
setahun berlalu....
Arsan menatap Poto Poto Saat bersama Adis, memori usang yang sudah lama ia simpan. setelah hari itu ia tidak pernah mendapat kabar tentang Adis.
meski Lidia dan salsa bersaudara namun Lidia tertutup Mengenai hal yang menyangkut kepentingan ibra. tak banyak yang ingin ia tahu, hanya apakah perempuan itu baik baik saja?
enam bulan yang lalu Arsan mengirimkan sebuah pesan ketika Ibra meminta nya untuk melepaskan Adis, berulang kali Arsan menanyakan keadaan Adis namun Ibra bungkam hingga ia memberikan pesan dimana ia melepaskan perempuan itu.
"dengan kesungguhan serta kepedihan, Abang berusaha untuk rela dan menuruti semua keinginan yang sebenarnya hanya sebuah prasangka buruk saja, karena sesungguhnya kamu adalah segala nya untuk Abang, tapi Abang juga tidak bisa memaksa apa lagi memohon saat kamu meminta untuk enyah dari kehidupan Abang yang serba terbatas ini....
Abang mencintaimu seperti hal nya kamu, namun Abang juga sadar Abang memang tak bisa memberikan sepenuhnya untuk mu....
Abang berusaha merelakan kita seperti kata mu... bukan hal yang mudah namun itu hanya tentang waktu.....
namun Abang belum tahu bagaimana caranya melupakan mu, tetapi Abang berusaha untuk merelakan rasa cinta ini...
dengan berat hati Abang melepaskan mu...
Abang menceraikan mu, de...."
pesan itu Arsan berikan pada Ibra untuk di sampaikan pada Adis, berat namun ia juga tidak bisa memaksa, dan keadaan justru memaksa nya untuk rela.
***
semua telah berakhir
tak mungkin bisa di pertahankan
Hanya luka jika kita bersama
karena jalan ini memang berbeda
semua yang terjadi tak akan kembali
jalan kita memang berbeda
namun hati ini tak ingin kembali
ku yakin Kita akan bahagia
tanpa harus selalu bersama
tak perlu disesali
tak usah ditangisi
hanya luka jika kita bersama
karena jalan ini memang berbeda.
ku yakin kita akan bahagia
tanpa harus selalu bersama...
tak perlu di sesali
tak usah di tangisi
ku yakin ini jalan terbaik
walau kita tak lagi berdua.....
tak perlu di sesali
tak usah di tangisi..
(seventen,-jalan terbaik..)
***
__ADS_1
Arsan tersenyum menatap Al yang tengah berlari bersama regina di halaman belakang rumah itu, Beberapa hari ini Al berada di rumah nya. namun tidak dengan salsa, entah kenapa ia menjadi canggung saat Arsan sudah bercerai dengan Adis.
"rujuk lah dengan salsa, ibu tahu ia berharap pada mu...Ar"
ucap Salamah duduk di samping Arsan.
"Akan Arsan pikirkan Bu...."
ucap arsan beranjak dari duduknya menghampiri Al dan ikut bermain.
"aku pasrah jika ini jalan nya, seperti permintaan mu aku tidak akan mencari meski sejujurnya aku ingin sekali berlari mengejar mu, tapi seperti yang pernah terucap bahwa kesempatan ke dua menjadi pembelajaran dan jika gagal maka semua harus berakhir....."
ucap Arsan berlari mengejar Al yang membawa bola.
setahun....
dua tahun....
tiga tahun.......
Adis membuka matanya, matahari bersinar terang menembus kaca jendela. Adis beranjak menggeliat dari tempat tidur nya.
"Adis, ayo olahraga pagi....."
ajak Hilman dari balik pintu.
"ayah saja, Adis malas keluar rumah. cuaca sudah mulai panas...."
"jangan malas, panas matahari jam segini bagus untuk kesehatan tulang..."
"benarkah......?"
ucap Adis terkekeh lalu masuk ke dalam kamar mandi.
semua hanya soal waktu, tentang proses seperti apa yang harus di lalui.
perempuan cantik itu kini sudah jauh berbeda, tubuh nya berisi tak lagi kurus seperti dulu.ia sudah sembuh dari kanker yang beberapa waktu menghajar habis kebahagiaan nya, berkat operasi pencangkokan sumsum tulang belakang. berhasil membuat nya bebas dari vonis mati.
Hilman mengajak nya pergi bermain golf, Adis sebenarnya lebih senang rebahan di kasur karena pekan ini cukup melelahkan dengan berbagai aktivitas yang membuat fisik nya lelah.
