Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Tak sependapat


__ADS_3

Di rumah besar Tuan Lionel.


Sang pemilik rumah nampak sedang di duduk di sebuah kursi di depan televisi, Tv di depannya terlihat menyala, matanya nya pun seolah sedang melihat layar Televisi besar dengan suara yang menggelegar, namun sebenarnya pikirannya sedang tidak berada di tempatnya dan melayang entah kemana.


Sampai sang istri datang dengan membawa secangkir kopi hangat untuk menemani waktu santai sang suami.


''Kamu mikirin apa mas? seperti nya kamu sedang melamun?'' tanya Angel yang membuyarkan lamunannya.


''Apa...?'' jawab sang suami yang sedikit terkejut dengan kedatangan Istri tercintanya.


Angel meletakan cangkir kopi di atas meja yang berada tepat di hadapan sang suami.


Suaminya tersebut tampak meraih cangkir kopi yang terlihat masih panas, lalu menyeruputnya perlahan.


''Makasih sayang...'' ucap Tuan Lionel setelah meneguk satu seruput kopi hitam yang terasa manis di mulutnya itu.


''Kamu mikirin apa mas?'' masih penasaran.


''Aku berniat segera menikahkan Sisil dengan pacarnya,'' meletakkan kembali cangkir di atas meja.


''Apa...? menikahkan?'' Angel terperangah.


''Kamu serius?'' tanya nya lagi dengan wajah heran.


Sang suami mengangguk.


''Apa tidak terlalu cepat? mereka belum lama berpacaran?''


''Itu sebabnya aku ingin segera menikahkan mereka, jika menunggu terlalu lama, tidak baik untuk keduanya.''


Angel termenung.


''Aku sudah memberi waktu kepada Alex untuk menyiapkan kan bekal pernikahan, meski sebenarnya jika dia mau, dia tidak usah mengeluarkan uang sepeserpun, semuanya akan aku biayai dengan senang hati, namun Alex menolak, dia lebih memilih mengumpulkan uang dari hasil keringat nya sendiri, aku benar benar kagum dengan pemuda itu,'' jelas Tuan Lionel.


Angel masih terdiam mencoba berfikir.


''Mengapa kamu diam saja istri ku?''


Tuan Lionel bertanya karena merasa heran karena istrinya tersebut seolah tidak merespon ucapannya.


''Heuh.. apa mas? maaf tadi aku sedang berfikir,'' sedikit tergagap.

__ADS_1


''Apa yang sedang kamu pikirkan?''


''Anu mas... eu.. tidak kok aku tidak mikirin apa-apa,'' jawab nya lagi.


''Bagaimana pendapatmu tentang rencana ku menikahkan Putri kita?''


''Ya... kita harus memastikan dulu kesungguhan cinta Alex kepada Sisil, siapa tahu dia mau menikah dengannya hanya karena Sisil berasal dari keluarga kaya?''


''Tidak mungkin sayang, Alex bukan tipe pemuda yang akan berbuat seperti itu. Aku sudah mengenalnya lebih dari satu tahun dan selama itu pula aku sudah melihat jika dia benar benar pemuda yang sangat baik,'' jawab sang suami yang tidak sependapat dengan pendapat istrinya.


Angel diam saja tidak menjawab ucapan suaminya, sepertinya dia harus memikirkan cara agar pernikahan Sisil dengan kekasihnya dapat di gagalkan.


Jika ia menunjukan kartu merah sang anak tiri yang saat ini ia punya, itu hanya akan membuat suaminya tersebut mempercepat pernikahan putri tirinya dengan Alex.


Seperti nya video Sisil dengan Alex saat sedang bercumbu, yang dia ambil beberapa waktu yang lalu sama sekali tidak berguna lagi untuk nya.


''Kamu mikirin apa?'' tanya Tuan Lionel yang merasa heran melihat istri tercintanya seperti sedang memikirkan sesuatu.


''Emmm... tidak mas, lakukan seperti yang mas inginkan, kita sebagai orang tua tentunya menginginkan yang terbaik untuk kebahagiaan Putri kita,'' jawab Angel bertentangan dengan isi hati yang sebenarnya.


