
dua Minggu berlalu....
Adis sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Arsan. menerima semua perhatian yang ia berikan tanpa sungkan karena memang Arsan menunjukkan sikap baik nya.
ujian sudah selesai, gadis itu kini tinggal menunggu kelulusan.
Weekend ini arsan mengajak Adis untuk mencari kebaya pengantin pernikahan mereka berdua.
Adis memperhatikan tangan Arsan yang menggenggam tangan nya berjalan memasuki butik, Arsan seperti Ibra melakukan hal yang sama jika pergi dengan nya, namun semua itu terjadi sebelum Ibra sibuk dengan pekerjaan nya.
Adis termenung menatap beberapa kebaya dan gaun pengantin yang begitu indah menggantung, Benar kah ia akan menikah secepat itu?
bagaimana rasanya menikah muda?
tak terpikirkan sebelumnya kalau ia akan menikah di usia nya yang menginjak delapan belas tahun.
mungkin setelah menikah ia juga akan hamil.
Adis terpaku sendiri dengan pemikiran nya, ia belum siap jika harus hamil di usia muda.
"dis, kamu pilih yang mana?"
tanya Arsan membuyarkan lamunannya.
"HM...apa?" jawab Adis sedikit kaget.
"kamu mikirin apa sih? belum apa apa udah ngelamun aja?!"
ucap Arsan senyum sambil mengacak rambut nya.
"kebiasaan banget kamu Bang?!"
"makanya lain kali kamu pakai kerudung kalau enggak mau Abang ngelakuin hal yang sama.." ucap Arsan membuat Adis tertegun.
"kamu mikirin apa sih? Maafin ya" ucap Arsan melihat Adis yang cemberut.
"enggak....!"
ucap Adis lalu beranjak memilih kebaya pengantin yang menggantung.
Adis Terus berpikir sambil memilih beberapa kebaya cantik tersebut, ia harus mencari cara agar hal itu tertunda tanpa Arsan tahu.
"tapi apa nanti Arsan tidak akan marah jika ia melakukan hal itu..."
Arsan sendiri Fokus dengan ponselnya tak memperhatikan Adis yang tampak ragu memilih kebaya tersebut.
tanggal pernikahan sudah di tentukan, dua Minggu yang akan datang.
semua teman teman nya sibuk memilih universitas untuk menempuh perguruan tinggi sementara dirinya sibuk dengan urusan pernikahan nya, memang bukan hanya dirinya, ada beberapa teman yang juga langsung menikah setelah kelulusan nanti karena memang satu dari beberapa hamil karena pergaulan bebas.
"astaga.....!"
ucap Adis terperanjat saat Arsan menyentuh bahu nya.
"bang....!"
ucap Adis memukul tangan Arsan pelan.
"kamu bikin kaget"! ucap Adis cemberut.
"kamu tuh kenapa sih yang ngelamun terus.."
"enggak....!"
"udah milih belum?"
"udah...!"
ucap Adis memberikan satu kebaya pengantin pada pelayanan di butik itu.
"mau di coba enggak?"
"enggak usah...!"
ucap Adis lalu beranjak mendekati Kasir bersama Arsan.
"kalau enggak cukup gimana?"
"cukup...Adis tahu ukuran pakaian Adis, tenang saja!"
ucap Adis manyun.
"coba dong Abang mau lihat..."
__ADS_1
Ucap Arsan mengambil kebaya tersebut dan menarik tangan Adis ke ruang ganti.
Adis memperhatikan dirinya di cermin, tubuh nya ramping begitu pas dengan kebaya pengantin tersebut.
"bang......"
ucap Adis keluar dari ruang ganti tersebut membuat Arsan terpaku menatap betapa anggunnya gadis itu.
"udah ya"
Ucap Adis kembali masuk ke ruang ganti.
"kamu cantik banget, apa lagi nanti kalau udah pakai make up. Abang minta kamu pakai hijab ya. kebaya nya juga lengan panjang kan..."
ucap Arsan membuat Adis tertegun.
setelah itu keduanya pergi membeli cincin kawin, di lanjut nonton seperti permintaan Adis.
"dis, setelah menikah nanti kita pindah ke Bandung ya...?!" ujar Arsan membuat Adis tertegun.
"Bandung? kenapa kita enggak di Jakarta aja bang nanti kuliah Adis gimana?"
"ya, nanti kamu bisa kuliah di Bandung, Abang akan tempat kan kamu di universitas terbaik di sana...!"
"tapi kenapa mesti pindah ke Bandung?"
"ya karena memang tempat Abang kerja kan di Bandung, Abang juga ke Jakarta bolak balik...!"
ucap Arsan membuat Adis kembali tertegun.
Cika berencana akan kuliah di London, begitu juga dengan Rena yang berkuliah di Australia dan yang Adis dengar Rey juga melanjutkan kuliah di Amerika, berarti hanya rindu yang akan tetap di Jakarta jika ia pindah ke Bandung.
***
beberapa hari kemudian.
hari ini pengumuman kelulusan, Adis tersenyum puas melihat papan pengumuman tertera nama nya berada di deretan paling atas dengan nilai terbaik, sudah di pastikan kalau ia lulus dengan nilai terbaik.
"selamat ya dis kamu emang pinter....."
ucap Cika memeluk sahabatnya itu.
"kalian juga pinter...."
Adis terdiam saat Rena menghampiri mereka bertiga, setelah beberapa waktu Rena menghindar karena merasa malu.
"hai, dis selamat ya, aku mau minta maaf untuk semua kesalahanku..."
ucap Rena menunduk.
