Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
serakah


__ADS_3

Adis terpaku saat melihat motor sport berhenti di depan rumah, Arid langsung turun dan mengetuk pintu.


"Adis.....?"


ucap arid melihat serpihan kaca berserakan di lantai.


"berjanjilah untuk tidak pergi selain dengan ku...?"


ujar Arsan terngiang di telinga nya.


"Adis....."


teriak Arid dari luar, gegas Adis melangkah membuka pintu.


"dis, kamu enggak apa-apa...?"


ucap Arid menarik tangan Adis keluar dari rumah.


"enggak apa-apa bang?!"


ucap Adis menarik tangan nya pelan.


"maaf.....!"


ucap keduanya bersamaan lalu saling menatap.


"non....!"


ucap pembantu berlari kecil menghampiri mereka berdua.


"astagfirullah, non...ini ada apa?"


"biasa bi....!"


ucap Adis dengan datar.


"kemana Arsan?"


tanya Arid.


"bang Arsan pergi ke rumah nya Hans...?"


"sendiri?"


Adis mengangguk.


"ya, udah kamu tunggu disini ya!"


ucap Arid lalu melangkah pergi menaiki motor nya.


Arid menghentikan laju motornya saat melihat mobil Arsan melaju berbalik arah, dengan cepat Arid mengikuti mobil arsan yang melaju dengan cepat.


Arid mengernyitkan dahinya saat melihat mobil arsan masuk ke sebuah rumah besar, kalau tidak salah rumah besar itu Milik keluarga pak Widodo.


karena penasaran Arid pun masuk mengendap mengikuti langkah Arsan yang tergesa gesa.


rumah itu cukup sepi tak ada Satpam atau penjaga lain nya, rumah itu juga seperti nya jarang di tempati dengan melihat halaman yang sedikit tak Terurus.


"ada Apa?"


tanya Arsan masuk ke dalam rumah besar itu.


"bagaimana tugas mu? ini sudah enam bulan."


ucap Bastian berdiri di samping Reni.


"ya, aku tahu tapi adis belum hamil....."


"kenapa belum juga hamil?


kamu sengaja mengulur waktu? atau kamu terlalu sibuk dengan salsa?"


"apa kalian yakin jika alya hamil oleh Ibra?

__ADS_1


aku tahu cerita sesungguhnya?"


ucap Arsan membuat Bastian melotot.


"itu bukan tugas mu, tugasmu adalah membuat anak itu sakit hati....?


tinggalkan dia, katakan kamu sudah menikah lagi.


aku pikir hal itu cukup menyakitkan....!


kau sudah melakukan tugas mu dengan baik" ucap Reni Terkekeh.


"aku tidak bisa melanjutkan permainan ini,


aku akan membayar semua uang yang sudah ku pakai....!"


ucap arsan langsung terhempas saat Bastian menghadiahkan sebuah pukulan di wajah nya.


"kamu jatuh cinta pada perempuan itu?"


tanya Bastian Terkekeh.


"kamu pikir siapa dirimu, bisa mundur begitu saja setelah menikmati semua hasil nya jika tanpa campur tangan ku...!"


Arid yang melihat itu di balik jendela sedikit terperanjat namun mencoba untuk tenang karena ia belum paham apa yang di bicarakan oleh mereka.


"Ibra itu tidak salah, Adik mu tidur dengan pria lain....!"


ucap Arsan mengusap darah yang sedikit keluar dari sudut bibirnya.


"jangan sok tahu....aku tidak menyuruh mu mencari informasi itu, kamu lupa dengan perjanjian kita!


aku tidak butuh uang, yang aku inginkan adalah melihat adik Ibra merana seperti alya!"


ucap Bastian menghentakkan kerah baju Arsan.


"pilih saja, salsa dan anak mu. atau Adis?


ucap Bastian dengan tatapan tajam.


"aku tidak tahu kenapa kamu berani mengambil keputusan itu, padahal sebenarnya aku yakin bahwa Adis akan hancur saat tahu seperti Apa dirimu, busuk....


silahkan nikmati permainan ini, mungkin kamu ingin tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang bahkan belum tahu dunia....!"


"jangan mengancam ku?"


ucap arsan dengan tatapan nanar.


"aku pikir kamu tahu bahwa itu bukan hanya sekedar ancaman..."


"arsan aku tahu kamu punya banyak masalah karena Robi, jangan sampai bukan hanya Hans yang menghancurkan mu karena kau serakah,


ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya...!"


ucap Bastian membuat gemeretak Arsan.


"kenapa kalian menderita karena sebuah dendam....?"


tanya arsan dengan geram.


