
Regina berlari kecil saat melihat Arsan dan Salamah duduk di depan gedung apartemen milik nya.
"A, ibu....!"
ucap regina langsung memeluk Salamah.
"re ....!"
"kenapa enggak bilang mau datang A?"
tanya regina menilik wajah Arsan hanya tersenyum.
"ayo masuk....!"
ucap regina menarik tangan keduanya.
"biar Aa yang bawa barang barang nya Bu..."
ucap Arsan meraih tas mereka.
gegas regina menggandeng tangan Salamah untuk mengikuti langkah nya.
Apartemen itu tak terlalu besar, hanya ada satu kamar dan ruang yang lain nya.
apartemen tersebut Arsan yang beli untuk sementara waktu sampai regina selesai kuliah.
"ayo Bu....!"
ucap regina mengajak Salamah untuk duduk.
"jam berapa kalian sampai?"
tanya regina sambil beranjak mengambil minuman.
"satu jam yang lalu....!"
ucap Arsan duduk.
"kamu kok baru pulang re?"
tanya Arsan.
"ya, A maaf ya sebenarnya Rere tuh kerja paruh waktu di sebuah rumah makan..."
ucap regina sambil memberikan minuman.
"astaga, apa kamu tidak lelah?"
tanya Arsan.
"ya, tidak. pekerjaan nya juga hanya mengantar makanan... semua itu untuk menambah uang kuliah kak karena Rere tahu...!"
ucap regina menunduk, dua bulan yang lalu datanglah Robi menemui nya, mengajak nya untuk pergi dengan nya ke Eropa.
regina menceritakan semua itu pada Arsan dan Salamah yang langsung tertegun.
"maaf A kalau Rere menyusahkan mu dengan sering meminta uang, itu karena kebutuhan Rere di kampus..!"
ucap regina menyentuh tangan Arsan.
"tapi jangan khawatir, Rere dapat beasiswa jadi untuk kedepannya biaya kuliah akan sedikit berkurang... maafkan ayah yang sudah menjual perusahaannya...!"
ucap regina lalu memeluk Salamah.
*
"kenapa ayah menjual perusahaan...?"
tanya regina saat Robi menceritakan semuanya, tentu saja regina kecewa menanggapi hal itu.
"perusahaan adalah mata pencaharian utama keluarga kita....!"
"bukan kita tapi mereka.... sekarang jangan pikirkan mereka, ikut dengan ayah ke Eropa. Ayah akan membiayai semua keperluan mu..."
ujar Robi di tanggapi gelengan kepala oleh regina.
"aku tidak mau, aku mau tetap disini....!"
ucap regina dengan gemeretak gigi nya, rasa kecewa melingkupi dadanya.
"kalau kamu di sini, aku tidak akan membiayai mu....!"
ancam Robi membuat regina jengah.
"Ada Aa yang bantu Rere di sini....!"
ujar Regina membuat Robi terkekeh.
__ADS_1
"mereka itu sudah tidak punya apa-apa, sekarang sudah miskin...!"
"ya, dan itu semua karena anda. tega sekali anda pada seseorang yang sudah melahirkan ku...... meski miskin tapi Tuhan akan memberikan rezeki nya, ingatlah sang penguasa. hidup sehat namun ada kalanya juga sakit...dan saat seperti itu hanya keluarga yang kita butuhkan..."
ucap regina pergi meninggalkan Robi yang mengepal kan tangan nya.
sejak kedatangan Robi dan mengetahui permasalahan itu, Regina mencari pekerjaan paruh waktu untuk membantu keuangan nya meski sesekali ia meminta nya pada Arsan, regina belajar dengan giat untuk meraih beasiswa agar meringankan biaya kuliah nya.
**
"kenapa A enggak cerita sama Rere...?"
tanya Regina menilik netra milik Arsan.
"Aa baru mau cerita sekarang?"
ujar Arsan tersenyum kecil.
"kenapa enggak dari awal A... kenapa A hadapi sendiri, Rere udah gede dan bisa bantuin Aa ..!"
"pinter ya kamu kuliah di London..!"
ucap Arsan terkekeh kecil.
"A masih bisa ketawa?"
tanya regina menggeleng kan kepalanya.
"jadi gini, Aa datang sama ibu mau tinggal disini re..A mau buka usaha, dagang mungkin."
ucap Arsan masih berpikir.
"kita jual apartemen ini dan pindah ke rumah yang cukup untuk kita bertiga..."
ucap Arsan menuggu respon dari regina.
"itu bukan hal yang sulit kan....!"
tanya Arsan.
"ya sudah, nanti Regina tanya tanya teman soal ini ya A... untuk sementara waktu disini saja dulu... tapi apa uang nya ada!"
tanya Regina khawatir.
