Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
masalah.


__ADS_3

Adis termenung sendiri mengingat percakapan nya bersama Arid tadi, ia harus menanyakan perihal itu pada Arsan.


"jadi yang selama ini meneror rumah juga orang orang Suruhan Hans, untuk kedepannya kamu harus berhati-hati karena mereka bisa saja mencelakakan kamu..."


ucap Arid.


"kenapa aku?"


"ya memang seperti itu, biasa nya mereka akan mengincar seseorang yang berharga pada musuh nya..."


"tapi aku tidak merasa berharga......!"


ucap Adis menunduk membuat Arid menoleh.


"kalau aku berharga dia tidak akan mengabaikan Ku beberapa hari ini hanya karena sebuah handphone....aku merasa tak jauh lebih baik dari ponsel nya."


ucap Adis Tersenyum kecil, rasanya pilu.


"mungkin dia memang sibuk, kamu sabar saja.


selesai kan masalah dengan kepala dingin, jangan bertindak saat kamu sedang marah!" ucap Arid menghela nafas pelan.


"terimakasih sudah menolong ku bang, aku akan pulang sendiri!"


ucap Adis beranjak dari duduknya.


"aku antar.....!"


"jangan bang, aku tidak mau kamu terkena masalah lagi!"


ucap Adis dan di angguki oleh Arid, ia mengerti maksud perempuan itu.


Adis keluar dari mobil taksi saat sampai di depan rumah, Ia melihat keadaan tampak sepi.


entah bagaimana keadaan nya jika tak ada Arid yang menolong nya malam itu.


"assalamualaikum.....!"


"walaikumsalam...non, ya Allah!"


ucap pembantu langsung memeluk Adis.


"bibi cemas sekali non, Alhamdulillah non baik baik saja!"


ucap pembantu menilik keseluruhan yang ada pada Adis.


"ya bi Alhamdulillah.... apa Arsan pulang?"


tanya Adis melihat ke sekeliling rumah.


"sudah, pak Arsan keluar cari non..." ucap pembantu, arsan memang pergi lagi untuk mencari istri nya itu.


"benar kah?"


tanya Adis.


"ya, non, tadi pagi pagi sampai di rumah. bibi langsung cerita soal kejadian semalam, beliau langsung pergi mencari non....!"


Adis mengangguk lalu masuk ke dalam kamar meninggalkan pembantu rumah sendiri.


Adis merebahkan tubuhnya di ranjang, kejadian semalam membuat nya menitikkan air mata.


"kamu seperti sebuah teka teki yang menyimpan banyak pertanyaan, dan aku harus ekstra keras mencari jawaban nya....."


ucap Adis beranjak mengambil obat yang sehari-hari menjadi konsumsi wajib nya.


ponsel berdering terlihat Arid melakukan panggilan telepon.


"halo bang.....!"


"dis, kamu sudah sampai di rumah?"


ucap Arid mengkhawatirkan keadaan perempuan itu.


"sudah bang, terima kasih sudah mencemaskan kan ku..."


ucap Adis menghentikan langkah Arsan yang hendak memeluk nya dari belakang.

__ADS_1


"ya, hubungi aku kalau kamu butuh bantuan..."


"ya, terima kasih...."


ucap Adis lalu mematikan panggilan tersebut.


Adis terpaku saat membalikkan tubuhnya Melihat arsan berdiri menatap nya.


"Bang......?"


"entah harus bersyukur atau sedih....?"


ucap Arsan membuat Adis tertegun.


"semalam kamu bersama Arid....?"


"kenapa itu yang lebih dulu kamu tanyakan, kenapa bukan tentang keadaan ku?"


ucap Adis menahan air matanya, Arsan membeku mendengar penuturan Adis yang langsung tergugu.


"sebenarnya apa yang terjadi dengan kita? kenapa kamu begitu menyakitkan.....?"


ucap Adis menutup wajahnya dengan tangan.


"maafkan aku dis.....!"


ucap arsan mendekat namun Adis memundurkan tubuhnya.


"seberapa remeh nya aku di mata kamu bang, kamu pikir apa yang terjadi semalam tak membuat ku takut?


mungkin aku sudah mati jika saja....."


ucap adis terhenti saat arsan langsung merengkuh tubuh nya.


"maafkan Abang dis......!"


ucap arsan Terisak memeluk erat tubuh lemah itu.


"Abang janji tidak akan seperti itu lagi? Abang punya banyak masalah... maafkan Abang?"


ucap arsan memangku wajah istrinya itu. namun Adis bungkam tak menjawab penuturan Arsan.


kenapa manis dulu berubah hambar...."


gumam Adis dalam hati.


