Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
teman.


__ADS_3

"diantara musibah terbesar adalah kamu jatuhcinta tetapi orang itu tidak mencintai mu _ imam Syafi'i"


Arid membasuh wajahnya di wastafel, memperhatikan wajah nya di cermin tampak sendu. pagi ini ia akan pergi ke Swiss bersama pamannya.


harapan nya seakan pupus saat perempuan itu menolaknya dengan halus, namun arid tak pernah merasa pupus harapan selama ada Allah dalam hatinya, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. ia juga tidak akan berhenti mendoakan kebahagiaan serta kesembuhan untuk Adis.


*


"ada apa bang?"


tanya adis duduk di hadapan arid yang menatap wajah nya.


"dis apa benar kamu akan bersama Hans...?"


Arid balik bertanya.


"oh soal itu, tidak itu hanya pura pura untuk membuat bang Arsan kesal karena upaya nya tidak berhasil meski sesungguhnya..."


ucap Adis menatap wajah arid dengan ekspresi tak terbaca.


"aku rasa Kamu sudah tahu soal bang Arsan yang hanya......"


ucap Adis kembali diam, kenapa ia jadi mengintimidasi Arid?


"maaf bang, apa ada hal lain selain itu...!"


ucap Adis yakin bahwa arid paham maksud nya.


arid menghela nafas berat, Apa ia juga harus memberi tahu soal Arsan yang menikah lagi.


ah tidak itu akan membuat nya semakin terluka.


"dis, aku akan pergi ke Swiss...!"


ucap Arid mengalihkan pembicaraan mereka, ia tidak ingin membahas tentang Arsan.


"Swiss...aku juga pernah punya keinginan untuk berlibur ke negara itu....!"


ucap adis terkekeh, teringat makan malam bersama Arsan di puncak. kedua nya membicarakan tentang liburan, tapi itu hanya mimpi yang hilang karena kini ia dan Arsan sudah berpisah.


"Adis, apa kamu mau menunggu Ku...?"


tanya Arid membuat Adis tertegun tak mengerti arah pembicaraan pria itu.


"aku akan pergi melanjutkan S2 di Swiss, sebenarnya aku.......!"


ucap arid terhenti lalu menarik nafas dalam.


"aku tahu mungkin tidak pantas aku mengatakan hal ini padamu, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri...!"


Adis diam sambil mencerna ucapan Arid.


"maaf kan aku jika aku jatuh cinta pada mu..."

__ADS_1


ucap Arid menunduk kan pandangan nya.


Adis tertegun dengan nafas tersengal tak percaya dengan penuturan pria itu.


"aku tidak punya apa-apa untuk bisa menggapai mu, tapi beri aku waktu untuk berusaha...!"


"tidak bang, maaf kan aku.....!"


"kenapa dis....?"


"maafkan Adis bang...


pertama Adis enggak pantas untuk kamu, carilah yang lebih baik dari ku.


yang kedua, aku tidak bisa menunggu karena aku tidak tahu mungkin Tuhan akan segera menjemput ku..."


"jangan bicara seperti itu, aku tak ingin mendengar hal itu, kamu akan sembuh...!"


"semoga saja, dan yang terakhir aku hanya menganggap mu teman, maaf kan aku bang karena aku masih mencintai nya....!"


ucap Adis dengan jujur, ia tidak ingin memberikan Arid harapan palsu, Adis ingin Arid melangkah tanpa harus mengkhawatirkan keadaan nya.


Arid tertegun mendengar penuturan Adis yang menohok hati nya, sakit nya jatuh cinta sendirian.


"Adis datang ke sini untuk berterima kasih karena selama Adis di Bandung, Abang udah banyak bantuin Adis... maaf kan Adis bang"


ucap Adis dengan wajah sendu.


"Abang paham dis, tapi boleh Abang titip rasa ini dalam setiap doa dan berharap Allah membalikkan hati mu untuk tidak condong pada nya.....Abang tahu Abang tidak punya banyak uang untuk membahagiakan kamu..."


