Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Terbongkar


__ADS_3

''Papi menyuruh kita segera pulang ke Jakarta,'' ucap sisil sesaat setelah menutup telpon dari ayahnya.


''Kenapa? ko mendadak,'' jawab Alex merasa heran.


Sisil ingin bercerita, namun ia tak enak karena ada Amel serta Widya berada di sana. Rasanya tak elok jika kedua calon adik iparnya harus mengetahui urusan keluarga dirinya yang begitu rumit jika di dengar oleh orang lain.


''Nanti saja aku cerita nya, pokok nya sekarang juga kita harus segera kembali ke Jakarta,'' ujar Sisil.


''Ya sudah, kita siap siap dulu, ya.''


Mereka berdua pun segera masuk ke dalam rumah untuk bersiap siap dan berpamitan kepada ibunda Alex.


''Teteh sama aa serius mau pulang ke Jakarta sekarang juga?'' Amel ikut berdiri lalu berjalan di belakang mereka.


''Iya Mel, seperti nya ada urusan mendesak yang harus segera diatasi,'' jawab Alex dengan keadaan masih berjalan.


''Yah...padahal akan baru satu hari kalian pulang,'' Widya terlihat kecewa.


''Nanti kita balik lagi ko, kan mau mempersiapkan acara pernikahan aa sama teteh,'' masih dengan suara sang kaka.


Ibu yang sedang duduk selonjoran di depan Televisi nampak terkejut mendengar bahwa putranya harus segera kembali ke Jakarta, baru semalam mereka berdua datang tapi siang ini juga harus segera kembali.


''Maafkan kami Bu, karena harus pergi mendadak,'' ujar Sisil serasa merapikan pakaian yang di kenakan nya.


''Iya nak, tak apa apa, sebenarnya ibu masih rindu dengan kalian berdua, namun apalah daya, mungkin kalian harus segera menyelesaikan urusan yang yang sangat penting,'' lirih ibu masih dengan suara lembut nya.


''Iya Bu, kami pasti kembali ke sini lagi,'' Alex segera menyalami kedua tangan ibundanya lalu memeluk nya secara bergantian dengan Sisil.


''Kalian berdua hati hati di jalan ya, nyetir nya hati hati ya, jangan ngebut,'' pesan ibu.


Setelah menyalami Amel dan Widya secara bergantian mereka pun segera masuk ke dalam mobil, dan tak lama kemudian mobil pun berjalan meninggalkan halaman menuju jalan raya.


Wajah Sisil terlihat tidak tenang dan gelisah, ia memikirkan apa yang tadi di ucapkan oleh ayahnya di dalam telpon.


''Sebenarnya ada apa? mengapa kita harus segera kembali ke Jakarta?'' Alex memulai pembicaraan.


''Bisakah Oppa menepikan mobil sebentar? ada yang ingin aku ceritakan kepadamu,'' ucap Sisil.


''Baiklah...''


Alex segera menepikan mobilnya di pinggir jalan, dan mereka pun berbicara dengan wajah yang sangat serius.


''Sebenarnya dalang dari penculikan ku kemarin adalah Tante Angel,'' Sisil memulai pembicaraan.

__ADS_1


''Apa...''


Alex sungguh terkejut mendengar nya.


''Kamu serius...?''


Sisil mengangguk.


''Mengapa tak menceritakan masalah sebesar ini padaku?''


''Maag Oppa, aku belum sempat menceritakan semua padamu, di tambah seperti nya Alvin menutup mulutnya dengan rapat, dan tidak memberitahukan kepada polisi prihal tersebut.''


''Terus kepulangan kita ke Jakarta ada hubungannya dengan kasus ini?''


Sisil hanya mengangguk.


''Ya sudah, kita harus segera sampai di Jakarta, agar bisa segera membongkar kelakuan dari ibu tiri mu itu.''


''Tapi Oppa...!"


"Ada apa lagi sayang?"


"Aku sungguh kasian dengan papi, dia begitu mencintai ibu tiri ku, aku yakin dia akan sangat kecewa saat tahu yang sebenarnya mengenai hal ini, aku sungguh tak tega Oppa," Sisil terlihat menunduk.


