
Alex memasuki ruang Unit Gawat Darurat, ia melihat keadaan Sisil yang masih tertidur karena telah di beri obat penenang oleh Dokter yang merawatnya.
Dia pun meraih jemari sang kekasih kemudian mendekap dengan kedua tangannya.
Hatinya merasa sangat pilu melihat keadaan sang kekasih yang begitu sangat menyedihkan dengan kedua kakinya di balut perban berwarna putih.
Tak lama kemudian Sisil pun membuka kedua matanya.
''Alex...'' ia menatap wajah kekasih yang tadi sangat di rindukannya.
''Kamu sudah bangun, mana yang sakitnya sayang, maaf karena aku datang terlambat,'' ujar Alex dengan berlinang air mata.
''Tak apa apa kok sayang, yang penting akhirnya kamu bisa menikah aku,'' dengan tersenyum.
''Ko kamu masih bisa tersenyum?''
''Wajahmu sangat lucu saat sedang menangis seperti itu.''
''Aku sangat khawatir tahu, seharusnya kamu lari saat para brengsek itu hendak membawamu,'' masih dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
''Ya sudah tak apa apa, anggap saja ini musibah, lagi pula sekarang aku baik baik saja,'' Sisil mencoba menenangkan.
''Apa aku minta saja sama Papih kamu agar kita segera di nikahkan?''
''Nah.....! itu baru benar," ujar Sisil dengan tersenyum lebar.
"Akh kamu...! aku masih syok dengan kejadian yang menimpa mu barusan, kau malah tertawa tawa seolah tidak terjadi apa apa," Alex merasa heran.
"he..he..he.." Sisil masih saja tersenyum.
"Papih mu ada di luar, dia terlihat sangat cemas, apa perlu aku memanggil dia ke sini?"
Sisil mengangguk.
Tak lama kemudian sang ayah masuk ke dalam ruangan dengan berderai air mata, ia merasa sudah tak kuasa menahan kesedihan yang sudah sedari tadi di tahannya.
''Kamu tak apa-apa kan nak?"
"Iya Papih, aku tak apa apa, papih tak usah khawatir.''
''Papih akan menjebloskan si Alvin itu ke penjara, setidaknya dia harus mendekam di penjara selama 10 tahun karena telah membuat putri kesayangan Papih seperti ini.''
''Iya Pih...! tapi bagaimana jika ada orang lain yang menjadi dalang atas penculikan aku?"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Ya... maksud aku--''
''Sisil kamu tidak apa-apa sayang?'' Angel masuk ke dalam ruangan dan membuat gadis itu pun menghentikan ucapannya ketika.
''Ibu sangat khawatir sama kamu, papih kamu menelpon ibu, lalu ibu segera kesini, sungguh ibu sangat khawatir, si Alvin itu memang sudah sangat keterlaluan,'' tambahnya lagi dengan lelehan air mata buayanya.
''Alhamdulillah saya baik baik saja Tante, seperti yang Tante lihat, untung saja Alvin belum sempat menyentuh aku sedikit pun,'' jawab Sisil dengan penuh percaya diri.
Sebenarnya Sisil mengetahui dengan pasti jika dalang di balik penculikan dirinya adalah Angel, ibu tirinya sendiri, namun dia sama sekali tidak tega jika harus mengatakan semua itu di depan sang ayah.
Dan hal ini akan dia jadikan sebagai senjata untuk dapat menekan ibu tirinya, agar tidak dapat lagi menyiksa atau mengancam dirinya lagi.
Angel tampak mengeluarkan air mata, membuat Tuan Lionel mengusap punggung istrinya sendiri.
Dasar nenek sihir ( batin Sisil berucap)
***
Sudah selama tiga hari Sisil di Rawat di rumah Sakit, dan hari ini ia pun sudah di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit karena keadaannya sudah mulai membaik.
Hari ini pula ia harus datang ke Kantor Polisi untuk memberikan keterangan kepada polisi prihal penangkapan Alvin yang telah menculik dirinya.
