Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
mafia.


__ADS_3

Adis tersenyum saat melihat mobil Arsan terparkir di halaman rumah, pagi itu ia kembali dari rumah pak Zahid.


Gegas Adis masuk ke dalam rumah yang masih berantakan, Arsan terlihat tengah mengemasi barang-barang nya.


"bang, kamu mau kemana?"


tanya Adis membuat Arsan menoleh.


Arsan menatap wajah Adis lekat, air mata jatuh dari pelupuk matanya...


"bang, kamu kenapa? ada apa bang?"


tanya Adis meraih tangan Arsan.


"maafkan Abang dis, Abang enggak bisa melanjutkan rumah tangga ini...."


ucap Arsan membuat Adis menganga, menghentikan langkah Ibra yang baru saja sampai di rumah itu, semalam Adis menghubungi Ibra untuk meminta nya datang perihal masalah yang tengah ia hadapi.


"tapi kenapa bang?"


tanya Adis, air mata menetes tak tertahankan.


"apa karena pil KB itu?


Adis sudah janji tidak akan meminum nya lagi, kita mulai dari awal. maafkan Adis bang!"


ucap Adis sambil terisak.


"jangan tinggalkan Adis bang....!"


"maaf dis, Abang akan menceraikan kamu!"


ucap Arsan dengan gemeretak gigi nya.


"tapi apa salah Adis bang?"


tanya adis berpegangan pada tangan Arsan.


"kamu enggak salah, tapi Abang enggak bisa mempertahankan kamu untuk terus berada di samping Abang, kamu akan terkena banyak masalah..."


"kita hadapi bersama.....!"


"enggak bisa dis, kita harus tetap berpisah karena Abang juga sudah...."


ucap Arsan tertahan saat Ibra masuk menghampiri mereka berdua.


"kak Ibra...."


ucap Adis langsung memeluk tubuh Ibra sambil menangis.


"apa salah Adis hingga kamu tega melakukan semua ini....?"


ucap Ibra dengan gemeretak gigi nya.


"ternyata aku salah memilih orang....!"


ucap Ibra menatap tajam ke arah Arsan.


"aku minta maaf karena aku tak bisa menjadi seperti apa yang kamu harapkan...."


ujar Arsan menunduk.


"jelas kan apa alasan nya Ar....?"


"itu karena arsan menikahi Adis hanya untuk membalas kan dendam seseorang....!"


ucap Hans yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah itu.


"Hans....."

__ADS_1


ucap Arsan menganga.


"dia bekerja untuk membalas kan dendam Bastian pada mu Ibra...."


ucap Hans, Ibra langsung menghantam Arsan hingga Arsan terhempas.


"Ah......!"


teriak Adis saat anak buah Hans membawa nya pergi dari rumah itu, beserta Hans yang memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa Adis pergi.


"tolong......kak...!"


teriak Adis dalam mobil.


"Adis...."


teriak Ibra berusaha mengejar mobil yang membawa Adis pergi.


"semua gara gara Lo...."


tunjuk Ibra menunjuk Arsan lalu gegas masuk ke dalam mobil untuk mengejar mobil tersebut, Arid yang baru saja datang terheran Melihat Ibra melajukan mobilnya kencang.


"Ada apa Arsan....?"


tanya Arid mendekati Arsan yang hendak naik ke dalam mobil.


"Hans membawa Adis pergi...."


ucap Arsan membuat Arid menganga.


"ayo rid, ikut dengan ku...."


ucap Arsan dan di angguki oleh Arid.


Hans menghempaskan tubuh Adis ke atas ranjang, Hans mendekat membuat Adis takut.


ucap Adis menepis tangan Hans yang hendak menyentuh nya.


"kamu begitu memikat...."


"jangan sentuh saya....!"


ucap Adis saat Hans hendak menyentuh nya lagi.


Hans tercengang saat melihat darah keluar dari hidung perempuan itu.


"kamu kenapa?"


tanya Hans mendekati namun Adis langsung tak sadarkan diri.


gegas Hans mengangkat tubuh Adis dan membawa nya untuk pergi ke rumah sakit milik nya.


"katakan pada siapapun yang datang aku tidak bisa di temui untuk saat ini...!"


ucap Hans menelpon anak buah nya, Arsan dan Ibra pasti datang ke kediaman nya.


