
Semuanya sudah siap untuk pergi ke makam almarhum bapak nya Alex, Amel, widya serta sang ibu memakai kerudung untuk menutup kepalanya.
Sisil nampak baru keluar dari dalam kamar, ia pun merasa tidak enak saat melihat semua yang berada di sana memakai kerudung, hanya dirinya saja yang tidak memakai nya.
''Mel... apakah teteh boleh meminjam kerudung punyamu?''
''Boleh teh, ada banyak ko, sebentar ya saya ambil dahulu,'' jawab Amel, lalu masuk ke dalam kamarnya.
''Teteh, sini masuk saja ke kamar aku,'' Amel berteriak dari dalam kamar.
Tanpa sungkan lagi, Sisil pun masuk ke kamar Amel, kamar nya terlihat sangat Rapih walau keadaan kamar tersebut sangat lah sederhana, sangat berbeda jauh dengan keadaan kamar miliknya di Jakarta.
Amel meraih satu buah kerudung berwarna putih untuk di pakai oleh calon Kaka iparnya, dan tanpa merasa canggung sedikitpun Amel segera memakaikannya di kepala Sisil.
Sisil pun tampak bercermin dan merapikan kerudung putih yang baru saja di pakaikan oleh Amel di kepalanya.
Dia sendiri merasa pangling melihat wajahnya di balut dengan kerudung putih, ia nampak senyum senyum sendiri melihat wajah nya sendiri dari pantulan cermin yang berada tepat di hadapan wajahnya.
''Teteh cantik memakai kerudung,'' ucap Amel.
''Benarkah..?"
"Iya... teteh seperti bidadari surga yang baru saja turun dari langit," lirih Amel sambil tersenyum memandangi wajah calon kakak iparnya dari dalam cermin.
"Sisil... Amel... kita harus berangkat sekarang," Ibu memanggil dari arah luar.
"Iya Bu, ini sudah selesai ko," jawab Amel.
Kemudian keduanya pun keluar dari dalam kamar, dan Alex tampak sangat terkesima melihat wajah kekasihnya dalam balutan kerudung putih menutupi seluruh rambut panjang nya.
Alex pun seolah tidak berkedip sedikitpun melihat wajah sang kekasih, ia pun seperti terhipnotis oleh penampilan Sisil sampai akhirnya Widya menggoyangkan tubuh sang kaka.
"Aa...! hayo terpesona melihat kecantikan teteh ya?" ucap Widya dengan bercanda.
"Iya...! Teh Sisil cantik banget memakai kerudung itu," jawab Alex dengan senyum dan tatapan yang tak juga luput dari wajah cantik kekasihnya.
"Sudah akh, aku jangan diliatin terus seperti itu malu tahu," wajah Sisil tampak merah merona.
"Ya sudah kita berangkat sekarang yuk Nanti hari keburu siang loh," Ibu pun berjalan di depan yang langsung diikuti oleh seluruh anak-anak ya.
Karena jarak dari rumah menuju pemakaman tidak terlalu jauh, mereka pun hanya berjalan kaki menyusuri jalan setapak untuk bisa sampai ke tempat pemakaman.
__ADS_1
Para tetangga pun nampak melihat kearah Sisil, mereka saling berbisik dan bertanya siapakah gerangan wanita cantik yang berkerudung putih tersebut.
Sampai akhirnya ada satu tetangga yang berani menanyakannya kepada Ibunda Alex.
"Bu, Eneng yang cantik itu siapa? calon menantunya ya?" tanya salah satu tetangga yang terlihat sudah sangat penasaran.
"Iya dia calon menantu saya," jawab ibunda Alex dengan suara lembut.
"Wah cantik sekali ya Bu calon menantunya," jawab salah satu tetangga lainnya.
"Alhamdulillah Bu ibu, calon menantu saya cantik dan insya Allah juga baik dan Sholehah," jawab ibu lagi masih dengan suara lembutnya.
Yang di bicarakan pun hanya tersenyum dengan ramah kepada setiap tetangga yang berpapasan dengan mereka.