Tuan Lionel mengangguk lalu tersenyum, lalu dia meraih tubuh sang istri dan memeluknya dengan kecupan kecil yang ia layangkan di pucuk kepala istri tercintanya.


***


Meski tatapan matanya mengarah ke sana, namun sebenarnya pikirannya sedang memikirkan sesuatu, entah apa yang sedang ia pikirkan sampai sampai dia sama sekali tidak menyadari kehadiran sang ibu yang kini sudah berada di dalam kamar.


''Hei...'' ibu menggoyang tubu Alvin.


Alvin yang terkejut membuyarkan lamunannya seketika.


''Ibu...?'' ujarnya dengan wajah kesal.


''Kamu ngelamun ya?''


''Hmmmm...''


Alvin hanya mendengus kesal.


''Kenapa? ada apa lagi? apa kamu masih memikirkan wanita yang bernama Sisil itu?''


Alvin tidak menjawab dan terus terdiam.

__ADS_1


''Masih banyak wanita di luaran sana yang lebih cantik dan lebih baik daripada Sisil, kenapa kamu masih memikirkan dia? sudah jelas-jelas Dia tidak mencintaimu?'' ucap sang ibu dengan perasaan kesal.


''Aku hanya mencintai dia Bu, tidak ada wanita lain yang aku inginkan selain Sisil,'' Alvin menjawab dengan memandang wajah sang ibu.


''Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?''


''Entahlah aku juga bingung,'' Alvin turun dari tempat tidurnya dan berdiri di samping jendela.


Sang ibu menghampiri anak semata wayangnya, dan berdiri tepat di samping Alvin, tangannya mengusap punggung lebar sang anak dengan perasaan sedih.


'Jjika kamu mau ibu akan mencarikan jodoh untuk mu, wanita yang lebih cantik dan lebih baik dari dia, sudahlah jangan terlalu berharap lagi dengan Sisil, ibu sudah sangat sakit hati karena gadis itu sudah menolak mentah mentah lamaran kita,'' sang ibu kembali mengingat saat Sisil dengan tegas menolak Lamaran anaknya waktu itu.


''Tidak Bu, aku tak mau, yang aku inginkan cuma dia,'' Alvin kesal dan berjalan ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri.


Ibu pun menarik napas panjang, ia sama sekali tidak kuasa melihat putra kesayangannya dalam keadaan nestapa karena di tolak mentah-mentah oleh seorang wanita.


Sang ibu pun berjalan ke luar kamar, meninggalkan kamar putra satu satunya itu dengan hati yang bimbang.


Selesai membersihkan diri Alvin keluar dari kamar mandi, ia sudah mendapati jika ibunya tidak berada di sana lagi, ia pun berjalan ke depan lemari hendak mengambil pakaian yang akan ia kenakan, karena saat ini dirinya hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


Kring kring kring...


Suara handphonenya tiba-tiba berdering, dia mengurungkan niatnya untuk mengambil pakaian dan segera meraih handphone dan melihat siapa yang menelpon dirinya.


Tante Angel


(gumamnya pelan)


Alvin pun mengangkat telpon. Setelah mendengar orang dibalik telepon itu berbicara sebentar, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah sangat marah, ia seperti terkejut sekaligus merasa kesal mendengar ucapan Angel di dalam telponnya.


Setelah telpon kembali di tutup, Alvin tampak melempar handphone miliknya ke atas lantai dengan sangat keras hingga handphone mahal miliknya pecah berhamburan dan rusak seketika.


Prank...


Suara handphone yang di lemparkan.


Suaranya yang begitu nyaring membuat sang ibu yang sudah berada di luar kembali memasuki kamar dan bertanya dengan perasaan heran.


''Kamu kenapa?'' tanya sang Ibu, lalu dirinya melihat ke arah handphone yang tergeletak begitu saja dengan keadaan pecah dan bentuknya yang berhamburan.


Alvin mengepalkan kedua tangannya, dia sama sekali tidak peduli dengan keadaan tubuhnya yang masih hanya mengenakan handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2