
''Mommy minta maaf atas kejadian waktu itu ya.'' Ucap Nyonya Fransisca. Lalu dia memegang erat tangan Sisil.
''Maaf untuk apa Momm, tidak ada yang perlu di maafkan.'' Ucap Sisil masih dengan nada dingin.
''Sayang... Kamu kapan mau ikut Mommy? Mommy ingin tinggal bersama kamu, Mommy sangat kesepian tanpa kehadiran kamu'' Ucap Nyonya Fransisca.
''Tidak Momm... Aku ingin tetap di sini bersama Papih.''
''Sayang... Mommy mohon, Mommy sangat membutuhkan kehadiran kamu di sisi Mommy, Mommy cuma tinggal sendirian.''
''Mommy jangan paksa aku, aku tetap ga mau, aku bukan anak kecil yang bisa di atur atur untuk tinggal dengan siapa, aku sudah besar Momm, aku sudah bisa menentukan dengan siapa aku akan tinggal.''
Tuan Lionel yang sedang beristirahat akhirnya nya keluar dari dalam kamarnya, dia penasaran dengan siapa Putri nya berbicara seperti itu.
Tuan Lionel menuruni tangga, matanya menatap tajam mantan istrinya yang sedang duduk berhadapan dengan Sisil.
''Sedang apa kamu di sini?'' Tanya Tuan Lionel dengan Suara sedikit keras.
''Aku mau mengajak Sisil tinggal bersama aku.'' Jawab Fransisca dengan mata tertuju pada mantan suaminya.
''Dia bukan anak kecil yang bisa kamu ajak sesuka hati kamu ya.''
''Pasti kamu yang sudah mencuci otak Sisil supaya dia benci sama aku...'' Jawab Fransisca dengan meninggikan suaranya.
''Dia seperti ini karena kelakuan kamu sendiri,kenapa kamu malah menyalahkan aku?''
Fransisca hanya terdiam. Dia seperti mengakui kalau dia memang bersalah.
''Sudah Papih... Mommy cukup...'' Sisil berteriak sambil menutup telinga dengan kedua tangan nya.
Dia berlari ke dalam kamar nya. Hati nya terasa sangat sakit melihat kedua orang tua nya bertengkar di depan mata nya.
Alex yang mendengar dan melihat kejadian itu akhirnya mengerti, mengapa Sisil bersikap arogan, dia adalah anak yang menjadi korban dari perceraian orang tua nya.
Alex pergi menyusul Sisil ke kamar nya, dia merasa sangat terkejut saat melihat Sisil berteriak sendiri sembari mengobrak abrik seisi kamar, dari selimut,bantal dan seluruh perlengkapan make up di atas meja, semuanya berhamburan di lantai.
Alex meraih kepala Sisil, dan memeluk nya, dia mencoba menenangkan Sisil yang sedang menangis histeris.
Dia membenamkan wajah Sisil di tubuh nya, memeluk erat gadis yang sedang dalam keadaan menangis itu.
__ADS_1
''Tenang Sisil, kamu kenapa?.'' Ucap Alex mengusap rambut panjang Sisil.
''Bawa aku pergi dari sini Alex, aku ingin pergi jauh.''
''Iya nanti kita pergi dari sini, tapi kamu tenang dulu ya.''
Sisil hanya mengangguk, dia membenamkan kepala nya di dada Alex,mencium bau wangi tubuh Alex yang seperti sebuah terapi bagi nya. Perasaan nya sudah sedikit tenang di dalam pelukan Alex.
Sementara itu Tuan Lionel hanya bisa memperhatikan Alex dan Sisil dari balik pintu, dia sadar betul kalau perceraian nya lah yang membuat Putri nya menjadi seperti itu. Dia merasa bersalah kepada putri nya, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menenangkan Sisil.
''Sekarang kamu tenang dulu ya.''
Alex merapikan rambut Sisil yang berantakan, mengusap air mata yang masih tersisa di pipi mulus Sisil dengan jari jarinya.
''Sudah tenang kan?'' Tanya nya lagi.
