu di rahimku, tapi dalam hitungan menit aku tak lagi mendapati mu ada di sini...."


ujar Adis terisak.


Rahma menghampiri Adis dan memeluk erat tubuh lemah itu.


"kamu harus sabar dis....!"


ucap Rahma yang ikut terisak.


Ibra sendiri berada di rumah karena Lidia juga kurang sehat.


**


Arsan masuk ke dalam ruangan, terlihat Adis tengah meringkuk sendiri karena Rahma izin pulang karena putri nya juga mengalami demam.


"sayang......"


ujar Arsan menghampiri Adis di ranjang.


"maaf ya jalanan macet..."


ucap Arsan menyentuh pundak Adis yang tidak bergeming.


"Adis, maaf kan Abang ya..."


Adis menatap wajah Arsan yang tampak lelah. Adis sadari bahwa ia sudah banyak merepotkan pria itu.


Adis terisak memalingkan wajahnya.


"sayang, kamu harus ikhlas... yang terpenting saat ini kesehatan kamu..."


ujar Arsan memeluk tubuh Adis yang bergetar karena menangis.


"kamu segalanya untuk Abang....."


Adis menggeleng kan kepalanya.


"Adis cuma merepotkan kamu bang...."


ujar Adis terbata.


"enggak, Abang rela. enggak apa-apa sayang..."


ucap Arsan memeluk Adis.


***


...beberapa hari berlalu......


"Ar ... tolong Al tertabrak motor...."


ucap salsa menelpon Arsan yang langsung tercengang, ia sendiri masih berada di rumah sakit. kondisi Adis sudah lebih baik dan dokter mengizinkan nya untuk pulang.


"ada apa bang?"


tanya Adis memperhatikan wajah Arsan yang langsung pucat.


"ya ada apa ar....?"tanya Rahma.


"Al tertabrak motor.....!"

__ADS_1


ucap Arsan langsung keluar dari ruangan.


siang itu Al tengah bermain bola bersama tukang kebun, ia berlari mengejar bola yang keluar dari halaman rumah tak mengetahui motor melaju kencang di belokan.


"papah.......!"


teriak Al saat terakhir ia hendak tak sadar kan diri.


"sal. kamu bawa ke rumah sakit sekarang, aku masih berada di rumah sakit.....!"


ucap Arsan langsung menelpon salsa.


"ya ini lagi di jalan sebentar lagi sampai....!"


ucap salsa.


gegas Arsan berjalan ke arah depan menuggu mobil salsa sampai.


Adis beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan, mencari Arsan namun ia tidak menemukan keberadaan pria itu.


"kita tunggu di mobil saja dis... nanti kakak ambil kursi roda..."


ucap Rahma pergi keluar.


Adis tak menjawab, ia masih mencari keberadaan suaminya.


"Ar.... tolong Al ...!"


ucap salsa terisak. terlihat Al terluka di bagian kepala. gegas Arsan membawa Al ke ruang ICU.


Adis menghentikan langkahnya saat melihat Arsan yang berlari bersama salsa membawa Al yang tak sadarkan diri.


Arsan bahkan tak melihat keberadaan nya di sisi, perlahan Adis mengikuti langkah Arsan di belakang.


langkah nya gontai, tubuh nya lemas dengan apa yang ia rasakan melihat kedua nya bersama.


"apa sih kurang nya salsa... baik, cantik... karirnya bagus dan yang terpenting dia sehat..."


ucap Salamah terngiang membuat Adis meremang, ia benar benar insecur.


Adis menghentikan langkahnya saat melihat salsa menangis keluar dari ruang ICU.


dan yang membuat sakit adalah ia menangis dan Arsan memeluk nya.


"kamu harus sabar, Al akan baik-baik saja...."


ucap Arsan menggenggam tangan salsa, dokter mengatakan bahwa Al harus melakukan operasi Karena ada pendarahan dalam otak akibat benturan keras saat kecelakaan itu.


"aku takut Ar.....!"


ucap salsa menangis bersandar pada pundak Arsan.


Adis tersenyum perih melihat hal itu, di sini ia lah yang memaksa kan diri.benar apa kata Bastian kala itu.


"mereka itu tidak benar benar berpisah karena ada Al yang akan tetap menyatukan mereka berdua...."


Adis menggigit bibirnya, lelah.... Sudah tak tertahankan lagi,, Adis berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Ibra sudah menikah, ia juga sudah menjadi sarjana, sudah merasa kan bahagia selama dua tahun ini bersama Arsan..lalu apa lagi? karena untuk sembuh seperti hal yang jauh dari angan.


rasa sakit kian menghujam jantung nya...


"kau menjadi alasan ku bertahan,


tapi kau juga menjadi alasan ku menyerah...aku lelah bang, kau juga harus bahagia....!"


ucap Adis berjalan ke arah jalan raya yang Ramai kendaraan. Adis memejamkan matanya terdengar teriakan dari orang orang saat sebuah mobil melaju kencang ke arah nya.


bug.....


"astaghfirullah.....pak saya menabrak orang pak...!"


ucap supir dengan nafas tersengal, gegas supir itu keluar dari mobil bersama pria paruh baya Untuk melihat keadaan orang yang tertabrak itu.


"astaghfirullah... Adis....!


anak Ku..."


ucap pria paruh baya itu langsung mengangkat tubuh Adis, terisak melihat darah keluar dari hidung Putrinya itu.

__ADS_1


bersambung....


terima kasih yang sudah mampir 😍😍😍


__ADS_2