
hujan rintik-rintik....
Arid mengikuti motor Adis sampai di rumah, ia khawatir dengan keadaan Perempuan itu.
Arid menghentikan laju motornya saat berada di gerbang rumah itu, terlihat seseorang mengamati mereka berdua.
"aku pulang, kalau ada apa-apa kamu hubungi aku saja...."
ucap Arid dan di angguki oleh Adis, meski saat ini Arid tak di izin kan untuk mengurusi keperluan Adis, Arsan sudah menyuruh Medina mengurus keperluan Adis selama ia pergi.
"untuk sekarang dan ke depan nya, Arsan menunjuk Medina untuk mengurus kebutuhan mu selama Arsan bepergian.
seperti nya dia cemburu padaku, ia khawatir dengan kita...."
ucap Arid Terkekeh. Adis tak bersuara.
"tapi kamu sudah seperti adik ku sendiri... jadi kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan, tapi jangan sampai Arsan tahu...."
Adis Menoleh.
"Kenapa...?"
"aku takut dia salah paham dan mungkin saja membunuh ku....!"
"justru kalau aku sembunyikan hal itu dari nya,itu akan membuat nya berpikir macam-macam....!"
"aku jengah bekerja di tempat suami mu, tapi aku.....!"
ucap Arid Menoleh pada Adis.
"apa.... kamu ingin berhenti?"
"ya aku akan berhenti jika waktu itu sudah tepat....ayo kita pulang, aku akan mengikuti mu sampai di rumah....!"
ucap Arid lalu keduanya beranjak.
ke esok kan hari nya.....
siang ini Adis berencana untuk pergi ke rumah sakit menemui dokter yang waktu itu memeriksa keadaan nya.
entah harus bersyukur atau bagaimana dengan hasil taspack yang menunjukkan hasil negatif, mungkin Arsan memang penggemar rujak seperti yang ia bilang.
Tak lama ia sampai di kampus berpapasan dengan lidia yang juga baru sampai.
"dis....."
Lidia melambaikan tangan nya.
"aku kira kamu udah datang..."
ucap Lidia menilik wajah Adis yang tampak pucat.
"aku baru sampai..."
"kamu sakit dis....?"
ucap Lidia menyentuh tangan Adis yang terasa dingin.
"enggak apa-apa, Aku cuma kurang istirahat..."
keduanya berjalan beriringan di koridor kampus.
"kamu hamil kali dis ...?!"
ucap Lidia Terkekeh.
"enggak kok....aku enggak hamil.!"
"oh gitu, kalau saudara ku yang kemarin menikah udah hamil dis..... yang kemarin aku cerita!"
"oh gitu...!"
"ya istri pertama nya malah belum hamil, kalau udah kayak gitu pasti saudara aku jadi kesayangan...!"
__ADS_1
ucap Lidia membuat Adis tertegun sejenak.
"kamu enggak boleh gitu, kasihan kan istri pertama nya. karena soal keturunan itu Allah yang menentukan...!"
ucap Adis duduk di kursi, ia merasa sedikit Lemas.
"ya sih...!" ucap Lidia mengulum senyum.
tak lama dosen masuk dan memulai pelajaran.
Arsan mencoba menghubungi Adis namun tak ada jawaban, entah kenapa ia merasa khawatir pada istri nya itu mengingat kejadian malam dimana Adis tiba tiba mimisan.
Arsan rasa ia harus membawa istri nya itu memeriksa kesehatan nya dengan detail.
"kamu kenapa Ar....?"
tanya salsa duduk di kursi.
"salsa, aku tidak bisa meninggalkan Adis...aku berencana untuk melawan keluarga Alya...."
ucap Arsan membuat salsa terperangah.
"kamu enggak Serius kan, keluarga mereka itu keluarga mafia aku enggak mau terjadi apa apa dengan kamu Ar, apa susah nya sih kamu tinggalkan Adis... jangan bilang kamu cinta sama dia Ar....!" ucap Salsa beranjak dari duduknya pergi meninggalkan Arsan sendiri.
Arsan menghela nafas panjang lalu beranjak mengejar salsa yang marah pada nya.
"kamu harus bisa menerima itu, aku tidak bisa menceraikan nya...."