Sisil menganggukan kepala nya, dia menarik nafas panjang, dan menghembuskan perlahan. Sisil masih mencoba menenangkan hatinya, dan menata kembali perasaan nya.
''Jangan tinggalin aku ya.'' Sisil merengek sambil menatap Alex dengan matanya yang sayu.
Hidung nya merah semerah buah tomat, sangat kontras dengan kulit wajah nya yang terlihat putih bersih.
''Bawa aku keluar dari sini Lex, aku butuh ketenangan.''
''Ya sudah sekarang kamu cuci muka dulu, dan ganti baju ya,aku tunggu di luar.''
Sisil menggelengkan kepalanya.
''Tidak mau, kamu tunggu di sini saja, aku tidak akan lama.''
Jawab Sisil mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.
Alex pun menganggukan kepalanya. Dia menatap gadis cantik yang berada di hadapan nya, dia sungguh tidak menyangka kalau gadis yang selama ini terlihat kuat ternyata punya sisi lain, sisi lain yang tidak semua orang mengetahuinya.
Sisil melangkah kan kaki nya ke kamar mandi, tak lupa pula dia membawa baju gantinya ke kamar mandi.
Akhirnya setelah 30 menit menunggu, Sisil keluar kamar mandi, dia mengenakan kaos oblong putih dan rock jeans pendek di atas lutut, wajah nya sudah sedikit segar meskipun masih ada sisa sisa kesedihan di pelupuk mata nya.
Alex mengulurkan tangan nya, yang langsung di raih oleh tangan Sisil, dia menggenggam erat tangan Alex, tangan Alex terasa sangat hangat di dalam genggaman nya. Sisil mengembangkan senyum tipis di ujung bibirnya yang mungil.
__ADS_1
Alex dan Sisil mengendarai mobil, mereka berjalan menyusuri jalan raya di hari Minggu yang cerah.
''Kita mau ke mana?'' Tanya Sisil menatap laki laki yang berada di samping nya.
''Kita ke tempat yang tenang,yang tidak ada polusi dan tidak ada suara berisik kendaraan.'' Jawab Alex tanpa menoleh.
Mobil mereka tiba di puncak, pemandangan hijau yang membentang menyegarkan mata bagi siapa pun yang melihat nya,udara nya yang segar membuat perasaan tenang dan nyaman.
Mobil mereka berhenti di sebuah Resto kecil di pinggir jalan.
Sisil dan Alex keluar dari dalam mobil. Sisil merentangkan kedua tangannya sembari menghirup udara segar, dia menarik nafas panjang dan dan menghembuskan nya perlahan.
''Kita duduk di sana yu.'' Alex menunjuk bangku yang berada di halaman Resto.
Sisil mengangguk dan mengikuti Alex dari belakang.
''Kamu mau pesan apa?dari pagi kamu belum makan.'' Tanya Alex.
''Apa saja deh, samakan saja sama pesanan kamu,aku sedang tidak nafsu makan.'' Jawab Sisil sambil Memandang pemandangan sekitar.
''Ya sudah... Pelayan, saya pesan 2 porsi Bakso, dan minum nya teh manis hangat ya.''
''Baik pak.'' Jawab pelayan.
Sisil masih asik melihat pemandangan yang ada di depan mata nya, baru pertama kalinya dia di ajak ke tempat seperti ini oleh seorang laki laki. Bahkan Tuan Lionel ayah nya sendiri tidak pernah meluangkan waktu nya untuk mengajak nya berjalan jalan,dia selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja.
Pesanan mereka pun akhirnya datang, 2 porsi bakso dengan teh manis hangat sebagai minuman nya.
Sisil melahap makanan yang berada di depan mata nya, sejujurnya perut nya memang terasa lapar, dia telah mengeluarkan begitu banyak energi untuk menangis.
Setelah selesai makan Sisil melihat sepeda yang berada di depan Resto.
''Pak ini sepedanya di sewakan tidak?'' Tanya sisil kepada pelayan resto.
''Oh... iya mbak, satu jam nya 25.000'' Jawab pelayan tersebut.
*****
Jangan lupa tekan like,vote sama kasih hadiah nya ya... Terima kasih...
__ADS_1