
Adis berjalan beriringan memasuki kantor bersama Ibra yang merangkul pundak nya, begitu terasa perubahan pada tubuh adiknya itu, Adis memang terlihat lebih kurus dari bobot tubuhnya yang dulu sedikit berisi.
apa karena penyakit itu?
dulu ibu nya juga mengalami penurunan berat badan yang drastis akibat penyakit yang di deritanya itu, kenapa Adis harus menderita penyakit yang sama?
"pak Ibra?"
ucap Liza sekertaris Ibra.
"ya ada apa Liza...?"
Adis tersenyum.
"ada Bu Zara menuggu di dalam bersama pak Wira...!"
ujar Liza senyum, beberapa waktu ini perempuan itu datang untuk menawarkan kerjasama perusahaan, hanya Ibra belum memberikan jawaban karena merasa Zara seperti tengah mendekati nya.
"siapa Zara kak....?"
tanya Adis dan di tanggapi dengan mengedik kan bahu nya.
"hai bra, nih Zara udah nunggu...!"
ucap Wira lalu senyum pada Adis, berbeda dengan ekspresi wajah Zara yang langsung diam melihat Ibra merangkul pundak Adis.
"kak, aku mau ke toilet sebentar....!"
ucap Adis senyum berlalu pergi.
"sudah lama menunggu?"
"tidak, aku juga baru sampai?"
ucap Zara lalu duduk di kursi dekat Wira.
"jadi bagaimana dengan penawaran ku...."
ucap Zara yang langsung pada pokok pembahasan.
"Menurut mu bagaimana ra....?"
"kok menurut gue, Lo kan bos nya?"
perusahaan Ibra adalah perusahaan yang bergerak bidang industri, Zara sendiri bekerja sebagai marketing pemasaran, sebenarnya Ibra tak membutuhkan Zara karena ia sudah memiliki partner kerja dalam bidang tersebut.
"zara aku tertarik pada konsep mu ,tapi saat ini aku sudah memiliki partner kerja dalam bidang itu..."
ucap Ibra duduk di kursi kebesaran nya.
"tapi aku ingin sekali kerja di sini...."
ucap Zara, jujur ia menyukai pria dingin itu.
sebenarnya bukan hal yang sulit ia bisa meminta bantuan sang ayah, namun Zara ingin berusaha sendiri untuk hal itu.
Zara memperhatikan Adis yang baru saja keluar dari toilet, gadis itu tampak pucat.
Adis senyum lalu duduk di sofa sambil bersandar, tak menghiraukan mereka yang tengah berbicara.
"ya udah kamu boleh bergabung dengan tim marketing kami, bagaimana?"
tanya Ibra, ia malas untuk berdebat lagi, lebih baik menyelesaikan masalah ini, Ibra akan meminta Rahman menetapkan nya di lapangan.
"baik, aku setuju....!"
ucap Zara dengan antusias.
"ayo ikut dengan ku...!"
titah Wira sambil beranjak dari duduknya, sementara Ibra menghampiri Adis yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
"siapa itu kak..? cantik..."
ujar Adis senyum saat Ibra duduk di samping nya.
"Beberapa kali datang, dia itu sebenarnya anak dari kolega bisnis kakak...!"
"dia suka dengan kak Ibra?"
tanya Adis senyum.
"semoga saja tidak, agar ia tidak patah hati?"
"kenapa harus patah hati?"
Ibra diam tak menjawab.
"sampai kapan kakak terpaku pada mada lalu?
siapa sih perempuan yang membuat kakak betah menyendiri? padahal kakak tidak sedikit pun kekurangan materi...!"
"ya, kakak tahu itu, tapi seseorang itu tak mudah untuk kakak hapus kan namanya di sini..!"
ucap Ibra menunjuk dada nya.
"penyesalan yang mendalam yang membuat kakak tak bisa memaafkan diri sendiri...!"
ucap Ibra lagi lalu menunduk.
"harusnya kakak tidak membatalkan pernikahan itu hingga ia nekat melakukan hal itu... bahkan hal itu menjadi penyebab kesedihan mu... maafkan kakak!"
ucap Ibra merengkuh tubuh adiknya itu.
"Adis mengerti?"
ucap adis yang tidak menahu awal cerita mereka.
"kakak selalu menyempatkan waktu untuk berziarah ke makam nya jika kakak ke Bandung...
terakhir saat kakak datang ke rumah mu."
"jadi karena itu keluarga mereka menyalahkan kakak sebagai alasan kak Alya bunuh diri.."
