
Setelah di rawat selama hampir 5 hari, Akhirnya Daniel sudah di perbolehkan pulang ke rumah oleh Dokter, dengan catatan tidak boleh beraktifitas dahulu, dan harus banyak beristirahat.
Daniel juga mendapatkan beberapa macam obat untuk mempercepat proses pemulihan nya.
Hari ini, ayah, ibu dan juga Sisil menjemput Daniel ke Rumah sakit.
Setelah menyelesaikan proses Administrasi, mereka pun segera pulang ke Rumah.
Wajah Daniel tampak sangat bahagia, karena akhirnya bisa berkumpul kembali dengan keluarga besar nya, ayah,ibu, juga kakaknya.
Daniel masuk ke dalam kamar nya dengan di gendong oleh sang ayah.
Tubuhnya di baringkan di atas kasur empuk yang sudah tertata rapih dengan beralaskan sepray bermotif karakter kartun kegemaran nya.
''Istirahat ya sayang,'' ucap tuan Lionel.
Tangan nya menutup tubuh Daniel dengan selimut.
Daniel mengangguk lalu tersenyum.
Tak lama kemudian Angel masuk ke dalam kamar bersama Sisil yang berjalan tepat di belakang nya.
''Kaka senang akhirnya kamu bisa kembali ke rumah ini,'' ucap Sisil.
''Terima kasih karena Kaka sudah merawat aku dengan baik,'' Daniel tersenyum.
''Mulai sekarang, kamu harus menjaga kesehatanmu baik baik, jangan dulu sekolah ya, nanti jika kondisi kamu sudah benar benar pulih, baru boleh kembali bersekolah,'' ucap Angel.
''Baik Bu...''
''Kaka permisi dulu ya, Kaka harus mengerjakan tugas kuliah Kaka, kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk menelpon ya.''
Lalu Sisil berbalik dan melangkah keluar dari kamar Adiknya.
Sementara Ayah dan Ibu tirinya masih berada di kamar untuk menemani Daniel.
Sisil berjalan menuju kamar, saat hendak memasuki kamar, Sisil melihat Alex yang sedang membawa koper besar yang berisikan pakaian dan perlengkapan lain nya yang sempat di gunakan Daniel sewaktu berada di Rumah sakit.
Sisil menghampirinya, dirinya membantu Alex membawakan koper yang seperti nya terlihat sangat berat.
''Mari saya bantu.''
''Tidak usah Non, saya bisa sendiri.''
Ucap mereka berdua sembari sedikit mencuri pandang.
Sisil mengedipkan satu matanya, mencoba menggoda sang kekasih yang terlihat gugup karena ayah dan ibu tiri sisil sedang memperhatikan mereka berdua.
Angel tampak menaikan sedikit bibirnya, seolah muak melihat sepasang kekasih yang kini sedang berakting sebagai supir dan majikan.
__ADS_1
Alex dan Sisil masuk ke dalam kamar, mereka berdua meletakan koper besar tersebut di samping tempat tidur.
''Terima kasih Alex?'' ucap Tuan Lionel.
Alex hanya mengangguk sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan badan nya, lalu Alex membalikan badan hendak pergi dari kamar itu.
''Tunggu,'' Angel memangil.
''Ada apa nyonya? apa masih ada yang bisa saya kerjakan.?'' jawab Alex lalu membalikan badannya.
''Saya cuma mau bertanya, sampai kapan kamu mau bekerja sebagai supir pribadi Sisil, apa kamu tidak berniat mencari pekerjaan lain yang lebih baik, usiamu sudah cukup matang untuk berumah tangga lho.''
Ucap Angel yang memang sengaja mengatakan hal tersebut untuk memprovokasi Sisil.
Suami nya hanya bisa tersenyum mendengar ucapan istrinya.
Sementara Sisil terlihat sangat geram dengan apa yang di ucapkan ibu tirinya, sehingga dia pun mengepalkan tangannya.
Lain hal dengan Alex, Alex terlihat tenang, dia sama sekali merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaan majikan nya tersebut.
''Maaf nyonya, apabila tidak ada yang harus saya kerjakan lagi, saya permisi.'' Alex berpamitan tanpa menjawab pertanyaan Angel.
Angel terlihat sedikit kesal, karena ucapannya tidak di anggap sama sekali oleh Alex.