"siapa mereka bang?"


tanya Adis menatap netra milik suaminya.


"mereka itu yang memiliki masalah dengan ayahku.....?"


"siapa Ayah mu Bang, ibumu?


aku ini istri mu, tapi aku tidak mengenal mereka?"


ucap Adis menyeka air matanya.


"karena hal itu Abang ragu untuk mengenalkan mu, jauh dari kata baik apa yang ada dalam keluarga Abang hanya permasalahan pelik yang tak ada habisnya...."


ucap arsan berdiri menatap jendela kamar.


"tapi aku juga bagian keluarga Abang, kenapa mereka yang asing justru membuat ku terlibat masalah, kamu enggak adil sama aku bang?"


ucap Adis lalu pergi keluar dari kamar.


Adis terperanjat saat mendengar suara pecahan kaca dari luar.


"ah....."


teriak Adis menghindari beberapa lemparan batu yang masuk menembus kaca.


Arsan sendiri langsung berlari mendengar teriakkan itu.


"Adis....."


ucap arsan menarik tangan Adis untuk bersembunyi, beruntung pembantu tengah keluar ia tidak mengetahui insiden itu.

__ADS_1


"Bang, aku takut......!"


ucap Adis, keduanya bersembunyi di balik lemari besar.


Arsan bungkam dengan nafas tersengal, ia melihat keadaan seperti nya mereka sudah pergi.


"kamu tunggu di sini... jangan kemana-mana, Abang urus masalah ini dulu"


ucap arsan namun Adis tak melepaskan genggaman tangan nya.


"berjanjilah kalau semua akan baik-baik saja...."


ucap Adis dengan mata berkaca-kaca.


"ya aku janji akan kembali!"


ucap arsan memeluk tubuh istrinya erat lalu mencium kening nya.


"aku akan suruh pembantu untuk segera pulang!


dengarkan aku! tunggu aku pulang, jangan pergi dengan selain aku....!"


ucap Arsan, Adis mengangguk pelan.


mengerti maksud arsan.


Arsan melihat kaca rumah berserakan, Arsan yakin ini ulah Hans yang masih mengincar nya.


ia harus mencari keberadaan Robi Agar bisa menyelesaikan masalah ini.


Adis memperhatikan mobil Arsan yang keluar dari halaman rumah, jantung nya berdetak kencang melihat kaca berserakan di lantai.


bergegas ia mengambil sapu untuk membersihkan serpihan kaca tersebut.


"astagfirullah....."


ucap Adis terperanjat saat tangan nya tergores pecahan kaca, dengan apa yang tengah di idapnya tentu saja hal itu Membuat nya susah mengehentikan darah yang keluar dari tangan nya yang terluka.


bergegas ia menghubungi Arid untuk meminta bantuan, namun Adis menghela nafas saat darah berhenti mengalir, hanya tubuhnya yang terasa lemas.


Adis duduk di sofa mengingat apa yang tengah ia derita, kapan waktu yang tepat untuk memberi tahu soal ini pada arsan.


selama ini ia hanya mengkonsumsi obat obatan untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya


"kapan kamu pergi berobat dis, arsan harus segera membawa mu berobat ke luar negeri.


jangan di biarkan berlarut, apa yang kamu derita bukan penyakit biasa..."


ucap arid tadi siang sebelum Adis pulang.


"aku belum tahu, Arsan tak pernah ada waktu untuk ku ..."


arid mendesah mendengar penuturan Adis dengan tatapan sendu.


"katakan padaku jika dia tidak sanggup membawa mu pergi, aku siap membantu mu"


ucap Arid membuat Adis tertegun melihat Arid tampak jengah.


"kenapa justru orang lain yang tampak siaga..?"


"halo dis....?"


ucap Arid di telpon, namun Adis diam tak menjawab.


"dis, ada apa? kenapa kamu diam saja?"


tanya Arid khawatir lalu beranjak mengendarai motor sport nya menuju kediaman Arsan.


***


"datang sekarang juga....!"


ucap Reni di telpon membuat arsan kesal,


lalu memukul stir mobil nya.ia terpaksa membelokan kemudian nya berbalik arah menuju rumah Reni.


mungkin ini saatnya ia menyelesaikan masalah satu persatu, arsan juga sudah mendapatkan informasi yang sebenarnya tentang hubungan Ibra dan Alya.

__ADS_1


bersambung...


terimakasih sudah mampir 😍😍😍


__ADS_2