
Adis menoleh ke arah Arsan yang tengah fokus menyetir, keduanya dalam perjalanan menuju Jakarta.
"Adis Udah telat satu Minggu ini bang?"
ujar Adis membuat Arsan langsung menoleh.
"kamu telat yang?"
Adis mengangguk.
"gimana kalau aku hamil.....!?"
tanya Adis membuat Arsan tertegun.
"untuk sementara waktu di tunda dulu lah keinginan itu sampai kondisi Adis benar-benar sembuh, saya khawatir dengan kondisi kesehatan nya jika ia hamil sementara ia belum betul betul sembuh dari penyakitnya..."
tutur dokter kala itu.
"nanti kita bicarakan di rumah ya sayang...."
ucap arsan mengusap kepala istri nya, memberikan ketenangan serta penjagaan padahal ia sendiri tidak tenang dan gelisah.
Arsan memperhatikan Adis yang kemudian terlelap, gegas ia menghubungi Alvin untuk datang nanti Sore ke kediaman Adis.
biar nanti Al membantu Arsan bicara dengan Adis masalah kehamilan nya itu.
tak berapa lama mereka sampai di rumah, satpam rumah langsung membuka gerbang untuk mereka.adis sendiri masih terlelap dalam tidur nya.
Arsan mengangkat tubuh Adis masuk ke dalam kamar, entah ia yang terlalu sibuk dan kurang memperhatikan istrinya itu. kini bobot tubuh Adis lebih ringan.
Adis membuka matanya saat Arsan merebahkan tubuh nya di ranjang empuk itu, menatap netra yang begitu dekat dengan nya, Arsan tersenyum mengelus pipi Adis yang merona.
"kamu nyenyak sekali...."
Tanya Arsan menindih tubuh kecil itu, menatap bibir ranum milik Adis yang selalu menjadi candu.
"bagaimana sikap Abang jika ibu meminta Abang untuk rujuk dengan salsa?"
tanya Adis membuat Arsan tertegun.
"Abang akan menolaknya...?"
"benarkah?"
Arsan mengangguk lalu mengecup bibir Adis, jarak kedua nya begitu dekat hingga terasa hembusan nafas kedua nya.
"selama nafas ini masih berhembus, aku akan selalu menjaga mu....aku tidak melakukan kesalahan yang sama?"
"bagaimana jika Al yang meminta kalian bersama?"
"dia masih kecil dan tidak mengerti apa-apa...
apa aku meragukan?"
tanya Arsan yang kembali mengecup bibir milik Adis.
"aku berharap aku hamil bang...?"
tutur Adis membuat Arsan termangu, entah lah ia bingung.
Arsan merebahkan tubuhnya di samping Adis, menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. menciumi kepala Adis berulang kali.
__ADS_1
"Abang sayang sekali sama kamu, HM... bagaimana kalau Abang lebih memilih kamu di banding anak kita...?"
ucap arsan membuat Adis mendongak.
"kenapa begitu....!?"
"sayang, kondisi kamu tuh belum memungkinkan untuk hamil... maksud Abang!"
"enggak, Adis mau hamil dan punya anak bang!"
"ya Abang paham, tapi kondisi kamu tidak memungkinkan untuk hamil karena saat ini juga kamu masih dalam tahap pengobatan?"
"kenapa lama sekali? Adis capek?"
ucap Adis beranjak lalu menangis tersedu.
Arsan bangkit dan memeluk tubuh istri nya itu, membelai nya sayang.
"kamu harus paham bahwa semua butuh proses, Abang lakukan semua untuk kamu....
Abang enggak mau kehilangan kamu....."
ucap Arsan memangku wajah Adis yang basah oleh air mata.
"Jangan berpikir Abang tidak mengharap kan hal itu, tapi kamu lebih penting dari segalanya..."
ucap Arsan membuat Adis semakin terisak dalam pelukannya.
"benarkah Tuhan? tapi aku lelah menjadi buronan mu saat apa yang aku usahakan adalah aku yang tetap di vonis mati, tak tahu diri nya aku yang masih saja memikirkan dunia...."
gumam Adis sendiri dalam benaknya.