"aku enggak mau tahu, aku lagi hamil jangan bikin aku stres..."
ucap salsa keluar dari rumah itu menuju halaman belakang, dimana ibu Arsan berada.
**
Adis duduk di bawah pohon rindang, tubuh nya terasa lemah, ia tidak tahu apakah ia kuat untuk membawa motor sendiri.
waktu menunjukkan pukul setengah Dua belas siang, lidia sendiri sudah pulang dengan kekasih nya.
Adis terdiam mengingat sahabat nya yang kini jauh, adis merindukan mereka.
ucapan Arid terngiang di telinga nya, saat ini ia butuh seseorang. Adis merogoh ponsel nya dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Arsan.Adis mendesah saat kembali menghubungi nomor Arsan namun tidak aktif.
"aku butuh kamu Bang...aku sakit"
ucap Adis menghela nafas lalu menghubungi Arid.
Arid tertegun melihat Adis menghubungi nya, gegas ia menggeser tombol hijau pada layar ponsel nya.
"halo....."
ucap keduanya bersamaan.
"ada apa dis....."
tanya Arid cepat.
"aku masih di kampus, aku tidak bisa pulang sendiri.."
ucap Adis lirih menahan tangisnya, ia ingin Arsan lah yang berada di posisi Arid.
"kamu sakit....?"
tanya Arid.
"aku tidak tahu, tapi aku merasa lemas....!"
"ya sudah tunggu aku Lima belas menit..."
ucap Arid bergegas pergi.
Winda memperhatikan Arid yang tengah menatap potret Adis yang tengah tertawa, entah apa yang terjadi dengan putra sulung nya itu.
"Arid....!"
__ADS_1
ucap Winda Duduk di samping Arid.
"kenapa kamu memandangi istri orang...?"
"um... enggak bu...!"
ucap Arid lalu memasukkan potret perempuan itu ke dalam tasnya.
"jangan bilang kamu suka sama Adis...!"
tutur Winda membuat arid terperangah.
"enggak lah Bu... Arid cuma iba aja karena Arsan menikah lagi...!"
"itu urusan mereka rid, coba kamu telaah lebih dalam perasaan kamu itu, terkadang rasa iba itu berbalut cinta...dan kamu jatuh cinta pada orang yang salah.!"
Arid terdiam.
"tidak masalah kalau Adis masih sendiri, tapi dia itu istri bos kamu..!"
ucap Winda langsung menohok.
"ibu harap kamu paham harus bagaimana."
ucap Winda menepuk pundak Arid lalu beranjak meninggalkan Arid sendiri.
sejak kejadian di apotek itu Arid tidak bisa berhenti memikirkan Adis, ia merasa khawatir dengan perempuan itu.
ia tidak bisa mengabaikan Adis, terbilang gila tapi itukah cinta? Arid tidak tega membiarkan nya sendiri.sementara arsan tengah bersama salsa saat ini.
**
"dis..."
ucap Arid menghampiri Adis yang duduk di bawah pohon rindang itu.
Adis mengelap hidung nya yang kembali Mimisan, wajahnya nya tampak begitu pucat.
"kamu sakit lagi, kita ke rumah sakit sekarang"
"tapi bagaimana motor Adis...?"
tanya Adis menilik kendaraan roda dua nya.
"itu soal gampang, besok aku antar kamu.
jadi kamu bisa pulang pakai motor..."
ucap Arid dan di angguki oleh Adis.
Adis menyandarkan kepalanya di kursi mobil, ia merasa begitu pusing.
"kamu hamil dis....?"
tanya Arid yang mengetahui perihal Adis membeli taspack.
"enggak, emang kenapa?"
"kamu tuh pusing, Lemas. persis seperti orang hamil..."
"ya tapi aku tidak hamil..."
ucap Adis memalingkan wajahnya.
"lalu apa yang sebenarnya terjadi...?"
"aku tidak tahu.....!"
ucap Adis lalu Terisak menutup wajahnya dengan pasmina membuat arid membeku.
"bisakah kamu katakan pada arsan kalau aku butuh dia sekarang....!" ucap Adis Masih menutup wajahnya.
bersambung...
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir ke novel author ini
jangan lupa like dan komentar ya 😍😍😍