Adis tersenyum melihat rumput hijau yang luas dengan pemandangan indah di depan nya.
Hilman selalu membawa Adis pergi jalan jalan, camping, touring dan yang lainnya.
hingga tak ada waktu untuk nya mengingat seseorang yang kini juga sudah bahagia dan mulai terbiasa tanpa nya.
Awalnya susah hingga payah untuk terbiasa jauh dari seseorang yang selalu mendekapnya dalam dingin namun seiring berjalannya waktu kesendirian bukan hal yang menakutkan lagi sudah menjadi hal yang biasa meski dengan air mata, namun wanita cantik itu mampu sekuat tenaga bangkit dari rasa sakit hingga ia sembuh.
entah doa dari siapa yang membantu nya, hingga tuhan mengangkat penyakit mematikan itu.
"kemarin Ibra telp, dia bilang kangen sama kamu....!"
ucap Hilman berjalan beriringan dengan Adis.
"ya, Adis tahu... tapi sekarang kak Ibra juga lagi sibuk karena Lidia tengah hamil lagi..."
ucap Adis Duduk di kursi.
"Apa kamu mau pulang ke Indonesia?"
tanya Hilman dan Adis menggeleng kan kepalanya.
Adis sudah betah tinggal di negara itu, Rey sendiri kini tinggal di London bersama istri nya.
awalnya Ibra Juga mencegah Hilman yang hendak membawa Adis ke Amrik namun Ibra menyetujui hal itu saat Adis yang meminta dan kepindahan nya juga bertujuan untuk pengobatan. tentu kesembuhan Adis adalah yang terpenting untuk Ibra, ia sendiri tidak tahu perkara bahwa hanya Adis lah anak nya seorang.
Dua tahun yang lalu Ibra memberi tahu nya bahwa arsan dan salsa sudah rujuk.
"bagus lah kak, semua kembali pada pormasi awal..."
__ADS_1
ucap Adis kala itu. rasa ikhlas membuat segala sesuatu nya menjadi ringan.
"kegiatan kamu apa de....?"
"lanjut S2 kak....!"
"semangat ya de....kakak lega dengar kamu udah sehat....!"
"ya kak.....siap...!"
ucap Adis, keduanya sering berkomunikasi melalui telpon, begitu juga dengan Rahma yang terus menanyakan keadaan adiknya itu.
ke esok kan hari nya...
saat ini Adis sendiri bekerja di perusahaan perbankan di negara itu, pagi itu Adis sudah bersiap untuk pergi bekerja.
"bawa mobil sendiri atau di antar supir dis...?"
tanya Hilman saat kedua nya tengah sarapan.
"bawa mobil sendiri aja yah....adis mau ketemu klien, enggak usah di antar supir..."
ucap adis menatap laptopnya.
"kamu mau ketemu klien di mana?"
"Adis di minta datang ke perusahaan nya...."
ucap Adis lalu beranjak dari duduknya membereskan semua berkas-berkas nya.
"ya sudah, kamu hati hati ya....!"
Adis mengangguk.
Adis Senang bekerja di perusahaan itu, selain ramah karyawan nya. pimpinan juga tidak pernah mempermasalahkan tentang pakaian yang di pakai oleh karyawan nya.sopan dan rapi tentu harus wangi.
Adis tampak cantik dengan kemeja berwarna navy dan rok panjang berwarna Hitam.
kerudung bercorak bunga berwarna biru membuat nya serasi dengan pakaian yang ia pakai.
"pagi ini tuh lupa kalau semua karyawan pakai kemeja navy..."
ucap Alisa, teman Adis gegas masuk Menganti kemeja berwarna putih nya.
"makanya jangan kebanyakan bergadang...."
ucap Adis terkekeh.
"suami ku tuh......"
ucap Alisa ikut terkekeh.
"Udah siap....?"
tanya Adis beranjak hendak pergi ke perusahaan tersebut.
tak berapa lama mereka sampai di perusahaan besar itu....
adis masuk ke dalam perusahaan bersama Alisa, sekertaris mempersilahkan nya menunggu di depan ruangan CEO perusahaan itu.
"tajir bener kayak nya CEO Perusahaan ini....."
ucap Alisa, namun berbeda dengan Adis yang terpaku melihat seorang pria berjalan ke arah mereka dengan menggendong seorang bayi yang terlelap dalam dekapan nya.
jantung nya tiba tiba berdetak tidak normal saat pria itu menghentikan langkahnya, menatap nya lekat.
"bang....Arid...."
gumam Adis terpaku melihat pria tampan itu.
__ADS_1
bersambung.....
terima kasih yang sudah mampir 😍😍😍