Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
masih kekasihku...


__ADS_3

Arsan duduk di ranjang merenung kan ucapan Ibra tadi, memang tidak ada alasan karena tak ada anak tapi justru cinta lah yang akan menjadi alasan kuat untuk melepaskan rindu, Akan ada banyak jalan jika memang Tuhan mentakdirkan untuk kembali bersama, tidak ada yang tidak mungkin jika itu yang menjadi ketetapan Nya.


Arsan berdiri menatap mobil Ibra yang keluar dari gerbang rumah, Arsan menunggu tukang untuk menggantikan kaca jendela yang pecah.


walau bagaimanapun rumah ini adalah tempat dimana terukir kenangan indah bersama kekasihnya itu.


...****************...


jauh di lubuk hati ku


masih terukir namamu


jauh di dasar jiwaku


engkau masih kekasihku.


tak bisa ku tahan laju angin.


untuk semua kenangan yang berlalu.


hembuskan sepi merobek hati.


meski raga ini tak lagi milik mu


namun di dalam hatiku sungguh engkau hidup.


entah sampai kapan


kutahan kan rasa cinta ini.


jauh di lubuk hati ku


masih terukir namamu.


jauh di dasar jiwaku


engkau masih kekasihku.


dan ku berharap semua ini


bukan lah kekeliruan seperti yang ku kira


seumur hidup ku


akan menjadi doa untuk mu.


andai saja waktu bisa ku ulang kembali.


akan ku serahkan hidup ku di sisi mu


namun ku tahu itu takkan mungkin terjadi.


rasa ini menyiksa ku.


sungguh sungguh menyiksa ku.


naff_ masih kekasihku.


...****************...


Arsan terhentak saat mengingat seseorang yang juga terkena dampak akibat diri nya yang seperti ini.


apakah mungkin suatu saat ia dan Adis bersama lagi, lalu bagaimana dengan salsa?


"kenapa sih Ar, kamu masih saja memikirkan dia?"


tanya salsa tadi pagi saat mereka tengah sarapan, pria itu berubah menjadi dingin.


"aku butuh waktu untuk melupakan nya, aku minta maaf sa....!"


ucap Arsan lalu kembali diam.


"lalu apa arti hadir nya aku di sini jika kamu tak menganggap ku ada, aku juga istri kamu.


aku bahkan sedang hamil....!"

__ADS_1


ucap salsa beranjak dari duduknya namun cepat Arsan meraih tangan nya dan mendudukkan nya di pangkuan.


"aku butuh waktu untuk kembali menjadi diriku seperti sebelum aku mengenal Adis, aku mohon bersabar dan berikan aku waktu...."


ucap Arsan menatap wajah salsa yang sendu.


"jangan seperti ini Ar, aku juga terluka....!"


ucap salsa lalu memeluk erat tubuh Arsan.


"maaf kan aku sa, aku akan berusaha untuk melupakan nya...!"


ucap Arsan menghapus air mata yang mengalir di pipi salsa.


Arsan beranjak dari duduknya lalu menoleh ke arah lemari yang terkunci, entah dimana kunci nya berada.


"dimana kunci nya ya?"


ucap Arsan lalu pergi ke luar untuk mengambil kunci cadangan.


Arsan pernah melihat beberapa laporan keuangan tentang pembayaran khusus di rumah sakit.


sebenernya sudah lama Arsan ingin mengecek hal itu namun ia belum sempat.


Arsan tertegun menatap beberapa strip obat obatan di laci lemari tersebut.


"obat apa ini....?"


gumam Arsan dalam hati, Arsan Juga melihat sebuah taspack dengan garis satu yang menunjukkan hasil negatif, jadi Adis pernah mengecek apakah ia hamil atau tidak, tapi kenapa bukan kah selama ini ia meminum pil penunda kehamilan.


Arsan mengambil obat obatan tersebut untuk menanyakan nya nanti pada teman nya yang menjadi salah satu dokter.


...****************...


Adis mengambil ponsel nya dan melihat beberapa Panggilan telepon dari Arid, pria yang beberapa waktu selalu menolong nya.


"kak.....!"


ucap Adis membuat Ibra langsung menoleh.


"ada apa?"


ucap Adis meminta.


"untuk apa dis...?"


tanya Ibra.