Dia hampir saja akan menumpahkan kemarahannya dengan kembali memanggil Alex, namun Sisil yang melihat hal tersebut dengan segera menghampiri sang ayah dan berpura pura jika kepalanya terasa pusing.
Tuan Daniel terlihat sangat terkejut.
''Kamu kenapa? kamu sakit?''
Sisil hanya sedikit mengangguk.
''Mari Papih antar ke kamar, kamu juga harus banyak beristirahat.''
Lalu ayahnya memapah dirinya untuk berjalan ke dalam kamar yang terletak tak jauh dari kamar Daniel.
Sisil masih berpura pura kesakitan, satu tangan nya terlihat memegangi kepala, tak lupa wajahnya sedikit meringis berpura pura menahan sakit.
Angel tahu jika anak tirinya hanya berpura pura, dirinya mengepalkan tangan nya, sembari bergumam sendiri.
"Dasar anak kurang ajar, awas saja kamu,saya pasti akan membalas mu."
Lalu dirinya berbaring di sebelah anak kesayangan nya, menemani Daniel sampai Daniel benar benar terlelap.
***
Keesokan harinya.
Tuan Lionel berpamitan kepada istri serta putri kesayangan nya, dirinya harus pergi ke luar kota karena ada proyek yang harus segera di selesaikan.
__ADS_1
Mungkin dirinya akan berada di luar kota selama lebih dari satu Minggu.
Setelah berpamitan, Tuan Lionel yang di temani oleh Mang Yadi Supir pribadi dirinya, segera melajukan mobilnya keluar dari halaman Rumah, berjalan menjauh dan akhirnya tidak terlihat lagi.
Tinggal Sisil yang berdiri menatap mobil ayah nya, hatinya merasa sangat sedih karen harus kembali di tinggal oleh sang ayah.
Sisil membalikan badan dan hendak melangkah.
Namun tangan ibu tirinya tiba tiba meraih rambut panjang Sisil dan menarik nya, sontak Sisil terkejut, tangan Angel menampar dengan sangat keras pipi putih Sisil.
Sisil berteriak kesakitan, satu tangan nya memegang pipi nya yang terasa terbakar karena tamparan yang di terimanya.
''Ibu kenapa menampar saya? apa salah saya?'' ucap Sisil dengan berurai air mata.
''Kamu tidak ingat ya, kemarin kamu mengolok olok saya di depan Papih kamu dengan berpura pura sakit.''
Angel terlihat sangat puas melihat anak tirinya kesakitan.
''Saya tidak bermaksud seperti itu Bu... sungguh...''
Ucap Sisil masih dengan berurai air mata.
''Apa kamu sudah bosan menjalin hubungan dengan supir mu itu? saya akan segera meminta ayah mu untuk segera mencari kan jodoh yang pantas untukmu, agar kamu bisa menikah dan keluar dari Rumah ini, saya sudah benar benar muak melihat wajah mu.'' Angel terlihat sedikit tertawa.
''Apa salah saya sama ibu? Ini rumah saya, mengapa saya harus keluar dari Rumah ini.''
Kemudian...
Plaakkk....
Satu tamparan kembali mendarat di pipi kanan nya, membuat dirinya tidak bisa berucap apa apa lagi, yang ia rasakan saat ini hanyalah rasa sakit seperti terbakar di wajahnya.
Akhirnya dia berlari ke lantai dua menuju kamarnya, dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat. Dahulu dirinya memang pernah mendapat kan tamparan dari mendiang sang ibunya, tapi rasanya tidak sesakit ini.
Kedua pipinya terasa terbakar.
Dia menangis dengan tersedu, di dalam kamarnya, hanya sendirian, tanpa di temani oleh siapapun dan tanpa di ketahui oleh siapapun, bahwa dirinya telah di aniaya oleh ibu tiri.
Apa yang harus dia lakukan? sampai kapan dirinya akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari wanita yang menjadi ibu tirinya. Batin Sisil berucap.
Tak lama kemudian handphone nya pun berdering, Alex kekasih tercinta nya menelpon.
Akan tetapi Sisil tidak berani mengangkat telpon dari Alex, dirinya tidak mau jika Alex mengetahui bahwa dirinya sedang dalam keadaan menangis karena kesakitan.
Sakit karena tamparan di kedua pipinya dan sakit karena ucapan Angel ibu tirinya sendiri.
Dia hanya bisa terus menangis tersedu sedu, di balik pintu kamarnya.
*****
__ADS_1