Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Kepergian Nyonya Fransisca


__ADS_3

Alex masih memegang sapu tangan berwarna putih yang sudah terdapat bercak merah di dalam nya, dia merasa sangat yakin kalau benda yang berada di tangan nya itu adalah kepunyaan Nyonya Fransisca.


''Aku yakin banget Sisil, kemarin Tante Fransisca batuk dengan menutup mulut nya memakai sapu tangan ini.'' Ucap Alex meyakinkan Sisil.


''Kamu serius?'' Tanya Sisil dengan nada panik.


''Aku serius Sisil,'' ucap Alex, dia menatap mata Sisil yang sudah sedikit berkaca kaca, ''dan aneh nya lagi, kemarin aku tidak mengantarkan dia ke tempat tinggalnya, melainkan ke Rumah Sakit Citra Medika.'' Tambah nya lagi.


''Ya ampun Mommy,'' Sisil menutup mulut dengan kedua tangan nya, ''sekarang kamu antar aku ke sana ya, aku ingin bertemu dengan Mommy, aku takut dia kenapa napa.'' Ucap Sisil.


''Oke, kita ke sana ya.'' Jawab Alex yang langsung menghidupkan mobil.


Alex mengendarai mobil nya dengan kecepatan rata rata, sesekali tangan nya menyentuh tangan Sisil yang terlihat gugup, Alex mencoba menenangkan kekasih cantik nya.


''Kamu yang tenang dulu ya, aku yakin Tante Fransisca akan baik baik saja.'' Ucap Alex.


Sisil menganggukan kepalanya, menggenggam satu tangan Alex yang menggenggam jari jari nya.


Akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Citra Medika, Sisil memasuki Rumah Sakit dengan tergesa gesa, yang di ikuti oleh Alex di belakang nya.


Mereka menuju Resepsionis.


''Permisi Suster, saya mencari pasien yang bernama ''Fransisca'', dia di rawat di kamar nomor berapa ya?" Tanya Sisil.


''Sebentar saya cek dulu ya,'' ucap Suster tersebut, ''Nyonya Fransisca, di rawat di kamar inap no 310, kamar nya terletak di lantai 2.'' Ucap Suster.


''Terima kasih Suster.''


Mereka berdua bergegas ke lantai 2, menuju kamar 310, Alex mencoba menenangkan Sisil, dia meraih tangan Sisil dan menggenggam erat dengan satu tangan nya.


''Kamu yang tenang dulu ya.'' Ucap Alex.


''Gimana aku bisa tenang Alex? Mommy sakit, dan aku sebagai anak nya tidak tau apa apa.'' Ucap Sisil, dengan mata berkaca kaca.


'' Iya sayang, aku mengerti perasaan kamu, tapi kamu harus tenang, jangan sampai kedatangan kamu membuat Tante Fransisca tambah khawatir.'' Ucap Alex.


Sisil menarik nafas panjang, dan menghembuskan nya perlahan. Setelah selesai menata perasaan nya, akhirnya Sisil kembali melangkah kan kaki nya, dengan menggenggam erat tangan kekasih nya.


Mereka sampai di kamar 310. Sisil membuka pintu perlahan, dia melihat Nyonya Fransisca sedang berbaring tak berdaya, dengan alat bantu pernapasan dan infus yang terpasang di lengan kirinya.


''Mommy...'' Sisil menghampiri Nyonya Fransisca, tangis nya pun pecah tatkala melihat Ibu kandung nya terbaring lemah.

__ADS_1


Nyonya Fransisca membuka mata nya yang semula terpejam.


''Frisillia?'' Ucap Nyonya Fransisca dengan nada lemah, ''kamu ngapain di sini?'' Tanya lagi dengan nafas berat, seperti sedang menahan tangis.


''Mommy kenapa? Mommy sakit apa? kenapa tidak bilang sama aku kalau Mommy sakit?'' Tangis Sisil pecah seketika, tangannya tampak menggenggam erat tangan kanan Ibu nya.


''Mommy tidak apa apa sayang, Mommy cuma sakit biasa.'' Jawab Nyonya Fransisca dengan sedikit ter batuk.


''Seharusnya Mommy bilang sama aku, aku pasti datang kemari untuk ngejagain Mommy.'' Ucap Sisil di sela sela tangis nya.


''Sekarang kamu sudah di sini sayang, Mommy minta kamu jangan tinggalin Mommy ya, kamu satu satu nya keluarga yang Mommy punya.''


''Iya Mom, aku tidak akan kemana mana, aku akan selalu ada di sini menemani Mommy.'' Jawab Sisil.