Sisil hanya mengangguk lalu kembali menunduk.


"Sayang, dengar kan aku," Alex meraih kedua tangan kekasih tercintanya.


"Apapun yang terjadi, papi mu harus tahu kelakuan dari istrinya, jika beliau tidak tahu apapun, itu sama saja dengan kita membodohi perasaan nya, kamu harus kuat, papi mu pasti kuat dalam menerima kenyataan bahwa istrinya tidak sebaik yang selama ini dia kira."


Sisil kembali mengangguk.


"Kita berangkat sekarang ya, kamu harus janji, kamu akan mengatakan yang sebenarnya kepada polisi dan juga papi mu."


"Iya Oppa, aku akan melakukannya, aku akan membongkar sifat asli dari wanita yang bernama Angel itu di depan papi."


Alex pun mulai menyalakan mobilnya kembali.


*


*


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka pun sampai di kota Jakarta, tanpa basa basi lagi mereka langsung menuju kantor polisi, dimana tempat Alvin bersama para anak buahnya di tahan.

__ADS_1


Di kantor polisi.


Alvin tampak meringkuk di sel tahanan sementara, tak hanya itu, dia juga di temani oleh tiga orang lainnya yang merupakan anak buah nya yang waktu itu membantu dirinya menculik Sisil.


Dan yang lebih mengejutkan lagi, Angel juga tampak berada di sana namun di sel yang berbeda.


Sisil terkejut melihat tubuh Angel meringkuk sambil memeluk kedua lututnya.


''Tante Angel...'' Sisil menghpiri nya.


''Sedang apa kamu di sini? puas kan Sekarang bisa melihat aku berada di sini?'' dengan wajah geram.


''Tante seperti ini karena perbuatan tante sendiri,'' jawab Alex.


''Diam kamu, jangan ikut campur,'' Angel membulatkan bola matanya.


''Andai saja Tante bisa hidup tenang sebagai ibu tiri yang baik buat aku, mungkin sekarang kita bisa hidup bahagia,'' Sisil mulai berkaca kaca, karena meskipun Angel sudah berbuat jahat kepada dirinya namun wanita yang berada di hadapannya tetap lah ibu tirinya, yang merupakan wanita yang sangat di cintai oleh ayahnya.


''Saya mohon, maafkan saya Sisil, jangan biarkan saya meringkuk di penjara, bagaimana nasib Daniel jika saya berada di sini,'' Angel tiba di bawah menangis tersedu-sedu, entah itu Air Mata buaya atau memang air mata penyesalan, membuat sisi merasa sedikit iba melihat keadaan ibu tirinya.


''Maaf Tante, saya tidak bisa berbuat apa-apa,'' Sisil memundurkan langkahnya.


''Sisil... saya mohon, keluarkan saya dari sini hanya kamu yang bisa melakukannya, Sisil...'' Angel berteriak di balik jeruji.


Sementara Sisil yang sudah terlanjur merasa iba pergi meninggalkan Angel begitu saja, dia tidak ingin terlalu lama melihat wanita itu di dalam sana.


Dia memang berpikir jika ibu tirinya tersebut pantas untuk mendapatkan ganjaran atas apa yang telah ia lakukan kepada dirinya selama ini.


''Kami yang sabar ya,'' Alex mengusap pundak sang kekasih.


Sisil hanya mengangguk sambil tersenyum dengan di paksakan.


''Kita pulang sekarang.''


Sisil mengangguk.


Merekapun keluar dari kantor polisi, dan pulang ke rumah Tuan Lionel, ia berencana akan membicarakan jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahannya bersama ibu tirinya.


Meski merasa berat, Sisil akan mengatakan semua kelakuan ibu tirinya selama ini kepada dirinya, agar ayahnya tidak merasa di bodohi lagi oleh wanita tersebut.


Setelah itu, ia akan menyerahkan semua keputusan kepada ayahnya tersebut, apakah dia akan terus menjadikan Angel sebagai istrinya atau tidak, ia tidak akan memaksa ayahnya untuk meninggalkan istrinya, karena sejati nya yang menjalani rumah tangga itu adalah ayahnya bukan dirinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2