
Ibra menatap langit gelap tanpa bintang, entah bagaimana keadaan adiknya, Hans membawa nya pergi entah kemana?
Ibra memijat keningnya yang terasa nyeri, beberapa kali Rahma menelpon menanyainya tentang Adis tapi ia tidak bisa memberikan jawaban apa apa karena Ibra tidak tahu dimana Adis berada, entah apa maksud Hans menyembunyikan adik nya.
"bos, kita coba temui Arsan..pokok permasalahannya ada pada Arsan?!"
ucap Wira menghampiri Ibra.
"aku dengar, Robi ayah nya Arsan mempunyai hutang pada Hans... mungkin Hans ingin Arsan membayar hutang tersebut."
ucap wira dan di anggukan oleh Ibra.
tadi pagi setelah bertemu dengan Bastian, Ibra langsung datang ke rumah Hans namun kediaman itu tampak sepi dan penjaga mengatakan bahwa Hans pergi bersama seorang wanita.
"aku memang hancur melihat keadaan adik ku, tapi kau tahu adik ku pasti kuat...dia bukan perempuan lemah atau mudah putus asa...
aku yakin ia akan bangun dari semua rasa sakit yang kalian berikan, satu hal yang harus kau tahu bahwa apa yang kita lakukan tak luput dari perhatian tuhan.
salah jika kamu berpikir bahwa tak ada obat untuk rasa sakit yang kamu derita, semua merasakan kepedihan saat kehilangan tapi ikhlas akan membuat mu Lebih tenang di banding dendam yang akan terus menyiksa hati...
semua sudah takdir, maka cintailah takdir hidup mu, saat Tuhan memberikan mu ujian, di situ juga Allah memberikan mu kekuatan untuk melewati semua itu....
aku juga hancur saat Alya pergi, aku menyesal harus nya aku menerima dia apa adanya, aku memang egois..."
ucap Ibra menghentikan ucapannya, rasa pedih itu kembali berkecamuk dalam dada, luka lama yang sudah lama ia simpan harus kembali terkuak.
"dan aku tanya apa yang kamu rasakan saat orang yang kamu sayangi saat ini berada di tangan orang yang cukup berbahaya, apa itu cukup membuat mu puas...."
ucap Ibra pergi meninggalkan Bastian sendiri.
"rasakan saja, aku juga hancur kehilangan Alya...."
gumam Bastian sendiri.
Arsan tengah mencari keberadaan Robi ayahnya, mungkin saja ia tahu dimana kediaman Hans selain rumah itu, semua terjadi karena pria itu, namun saat ini ia butuh informasi dari Robi.
salsa langsung datang ke Bandung saat mengetahui kabar itu, namun ia tidak mengajak Salamah karena Salamah tak tahu apa-apa.
"kamu mau kemana ar...?"
"aku mau cari Adis....?"
ucap Arsan.
"kamu kan udah menceraikan nya, lantas apa lagi? pekerjaan kamu sudah selesai kan?"
"aku tersiksa hidup di atas penderitaan orang lain, apa lagi aku menyayangi nya...."
ucap Arsan membuat salsa tertegun dengan mata berkaca-kaca.
"aku tidak mau kamu mencari nya lagi, sudahlah anggap dia tidak pernah ada!"
ucap salsa dengan nafas tersengal menahan air matanya.
__ADS_1
"kau pikir semudah itu, apa yang saat ini kamu nikmati adalah hasil dari air mata Adis..."
ucap Arsan lalu pergi meninggalkan salsa sendiri dengan air mata yang menetes di pipi Nya.
Arsan terhenti saat ponsel berdering, terlihat Ibra melakukan panggilan telepon.
"gue mau bicara sama Lo?"
ucap Ibra tanpa basa-basi memberikan informasi dimana ia berada.
Arsan langsung pergi ke tempat dimana Ibra berada, ia harus berani menghadapi ibra karena memang ia yang salah.
tak berapa lama ia sampai di sebuah restoran yang berada di dalam kota, terlihat ibra dan Wira sudah menunggu.
Ibra berdiri dan menatap tajam ke arah Arsan.
