Suami Pilihan Kakak

Suami Pilihan Kakak
lebih baik.


__ADS_3

dua jam berlalu akhirnya mereka sampai di rumah sakit kota solingen, rumah sakit yang mendapatkan sertifikat klinik pengobatan kanker terbaik di Jerman.


Ibra dan Hans yang mengurus semua pendapataran sementara Arsan yang menemani Adis di ruang pemeriksaan dokter.


Arsan mencermati semua apa yang dokter ucapkan, bahwa selalu ada kesempatan untuk sembuh bagi mereka yang optimis.


Adis memperhatikan semua arahan dokter untuk pengobatan Adis hingga keadaan nya lebih baik, Arsan bahkan meminta dokter memberikan pelayanan terbaik untuk Adis dari segi obat dan yang lainnya.


"bang ...."


ucap adis menyentuh tangan Arsan.


"HM...?"


Arsan menoleh memperhatikan Adis yang tengah menatapnya.


"masih dingin? atau ada yang sakit?"


ucap Arsan menyelimuti tubuh adis dengan selimut tebal berbahan halus.


"bang, biaya berobat disini tuh mahal, dulu aja kak Ibra enggak sanggup bawa ibu ke sini!"


ujar Adis membuat Arsan tersenyum lalu mencium kening nya lama.


"dengarkan Abang, uang bisa di cari tapi kamu. enggak akan pernah terbayar oleh apapun. semahal apapun biaya nya, Abang akan kerja keras banting tulang untuk kesembuhan kamu. biarkan Abang menebus semua kesalahan Abang...!"


ucap Arsan membuat Adis tertegun, kehadiran nya yang mampu memberikan semangat baru bagi jiwa nya rapuh, ternyata kesungguhan nya membawa pengaruh positif dalam hidup Adis hingga timbul keinginan untuk sembuh dari rasa sakit itu.


"kamu mau kan rujuk sama Abang?"


tanya Arsan membuat Adis membeku.


"kita mulai dari awal, berjuang bersama dalam perjalanan panjang hingga menua..."


ucap Arsan menatap netra milik Adis, menyelip kan rambut nya ke belakang telinga.


"de, kamu mau kan hidup sama Abang lagi?


Abang tahu tidak mudah melupakan apa yang udah Abang lakuin sama kamu de.. tapi Abang akan buktikan sama kamu kalau Abang benar benar sayang sama kamu...dan kamu mau kan maafkan Abang de?"


Adis terpaku mendengar semua itu, ia mengamati wajah Arsan tampak dengan kesungguhan.


"de... kita rujuk ya!"


pinta Arsan menggenggam tangan Adis.


Adis mengangguk kecil sambil tersenyum manis membuat Arsan langsung mencium lagi kening perempuan itu.


Ibra tersenyum saat sedikit membuka pintu melihat Adis dan Arsan tengah bercanda, setelah sekian lama Ibra tidak pernah melihat tawa lepas adik nya itu, selama ini hanya senyum paksa yang selalu ia tampakkan di keseharian nya, ternyata hanya cinta yang mampu merubah semua itu, hanya cinta yang mampu memberikan pintu maaf. semoga ke depannya adik nya itu bisa menemukan kebahagiaan.


beberapa hari berlalu....

__ADS_1


keadaan Adis sudah jauh lebih baik, Adis dan Arsan meminta restu pada Ibra untuk rujuk.


Hans sendiri sudah kembali ke Indonesia karena banyak nya pekerjaan yang sudah ia tinggal kan. hanya untaian doa tersemat dalam hatinya untuk Adis dan Arsan, sempat mengagumi sosok keindahan wanita itu namun orang lain lebih dulu memiliki nya, seperti hal nya Arid, Hans juga berharap kedepannya bisa lebih baik dan Adis bisa sembuh dari penyakitnya.


"Kakak udah cari penghulu di sini, untuk sementara waktu kalian nikah siri saja dulu sampai kita nanti urus lagi di Indonesia, yang terpenting sekarang adalah apapun yang kalian lakukan itu enggak jadi dosa..."


ujar Ibra tersenyum.


"terima kasih kak ... sudah mau menerima Arsan!?"


ucap Adis menggenggam tangan Ibra.


"tentu saja karena dari awal Juga kakak yang pilihkan Arsan untuk kamu, semoga kedepannya bisa lebih baik dan anggap saja kejadian lalu itu sebagai ujian rumah tangga kalian.....nikah itu ibadah paling panjang, maka lakukan lah setulus hati...!"


ucap Ibra mengusap kepala adik nya.