"ada yang harus Adis bicarakan sebentar saja...!"


ucap Adis dan di anggukan oleh Ibra.


"kamu tahu rumah nya?"


Adis mengangguk, ia harus menyelesaikan masalah ini, ia tidak ingin memberatkan arid.


"kalian dekat?"


tanya Ibra, Arid seperti menaruh perhatian lebih terhadap adiknya itu, terlihat berbeda saat mereka bertemu di rumah sakit.


"hanya teman, tapi entah lah dia.


arid itu asisten Arsan, aku dan dia dekat karena Arsan yang meminta nya untuk mengurus semua keperluan kuliah hingga mengantar jemput ku...!"


ucap Adis dan di anggukan oleh Ibra.


tak berapa lama mereka sampai di sebuah rumah yang cukup asri, satu kali Adis datang ke rumah itu bersama Arid.


Winda tertegun saat melihat Adis turun dari mobil bersama seorang pria.


Arid sendiri tengah berkemas untuk pergi ke Swiss esok pagi, paman nya sudah datang menjemput.


"jadi orang dulu setelah itu kamu bisa memilih perempuan mana pun yang kamu mau, karena kenyataannya perempuan tidak hanya butuh cinta tapi ia juga butuh materi..."


ucap Hasan membuat Arid termenung mengingat kejadian kemarin saat di restoran, ia sengaja mengikuti Arsan yang hendak bertemu dengan Ibra, di situ ia tahu kalau Adis memilih Hans untuk bersama dengan nya.

__ADS_1


sempat tak percaya tapi itulah yang ia dengar bahwa Adis memilih untuk bersama Hans, meski ia tidak tahu apa yang menjadi alasan perempuan itu.


"apa mungkin karena Hans memiliki segalanya hingga Adis memilih Hans..."


tanya Arid berpikir tidak baik pada Adis.


"atau ia hanya ingin membalas apa yang sudah Arsan lakukan padanya?"


banyak pertanyaan dalam dada arid namun tak ada jawaban, ia sendiri tak bisa menghubungi Adis kala itu.


"pergilah rid, untuk melanjutkan S2 mu, jodoh tak akan kemana? kalau pun kamu tidak berjodoh dengan nya, ibu yakin Allah sudah menyiapkan yang terbaik untuk kamu dan ibu.


ibu ingin kamu memikirkan masa depan mu juga....!"


"ya, Bu....Arid akan berkemas."


ucap arid lalu pergi ke dalam kamar, meyakini apa yang ibu nya lontarkan.


**


"assalamualaikum...."


ucap Adis mengetuk pintu.


gegas Winda membuka kan pintu.


"walaikumsalam...."


"Bu...."


ucap Adis tersenyum sambil mencuci tangan Winda.


"Adis ingin bertemu dengan bang Arid sebentar saja bisa Bu..."


ujar Adis meminta.


"masuklah...." ucap Winda tersenyum pada Ibra yang berdiri di belakang Adis.


"ini kak Ibra, dia kakak Adis dari Jakarta Bu..."


ucap adis memperkenalkan Ibra.


"saya Ibra..."


ucap Ibra sambil mengulurkan tangannya.


"Winda, kalian duduk ya..!


ibu panggil arid dulu.


adis duduk bersama Ibra.


tak berapa lama Arif keluar bersama winda dengan tergesa.


"Adis.....!"


ucap Arid menatap wajah Adis yang terlihat lebih segar setelah pengobatan itu.


"bang, Adis mau pamit pulang!"


"pulang?"


"ya, Adis akan pulang ke Jakarta bersama kak Ibra karena Adis dan bang Arsan sudah bercerai....!"


Arid tertegun mendengar hal itu, entah harus senang atau sedih mendengar hal itu.


"Abang turut prihatin dis.. boleh Abang bicara berdua dengan mu...!"


tanya Arid meminta persetujuan dari Winda dan Ibra.


"boleh, sebaiknya kalian bicara di taman belakang saja....!"


ucap Winda senyum.


ia yakin arid tidak akan mengecewakan nya dengan berubah pikiran mendengar Adis dan Arsan sudah berpisah.

__ADS_1


bersambung .......


terima kasih atas kunjungan nya 😍😍😍


__ADS_2