
Adis membuka mata nya dan melihat ke sekeliling, ia kembali terbaring di ranjang Rumah sakit.
"kenapa aku masih hidup?" gumam Adis sendiri, air mata menetes dari sudut matanya.
Adis menoleh ke arah pintu yang di dorong oleh seseorang, ia berharap itu bukan Arsan.
Adis terperangah saat melihat pria yang hampir sepuluh tahun ini tak pernah ia ketahui kabar nya.
"ayah.....!"
ucap Adis lirih dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"kamu sudah sadar?"
ucap hilman duduk di hadapan adis yang tak bergeming.
"kenapa aku masih hidup?" tanya Adis membuat Hilman tercengang.
"kenapa kamu mencoba untuk bunuh diri?"
tanya Hilman semakin dekat menatap lekat putri nya itu.
"kemana saja selama ini Anda? aku pikir aku tidak Akan bertemu dengan Anda lagi, atau tuhan sengaja mempertemukan kita sebelum aku mati?"
ujar Adis menangis terisak, sebenarnya ia rindu namun ia juga kecewa karena selama beberapa tahun ini Hilman meninggal kan mereka.
"maaf kan ayah Adis.... karena selama ini ayah meninggal kan mu....!"
ucap Hilman menunduk.
"Adis sudah terbiasa tanpa ayah, lalu kenapa tuhan mempertemukan kita lagi....?"
ucap Adis mencabut infus nya.
"Adis apa yang kamu lakukan?"
tanya Hilman mencegah Adis beranjak dari duduknya.
"maaf kan ayah, kamu harus mendengarkan penjelasan dari ayah.....kamu akan mengerti kenapa ayah pergi."
ucap Hilman menyentuh pundak Adis untuk kembali berbaring.
akibat benturan mobil tersebut membuat tubuh nya terasa remuk, seperti hal nya yang terjadi dengan hati nya yang remuk redam oleh kenyataan.
"ayah meninggal kan kalian karena ibumu yang meminta, dia mengungkapkan rahasia bahwa Ibra dan Rahma bukan anak ayah tapi anak dari kekasihnya.....!"
ucap Hilman membuat Adis tertegun, pantas tulang sumsum kedua nya tak ada yang cocok.
"kalian memang sekandung tapi tidak sedarah, hanya kamu anak ayah!
ayah harus bagaimana saat ibu mu mengungkapkan hubungan gelap nya dengan seseorang, pria yang ia cintai.
dan pria itu bukan ayah.... maaf kan ayah karena menelantarkan mu, demi tuhan hidup ayah juga tidak tenang!"
ucap Hilman membuat Adis semakin tersedu.
__ADS_1
"ayah tidak menyangka kamu sakit seperti ibu mu...ayah harap ayah tidak terlambat!"
ujar Hilman memeluk putri nya itu, ia juga merasa sedih dan terluka saat dokter mengatakan bahwa Adis menderita leukimia.
"ikutlah dengan ayah ke Amrik, ayah akan mengobati mu....!"
ucap Hilman membuat Adis tertegun.
***
Rahma dan Arsan mencari keberadaan Adis di sekitar rumah sakit itu, namun Adis menghilang begitu saja.
"Ar.. kenapa Adis bisa hilang sih!?"
ujar Ibra yang langsung datang saat Rahma memberitahu tentang Adis yang entah kemana.
"aku juga enggak tahu, soal nya tadi aku ngurusin Al yang hendak di operasi..."
ucap Arsan memijat pelipisnya.
ia memang mendengar kecelakaan yang terjadi di depan rumah sakit namun saat itu ia sibuk mengurus berkas-berkas Al yang hendak operasi, jadi Arsan tidak tahu bahwa Adis lah yang mengalami kecelakaan, bahkan Arsan tak menyadari saat Hilman membawa Adis ke ruang IGD. ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.
"gue tahu Lo sibuk dengan Al, tapi Adis juga butuh Lo. dia baru saja kehilangan calon bayi nya..."
ucap Ibra mendengus lalu pergi meninggalkan Arsan yang mematung sendiri.