**
semua perempuan akan bahagia saat melihat garis merah tercetak dalam alat tes kehamilan, namun tidak dengan dirinya saat Arsan Meminta untuk merelakan benih nya demi keselamatan nyawa nya, penuturan dokter Alvin dan juga hans begitu memilukan, namun Adis bersikap keras untuk mempertahankan buah hati nya, ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, tentang kematian tak ada satu orang pun yang dapat menghindari nya, orang sehat pun tetap menjadi buronan kematian.
"Abang mohon, kamu dengarkan apa kata dokter de...."
ujar Arsan meminta.
Adis menggeleng kan kepalanya, ia tidak mau merelakan janin yang baru berusia tiga Minggu itu.
"jangan buat Abang frustasi..."
ujar nya lagi memohon.
"Abang tuh enggak ngerti gimana jadi Adis...."
ucap Adis terisak.
"enggak begitu yang, Abang paham. tapi demi tuhan Abang lebih sayang sama kamu...."
ucap Arsan meraih tangan nya.
"Kita akan tetap sama sama kalau kamu mau nurut....."
"bukan itu, Adis enggak mau mengugurkan kandungan ini bang meski resiko nya nyawa...."
ucap Adis Masih tersedu.
"astaga jangan bicara seperti itu, rasanya pahit mendengar hal itu.... bukan Abang enggak menyayangi calon bayi kita, tapi Abang lebih sayang sama kamu....."
__ADS_1
"enggak, Abang harus membela calon bayi kita, Adis akan tetap mempertahankan nya, mungkin saja nanti Adis malah enggak punya kesempatan untuk hamil... tentang kematian, itu adalah hal yang tidak bisa di hindari. dengan atau tanpa Adis hamil....."
ucap adis beranjak meninggalkan Arsan sendiri mengurung diri di kamar.
Arsan langsung menghubungi Ibra dan memberi tahu masalah itu, tentu saja Ibra dan sang istri memutuskan untuk pulang.
selain Ibra, arsan juga menghubungi Rahma untuk ikut membujuk Adis.
"Arsan dimana Adis...?"
tanya Rahma yang langsung datang ke rumah itu.
"di kamar kak ...!"
gegas Rahma menghampiri kamar Adis.
**
"dis......!"
ucap Rahma menyembul masuk ke dalam kamar.
terlihat Adis tengah tertidur sambil meringkuk.
"Adis...."
"hm....."
Adis menjawab lirih.
"ini kak Rahma?"
ucap Rahma membuka selimut tebal yang menutupi bagian kepalanya.
"selamat ya, kakak senang waktu dengar adik kakak ini hamil.....!"
ucap Rahma mencium kening adik nya itu.
Adis tahu pasti Arsan yang memberi tahu Rahma dengan tujuan agar mau membujuk nya.
"Adis tahu tujuan kakak, Adis ingin sendiri dan tidak Ingin berbicara dengan siapapun..."
ucap Adis membuat Rahma tertegun, Adis memang keras kepala.
Rahma menghela nafas panjang menanggapi sikap Adis yang selalu seperti itu, ia tidak pernah mau mendengar pendapat orang lain.
"Adis kakak tahu kamu ingin punya anak, tapi kamu juga harus lihat kondisi kamu seperti apa?"
"kalau Adis memang tidak mampu, lantas kenapa tuhan memberikan calon bayi itu. bukan hanya karena sekedar usaha, tapi semua terjadi karena kuasa Nya, tentang umur seseorang juga Tuhan yang menentukan, siapa tahu nanti sumsum tulang belakang bayi Adis cocok dengan Adis kak...."
ucap Adis membuat Rahma tertegun, memang sumsum tulang belakang Rahma dan ibra tidak ada yang cocok dengan Adis. Hinga adis tak bisa melakukan pencakokan sumsum tulang belakang.
"kemungkinan itu kecil de....!"
"memang tapi hidup juga bergantung pada obat, kak Rahma enggak tahu gimana jadi Adis...."
ucap Adis terisak.
"Adis capek kak kalau harus terus minum obat.... Adis rindu ibu..."
"jangan bicara seperti itu, andaikan Bisa tergantikan. biar kak yang sakit Jangan kamu de.....!"
__ADS_1
ucap Rahma memeluk Adis, keduanya menangis bersama.
bersambung.