"Ar.. tolong untuk kedepannya Lo jaga adik gue dengan kesungguhan cinta yang Lo miliki, gue kasih Lo kesempatan untuk memperbaiki semuanya...."


ucap Ibra dan di anggukan oleh Arsan yang langsung memeluk nya.


beberapa waktu berlalu, semua proses berjalan dengan lancar. Arsan dan Adis sudah kembali menjadi sepasang suami istri dan semua proses berlangsung di rumah sakit, tak ada kebaya pengantin dan yang lainnya hanya ijab qobul yang membuat keadaan terasa begitu hikmat.


Arsan mencium Adis yang duduk di ranjang dengan kerudung instan nya, masih seperti mimpi. sesuatu yang beberapa waktu hilang dalam genggaman nya kini kembali ke dalam pelukannya.


"ya Allah berkahilah aku untuk istri ku, dan berkahilah istri Ku untuk ku...!"


ucap Arsan mengusap kepala istri nya.


"Alhamdulillah......!"


"semoga kalian bahagia ya, saling menjaga dalam keadaan apapun, saling memberi tanpa menuntut apa-apa...saling memahami dan mengesampingkan ego masing-masing.


jalin komunikasi baik jangan sampai kejadian lalu terulang lagi..."


ucap Ibra dengan tulus menatap keduanya.


"semoga kali ini aku tidak salah mengambil keputusan...!"


gumam Ibra.


tak ada acara apa apa hanya mereka berempat yang hadir sebagai wali dan pihak rumah sakit sebagai saksi.


"de, sore ini kakak pulang dulu ya ke Indonesia, ada urusan di kantor!"


ujar Ibra saat mereka sudah bertiga.


"ya sudah enggak apa-apa kak... kakak urus saja dulu pekerjaan kakak, maaf Adis sudah banyak merepotkan...!"


"jangan berkata seperti itu, kakak dan yang lainnya ingin kamu sembuh, jadi kamu harus optimis ya!"


Adis mengangguk.

__ADS_1


setelah itu Arsan mengantar Ibra keluar dari ruangan itu.


"gue titip Adis ya, gue harap Lo enggak menyia-nyiakan kesempatan ini karena setelah nya tidak akan ada lagi kesempatan ketiga dan seterusnya..."


ujar Ibra saat hendak melangkah pergi.


"ya, aku akan buktikan sama kamu kalau aku sungguh sungguh ingin memperbaiki semua nya..."


"terus gimana soal salsa? jangan berpikir kalau gue enggak tahu apa apa...!"


ucap Ibra yang memang mencari tahu informasi tentang Arsan setelah berpisah dengan Adis.


"kalau soal itu, aku cuma enggak mau lepas tanggung jawab dari anak aja. dan lagi salsa juga udah Nerima keadaan ini...!"


ucap Arsan.


"beruntung banget karena Lo di cintai sebegitu besar nya oleh dua perempuan,dan bahkan Adis mau menerima Lo dengan lapang, ya gue sih yang terpenting adalah kebahagiaan nya, jadi gue minta Lo jangan sakiti adik gue lagi, dan soal Bastian nanti gue yang urus...!"


ucap Ibra lalu pergi Meninggalkan Arsan yang berdiri di depan pintu.


"aku akan buktikan sama kamu bra, kalau kamu enggak pernah salah memilih aku..."


gumam Arsan lalu masuk ke dalam ruangan.


"udah berangkat kak Ibra?"


tanya Adis saat Arsan masuk ke dalam.


"sudah....!"


ucap Arsan duduk di tepi ranjang memperhatikan istri nya itu.


keadaan Adis sudah jauh lebih baik di banding kemarin, semoga kedepannya perempuan itu bisa benar benar sembuh dari penyakitnya.


"kenapa bang?" tanya Adis menunduk.


"rambut Adis sedikit rontok...!"


ucap nya lagi balik menatap Arsan.


"enggak apa-apa itu pengaruh obat nanti juga tumbuh lagi..... Abang cuma mau berpesan?"


ucap Arsan sambil mengelus rambut Adis.


"apa bang?"


tanya Adis penasaran.


"jangan minum obat penunda kehamilan lagi ya....!"


desis Arsan di telinga Adis sambil terkekeh kecil membuat Adis menganga.

__ADS_1


bersambung...


terima kasih yang sudah mampir 😍😍😍


__ADS_2