Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Penghuni baru


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawin nya Angelina dengan mas kawin tersebut di bayar tunai.''


Tuan Lionel mengucap ijab kabul tanpa cela sedikit pun, membuat para tamu yang menyaksikan serentak mengucapkan kata "Sah"


Tanpa sadar air mata Sisil jatuh di pelupuk mata nya, dia teringat akan mendiang Ibunya yang kini sudah tiada.


Mendiang ibu nya pernah berpesan kepada dirinya kalau dia sungguh mengharapkan Sisil mendapatkan Ibu sambung yang bisa menyayanginya dengan tulus.


Sisil mengusap air mata yang membasahi pipi nya dengan tisu yang sudah sedari tadi berada di genggaman nya.


Perasaan nya sungguh campur aduk, antara bahagia dan sedih, bahagia karena melihat ayah nya akhirnya memiliki pendamping hidup dan tidak kesepian lagi.


Tapi di sisi lain hati nya merasa sedih karen ayah nya pasti akan membagi perhatian nya pada istri baru dan juga anak sambung nya.


Setelah acara akad selesai, pesta besar pun di selenggarakan, dengan mengundang artis terkenal ibu kota, banyak tamu yang hadir di sana, tak terkecuali Alvin dan kedua orang tuanya.


Alvin tampak melambaikan tangan kepada Sisil saat dia melihat Sisil sedang duduk di kursi tamu dengan Alex yang berada tepat di samping nya.


Alvin pun menghampiri Sisil, dia duduk di kursi kosong tepat di depan Sisil.


''Selamat ya, akhirnya punya ibu tiri juga,'' ucap Alvin dengan senyum mengembang di bibir nya.


''Kamu meledek aku ya?'' Tanya Sisil dengan wajah kesal.


Alvin hanya tersenyum melihat Sisil memasang wajah kesal.


''O iya, bagaimana kabar ibu kamu?"


"Mommy sudah tidak ada Vin, beliau sudah meninggal 3 bulan yang lalu.'' Jawab Sisil dengan wajah sedih.


''Aku minta maaf, aku sungguh tidak tahu kalau Tante Fransisca sudah tidak ada, semoga amal ibadah beliau di terima di sisinya.'' Ucap Alvin dengan penuh penyesalan.


Dia sungguh tidak tahu kalau Tante Fransisca sudah berpulang. Alvin memang mengenal mendiang Tante Fransisca dengan baik, mendengar bahwa beliau sudah tidak ada membuat Alvin sedih,dan menyesal karena telah menanyakan hal yang membuat Sisil mengingat kembali prihal kepergian ibu nya.


Alvin melirik Alex yang sedari tadi duduk di kursi sebelah Sisil.


''Sedang apa kamu di sini? bukan nya supir biasanya tempat nya di parkiran ya?'' Tanya Alvin kepada Alex, yang membuat Alex merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Alvin.

__ADS_1


''Alvin...''


Sisil sedikit meninggikan suaranya.


Dia baru saja akan menumpahkan kekesalan nya kepada Alvin dengan sedikit memarahi nya. Tapi tangan Alex dengan segera meraih jemari Sisil dan meremasnya perlahan, seolah memberi kode kepadanya untuk menahan emosi yang hampir saja dia ledakan di hadapan Alvin.


Akhirnya Sisil mencoba menekan rasa kesal yang saat ini memenuhi hatinya, dia kembali menggenggam erat jemari Alex.


''Sil, aku ke toilet dulu ya.'' Pamit Alex kepada Sisil, dia sama sekali tidak menghiraukan sedikitpun ucapan Alvin kepadanya.


Sisil hanya mengangguk.


Setelah Alex bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju toilet, Sisil segera meluapkan rasa kesal nya kepada Alvin.


''Maksud kamu apa bicara seperti itu tadi? apa kamu tidak tahu kalau ucapan kamu itu akan menyakiti perasaan Alex? walau bagaimana pun dia kekasih aku, dan aku mencintai nya.''


''Aku cuma bercanda Sisil, masa cuma bicara seperti itu saja kamu marah nya sampai seperti ini.''


''Bercanda ada batasnya.'' Jawab Sisil ketus.


