
Beberapa hari berlalu, sampai berita itu di telinga keluarga salsa yang justru mensyukuri perpisahan salsa dengan Arsan.
"syukurlah kamu berpisah dengan nya, sekarang Si Arsan Juga tidak memiliki apa-apa, ia bahkan tidak memiliki asal-usul jelas siapa orang tuanya..."
ucap galih dan di tanggapi diam oleh salsa.
"sejujurnya aku akan bertahan dalam situasi dan kondisi apapun jika kamu meminta ku untuk tetap bersama, namun aku pergi karena kamu tak menginginkan aku...."
gumam salsa lalu pergi meninggalkan meja makan itu.
"hidup terlalu singkat, rasanya belum lama kita bertemu, mengukir cerita hingga sampai pada masa aku dan kamu harus berpisah...
aku pikir setelah kita hidup bersama cerita akan lebih indah, namun tidak hatimu telah beralih pada seseorang yang baru saja hadir dalam hitungan waktu, menyaingi Hadir ku yang lebih dulu ada dalam rentang waktu hampir seribu hari...aku mencoba mengikhlaskan mu untuk mengejar cinta nya, meski sakit namun kali ini aku akan bertahan demi seseorang yang hidup dalam rahimku..."
tutur salsa dalam hati menatap sinar matahari yang terkesan redup.
salsa juga mendengar kabar bahwa kini Arsan pulang ke kampung halaman bersama Salamah, entah apa rencana nya ke depan? salsa tahu kalau Arsan bukan tipe yang mudah menyerah, ia memiliki semangat tinggi. terbukti dalam beberapa bulan ia mampu meningkatkan kualitas perusahaan nya, meski kini beralih ke tangan orang lain namun tak akan sama seperti saat Arsan yang memimpin.
"dimana pun kamu berada aku akan selalu mendoakan mu Ar ..."
ujar salsa lalu pergi keluar menemui Mama nya yang berada di belakang rumah.
**
siang ini Adis sampai di Indonesia, Ibra langsung meminta nya untuk berkonsultasi dengan Dokter Hans.
"harus ya kita ke Bandung Kak..."
tanya Adis, wajah nya sedikit pucat dan suhu tubuh nya sedikit demam mungkin karena kelelahan.
"ya, demi kesehatan mu de, nurut saja"
ucap Ibra yang duduk di depan bersama Wira.
"ada kabar apa Ra selama aku pergi..."
tanya Ibra di sela perjalanan nya, Adis sendiri terlelap dalam tidur nya.
"ada kabar mengejutkan, tapi aku tidak ingin Adis mendengar hal ini..."
ucap Wira berbisik di telinga ibra.
"apa ini soal Arsan....?"
tanya Ibra memperhatikan Wajah Wira yang mengangguk mengiyakan.
"ya sudah nanti saja....!"
ucap Ibra bersandar pada kursi mobil
tak berapa lama mereka sampai di kota Bandung, Adis mengerjap kan matanya menyipit kan mata nya menatap jalanan yang tak asing bagi nya.
"sebentar lagi kita sampai de...!"
ujar Ibra menoleh ke belakang.
"oh....!"
Jawab Adis singkat sambil mengangguk.
kota sejuta kenangan, terpatri sejarah cinta nya bersama pria itu, Adis merogoh tasbih indah yang arid berikan untuk nya saat hendak pulang ke Indonesia.
"maaf selama di Swiss aku tidak bisa menemani mu..."
ujar Arid menatap wajah cantik wanita itu.
__ADS_1
"ya tidak apa-apa bang...ada kak ibra, kami Akan segera pulang...!"
ucap Adis senyum.
"ya, sudah ini untuk mu...!" ujar arid memberikan kotak persegi.
"apa ini ?" tanya Adis memperhatikan benda tersebut.
"bukan mas atau berlian karena aku belum sanggup memberikan itu....!"
ujar Arid terkekeh membuat Adis terpaku.
"buka saja, aku hanya bisa memberikan mu itu..."
ujar Arid tersenyum kecil.
Adis membuka kotak persegi tersebut, Adis mengambil sebuah tasbih cantik dari kotak tersebut.
"kamu bisa gunakan saat kamu berdzikir...."
ucap Arid membuat Adis tertegun.
"dzikir bisa menjadi penyembuh segala rasa sakit, termasuk rasa sakit hati..."ucap arid memperhatikan wajah Adis tanpa ekspresi.
"aku ingin menjadi penyembuh rasa sakit mu, tapi aku pikir kamu lebih memilih untuk melakukan nya sendiri....!"ujar Arid senyum.