"karena rasa sakit itu tak pernah ada obat nya.... bermain lah dengan benar jika tidak kamu sendiri yang akan merasakan game over!"


"aku tegaskan sekali lagi, mulai lah berbenah karena aku tak punya banyak waktu lagi. aku masih memberikan mu waktu, jangan sampai aku hilang kesabaran....!"


ucap Bastian dan di senyumi oleh ibu nya yang beranjak pergi.


Arid bergegas pergi dari tempat itu, melaju kan motor nya dengan kencang, untung lah ia tidak ketahuan ternyata ilmu yang ia pelajari tentang pengintaian cukup berguna juga.


"Arsan, tinggal kan istri mu Sekarang juga!


aku tahu salsa sudah berada di Jakarta...


jangan macam-macam dengan ku, aku bisa saja menjadi sekutu Hans untuk menghancurkan mu jika kamu berani pada ku.

__ADS_1


aku tidak butuh uang, jalan kan tugas mu dengan benar!"


ucap Bastian untuk terakhir kalinya bicara.


Arsan tertegun mendengar penuturan Bastian yang langsung pergi meninggalkan nya di rumah itu.


Arid memahami permainan Arsan, jadi selama ini ia hanya mempermainkan Adis untuk membalas kan dendam seseorang, kasihan ia bukan hanya sakit raga tapi juga hati nya jika tahu hal sebenarnya, bukan hanya tentang pernikahan kedua Arsan tapi juga tentang Acara balas dendam itu.


masalah dengan Hans saja belum selesai, di tambah Reni dan Bastian yang terus mendesak arsan untuk melakukan hal itu.


Arid menghentikan laju motornya tak jauh dari kediaman rumah Arsan, ia ragu untuk menemui Adis karena mungkin saja sebentar lagi arsan akan pulang, tapi ia juga khawatir dengan keadaan Adis.


Arid duduk di Trotoar jalan sambil memperhatikan rumah besar itu, ia juga ragu untuk menghubungi Adis. apakah pantas jika ia ikut campur dalam masalah ini?


"kamu kenapa diam terus?"


tanya Adis saat pertama kali mereka bertemu.


"harus nya?"


"bicara apa saja, kamu membuat ku bosan?" ucap Adis saat tengah mengurus pendaptaran nya di kampus.


"pekerjaan ku hanya mengurusi pendaptaran kuliah, tidak ada agenda ngobrol!" ucap Arid tanpa menoleh, dari hal itu Arid tahu bahwa gadis itu membutuhkan teman. sementara arsan sibuk tak memiliki banyak waktu karena ia juga tengah membangkitkan perusahaan nya yang sempat terpuruk.


memang tak ada kedekatan di antara mereka, tapi beberapa hari itu mereka selalu bersama meski Arid selalu bersikap dingin Tapi Adis tak pernah bosan mengajak nya bicara.


waktu menunjukkan pukul setengah enam, senja itu menjadi saksi bisu betapa gelisah nya Arid sementara arsan tak juga kembali.


"bagaimana keadaan gadis itu?"


gumam Arid dalam hati.


"mas lagi ngapain? saya perhatikan sejak tadi di sini?" ucap ibu ibu menghampiri Arid.


"mau maling ya?"


"astagfirullah, enggak Bu saya lagi nuggu teman!"


"jangan bohong mas, lebih baik pergi dari pada saya suruh warga datang!"


mendengar penuturan ibu itu, Arid langsung menaiki motor nya dan melaju cepat.


malam....


Arsan tak kunjung kembali, Adis beberapa kali memperhatikan gerbang rumah.


Adis mencoba menghubungi nomor Arsan yang baru namun tidak aktif, pria itu membuat nya khawatir.


gegas ia menghubungi arid karena tadi siang Arid pergi mengejar arsan yang hendak bertemu dengan Hans.


"Bang.....!" ucap Adis saat Arid menerima telepon nya.


"Adis, kamu baik baik saja!"


"baik bang, kenapa Abang tidak menghubungi ku lagi, apa Abang tidak bertemu dengan bang arsan tadi?"


"tidak, aku tidak bertemu dengan nya, maaf tadi aku ada urusan!"


"begitu?"


"ya, apa dia belum kembali?"


tanya Arid melihat Jam yang melingkar di tangan nya menunjukkan pukul sepuluh malam.


"belum, aku takut karena pembantu rumah mengundurkan diri, ia pulang karena takut untuk lanjut bekerja di rumah ini....!"


ucap Adis membuat Arid tertegun.


"ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" tanya Arid sendiri dalam hati nya.


bersambung...


terimakasih sudah mampir 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2