Baru saja Sisil akan beranjak dari tempat duduknya, tiba tiba kedua orang tua Alvin menghampiri mereka, dan menyapa Sisil dengan hangat.


''Terima kasih Tante.''


''Bagaimana kabar kamu? sudah lama sekali Tante tidak melihat kalian berdua main bareng lagi, dulu waktu masih sekolah, kamu sering mampir ke rumah tante, kalau kamu ada waktu sekali kali boleh ko mampir ke rumah Tante seperti dulu.''


''Baik Tante, terima kasih atas ajakan nya, tapi akhir akhir ini saya sibuk kuliah.''


''Kalian satu kampus kan?''


''Ia Tante.''


''Tante senang kalian bisa satu kampus lagi, siapa tahu nanti nya bisa berjodoh.''


Ibu Alvin sedikit tertawa saat mengatakan hal tersebut.


Sementara Sisil hanya tersenyum dengan sedikit di paksakan.

__ADS_1


Lain hal nya dengan Alvin, dia senang dengan ucapan ibu nya, karena sejujur nya dirinya sudah sedari dulu menyimpan perasaan untuk Sisil, tapi dia tidak berani mengungkapkannya karena takut merusak persahabatan mereka.


Alex membasuh wajah nya di toilet, menatap wajah nya dari dalam pantulan cermin yang berada tepat di depan dirinya, melihat badan tegap nya dalam balutan jas putih pemberian kekasih nya.


Ucapan Alvin membuat Alex banyak berfikir, berfikir kalau dia harus bisa merubah hidupnya apabila ingin menjadi pendamping Sisil, apa iya dia akan selamanya menjadi seorang supir?


Dia kembali membasuh wajah nya dengan kasar, menyiramkan nya dengan air kran yang mengalir.


***


Setelah acara pernikahan selesai di selenggarakan, Tuan Lionel memboyong istri baru serta anak sambung nya untuk tinggal di rumah besar nya.


Sisil melihat Ibu sambung serta adik tirinya keluar dari dalam mobil, membawa beberapa buah koper besar, dia memandang mereka dari jendela kamarnya yang terletak di lantai dua.


Kemudian dia merebahkan badan nya di atas kasur, matanya menerawang langit langit kamar, pandangan nya terlihat kosong. Seperti nya mulai saat ini dia akan berusaha menyesuaikan diri dengan adanya penghuni baru di kediamannya.


Sisil melangkah kan kakinya keluar kamar, dia berjalan menuju lantai bawah hendak menyapa ibu tiri serta adik tirinya.


Sisil melintas di kamar lamanya, entah mengapa kamar nya tidak tertutup rapat, padahal sepengetahuan nya sudah lama sekali tidak ada yang berani membuka kamar itu.


Jantung nya berdetak dengan sangat kencang saat hendak mendekati kamar itu, bayangan masa lalu tiba tiba melintas di dalam otak nya, memenuhi seisi fikiran nya.


Sisil mengintip dari celah kecil pintu kamar yang hanya terbuka sangat sedikit, mata nya tiba tiba melihat dua orang yang sedang bergulat di atas ranjang,persis seperti yang pernah dia lihat di masa lalu.


Pikiran nya tiba tiba kacau melihat hal tersebut, dia berteriak sambil menutup kedua telinganya dan berjongkok di depan kamar tersebut, mata nya basah dengan air mata yang tanpa dia sadari telah membanjiri pipi mulusnya.


Alex menyaksikan kejadian tersebut, sontak dia langsung menghampiri Sisil.


''Sisil... kamu kenapa?'' Tanya Alex sembari meletakan koper besar yang sedang di bawa nya.


Sisil hanya terdiam sembari terus berjongkok, mulut nya sedikit mengeluarkan suara tangis yang seperti nya sedang dia tahan dengan sekuat tenaga.


Tangan nya menunjuk ke dalam kamar di hadapan nya, mulutnya tampak bergetar.


''Siapa yang ada di dalam sana, usir mereka semua.'' Sisil berteriak histeris.


Alex dengan segera membuka lebar pintu kamar, yang ternyata dia tidak mendapati siapa pun berada di kamar itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2