"bukan itu bang, demi tuhan....Adis minta maaf, serahkan saja pada yang memiliki kehidupan karena Adis Juga tidak tahu sampai kapan Adis bertahan...!"


"jangan seperti itu dis, kamu membuat Abang sedih...!"


"maaf kan Adis bang, pergilah mencari ilmu, menggapai mimpi dan bahagiakan ibu...."


"tapi kamu harus janji untuk sembuh, apa pun keadaan kita Abang mau melihat kamu bahagia...Abang terlanjur sayang kamu..."


ucap Arid menitik kan air mata nya.


"kalau kamu berjanji, Abang akan pergi dengan tenang....!"


"Adis akan berusaha semaksimal mungkin bang... jangan menangis...!"


ucap Adis senyum.


ungkapan rasa itu membuat nya lega sekaligus sakit karena Adis menolak nya, namun Arid percaya bahwa tak ada yang tak mungkin jika memang kedua nya berjodoh.


"aku akan titipkan rasa ini padanya, aku yakin bahwa Allah sudah menyiapkan yang terbaik dengan waktu yang tepat, saat ini aku berusaha untuk menerima semua keputusan nya....!"


**


dulu Rey, sekarang arid.

__ADS_1


dua hati yang patah karena nya, tapi itu lebih baik karena dengan memberikan harapan justru akan membuat nya terluka parah saat kenyataan mengatakan bahwa ia tak mampu bertahan.


Adis dan Ibra langsung pamitan setelah percakapan singkat berujung pilu itu.


Ibra memperhatikan Adis yang terlelap tidur dalam pelukan nya, gadis itu menangis setelah masuk ke dalam mobil.


Ibra sendiri tak banyak bertanya hanya memberikan pundak untuk nya bersandar, entah seperti apa kedekatan yang terjalin di antara keduanya, arid sendiri tampak sendu saat mereka berpamitan pulang.


entah apa yang mereka bicarakan, Ibra membiarkan Adis menangis hingga terlelap tidur, kota kembang yang indah dengan sejuta cerita juga setumpuk kenangan pahit menggores di hati nya.


...****************...


pagi....


Adis menatap langit cerah dengan awan putih menumpuk dengan indah, pagi ini Arid pergi ke Swiss.


"melepaskan adalah pilihan terbaik diantara harapan yang mungkin hanya akan menjadi angan..."


"semoga kamu mendapatkan kebahagiaan kamu di sana bang, kamu orang baik dan aku yakin Allah sudah menyiapkan seseorang yang baik juga untuk kamu, bukan aku...."


ucap Adis dengan pilu, ia tidak ingin mencari pelarian atau pun pelampiasan, bukan jera atau mati rasa hanya butuh waktu untuk sendiri karena sesungguhnya waktu lah yang akan mengobati luka itu.


"selamat pagi...."


ucap Ibra saat Adis turun dari tangga.


"pagi kak...."


ucap Adis senyum, gadis itu tampil cantik dengan dress muslim dan pasmina sifon berwarna hitam.


"jadi rencana kamu selanjutnya apa?"


tanya Ibra karena Adis akan melanjutkan kuliah nya tahun ajaran yang akan datang karena saat ini ia akan fokus pada kesehatan nya.


"apa ya....kerja mungkin, bantuin kakak di kantor aja gimana?"


"boleh banget.....!"


ucap Ibra senyum.


tentu saja kepulangan Adis ke Jakarta di dengar oleh Bastian dan keluarga namun mereka kecewa karena Adis tampak baik baik saja setelah apa yang terjadi.


"ada apa lagi bas?"


tanya Arsan saat Bastian datang ke perusahaan Arsan yang semakin maju setelah keduanya bekerja sama.


setan berbisik hingga timbul rasa iri dalam hatinya untuk menguasai perusahaan Arsan.


bersambung....


jangan lupa like dan komentar ya...


terima kasih yang sudah mampir 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2