"hanya seorang pecundang yang rela menyakiti seseorang demi kepentingan pribadi nya, gue rasa Lo manusia enggak punya hati.....Lo bahkan mempermainkan pernikahan, sumpah Lo di hadapan tuhan...
Lo pikir itu hal biasa, Lo bertanggung jawab penuh atas Adis, tapi Lo abaikan begitu saja..."
"gue tahu gue salah......gue hanya alat..."
"demi keuntungan pribadi Lo, sekarang gue mau Lo hubungi Hans dan cari Adis, gue yang akan mengurus perceraian kalian....."
ucap Ibra membuat Arsan tertegun. ia sendiri masih bingung karena dalam pengawasan Bastian.
"awas kalau Lo berani rujuk, gue enggak akan segan segan untuk memberikan pelajaran lewat salsa.... ternyata pernikahan Lo dengan salsa menjadi keuntungan tersendiri untuk kerja sama ini...."
"gue akan cari Adis....."
"tidak perlu....."
ucap Adis yang tiba-tiba muncul bersama Hans.
"Adis...."
ucap Ibra mendekati namun terhalang oleh anak buah Hans.
"biarkan......"
ucap Adis pada body guard Hans.
"ayo kita pulang...."
"tidak, Adis akan bersama Hans...." ucap adis membuat Ibra dan Arsan tercengang.
"Hans gue akan bayar semua hutang Robi, tapi gue minta sama Lo lepas kan istri gue..."
ucap Arsan.
"bukan lagi....."
ucap Adis dengan tatapan tajam mengarah pada Arsan.
__ADS_1
hati nya pedih memandang wajah Arsan, sosok pria yang teramat ia cintai, tapi menjadi sosok yang paling menyakitkan.
andai bisa mengulang waktu, ia tidak ingin mengenal pria itu.
Ibra tersenyum melihat sikap Adis tampak tegas dan tegar dengan keadaan nya saat ini meski Ibra tahu bahwa sesungguhnya adik nya itu terluka.
"Lo dengarkan Ar, satu malam bersama gue ternyata membuat istri Lo sadar bahwa gue jauh lebih baik dari lo dari segi apapun..."
ucap Hans tersenyum.
"maaf kan Abang dis...Abang tidak bermaksud menyakiti kamu!"
ucap Arsan datar, hati nya pedih mungkin apa yang Adis rasakan pun tak jauh beda.
Arsan tidak percaya bahwa secepat itu Adis berubah, ia tahu gadis manja itu mencintai nya.
"oh ya, kata kan pada Bastian aku ingin bertemu dengan nya, aku ingin bertanya pada nya kenapa bukan dia yang membalas kan dendam itu, aku menyayangkan karena dia memperalat seseorang yang dalam keadaan tak berdaya..."
ucap adis terhenti, sebenarnya ia paham dengan keadaan pria itu meskipun terkesan pengecut.
"aku pikir akan lebih menyenangkan jika dia sendiri yang turun tangan, dengan itu tak ada orang lain yang ikut campur urusan ini....
aku benar kan Hans?"
Hans mengangguk sambil tersenyum.
"dan kak Ibra, Adis minta kakak urus perceraian Adis seperti dulu kakak urus pernikahan Adis dengan Arsan..."
ucap Adis berusaha untuk menahan air matanya.
"pedih sungguh aku tak ingin berpisah jika tak mengingat harga diri.
tapi aku tak ingin terlihat rapuh, aku ingin menunjukkan pada mereka bahwa mereka gagal membuat ku menderita meski sesungguhnya aku sangat menderita karena aku mencintai nya, tapi aku berupaya melebur rasa cinta itu Karena kenyataannya selama ini aku hanya boneka permainan nya.."
gumam Adis menatap Arsan yang bungkam dengan wajah memerah menahan air matanya.
"kak, Adis akan pergi bersama Hans..."
"kamu yakin?"
tanya Ibra dan di angguk kan oleh Adis.
"ikutlah dengan kami, aku akan senang menerima mu di rumah ku..."
ucap Hans tersenyum.
"karena sebentar lagi aku yang akan menggantikan posisi Arsan..."
ucap Hans membuat Arsan terperangah.
bersambung...
terima kasih sudah mampir 😍😍😍
__ADS_1