
Adis termenung sendiri di meja makan, sudah tiga hari Arsan di Jakarta tanpa memberi kabar apapun pada nya.
"dis, apa kamu bahagia dengan Arsan?"
tanya Ibra saat ia hendak pulang kemarin.
"bahagia kak, Arsan baik....!"
ucap Adis tersenyum paksa, meski Ibra merasa ragu dengan senyum palsu yang Adis tampak kan.
Ibra menghela nafas lalu berkata.
"kakak berharap suami pilihan kakak itu orang yang tepat untuk kamu de, karena kakak yang bertanggung jawab atas hal itu....!"
ucap Ibra merengkuh tubuh adik nya.
"ya, kak Adis berharap bisa bahagia seperti kak Rahma dan kak Ilyas....!"
ucap Adis mengangguk penuh harap.
"ya sudah, kakak pulang dulu. sampai kan salam untuk arsan dari ku, kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak ya de!"
ucap Ibra melangkah menuju mobil.
"ya, kak... hati hati di jalan nya!"
Ibra mengangguk, kembali menoleh pada Adis lalu memeluk nya erat.
**
Adis berinsiatif untuk menghubungi Medina dan menanyakan perihal Arsan, karena kini Arid tak lagi bekerja di perusahaan suami nya itu.
semenjak pertemuan di masjid itu mereka tak pernah bertemu lagi karena Adis juga tengah sibuk dengan ujian semester nya.
"halo, kak Medina...."
ucap Adis saat Medina mengangkat telpon dari nya.
"ya, halo Adis..."
"apa pak arsan ada di kantor....?"
"tidak ada, beliau belum kembali dari Jakarta, semua pekerjaan ia kirim lewat email.."
"apa kamu punya nomor nya yang baru....?"
"tidak ada karena saya juga berkomunikasi lewat email..."
"ya sudah, terima kasih....!"
ucap Adis lalu menutup telfonnya dan beranjak dari duduknya.
Adis melajukan mobilnya menuju kampus, ia harus fokus karena tengah ujian semester, kalau Terus memikirkan Arsan hal itu akan membuat nya susah berkonsentrasi.
"kenapa di saat aku ingin memperbaiki semua nya, keadaan justru semakin memburuk.
dia semakin asing, apakah yang terjadi karena kekecewaan nya terhadap ku...!"
ucap Adis menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
***
siang.....
siang itu Ibra pergi makan siang bersama rekan kerja nya di sebuah mall yang letaknya tak jauh dari kantor.
Ibra memperhatikan seseorang yang ia kenal tengah makan siang bersama seorang perempuan, namun arsan terlihat sibuk dengan laptop nya.
"Arsan......"
ucap Ibra menghampiri membuat Arsan terperangah namun cepat menguasai keadaan karena ia tengah bersama Salsa.
"Ibra...."
__ADS_1
ucap arsan senyum berdiri.
"kamu sedang apa di sini? aku pikir kamu sudah kembali ke Bandung?"
ucap Ibra sambil melirik ke arah salsa yang terdiam.
"belum, ini aku sedang menyelesaikan pekerjaan ku. ini salsa dia klien ku...."
ucap Arsan memperkenalkan salsa yang langsung berdiri.
"oh, gitu....!"
ucap Ibra senyum.
"ya, ayo makan siang bersama....!"
ajak Arsan mencoba untuk tenang.
"ah, tidak aku harus pergi...lain kali saja Ar, pulang lah kasihan adik ku sendirian...."
ucap Ibra membuat Arsan tertegun.
"sejak kapan dia tahu aku pergi, apa Adis meminta Ibra mencari keberadaan ku?"
gumam arsan dalam hati.
"dia siapa Ar...?" tanya salsa saat Ibra sudah pergi.
"dia kakak nya Adis...sore ini aku akan kembali ke Bandung!"
ucap arsan lalu menutup laptopnya, untung ia membawa laptop hingga Ibra tak curiga pada nya.
"Wil, besok aku akan kembali ke Bandung, tolong kamu selidiki apa yang kemarin aku kirimkan pada mu....!"
ucap arsan langsung menelpon seseorang.
"cepat selesai kan makan nya, kita akan kembali ke apartemen...."