Setelah semua proses nya di lakukan sesuai prosedur, kini Alvin resmi mendekap di penjara, meski putusan belum final karena masih menunggu putusan di persidangan.
Entah apa yang telah di katakan oleh Angel kepada Alvin, sehingga Alvin menuruti semua perintahnya, untuk tidak menyebut nama dirinya di kantor polisi, sehingga Angel dapat terbebas begitu saja dari kasus ini.
Dan karena kejadian ini pula sekarang Tuan Lionel sudah membulatkan niatnya untuk segera menikahkan putrinya, tanpa harus menunggu tahun depan, agar putrinya tersebut ada yang menjaga.
Hari ini seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang Televisi untuk membicarakan prihal pernikahan.
Alex tampak duduk secara berdampingan dengan sang kekasih.
''Alex, saya meminta kamu segera menikah dengan putri saya,'' ujar Tuan Lionel.
''Saya akan memikirkan hal ini om, dan saya juga akan segera memberitahukan keluarga saya di kampung om,'' jawab Alex.
''Yeeey akhirnya nya nikah juga....'' Sisil bersorak.
Sang ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri kesayangannya.
''Baiklah, berarti kapan keluarga mu akan ke sini untuk melamar Sisil,'' ujar Angel.
''Secepatnya Tante, rencananya, awal bulan saya mau izin cuti untuk pulang ke kampung halaman saya, agar bisa langsung membicarakan hal ini kepada ibu saya.''
''Memang ayah kamu kemana?''
__ADS_1
''Ayah saya sudah tidak ada om, beliau sudah meninggal karena kecelakaan tiga tahun yang lalu.''
''Benarkah...? Maaf karena saya tidak tahu.''
''Papih...! boleh ya aku ikut Alex pulang kampung?" pinta Sisil kepada ayahnya.
"Kamu kan masih sakit, nanti juga keluarga Alex bakalan ke sini," jawab sang ayah.
"Please Pih, di sana juga ada adik adik nya Alex ko, boleh ya Pih?"
Tuan Lionel diam sejenak, namun akhirnya ia pun mengijinkan putrinya untuk ikut bersama Alex kampung halamannya, lagi pula sekarang baru awal bulan, masih ada waktu untuk Sisil agar bisa memulihkan kondisinya terlebih dahulu.
Setelah kesepakatan di buat, Alex pun pamit kembali ke kontrakannya.
***
Satu Minggu kemudian Alex pun pulang ke kampung halamannya, yaitu Kota Kuningan Jawa barat, dan tentu saja dia tidak sendiri, dia membawa serta kekasih tercintanya bersama dirinya.
Setelah menempuh perjalanan hampir selama enam jam mereka pun akhirnya sampai di kota Kuningan.
Sekitar pukul 22.00 mereka sampai di perbatasan antara kota Kuningan. sepanjang perjalanan Sisil nampak tertidur seperti biasanya. Sementara Alex hanya fokus menyetir tanpa beristirahat sedikit pun, karena ia ingin cepat sampai di kota kelahiran nya.
Dan akhirnya mereka benar benar sampai di Rumah Orang tua Alex, Rumah dengan halaman luas serta satu buah pohon mangga besar tepat berada di tengah tengah nya.
Alex pun memarkir mobil dan segera membangunkan Sisil yang masih terlelap.
''Sayang...! bangun kita sudah sampai," Alex menggoyangkan tubuh Sisil.
Sisil terlihat membuka matanya, menguap sambil merentangkan kedua tangannya.
"Apa kita sudah sampai?" dengan setengah terpejam.
"Iya, cepat bangun, kita turun."
"Baiklah..."
Mereka berdua pun turun dari dalam mobil. Berjalan bergandengan menuju pintu, keadaan rumah sudah gelap karena hari sudah lumayan larut, seluruh anggota keluarga sepertinya sudah tertidur.
Trok trok trok
"Assalamualaikum..."
Alex mengetuk pintu sambil mengucap salam.
*****
__ADS_1