"cobalah untuk lebih mendekatkan diri pada yang memiliki segala rasa, aku yakin kamu akan cepat sembuh dengan sendirinya...aku tidak ingin memaksakan keinginan ku, karena aku cukup melangit kan setiap doa ku..."
ucap Arid membuat Adis tertegun.
"maaf kan Aku ya bang, aku rasa kamu lebih tahu itu, kamu tahu jawabannya.... saat ini aku tidak ingin memberikan harapan pada siapa pun, kelak jika kamu menemukan seorang yang lebih baik jangan pernah ragu untuk menerima kehadiran nya...."
ujar Adis mengeluarkan tasbih cantik yang berjumlah seratus itu.
tak berapa lama mereka sampai di kediaman Hans. beberapa orang penjaga langsung membuka gerbang masuk.
Adis memperhatikan tempat itu tampak sepi sama seperti saat pertama kali ia datang ke rumah sakit itu.
Adis turun dari mobil dan melihat beberapa orang keluar dari kamar dengan menangis tersedu, apa yang terjadi...?
"Adis ayo....!"
ucap Ibra menarik tangan Adis melewati ruangan itu terlihat seseorang tertutup kain berwarna putih.
"apa orang itu meninggal...?"
tanya Adis pada salah satu suster yang lewat.
"ya, Mba... silahkan sudah di tunggu dokter Hans..."
ucap suster menunjuk ruangan Hans.
Adis memperhatikan seorang pria yang menangis terduduk di depan pintu.
"Adis ayo.....!"
ujar Ibra merangkul pundak Adis.
"apa nanti kalau Adis meninggal juga seperti itu kak....!"
ucap Adis sambil melangkah.
"kamu akan sembuh....!"
ucap Ibra menggenggam erat tangan adik nya itu menatap nya sayang.
__ADS_1
Ibra mengetuk pintu ruangan Hans, lalu terbuka oleh seorang suster yang menyembul keluar.
"silahkan masuk....!"
ucap Hans senyum kecil.
"ayo duduk Adis, Ibra. bagaimana liburan kalian..m?"
tanya Hans menatap wajah Adis tampak sendu.
"yang meninggal itu menderita penyakit apa?"
tanya Adis mengalihkan pembicaraan.
Hans dan Ibra terdiam mendengar pertanyaan itu, Hans menatap netra milik Adis dengan pandangan kosong.
"dia itu menderita kanker paru-paru..."
ujar Hans sedikit membuat Ibra lega.
"Oh ya Ibra bilang kamu sedikit demam...ayo aku periksa dulu...!"
ucap Hans beranjak dari duduknya.
Apakah Adis tahu apa yang terjadi dengan Arsan yang di usir oleh Robi.
beberapa hari yang lalu, anak buah Hans berhasil menangkap Robi, tentu saja untuk menagih hutang hutang nya.
"beri aku waktu untuk membayar hutang ku, aku janji akan membayar nya!"
ucap Robi yang tidak ingin masuk penjara.
"aku tidak bisa memberikan mu toleransi lagi..."
"satu Minggu, aku janji akan membayar hutang ku....!"
ujar Robi berjanji.
"baiklah, kau tahu apa konsekuensi nya jika mengingkari janji mu itu...!"
ujar hans memberikan kesempatan dengan terus memantau pergerakan pria tua itu, Hans tak menyangka jika Robi tega menjual perusahaannya pada Bastian, pria yang menjadi musuh dalam selimut Arsan.
kejadian itu juga mengungkapkan siapa Arsan yang sebenarnya, pantas saja Robi tak memperdulikan nya, seseorang yang ia besar kan dengan keringat nya.
sesuai janji nya Robi datang dan membayar semua hutang hutang nya.
"Adis... apa yang kamu pikirkan?"
tanya Hans memperhatikan Adis yang termenung sendiri, ia bahkan membiarkan Hans bicara sendiri.
"aku tidak apa-apa, aku hanya lelah...."
ucap Adis lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
"ya sudah, Istirahatlah..aku sudah memberikan mu obat....!"
"apa obat ini akan membuat ku sembuh? atau hanya mengulur waktu untuk ku pulang."
ucap Adis menghentikan langkah Hans.
"sebagai manusia kita hanya bisa berusaha, terus ikhtiar.. tentang kematian itu rahasia yang tak satu pun makhluk tahu dimana dan kapan tuhan akan memanggil kita untuk pulang...!"
ucap Hans menatap wajah Adis dengan tatapan pilu.
bersambung.
__ADS_1