Alex berdiri di belakang Sisil, dia memegang pundak kekasih nya, seolah memberi isyarat kalau dia tidak sendirian, ada Alex yang akan ikut menemani nya di sini bersama dia.


''Kamu sabar ya.'' Ucap Alex, mengelus pundak Sisil.


Tak lama kemudian seorang Dokter dengan dua perawat memasuki kamar.


''Ibu Fransisca... Bagaimana perasaan anda hari ini?'' Tanya Dokter tersebut.


''Anda Putri dari pasien?'' Tanya Dokter tersebut.


''Iya Dokter, saya Frisillia, putri nya.''


''Bisa kita bicara sebentar di ruangan saya.''


''Baik Dokter.''


Sisil mengikuti Dokter ke ruangan nya, berjalan dengan langkah berat, memang ada begitu banyak yang ingin Sisil tanyakan prihal kesehatan Ibu nya.


''Silahkan masuk.'' Dokter mempersilahkan Sisil masuk ke ruangan nya.


''Bagaimana keadaan Ibu saya Dokter?'' ucap Sisil dengan perasaan khawatir, ''sebenarnya beliau sakit apa?'' Tanya nya lagi.


''Sebenar nya, Nyonya Fransisca mengidap penyakit kanker darah, stadium akhir.''


Sisil membelalakan mata nya, hati nya sungguh terenyuh, dia tidak menyangka kalau Ibu nya menderita penyakit mematikan seperti itu. Bibir nya seketika kaku, tak satu pun kata yang bisa terucap dari mulut nya, hanya air mata nya yang mengalir tak kuasa menahan kesedihan.


''Sudah selama 6 tahun Nyonya Fransisca berjuang melawan penyakit nya, tapi hasil nya belum menunjukan kemajuan yang signifikan.'' Ucap Dokter.

__ADS_1


''Saya mohon, tolong sembuhkan Ibu saya Dokter, saya akan bayar berapa pun biaya nya.'' Ucap Sisil sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya.


''Saya akan berusaha sebaik mungkin, tapi sebaik nya anda bersiap untuk kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi, mengingat penyakit yang di derita oleh Ibu Fransisca sudah berada di stadium akhir.''


Tak selang berapa lama seorang Perawat memasuki Ruangan Dokter tersebut.


''Permisi Dokter, pasien di kamar 310 tiba tiba kondisi nya menurun.'' Ucap perawat dengan nada ter engah engah.


Dokter pun langsung berlari keluar, di susul dengan Sisil yang berlari di belakang Dokter.


''Mommy... aku mohon, jangan tinggalin aku.''


Ucap nya dalam hati.


Sesampainya di kamar 310 Alex sudah berdiri di luar ruangan, menghampiri Sisil yang berlari ke arah nya, Alex memeluk Sisil yang menangis histeris hendak masuk ke dalam kamar.


''Sayang... kamu tunggu di sini, biar nanti Dokter memeriksa keadaan Ibu kamu.'' Ucap Alex dengan mendekap erat tubuh Sisil, Sisil berontak,dia menggerakkan seluruh badan nya untuk melawan dekapan Alex.


''Mommy...'' Sisil terus memanggil Ibunya di sela sela tangis histeris nya.


Alex hanya bisa memeluk tubuh Sisil. Dia dapat merasakan kesedihan yang sedang di rasakan kekasih nya.


30 menit kemudian Dokter keluar dengan wajah suram.


''Saya mohon maaf, Ibu Fransisca sudah berpulang, kami sudah berusaha sebaik mungkin.'' Ucap Dokter tersebut dengan ini membungkukkan badan tanda permintaan maaf nya.


Mendengar perkataan Dokter, sontak membuat Sisil menangis histeris, dia melepaskan dekapan tangan Alex dan berlari ke dalam kamar.


''Mommy...'' dia berdiri di samping Jenazah Ibu nya yang sudah di tutup dengan kain, ''bangun Momm, jangan tinggalin aku...'' Ucap nya lagi dengan membuka kain yang menutupi wajah ibu nya.


Sisil menangis histeris, memeluk tubuh Ibu nya yang kini sudah terbujur kaku tidak bernyawa.


Hati nya sungguh hancur, dia sungguh menyesal karena sudah menghabiskan separuh hidup nya untuk membenci Nyonya Fransisca.


Bayangan bayangan diri nya yang sedang membentak Ibu nya bergantian muncul di dalam otak Sisil, dia sungguh merasa telah menjadi anak yang sangat tidak berbakti kepada ibu nya.


''Maafin aku Mommy... aku mohon maaf atas semua kesalahan aku .'' Ucap Sisil dengan menangis tersedu sedu.


*****


Jangan lupa tekan like sama vote nya ya Kaka. Hadiah nya jangan lupa. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2