Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
perjuangkan.


__ADS_3

pagi itu matahari bersinar terang menyilaukan mata yang menyipit ke arah jendela yang terbuka, salju Masih turun dengan sendirinya membiarkan jiwa jiwa dengan rasa dingin nya.


Ibra membuka pintu kamar Adis, terlihat perempuan itu masih tertidur pulas dengan selimut tebalnya.


Ibra masuk dan mengamati wajah Adis yang tampak begitu pucat seakan tak ada darah yang mengalir dalam tubuh nya.


"de..


ayo kita pulang! nanti kita balik lagi ke sini...


kakak janji akan penuhi keinginan kamu asal kamu kembali berobat..."


ujar Ibra saat mereka tengah Makan malam.


Adis menyimpan sendok dan garpu ke piring berbentuk bundar yang berada di hadapan nya.


"Adis enggak mau kak, adis enggak mau balik ke dokter Hans...?"


"ya tapi kenapa?"


"Adis udah bilang, metode apapun enggak akan berhasil itu hanya mengulur waktu saja, ibu juga meninggal kan? padahal beliau sudah berobat ke luar negeri dan yang lainnya...."


"setidaknya kita harus berusaha de, jangan pesimis seperti itu...?"


ucap Ibra menunduk, hal itu memang benar adanya tapi ia ingin Adis sembuh maka jalur apapun akan ia tempuh demi kesembuhan adik nya.


"Adis udah pasrah....."


ucap Adis beranjak dari duduknya meninggalkan mereka yang mematung dengan pilu.


"bra, apa mungkin jika Arsan yang membujuk Adis mau berobat lagi...."


ujar ane memberikan saran.


"enggak Tante, Ibra enggak mau Adis kembali dengan Arsan..."


"kenapa? setiap orang berhak memperoleh kesempatan kedua, tante paham Arsan sudah banyak membuat kesalahan tapi dia menyesal dan ingin memperbaiki semua nya,


jangan sampai nanti kamu menyesal lagi seperti dulu kamu kehilangan Alya..."


ucap ane membuat Ibra tertegun.


"kasus nya beda Tante....!"


"beda bagaimana, kasus nya sama saja mereka memohon kesempatan kedua, dan apa yang kamu lakukan jika Alya selamat dalam rencana bunuh diri nya, Tante yakin kamu akan meraih dan memaafkan nya, Adis itu sama seperti Alya yang ingin hidup dengan orang yang ia cintai, ia bahkan memilih untuk mengakhiri hidupnya dari pada berpisah dengan mu, hati kakak mana yang tak hancur melihat adiknya bunuh diri karena cinta...jadi kan kejadian masa lalu sebagai pelajaran berharga... pikir kan itu bra. kasihan Adis. Tante yakin ia ingin bersama Arsan?


Tante memperhatikan beberapa hari dia selalu mengigau memanggil Arsan, dan ia tidur dengan lelap saat bersama arsan di rumah sakit."


ujar ane dan di angguk kan oleh Rahma yang ikut mendengarkan.


"jangan ada lagi luka berkepanjangan..."


**


"de, bangun. ini sudah siang. kita pergi jalan jalan ke alun-alun kota yuk... kamu enggak pegel tidur terus de..."

__ADS_1


"enggak, Adis lemes kak...."


"ya udah kakak gendong ya...."


Adis menggeleng kan kepala nya.


"de, maafin kakak ya! jangan seperti ini kamu harus berobat de...!"


ucap Ibra menunduk.


apa ia harus menemui Arsan agar membujuk Adis agar mau berobat, jika seperti itu artinya Ibra menerima Arsan untuk kembali dengan Adis.


Ibra terus menimbang nimbang langkah bagaimana langkah selanjutnya agar Adis mau pergi berobat,


Ibra keluar dari kamar meninggalkan Adis yang kembali melanjutkan tidur nya.


Ibra teringat sang ibu yang lebih suka menghabiskan sisa waktu nya untuk tidur,dan itu membuat nya begitu sesak.


Ane memperhatikan Ibra yang keluar dari kamar dengan menyeka air matanya.


"bra, ada Arsan dan ibunya datang...."


ucap ane membuat Ibra tertegun.


terlihat Rahma sudah berada di hadapan mereka, Arsan berdiri saat melihat Ibra mendekati mereka.