"aku ingin kamu segera berpisah dengan perempuan itu....!" ucap salsa membuat Arsan langsung mendongak.
"kenapa kamu menginginkan hal itu? aku tidak akan berpisah dengan Adis....!"
ucap arsan membuat Salsa menganga.
"kamu ingat kan ucapan Ku saat kamu meminta ku untuk menikah dengan mu....
kamu harus menuruti apapun yang menjadi keputusan Ku....!"
ucap arsan membuat Salsa membeku.
**
waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Adis masuk ke dalam kamar setelah menonton TV bersama pembantu, karena hanya pembantu lah yang menjadi teman nya di rumah itu.
Adis membuka jendela kamar saat melihat beberapa mobil masuk ke dalam rumah, gegas Adis keluar dari kamar.
"anda siapa ya tuan...." ucap pembantu membuka pintu terlihat takut karena melihat beberapa pria yang masuk ke dalam rumah dengan jas hitam nya mencari seseorang.
"mana Salamah dan Anak nya....."
ucap seseorang dengan lantang, sementara Adis diam mendengar kan dari atas.
"siapa ya maksud tuan....?"
"Arsan dan salamah, Aku ingin bertemu dengan nya....!"
"pak Arsan tidak ada dirumah, beliau di Jakarta...!
ada perlu apa tuan?" tanya pembantu rumah.
"mana Istri nya......!"
ucap orang itu dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"tidak ada tuan, ke Jakarta....!"
"jangan bohong......!
geledah rumah ini.......!" ucap orang itu berteriak memberikan perintah.
"astagfirullah, ada apa ini..."
Adis langsung berlari ke tangga yang berada di belakang kamar, siapa mereka dan mau apa?
Adis berlari keluar mengendap dari rumah lewat jalur belakang, ia takut menghadapi mereka.
"bos, itu seperti nya istri Arsan....!"
ucap salah satu yang berjaga di luar.
Adis terperangah saat pandangan tertuju pada nya, bergegas ia lari dari rumah itu.
"ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi?"
ucap Adis sambil berlari, mereka seperti kelompok mafia.
"hai jangan kabur.....!" ucap seseorang membuat Adis mempercepat larinya.
"ya Allah lindungilah aku, tolong Aku!"
ucap Adis celingukan mencari tempat untuk bersembunyi.
keadaan tampak sepi, hujan turun membuat nya semakin kalut karena orang orang itu masih mengejar.
Adis bersembunyi di balik kardus bekas yang berada di ruko tua, keadaan semakin mencekam saat orang orang-orang itu semakin mendekat.
sekuat tenaga Adis menahan air matanya, kaki nya bahkan terasa sakit karena sendal yang ia pakai copot.
"bang, masalah apa yang terjadi hingga mereka melakukan hal ini...?
aku takut..... apa yang harus aku lakukan?"
ucap Adis dalam hati sambil menggigit bibir nya.
Adis terperanjat sambil menganga saat seseorang membekap mulutnya.
"ah........!"
ucap Adis mencoba untuk berontak namun orang itu malah membawa nya menjauh dari tempat itu.
malam itu Arsan memang berencana untuk pulang namun ia urungkan karena salsa mengalami keram perut, hingga Salamah ibu arsan meminta nya untuk kembali bermalam di apartemen milik mereka.
pembantu duduk lemas di lantai dengan gemetar saat orang tersebut menatap tajam karena ia sudah berbohong.
"telpon Arsan sekarang juga, katakan aku mencari nya..."
ucap orang itu menyuruh pembantu rumah.
"nomor pak Arsan tidak aktif.......!"
ucap pembantu rumah sambil menunduk ia juga memikirkan keadaan Adis yang mungkin sudah tertangkap oleh mafia itu.
"awas kalian...."
ucap orang tersebut kesal saat mendapatkan informasi bahwa mereka kehilangan jejak perempuan itu.
"dasar keluarga penipu....Awas kamu arsan!"
ucap orang itu lalu meninggalkan kediaman itu.
"astagfirullah... kemana non Adis....!"
ucap pembantu rumah sambil terisak, ia kesal karena tak bisa menghubungi Arsan.
bersambung.....
terimakasih sudah mampir 😍😍😍
__ADS_1