Ibra mencengkeram erat kerah kemeja Arsan saat tak berhasil menemui Hans yang membawa Adik nya pergi.


"Lo itu benar benar jahat dan enggak punya hati, adik gue dalam bahaya. dan itu gara gara Lo!"


ucap Ibra menghempaskan Arsan ke arah mobil nya.


"gue bener bener nyesel, dan enggak akan pernah memaafkan Lo...!"


ucap Ibra masuk ke dalam mobil meninggalkan Arsan dan Arid yang terpaku sendiri.


"kita pikirkan cara menghadapi Hans, Ar..."


ucap Arid dan di anggukan oleh Arsan yang masuk ke dalam mobil, menelungkup kan kepalanya di stir mobil.

__ADS_1


masalah semakin rumit, Arsan tidak menyangka jika Hans benar benar menculik Adis, ia benar-benar takut jika Hans melakukan hal itu pada Adis, Hans bisa menghancurkan istri nya.


"gue nyesel rid,,"


ucap Arsan masih menelungkup kan wajahnya di stir.


"gue harus gimana saat kanan kiri menghimpit gue, gue harus memilih sesuatu yang enggak bisa gue tinggalkan, gue cinta sama Adis meski niat awal gue enggak baik, tapi gue benar benar sayang sama Adis.."


ucap Arsan menyeka air matanya.


"Lo sabar, kita pasti menemukan jalan keluar nya... kasihan Adis!"


ujar Arid, ia khawatir dengan keadaan perempuan itu mengingat kondisi Adis yang tengah sakit.


Ibra menghubungi Wira agar datang ke Bandung untuk membantu nya menyelesaikan masalah itu, Adis berada di tangan mafia judi yang sudah terdengar kekejaman nya.


"astaga kok bisa sih berurusan dengan mereka bos?"


ucap Wira di telpon, mereka itu mafia judi kelas kakap.


"aku tahu, cepat datang ke Bandung!"


"siap bos....!" ucap Wira, sebenarnya Ibra meminta Wira datang untuk ikut dengan nya menemui keluarga Alya untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi bertahun-tahun hingga menyisakan dendam dan kepedihan yang tak berujung.


Hans menatap wajah Adis yang begitu pucat, suhu tubuhnya meninggi namun cepat dokter memberikan nya obat hingga kini panas nya berangsur normal.


Hans termenung mengingat seseorang yang memang begitu mirip dengan Adis, selama ini anak buahnya nya lah yang mengintai gadis itu.


tak menyangka bahwa hal yang sama tengah di idap oleh perempuan itu, sel kanker bersarang dalam darah perempuan itu.


"jika kelak kamu menemukan seseorang yang mengalami hal yang sama dengan ku, kamu harus membantu nya Hans ... kalau bisa dia harus sembuh, jangan sampai seperti aku?"


ucap Hana dengan lemah, sel kanker telah menyebar ke seluruh tubuh nya hingga nyawa nya tak dapat tertolong.


Hana meninggalkan Hans dalam keadaan ia yang begitu mencintai istrinya. luka itu kembali terkuak saat melihat Adis yang tak jauh berbeda dengan hana, bertahun lamanya mengubur kisah itu dan kini luka itu kembali memberikan perih, Hans memang seorang mafia kejam terhadap musuhnya yang memang melakukan kesalahan, dan Hans berlaku adil terhadap mereka yang memang jujur.


"hm.... bang..."


ucap Adis lirih membuyarkan lamunannya.


Adis terhenyak saat melihat Hans berada di hadapan nya.


"kamu...? mau apa?"


tanya Adis saat Hans mendekati nya.


"aku tidak punya masalah dengan mu, tolong bebas kan aku?"


ucap Adis membuat Hans terkekeh.


"siapa pun yang menjadi keluarga Robi, mereka memiliki masalah dengan ku...!"


ucap Hans menatap lekat.


"ya tapi sepertinya anda salah orang karena aku bukan lagi bagian dari keluarga mereka, aku bahkan tak pernah bertemu dengan mereka....!


aku mau pulang!!"


ucap Adis memalingkan wajahnya dari Hans.


"aku tahu, tapi aku tidak bisa melepaskan mu!"


ucap Hans membuat Adis tertegun


bersambung...


terima kasih yang sudah mampir, ada beberapa episode yang author revisi ulang...


semoga menghibur 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2