"ya, tapi semua terjadi bukan karena kakak sengaja.... kakak hanya ingin orang yang sudah menghamili nya bertanggung jawab..."
ucap Ibra yang merasa tidak terima saat ia lah yang harus bertanggung jawab.
salah kah ia menuntut kesucian dari perempuan yang akan ia nikahi?
"semua sudah berlalu kak, cobalah untuk melihat ke depan, kakak tidak boleh terus menerus menoleh ke belakang...."
ucap Adis mencoba memahami keadaan itu, adis sendiri tidak menyalahkan Ibra tentang permasalahan hidup nya.
"kakak ingin fokus sama kamu dulu de.."
ucap Ibra mengelus kepala Adis yang berbalut pasmina.
"Adis baik baik saja, sekarang juga Adis sudah berobat kak, kalau pun Adis akan pergi adis ingin melihat kakak menikah..."
Adis berucap memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"jangan berkata seperti itu....kamu harus sembuh, dan setelah itu kakak tidak akan memaksa mu dengan pilihan kakak lagi..."
ucap Ibra menyesal memilih Arsan untuk adik nya itu.
"kak, semua sudah Allah tentukan.
kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti...Adis sudah ikhlas dengan semua rasa kecewa ini..."
ucap Adis yang kembali mengingat Arsan yang jujur begitu ia rindukan.
Ibra sendiri sudah memutuskan hubungan kerja sama mereka, setelah perceraian Adis selesai ia tidak ingin ada pada hubungan dengan arsan dan Bastian.
__ADS_1
"kak, Adis rasa kak Zara itu perempuan yang baik....!"
"entah lah, Jangan bahas tentang dia lagi, kakak rasa dia itu terlalu agresif...!"
ucap Ibra terkekeh lalu beranjak dari duduknya mengambil beberapa berkas.
tak ingin lagi membahas masa lalu yang hanya menyesakkan dada.
"kamu pelajari ya, kakak juga mau lanjut kerja.
biar kamu enggak bosan aja...!"
"baiklah....ide yang bagus...!"
ucap Adis senyum.
sore itu adis meminta untuk mampir ke salah satu super market yang tak jauh dari kantor, Ibra membelokkan mobil nya ke arah parkiran tersebut.
"Kakak tunggu di mobil ya!" ujar Ibra.
adis mengangguk sambil beranjak keluar dari mobil.
Adis memilih beberapa cemilan dan juga buah buahan yang menjadi favorit nya.
Adis Juga berbelanja kebutuhan nya, teringat seseorang yang selalu menemani nya berbelanja ketika di Bandung. mungkin pria itu sudah sampai atau masih dalam perjalanan menuju Swiss. Arid merupakan teman baik yang tak mungkin ia lupakan.
Adis bergegas menuju kasir terlihat seorang ibu tengah berbicara dengan kasir seperti memohon maaf.
"ada apa mba?"
tanya Adis menghampirinya.
"enggak, si ibu ini belanja tapi dompet nya hilang....!"
"masa Allah... kasihan? jatuh Atau bagaimana?"
adis menatap wanita paruh baya itu.
"Ibu tadi ingat bawa dompet nya tapi pas di cek di tas tidak ada...!"
ucap ibu itu.
"ya sudah biarkan adis yang bayar belanjaannya bu...!"
"tidak usah nak.... tidak apa apa ibu tidak jadi belanja saja!"
"Tidak apa-apa....!" ucap Adis memberikan kartu ATM nya pada kasir.
"terima kasih nak ..kamu bukan hanya cantik tapi kamu baik sekali...!"
"ya Bu, ya sudah ini belanjaan nya... nama ibu siapa?"
"salamah, nama nak ini siapa?"
Adis tertegun mendengar nama ibu itu, ia seperti pernah mendengar dan tidak asing dengan nama itu tapi dimana?"
"nama saya Adis bu ..!"
ucap Adis senyum sambil berpikir tentang ibu itu, Adis juga menawarkan tumpangan pada ibu itu karena ibu Salamah tak memegang uang sama sekali.
"terimakasih untuk semua kebaikan nya, semoga Allah membalas kebaikan nya dengan bertubi-tubi kebahagiaan....!"
ucap Salamah menatap wajah cantik Adis yang tersenyum Kecil.
"ibu itu siapa de...?" tanya Ibra saat Salamah sudah menjauh.
"nama nya Salamah, dompet nya hilang. kasihan...!"
ucap Adis Masih mengingat nama itu.
bersambung....
__ADS_1
terima kasih atas kunjungan nya.
jangan lupa like dan komentar nya 😍😍😍