"Pantesan saja calon menantu nya cantik begitu, orang Alex nya cakep banget."
"Alhamdulillah Bu, saya permisi," ibu dan semua anaknya pun kembali berjalan meneruskan perjalanan merek menuju pusara almarhum bapak.
Akhirnya mereka pun sampai di sebuah pemakaman umum, pemakaman khas desa yang tumbuhi pohon pohon Kamboja di setiap sudut pemakaman.
Dan akhirnya nya mereka tiba di pusara sang bapak, pusara dengan keramik berwarna putih dan bertuliskan nama orang tua Alex.
Setelah berdoa Alex pun nampak membersihkan permukaan pusara sembari berucap kepada mendiang sang ayah.
"Bapak, minta doa nya dari atas sana, Aa ingin segera meminang gadis yang aa cintai, andai saja bapak masih berada bersama kami, mungkin bapak akan sangat senang melihat aa akan segera menikah," Alex tampak menitikkan air mata.
Sang ibu mengusap punggung putra kesayangan nya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Seolah memberi kekuatan lewat sentuhan tangan ibundanya.
''Aa pamit ya pak, semoga bapak tenang di alam sana, dan senantiasa mendapat kan nikmat kubur dan selalu bahagia di sisinya,'' Alex mengusap kembali buliran air mata yang kini telah mengalir semakin derasnya.
Mereka pun akhirnya beranjak dan pergi di sana, kembali berjalan menuju ke rumah yang tidak terlalu jauh dari tempat tersebut.
*
*
Beberapa jam kemudian.
''Oppa, kita akan berapa hari menginap di sini,'' tanya Sisil yang sedang duduk di teras rumah bersama sang kekasih.
''Besok kita juga pulang.''
__ADS_1
''Lho kok cepet banget sih, satu Minggu lagi kek,'' Sisil terlihat cemberut.
''Tak bisa sayang, aku kan harus kerja.''
''Dua hari lagi deh, please...'' Sisil memohon dengan suara manjanya.
Alex tampak terdiam sesaat, ia seolah sedang memikirkan keinginan calon istrinya, dan mencari alasan yang akan dia katakan kepada calon mertuanya, apabila ia ingin berada di sana lebih lama lagi.
''Baiklah, tapi apa yang akan aku katakan kepada om Lionel? kalau kita akan berlama lama di sini,'' Alex memandang lekat wajah sang kekasih.
''Sudahlah, tak usah khawatir, nanti biar aku yang bilang ke papih soal ini, yang penting aku ingin berlama lama di sini, boleh yah, please....!'' masih dengan suara manjanya.
''Baiklah aku serahkan urusan ini padamu.''
"Sungguh....?"
Alex mengangguk dan tersenyum.
"Yeeyy... makasih ya sayang..." tanpa sadar Sisil pun memeluk tubuh sang kekasih.
"Ehem...." Amel dan Widya ternyata ada di belakang mereka membuat mereka langsung melepaskan pelukannya masing masing.
''Cie CIA calon pengantin,'' Amel meledek lalu duduk di samping sang kakak.
''Aku iri sama kalian berdua, kapan ya aku bisa punya pacar kayak teteh?''
''Amel...! kamu itu masih kecil, mana boleh pacaran," Alex membulatkan bola matanya.
"Ikh aa mah, aku juga sudah besar tahu," Amel terlihat cemberut.
"Iya teteh ikh, dengerin tuh kata aa..." Widya ikut duduk bersama mereka.
Saat mereka sedang asyik bercengkrama, tiba tiba saja telpon Sisil berdering, panggilan pun masuk dari Tuan Lionel.
"Papih nelpon, ada apa ya? sebentar ya Oppa aku angkat telpon dari Papih dulu," Sisil berjalan ke depan lalu mengangkat telpon dari ayahnya.
Entah apa yang di bicarakan oleh Sisil di dalam telpon, raut wajahnya terlihat berubah saat ia selesai menelpon dan kembali menghampiri Alex beserta kedua adiknya.
"Papih menyuruh kita kembali ke Jakarta sekarang juga."
*****
__ADS_1