"ya, aku udah maafin kamu na...sampai kapan pun kamu tetap sahabatku..."
ucap Adis senyum, lalu mereka berpelukan.
"sahabat selamanya....."
ucap rindu dan cika yang merangkul.
"terimakasih dis kalian masih mau menganggap aku teman"
ujar Rena dengan mata berkaca-kaca.
"aku benar benar malu sama kalian..."
"udah, lupakan saja semua yang udah lewat karena setelah ini kita akan terpisah tapi persahabatan kita harus tetap terjaga...!" tutur Adis di angguki mereka bertiga.
"Aku sudah memaafkan, meski itu tak mampu ku lupakan, namun kenangan indah bersama mereka lebih mendominasi dalam ingatan ku.
lambat laun semua akan Menepis seiring berjalannya waktu...."
...****************...
Adis menatap pantulan dirinya di cermin, cantik dengan kebaya pengantin berwarna putih. hari yang begitu mendebarkan bagi nya yang akan menjadi sejarah dalam hidup nya.
sesuai dengan permintaan Adis, ia ingin acara itu berjalan sederhana tanpa pesta.
"saya terima nikah dan kawin nya, Adista hilma Adzkia dengan seperangkat alat sholat dan emas lima puluh gram di bayar tunai...."
Ibra sendiri lah yang menikah kan Arsan dan Adis, merasa lega karena amanah itu sudah ia laksanakan, seperti keinginan ibunya untuk mencari kan Suami untuk kedua adiknya itu.
"sah...."
"Alhamdulillah......"
__ADS_1
Adis Menoleh saat kata sah serentak terdengar dari luar, seketika itu status nya berubah menjadi istri Arsan.
Adis bergegas mengambil satu butir obat dan langsung meminum nya, ia khawatir jika nanti lupa meminum nya.
jantung nya berdetak kencang saat pintu terbuka dan Rahma menyembul masuk ke dalam kamar.
"Adis ayo keluar, kenapa kamu malah masuk kamar...? Ijab Kabul nya sudah selesai dan sekarang kamu sudah sah menjadi istri nya Arsan..."
ucap Rahma menggandeng tangan Adis keluar dari kamar itu.
"sebentar kak, Adis gugup....!"
ucap adis menghentikan langkahnya.
Adis tertegun melihat Arsan tersenyum menatapnya, jantung nya berdetak kencang.
Arsan tampak begitu tampan dengan tuxedo berwarna putih, pria itu kini telah menjadi suami nya, yang sebentar lagi akan membawa nya pergi dari rumah itu.
Arsan senyum lalu meraih tangan Adis yang melangkah mendekati nya, istri nya itu begitu cantik dan pangling dengan makeup natural, seperti permintaan nya Adis menggunakan hijab.
"Adis sekarang Arsan sudah sah menjadi suami mu, semoga kalian bisa menjalani rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah..."
ujar Ibra mendoakan.
"Amin....."
Adis mengangguk lalu mencium tangan Arsan yang langsung mencium kepala gadis itu. lalu menatap wajah Adis yang bersemu merah.
"maaf kan aku ya Allah....!"
ucap Arsan dalam hati mencium kening Adis lama.
beberapa kerabat hadir di acara tersebut, namun tidak dengan ibu Arsan yang memang berada di luar negeri, Hanya kakak laki-laki nya yang ikut serta hadir dalam acara tersebut, tentu saja hal itu terasa janggal.
"kenapa tidak hadir.... bukan kan acara pernikahan adalah acara yang cukup penting untuk di hadiri orang tua..."
gumam Adis dalam hati menatap Arsan yang tampak santai.
"ya Tuhan...apa aku bisa menjalankan tugas itu, sementara saat ini hati ku merasa iba melihat gadis tak berdosa ini..." gumam Arsan tanpa menoleh ke arah Adis.
Adis beranjak menghampiri Ibra yang merentang kan kedua tangan nya siap memeluk adik nya itu.
"selamat ya sayang... jadilah istri yang baik untuk suami mu...."
Adis mengangguk.
"ya semoga suami pilihan kakak tidak salah..."
gumam Adis dalam hati.
sebenarnya bisa saja Adis menolak perjodohan ini dengan keras, namun setelah ia berbicara dengan Rahma ia pun terpaksa menerima perjodohan ini.
"menikah lah dengan pilihan kak Ibra, mungkin setelah kamu menikah ia akan memikirkan hidup nya, selama ini dia terus memikirkan kita berdua karena amanah dari ibu..."
ucap Rahma saat Adis mengadukan tentang ibra yang memaksa nya untuk menikah.
"kak Ibra itu usia nya hampir tiga puluh tahun, tapi ia belum memikirkan untuk menikah sebelum kita menikah.... jadi kakak pikir sebaik nya kamu menurut saja.."
"tapi Adis enggak mau kalau nanti hamil pas lagi kuliah kak...."
"beli pil KB saja kalau kamu tidak mau hamil. gampang kan, kakak pikir Arsan akan mengerti jika kamu ingin menunda kehamilan sampai kamu benar benar siap...."
ucap Rahma.
sore itu juga Adis pergi ke apotek untuk membeli apa yang Rahman katakan tanpa memberi tahu Arsan soal itu.
beberapa teman datang dan memberikan selamat, termasuk ketiga sahabat nya itu.
"selamat ya dis...."
ucap ketiga nya serempak.
"terimakasih...."
ujar Adis.
"enggak nyangka ya dari kita berempat Kamu yang pertama menikah..."
ucap Cika senyum memeluk sahabatnya itu.
bersambung....
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍
__ADS_1