"ya ampun de, maafkan Abang. aku terlalu panik melihat keadaan Al....!"
ucap Arsan yang langsung mendudukan diri nya di kursi. hingga sore Adis belum juga ketemu, di rumah juga Adis tidak ada lalu pergi kemana istri nya itu.
karena saat ini ia juga tengah menunggu Al yang sedang menjalani operasi.
**
Himan mendorong kursi roda milik Adis keluar dari rumah sakit itu, ia memutuskan untuk ikut dengan Hilman.
"suster Tolong berikan surat ini pada pria yang tengah duduk di kursi tunggu ruang operasi, tapi saat saya sudah naik ke dalam mobil..."
ucap Adis memberikan sebuah amplop berwarna putih dan uang untuk suster tersebut.
"tidak usah nona...."
ucap suster itu menolak.
"tidak apa-apa, ambil saja"
ucap Hilman lalu mendorong kursi roda tersebut.
"langkah ku mungkin akan tertatih, tapi untuk kali ini aku akan berusaha untuk kuat meski jiwaku meronta merindukan mu, aku tidak ingin menjadi beban lagi.
aku tidak ingin memaksakan keinginan hati yang hanya membuat keadaan semakin pilu dan tersedu. kamu berhak lega tanpa sesak dan terhimpit karena aku....aku ingin kamu bahagia bersama seseorang yang dengan tulus menuggu hingga kini....aku cukup tahu diri bahwa aku bukan lah orang yang tepat untuk mu......."
ujar Adis dalam benak nya sendiri, terisak memeluk tubuh tegap Hilman.
Adis sudah menceritakan semuanya pada Hilman tentang Arsan, Hilman tidak tahu jika sesulit itu yang sudah Adis lalui tanpanya.
__ADS_1
"maafkan ayah, Adis.
ayah janji akan membahagiakan kamu....kamu akan sembuh karena tulang sumsum belakang ayah pasti cocok dengan mu...."
ucap Hilman bergegas membawa Adis pergi dari rumah sakit itu.
*
Arsan tertegun saat seorang suster memberikan sebuah amplop berwarna putih.
"dari seseorang pak, saya juga tidak tahu siapa. beliau menitipkan surat tersebut untuk di serahkan pada anda..."
*bang..
maafkan aku sudah membuat mu cemas, katakan pada kak Ibra dan kak Rahma aku baik baik saja...
bang....aku tidak bisa terus berada di samping mu, aku ingin berjalan sendiri meski harus tertatih..
aku ingin sendiri meski kelak aku Akan tersiksa oleh rindu..
aku ingin sendiri, melepaskan beban yang memberatkan pundak mu....
semua hanya masalah waktu...
aku yakin akan baik baik saja tanpa mu...
bang, aku mencintaimu... tapi aku tidak bisa menerima kenyataan saat bukan hanya aku yang berada di hati mu...
sadarkah bahwa orang lain perlahan mengisi hati mu, aku sadar aku jauh dari kata sempurna atau baik....
aku tidak akan mampu membahagiakan mu, banyak hal yang menyadarkan aku untuk pergi.... biarkan waktu yang mengobati ku, atau menjemput ku pulang.
kamu tidak usah khawatir karena saat ini aku bersama seseorang yang dalam darah ku mengalir darahnya...
bang, kau akan menjadi kenangan terindah untuk ku, dua tahun bersama mengukir cerita indah. dan itu sudah cukup menebus rasa pahit yang dulu tersemat di dada. aku ikhlas dengan semua yang terjadi...
aku ingin melihat mu bahagia tanpa harus memikirkan aku yang sudah tak berdaya, terkurung sepi...
aku ingin kamu menoleh pada seseorang yang tulus mencintaimu....
bukan aku...
bukan aku yang hanya membuat mu Lelah tanpa hasil atas jerih payah mu yang ternyata percuma Karena aku masih saja menderita karena sakit ini...
aku ingin kamu merelakan kita...
jangan mencari ku bang,, biar kan waktu menghapus kita perlahan hingga semua terbungkus menjadi kenangan....
kau yang terindah tapi aku tak pantas memiliki* mu, bahwasanya kamu juga berhak bernapas lega...
**aku pergi...........
Adis**...
Arsan langsung menangis membaca rangkaian tulisan tangan dari perempuan itu.
__ADS_1
bersambung.....