"Adis di kamar nya....."


ucap Ibra lalu berlalu pergi dari hadapan Arsan, ternyata arsan juga datang bersama regina yang duduk di samping Salamah yang tertegun melihat Ibra yang pergi keluar.


ucap Rahma berharap dengan datangnya Arsan mampu mengembalikan semangat Adis.


Rahma juga tidak menyangka kalau Arsan akan datang setelah dua hari mereka pulang dari rumah sakit.


Arsan menghela nafas lalu melangkah menuju kamar Adis. Arsan mendorong pintu yang tidak terkunci, terlihat Adis tengah meringkuk dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"dis......."


ucap Arsan lirih menyentuh tubuh Adis yang tak bergeming.


"dis, Abang datang untuk membawa mu pulang...."


ujar Arsan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Adis.


"dis......"


ucap Arsan tak sanggup menahan air matanya melihat kondisi Adis yang begitu pucat.gegas ia memeluk erat tubuh kecil itu.


"maafkan Abang dis, jangan hukum Abang seperti ini.... Abang mohon."


ucap Arsan, Adis tetap bungkam tubuh nya benar-benar lemas.


"dis..ayo kita pulang ke Indonesia, atau kita pergi kemana yang kamu suka, kamu harus sembuh...."


ucap Arsan masih memeluk Adis yang hanya terisak.

__ADS_1


"dis..."


ucap Arsan menyandarkan tubuh Adis pada dada bidang nya, mendekapnya erat.


*


sore itu Harun datang ke kantor, terlihat Arsan tengah menyelesaikan pekerjaan nya. lusa ia berencana untuk datang menemui Adis di kediaman nya.


tubuhnya berada di gedung tinggi itu, namun tidak dengan pikirannya yang hampir terkuras habis memikirkan bagaimana keadaan perempuan itu. ia bahkan tak peduli dengan sikap Ibra yang mungkin akan mengusirnya lagi.


"ada apa yah?"


tanya Arsan saat Harun Duduk di hadapan Arsan.


"ayah langsung saja pada pokok bahasan, berhenti lah mengejar perempuan itu..."


ucap Harun membuat Arsan tertegun.


"Arsan Jangan sampai karena perempuan hubungan mu dengan Rey tidak baik, carilah yang lebih baik. salsa...


dia bahkan sudah memberikan ku cucu, tapi kenapa kalian berpisah, apa kamu tidak kasihan dengan Al...!!?"


ucap Harun membuat Arsan menghela nafas.


"ayah tahu semua itu...?"


Harun mengangguk.


"tapi ayah tidak paham apa yang Arsan rasakan, Arsan memang banyak melakukan kesalahan. Arsan juga menyakiti salsa, tapi Arsan tidak mencintai nya.maafkan Arsan karena hanya mencintai Adis. dan jangan halangi Arsan Untuk memperbaiki semua nya yah...."


ucap Arsan membuat Harun tertegun.


"kalau ayah ingin mengambil semua yang sudah ayah berikan karena Arsan tidak menuruti keinginan ayah, silahkan. Arsan akan berjuang sendiri, arsan tidak akan mampu menjauhi Adis. Arsan tidak ingin seperti ayah hidup dalam bayang bayang ibu, itu menyakitkan....untuk apa uang banyak tapi kita sengsara dalam perihal hati....apa pun itu Arsan akan perjuangkan, karena Arsan tahu Adis juga mencintai Arsan....!"


ucap Arsan membuat Harun membisu.


gegas Arsan membereskan semua barang barang nya.


"Arsan tunggu...."


ucap Harun menghentikan gerak Arsan yang tengah berkemas.


"maaf kan ayah Arsan... pergilah bawa Adis ke Jerman untuk pengobatan, kamu pakai saja pesawat pribadi Ayah...."


ucap Harun membuat Arsan langsung memeluk Harun.


"perjuangkan..


ayah akan mendukung mu, jangan pikirkan masalah biaya, bawa dia ke Jerman. ayah punya kenalan dokter spesialis kanker yang hebat... semoga ia bisa membantu mu, nanti ayah akan menghubunginya...!"


"terima kasih ayah..."


ucap Arsan memeluk Harun yang menepuk punggung nya, memberikan kekuatan.


bersambung...

__ADS_1


terima kasih yang udah mampir 😍😍😍


__ADS_2