"ada re, kamu tenang saja kita enggak jatuh miskin miskin banget.....!"
**
beberapa hari ini Regina dan Arsan mencari rumah baru untuk mereka sambil menawarkan apartemen mereka yang akan di jual.
"sebentar re...."
ucap Arsan menghentikan langkahnya saat terdengar suara ponselnya berbunyi.
"halo Ar ....kamu dimana?"
salsa menelpon pria itu. ia tidak tahu jika Arsan pergi ke London.
"ada apa sa? aku berada di London..."
"London .....?"
ucap salsa sambil berpikir.
"ya, aku bersama regina dan ibu, aku akan memulai hidup baru ku disini...!"
ucap Arsan membuat salsa menelan Saliva nya, kini jaraknya semakin jauh dengan Arsan.
"oh....aku ingin memberi tahu kamu kalau siang ini acara pengajian tujuh bulanan Dede utun...!"
ucap salsa sambil mengelus perut nya yang besar di usia tujuh bulan.
"oh, ya aku mendoakan kalian dari jauh, jika ada apa apa hubungi aku, meski jauh tapi saat kamu melahirkan aku akan datang..." ucap Arsan membuat salsa menyeka air matanya.
"ya sudah, aku juga selalu mendoakan mu Ar, aku berharap kamu pulang untuk menjemput Ku....!"
ucap salsa lalu memutuskan telpon nya.
ia tak sanggup menahan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Arsan tertegun menatap ponselnya yang mati, membeku mengingat penuturan salsa yang terakhir.
"kenapa A...A berpisah dengan kak salsa karena kita jatuh miskin...?"
tanya regina yang tahu dan cukup akrab dengan regina.
"bukan, tapi karena Aa mencintai perempuan lain... cerita nya panjang re, Aa tidak yakin kamu akan mengerti...."
__ADS_1
"jangan seperti itu, Rere bukan anak kecil, ayo Cerita? siapa perempuan yang begitu mudah membuat Aa berpaling dari kak salsa yang hampir sempurna...!"
"nanti saja....!"
ucap arsan sambil berlari kecil membuat regina terperangah.
**
siang itu Ibra dan Adis datang ke Bandung untuk mengurus ke pindahan nya ke London, Hans sendiri tengah sibuk dengan bisnis dan juga pasien nya.
"Adis....."
ucap Lidia saat sampai di kampus, mobil nya berpapasan dengan mobil Lidia.
"Lidia......"
ujar Adis senyum, ke duanya berpelukan.
"kebetulan banget...kamu masih ambil cuti...?"
ujar Lidia menilik Ibra.
"enggak, awalnya Begitu tapi aku mau pindah kuliah ke London Li...!"
ucap Adis memperhatikan Lidia yang terus memperhatikan Ibra.
"ini Kakak ku, Li. masih jomblo...!"
"ih... kenapa kesitu situ?"
tutur Ibra yang langsung menoleh.
"enggak apa-apa kak, sekalian promosi..."
ujar Adis terkekeh membuat keduanya malu-malu.
lidia pernah bercerita pada Adis bahwa ia sudah putus dengan kekasihnya.
Adis pikir tak ada salahnya jika menjodohkan Lidia dan Ibra yang masih sama sama sendiri.
"dis... jangan langsung pulang.."
"kenapa?" tanya Adis.
"ikut aku yuk, kerumah saudara ku. dia lagi ngadain acara tujuh bulanan kandungan nya...!"
ajak Lidia, Adis menoleh pada Ibra meminta persetujuan.
"gimana kak ...?"
"ya udah, nanti sekalian kita tunggu Hans..."
ucap Ibra membuat Adis tersenyum.
"aku pikir kamu sama suami mu dis..?"
ujar Lidia menggandeng tangan Adis masuk ke dalam mobil, Ibra mengikuti dari belakang.
"aku udah cerai... Li."
ucap Adis membuat Lidia tercengang.
"kenapa kok bisa...?"
"ya bisa aja...!"
"enggak maksud aku tuh, kalian ada masalah apa? kok sama kayak sepupu ku."
"enggak cocok aja....!
sepupu kamu yang jadi istri kedua itu...!"
"ya yang sekarang lagi hamil dis tujuh bulan.."
ucap Lidia sambil fokus nyetir.
"kenapa...?"
"suami nya itu cinta banget sama istri pertama nya, padahal udah cerai... udah gitu tiba tiba jatuh miskin karena perusahaan nya beralih ke tangan orang lain..."
tutur Lidia membuat Adis tertegun. teringat seseorang.
beberapa bulan ini ia tidak mengetahui kabar tentang Arsan, ia hilang seperti di telan bumi.
bersambung.....
terima kasih yang sudah like...😍😍
__ADS_1